
“Eh? Iya, ya.” Damar kembali ke topik. “Itu Berry emang suka sekali caper sama kau. Beneran udah kau kasih tahu kalau kau enggak ada rasa sama dia?”
“Udah pernah, sering pula. Tapi emang ceweknya aja kepala batu. Dikasih tahu, malah makin buntu.” Ardan menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang dengan kaki selonjoran.
“Aku aja risih lho lihatnya.” Rafa mengganti posisi duduk bersila di atas ranjang sambil memainkan ujung kain bantal. “Kayak.... Cewek enggak punya harga diri, gitu.”
“Mungkin sama kayak cewek-cewek yang pernah naksir brutal sama Ardan dulu. Mereka terlalu percaya sama kutipan, ‘Kejar dan perjuangkanlah cintamu sampai akhir’. Biar beberapa kali ditolak, tetap digas,” kata Damar lagi.
“Cuy, bedakan yang namanya ngejar cinta sama enggak tahu diri. Kalau udah puluhan kali ditolak kayak kasusnya si Berry ini, berarti emang Berry-nya yang bermasalah. Itu namanya pemaksaan, bukan perjuangan. Bisa jadi obsesi nanti macam Tiana, sampai-sampai adikku yang jadi sasaran amukan,” omel Rafa.
“Ya, salahkan yang bikin kutipan sok romantis kayak gitu di internet,” elak Damar asal.
“Kutipan-kutipan ta’elah!” ngegas Rafa dari lubuk hatinya. “Kutipan kayak gitu juga palingan kalau enggak nemu di novel online yang penulisannya macam tulisan anak baru kenal huruf alfabet, ya dari anak-anak sosmed yang sok asik. Alay!”
“Khikhikhikhikhik....” Ardan ketawa-ketiwi sendiri mendengar omelan Rafa.
Rafa ini bukan cuma pesarkas andal, dia juga tak ragu-ragu ngomong kasar kalau tidak sesuai logikanya. Itu sebabnya, orang-orang suka ragu dekat dengan Rafa, bahkan banyak perempuan juga takut padanya walau ia merupakan pemuda yang tampan dan berprestasi.
Mungkin benar kata sebagian orang kalau orang cerdas itu suka ngomong kasar.
“Dahlah.” Dengan santai Ardan bicara, “Entar kalau berbuat ulah lagi, aku tegasin lagi kalau aku enggak ada rasa sama dia.”
“Serius ‘lah, Dan.... Biasanya, kalau sering dicaperin begitu, pas enggak ketemu malah kangen,” goda Damar lagi.
“Ya kagak, lah. Buktinya pas masa liburan, aku kagak pernah ingat sama Berry, bahkan aku hampir lupa kalau dia hidup di planet yang sama dengan kita, kayak aku yang beneran enggak ingat lagi sama Tiana. Aku juga udah blokir nomornya pula biar enggak spam chat lagi. Risih, soalnya.”
Rafa mengacungkan jempol pada Ardan. “Salut aku sama kau, Dan. Udah ditegasin beberapa kali tapi si dia tetap ngotot mau deketin, ya tinggal dianya yang musti introspeksi diri.”
“Penasaran aku sama tipe cewek yang kalian suka itu kayak gimana,” kata Damar penasaran sambil membetulkan posisi kacamata. “Ardan udah pernah beberapa kali pacaran, tapi ngerasa santai aja pas putus, kayak beneran selama pacaran enggak pernah ada rasa, gitu. Rafa pun hampir dikira homo gara-gara enggak pernah ngelirik cewek.”
“Apalah? Aku ini normal,” tampik Rafa walau mata birunya masih fokus pada ujung kain bantal. “Cuma... enggak pernah nemu aja cewek yang emang ‘srek’ di hati. Mungkin juga karena aku terlalu fokus sama ambisiku biar bisa lebih baik dari pada Abah.”
“Iya, aku ngerti ‘lah sama kau, Raf. Kau ‘mah orangnya berpendirian teguh. Apa lagi kau tipikal orang yang sangat anti terhadap homo-homoan, kita pun jijik sama yang kayak begituan kalau masih ada lubang depan yang paling menggiurkan,” kata Damar panjang lebar.
Lalu Damar bertanya pada Ardan, “Kau dululah yang kutanya. Emang tipe cewek idealmu yang kayak gimana sampai kau bisa langsung lupa sama mantan-mantanmu dulu? Mereka enggak sesuai kriteria idealmu, gitu?” Damar lanjut makan camilannya yang hampir ia lupakan.
__ADS_1
“Hmm.... Gimana, yak?”
Ardan bersender selonjoran dengan kedua tangan perlahan menumpu bagian belakang kepala, membuat otot-otot lengannya terlihat agak membesar karena tekanan.
“Aku ini anaknya suka kepoan, ya. Kalau enggak dilarang, ya bakal kucoba. Jadi, karena Bibi dan Paman enggak ngelarang aku buat pacaran, ya aku pacaran, asal masih berada di batasnya, enggak sampai ‘main’, gitu.”
“Jadi, masih perjaka, nih?” Damar menaik-turunkan alisnya.
Ardan mencebik, “Jangan liatin aku macam homo gitu, yak. Jijik! Kau tahu sendiri kalau satu unit ini masih perjaka semua.”
Ardan pun melanjutkan, “Awalnya, pacaran itu cuma coba-coba. Sekedar kepo aja, putus, terus lupakan. Selama pacaran sama mantan-mantanku pun, rasanya kayak interaksi sama cewek-cewek pada umumnya. Tapi bedanya, kita bisa bebas pelukan, pegangan tangan, ciuman. Dan kalau mau pun ada yang sampai begituan, tapi aku enggak mau, dong.”
“Kau udah pernah coba balas perasaan salah satunya, gitu?” tanya Damar lagi.
“Jujur, kedengarannya aku kayak cowok brengsek, tapi aku emang susah punya rasa sama mereka selama pacaran. Di antara kami pun, pasti pihak ceweknya yang duluan nembak aku. Aku malah enggak pernah nembak cewek sama sekali, tapi kuterima karena kepo. Itu pun sudah aku kasih tahu bahwa aku belum tentu ada rasa, tapi mereka pasti bilang kalau perasaan itu bakal muncul seiring hubungan berjalan. Namun ternyata, hasilnya hampa.”
“Aduh, Dan....” Damar menggosok wajahnya frustasi sambil memperbaiki posisi kacamata. “Binun aku mau komen apa soal perjalanan cintamu yang tak karuan ini. Dan aku enggak habis pikir. Kok bisa selama punya pengalaman pacaran, kau tak pernah sekali pun nembak cewek?”
“Kan udah kubilang, aku ini ganteng.”
“Argh...!” Damar mengacak-acak rambut hitamnya.
Emang ada ‘jingan-jingannya Ardan ini.
“Eh, aku enggak mau ikut campur, yak. Aku ‘kan enggak pernah pacaran,” cibir Rafa ketika melihat betapa frustrasinya Damar dengan pengalaman pacaran Ardan yang terdengar aneh itu.
“Kau ini bener-bener ada bibit-bibit playboy-nya, ya, Dan,” komentar Damar sambil menunjuk Ardan sesaat.
“Sungguh?” Ardan tampak berpikir, “Aish.... Padahal aku enggak ada niatan buat jadi playboy, lho.”
“Dah, dah. Enggak usah bahas pengalaman pacaranmu itu, kan tadi nanya tipe cewekmu yang sebenarnya, Dan,” kata Damar mengalihkan topik.
Ardan pun menjawab dengan lebih tenang, “Kalau berdasarkan dari pengalamanku selama pacaran, sepertinya aku lebih suka cewek yang tenang dan pendiam.”
Seketika Damar melongo dengan mulut agak menganga mendengarnya, begitu juga Rafa. Kedengarannya aneh saja. Kok bisa Ardan yang energik macam bekantan hutan begini nyarinya gadis yang punya sifat berkebalikan dengannya?
__ADS_1
“Serius...?”
Ardan mengangguk atas ucapan Damar, “Iya. Bisa dibilang, aku jauh lebih tertarik dengan cewek introvert, cewek yang punya sifat dan kebiasaan berkebalikan denganku, tapi masih ada kesamaan yang bisa menyatukan kami berdua.”
“Enggak salah, Dan?” tanya Damar meyakinkan. “Di mana-mana orang nyari pasangan yang punya banyak kemiripan, tapi kau malah berharap kebalikannya.”
“Hei, enggak salah ‘kan kalau aku ngarepin cewek yang punya perbedaan denganku? Kau dan Nadia pun punya banyak perbedaan. Nadia suka seblak, kau benci seblak. Nadia suka nonton drama, kau sukanya berita. Nadia suka musik pop elektronik, kau suka musik jazz. Tapi ternyata, kalian sama-sama cocok.”
Senyum tipis sempat terlihat di wajah rupawan Ardan. “Bisa dibilang, aku butuh seseorang yang bisa melengkapi sesuatu yang kurang dariku, begitu juga sebaliknya. Jadi, kami bisa saling melengkapi.”
Mendengar itu, Damar pun mulai tersenyum. Walau Ardan punya pengalaman kamfret soal berpacaran, Damar yakin kalau Ardan ini merupakan orang yang benar-benar serius memperjuangkan cintanya jika sudah bertemu dengan sosok yang tepat.
Ardan kembali melanjutkan, “Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, cewek introvert itu enggak bikin pusing, lho. Enggak banyak mau, enggak nuntut macem-macem, sekalinya akrab bisa nyenengin orangnya. Apalagi kalau dia pemalu, bisa manis dan imut banget, gitu.”
“Oke.... Berarti, Ardan sukanya tipe cewek yang punya sifat berkebalikan dengannya.” Damar pun beralih ke Rafa. “Kalau kau, Raf? Suka cewek yang kayak gimana?”
Rafa sedikit membulatkan mata birunya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
Damar pun mengangguk, menunggu jawaban dari pemuda yang belum pernah ada pengalaman pacaran ini. Begitu juga Ardan yang kelihatannya penasaran dengan tipe gadis idaman sang sepupu.
“Emm....” Sesaat Rafa menggosok dagunya. “Sebenarnya, aku enggak banyak nuntut mau cewek yang kayak gimana. Yang penting enggak bikin pusing aku aja. Cuma, kalau bisa....”
Samar-sama tampak seringai mencurigakan di wajah rupawan Rafa, membuat Damar dan Ardan spontan meneguk saliva masing-masing.
Perasaan mereka berdua kok jadi enggak enak gini lihatnya?
“.... Aku sukanya cewek berbadan mungil dan imut.”
Seketika mata Damar dan Ardan membelalak sempurna, bukan karena terkejut lagi, tapi merasa horror sendiri membayangkannya.
Bayangkan saja, masa pemuda berbadan besar dengan tinggi hampir mencapai 200 cm begini maunya sama gadis bertubuh mungil?
Itu namanya, bunuh anak orang!
“Stres!” -Ardan
__ADS_1
“Sakit jiwa!” -Damar
...~*~*~*~...