
“Iya, Senior Miranda?”
Setelah keluar dari Bilik Arena 4, Rafa sempat mendapat telepon dari partner pembimbing kelompok sekaligus seniornya dari Tingkat 3.
Sang senior sempat marah saat mengetahui Rafa telah menghajar para junior kelompok mereka sampai harus dilarikan ke Unit Kesehatan. Namun, Rafa masih tetap tenang walau ialah pelaku utama kekacauan.
“Ah, maaf soal itu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku kalau sudah lihat kemampuan-kemampuan payah mereka.”
“Iya.... Aku sudah bayar denda juga sekalian bayar ganti rugi. Jika masih dianggap belum cukup, aku tak masalah kalau misalnya abahku dipanggil kemari.”
“Aku tahu. Aku tahu.... Sehabis ini, aku tidak ada kegiatan lain, kan?”
“Oke. Sampai jumpa nanti sore.”
Panggilan antara Rafa dan Miranda pun terputus. Rafa sudah menduga seniornya itu akan marah padanya, tapi dia tidak mau ambil pusing.
Sempat Rafa merenung sesaat, mempertanyakan mengapa kadar emosinya jadi semakin labil begini.
Rafa memang tipikal orang yang tak jarang memberi sarkasme dan sindiran pada sesuatu yang menggelikan di matanya. Tapi, tak disangka, rasa jengkelnya itu bisa berakibat melukai banyak orang.
Jika terus seperti ini, mungkin akan berakibat lebih serius lagi pada mental Rafa.
Jangan sampai penyakit yang diturunkan oleh keluarga abahnya kembali kumat.
“Tadi siapa, Raf?”
Lamunan Rafa buyar saat menyadari kehadiran Ardan berjalan menyusulnya di samping.
“Senior Miranda.” Rafa kembali memasukkan ponsel ke dalam saku mantel. “Dia ngomel soal anak-anak kelompok kami yang pada luka gara-gara aku.”
Ardan menaikkan sebelah alis. “Kau tak apa, Raf?”
Mengerti maksud pertanyaan Ardan, Rafa menyunggingkan senyum miris. “Kau yang paling mengerti aku, Dan. Makin hari, emosiku makin tidak stabil hanya karena hal-hal sepele seperti tadi. Aku takut jika suatu saat nanti aku tak bisa menstabilkan mentalku seperti saat masih kecil dulu.”
Ardan mengangguk mengerti. Mendengar ungkapan Rafa itu serta melihat apa yang terjadi sebelumnya, Ardan sedikit khawatir jika ketakutan Rafa suatu saat nanti akan terjadi.
Semoga saja mental Rafa dalam keadaan baik-baik saja.
Karena tidak ingin membicarakan hal sensitif tentang dirinya, Rafa mengalihkan topik, “Oh, iya! Kau tidak bersama kelompokmu, Dan?”
__ADS_1
“Lah....” Ardan menepuk dahinya, teringat kalau Damar dan Kelompok 17 sudah pergi duluan ke Bilik Arena mereka. “Aku baru ingat kalau aku juga musti ngetes para juniorku. Lali aku.”
“Ya, udah. Kita pergi aja susul junior-juniormu.”
“Kita?”
Dengan akrab Rafa menggandeng bahu Ardan. “Tadi, Senior Miranda bilang, kelompok kami udah enggak ada kerjaan lagi setelah aku hajar. Dari pada gabut enggak jelas macam jomblo bego, mending aku ikut ngeliatin kau ngetes para junior. Yuk, ah!”
Disertai wajah yang sudah kembali berseri seperti sedia kala, Rafa membawa Ardan mencari Bilik 6 di mana Damar dan anak-anak Kelompok 17 berada tuk melakukan tes kemampuan.
...~*~*~*~...
Sesampainya di dalam Bilik Arena 6, Ardan dan Rafa menemukan Damar dan para junior Kelompok 17 sudah menunggu di tengah lapangan.
Selain mereka, ada beberapa Taruna-Taruni juga tengah duduk santai di masing-masing bangku tribun, ingin ikut melihat proses pengetesan kemampuan para junior. Ada juga beberapa staf pengawas dan robot-robot sedang berjaga.
“Ardan, dari mana saja kau?” tanya Damar saat melihat Ardan dan Rafa menghampiri. Ia juga bertanya pada Rafa, “Kau juga ‘napa di mari? Kagak ada tugas kau?”
Bukannya menjawab, Rafa malah mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil bersiul seolah-olah tidak peduli.
Ardan pun menjawab, “Tadi sempat mampir ke Bilik Arena kelompok Rafa bentar. Eeeh..., tahu-tahu satu kelompok langsung mokad gara-gara dihajar Rafa.”
“Ya kagak, lah. Masih idup mereka. Mereka pada dilarikan ke Unit Kesehatan, bahkan ada yang sampai patah tulang.”
Damar memperhatikan Rafa dengan tatapan ngeri. “Kok bisa gitu, Raf? Bisa kena sanksi kau.”
“Udah. Sudah aku bayar semua denda sekalian sama biaya ganti rugi. Selebihnya, aku enggak peduli,” ujar Rafa santai.
Damar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau sama kayak Ardan. Emang ada gila-gilanya kau ini, Raf.”
“Ya, namanya juga anak olang kaya,” ledek Ardan.
“Kau pun juga dari keluarga orang kaya, Dan.”
“Lebih tepatnya, aku cuma numpang hidup sama keluarganya Rafa. Aslinya juga kere. Pas ayahku masih hidup, hampir setiap hari aku dikasih makan kecebong rawa.”
Damar menunduk sambil memijit keningnya sendiri, pusing dengan sifat Rafa dan Ardan ini. Entah punya dosa apa Damar sampai dikasih dua makhluk minim akhlak ini sebagai temannya.
Kalau bukan karena sedang berjuang mengejar cinta Nadia, udah nyerah Damar berada di lingkaran pertemanan penuh kesesatan ini.
__ADS_1
“Senior, ini kapan kita lakuin tesnya?” tanya Dodo yang sedang duduk lesehan di lapangan bersama beberapa junior lain karena sudah kelamaan menunggu kehadiran Ardan.
“Wah.... Udah enggak sabar minta dihajar kalian.” Ardan meregangkan otot-ototnya sesaat sambil bertanya pada Damar. “Yang ngetesnya aku atau kau?”
“Ya kau, lah. Kalau bukan kau, mana mau kami nungguin kau lama sampai jadi fosil begini?” omel Damar mulai jengkel.
“Mana ada jadi fosil? Kutengok badan kalian semua masih pada utuh,” cibir Ardan.
“Maksudnya, kami nunggu kelamaan. Dahlah! Aku bakal ikut ngawasin sama beberapa staf khusus di bangku tribun paling depan.” Kemudian, Damar bertanya lagi pada Rafa, “Kau pun begimane?”
“Ya nontonin juga, lah. Kalau pengen aku yang ganti’in Ardan ngetesnya, gas!”
Damar mengibaskan tangan. “Enggak. Enggak. Kalau kau yang ngetesnya lagi, bisa-bisa ada yang sampai pindah alam pula.”
Sebelum Damar pergi, pemuda berkacamata itu menjelaskan, “Dalam pengetesan ini, tidak ada yang lolos maupun tidak lolos. Di sini, kalian hanya perlu bertahan dari segala tes yang dilakukan Ardan. Tes yang dilakukan hanya berupa bertarung melawan Ardan. Anggap aja Ardan ini sebagai Bos dalam sebuah game.”
“Bagi kalian yang bisa bertahan lama dari tes Ardan, kalian akan diberikan nilai tambahan yang bisa ditambahkan dalam nilai semester kalian. Jika tidak mampu bertahan, kalian tidak akan mendapatkan nilai tersebut. Tapi, tak perlu memaksakan diri. Ini hanya sekedar tes kemampuan saja.”
Lalu Damar memberitahu Ardan, “Kau pun kalau ada junior yang menyerah atau ‘dah enggak sanggup lagi bertarung, jangan dihajar lagi sampai sekarat.”
“Yaa.... Aku mengerti,” ucap Ardan santai. “Walau aku orangnya dikenal barbar, tapi aku enggak akan ngelakuin hal yang berlebihan. Apalagi, pengetesan ini termasuk Kegiatan Orientasi. Tidak perlu dianggap serius, lah.”
“Duh.... Aku jadi merasa tersindir, nih,” ucap Rafa walau dalam hati dia sama sekali tak peduli.
“Ah! Kau ‘mah, Raf.”
Damar pun pamit, “Ya, udah. Kami tinggalin, oke? Para staf juga pada ngawasin di sono.”
Kemudian, Damar dan Rafa segera pergi meninggalkan lapangan arena indoor itu, dan mengambil duduk di bangku tribun paling depan bersama beberapa staf yang mulai mengawasi jalannya pengetesan.
Kini hanya tinggal Ardan bersama para juniornya dari Kelompok 17 yang berada di tengah lapangan tersebut.
Ardan mengambil posisi berdiri sendiri di hadapan mereka, benar-benar terlihat seperti seorang Bos yang tengah bersiap menunggu serangan para petualang di dunia game.
“Oke, kalian semua.” Ardan sempat kembali meregangkan otot-otot lengannya. “Jika kalian ingin mendapatkan nilai tambahan, maka tetaplah bertahan dari segala macam seranganku. Jika tidak, jangan ragu tuk menyerah. Ini bukan pertarungan sungguhan juga.”
Kemudian, Ardan mengambil posisi kuda-kuda siap bertarung dengan kedua tangan bersarung tangan fingerless itu sama-sama dikepal.
Ardan pun menyeringai, “Tapi, jika kalian bersungguh-sungguh melawanku, akan kuladeni dengan senang hati. Jadi, jangan sampai nangis.”
__ADS_1
...~*~*~*~...