Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 82 : Keluarga yang Hilang


__ADS_3

Akhirnya, hari pertama tahun ajaran pun telah tiba. Semua Taruna-Taruni sangat bersemangat memulai kegiatan belajar mereka di hari pertama ini. Namun sebelumnya, semua yang berada di akademi, mau itu pelajar, petinggi, hingga staf diwajibkan untuk mengikuti upacara kenaikan bendera lebih dulu.


Pada pagi-pagi buta begini, Ardan dan teman-teman satu unitnya sudah siap dengan seragam berwarna gelap khas akademi militer, lengkap dengan lencana dan topinya.


Ketika berdiri di depan cermin sambil membetulkan lengan seragam, Ardan memperhatikan bayangannya di sana dengan raut tegang bukan main. Bukan karena kepikiran upacara hari ini, tapi soal apa yang ia lakukan dengan Krisan tadi malam.


Dia benar-benar malu. Kok bisa Ardan kepikiran hampir mencium Krisan? Dan entah kenapa, ada nyamuk mengganggu di antara mereka, membuat wajah Ardan memerah karena kena tampar. Dan setelahnya, dia tiba-tiba kentut saking tegangnya menahan malu.


Sungguh, apakah Ardan masih punya muka buat ketemu Krisan hari ini?


“Dan”


“Dan”


“Bekantan!”


“Aku Ardan, Setan!” teriak Ardan kesal kala dipanggil begitu sama Damar.


Damar tampak menyembulkan kepalanya di luar pintu unit asrama. Kini dia tampak sudah sangat rapi dengan seragam dan topinya, bersiap tuk pergi ke akademi.


“Dari tadi dipanggil malah ngelamun aja.” Damar pun menyuruh, “Cepetan berangkat! Kurang dari 15 menit lagi upacara kenaikan bendera bakal mulai, lho.”


“Serius?” Ardan sempat tercengang. “Ya, udah. Nanti aku nyusul.”


Damar pun buru-buru pergi meninggalkan koridor asrama bersama para Taruna lain yang juga tampak terburu-buru pergi menuju akademi.


Sebelum pergi menyusul, Ardan sempat teringat akan sesuatu. Tangannya mengambil sebuah kotak panjang dari dalam laci nakas dekat ranjang, kotak yang sempat diberikan Arni padanya.


Saat ia buka dan menyibak kain beludru yang menutupi bagian bawah dalam kotak, Ardan menemukan kalung panjang dengan liontin metal keperakan berbentuk lambang negatif.


Ardan ingat kalau ayahnya dulu memberikan kalung itu saat masih bayi. Karena masih belum cukup besar, maka Ardan kecil belum bisa mengenakannya. Mungkin sudah saatnya ia mengenakan salah satu benda peninggalan ayahnya itu.

__ADS_1


“Nah.... Ini dia.”


Ardan mengalungkan kalung itu di leher. Sesaat, ia perhatikan liontin itu, dan membalik bagian belakangnya, membaca pesan berharga yang tertulis di sana.


‘Demi kedua hal bertentangan yang kusayang.’


Ardan menyunggingkan senyum saat membaca pesan di balik liontin negatif tersebut.


“Semoga ini bisa jadi jimat keberuntunganku.”


Ardan masukkan kalung itu ke balik baju seragam. Kemudian ia berlari penuh semangat keluar dari unit asrama, bersiap menghadapi hari yang baru, meninggalkan unit itu dalam kekosongan, sepi, dan hanya ditemani oleh sinar mentari terang menembus jendela serta kaca balkon.


....


Mentari pagi begitu cerah menyinari lapangan utama Akademi Militer Antariksa Milderan yang super luas. Lokasi itu kini dipenuhi oleh ribuan baris orang yang tengah mengikuti upacara kenaikan bendera.


Dengan lantang dan serentak semua orang yang ada di sana langsung memberi hormat pada ketiga bendera yang sedang dinaikkan. Ketiga bendera itu merupakan bendera Militer Antariksa, Negara Ranjaya, dan Planet Ribelo.


Di tengah-tengah barisan, bersama teman-temannya, Ardan mendongak mantap, memberi hormat pada ketiga bendera yang telah menjadi lambang kejayaan pemerintahan di seluruh Ribelo.


Mereka masih belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi, mulai sekarang, Ardan dan kawan-kawannya akan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri mereka,


Untuk hari esok yang tak terduga.


“Apa pun yang terjadi, aku harus siap menghadapi hari esok. Aku akan membuatmu bangga, Ayah, Ibu.”


...~*~*~*~...


Di belahan Planet Ribelo yang berbeda, sesosok pemuda dengan memakai jaket cokelat muda tengah bersandar di sisi motor gede berdesain futuristik dengan warna hitam metalik. Mata perak di balik lensa kacamata goggles itu memperhatikan keindahan langit jingga di ufuk barat saat mentari mulai menenggelamkan diri.


Mulutnya melantunkan siulan merdu, ditemani oleh hembusan angin dari daerah tandus yang berhembus membelai lembut rambut jingga bergaya semi mohawk itu.

__ADS_1


Ia begitu menikmati kesendiriannya. Tapi, berlama-lama berkelana sendirian begini membuatnya rindu akan kampung halaman.


Demi menuntaskan rasa rindunya, pemuda itu meraih ponsel dari saku jaket, melihat foto-foto keluarganya yang tampak berkumpul dalam kebahagian. Ya, walau tanpa dirinya di sana, ia sangat bahagia bisa melihat mereka bahagia pula.


“Bagaimana keadaan mereka sekarang, ya? Aku belum berani menghubungi Paman ataupun Bibi karena komunikasi kami bakal mudah terdeteksi pihak-pihak tertentu kalau bukan dari pihak Paman yang lebih dulu menghubungi.”


Tangan satunya mulai merogoh sesuatu yang setia menggantung di leher. Sebuah kalung panjang dengan hiasan liontin metal keperakan berbentuk lambang positif.


Dia teringat kalau kalung itu memang diberikan oleh keluarganya sejak masih bayi saat ia mulai dititipkan di panti asuhan terpercaya. Pemuda itu percaya, mereka tidak bermaksud tuk menitipkannya di panti.


Ada beberapa kelompok yang mengincar dirinya jika ia tetap bersama keluarga tersebut. Jadi, ia harus berpisah dari mereka sejak masih bayi.


Senyum tulus terukir di wajah rupawan itu saat membaca pesan di balik liontin tersebut.


‘Demi kedua hal bertentangan yang kusayang.’


“Hehe.... Aku jadi pengen ketemu Adik. Gimana kabarnya ya sekarang setelah Ayah tiada?”


Lambat laun langit berubah menjadi gelap, udara yang terasa hangat kini semakin dingin hampir menusuk kulit.


Pemuda tersebut kembali memasukkan kalungnya ke balik kaos putih yang ia kenakan. Kini matanya melihat ke atas, menerawang ke arah bintang-bintang yang semakin ramai bertaburan di sana.


“Dia masih belum tahu kalau aku ada. Mungkin sudah saatnya aku bertemu dengannya.”


Sudah sangat lama ia menyembunyikan diri dari dunia. Sudah saatnya ia memberanikan diri menunjukkan bahwa dirinya berani menghadapi kerasnya kehidupan, menunjukkan kesungguhannya, dan memperkenalkan diri pada sosok yang serahim dengan dirinya.


Dengan ceria, ia mengangkat kedua tangan sambil berteriak disertai suara melengking.


“Kalau aku ketemu adik, aku mau ngajak dia lomba makan lontong!”


“Etdah?”

__ADS_1


Ia sempat mematung kala merasakan kotoran burung gagak hinggap di kepalanya.


...~*~*~*~...


__ADS_2