Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 44 : Kombo Trio WekaWeka


__ADS_3

Para junior dari Kelompok 17 yang masih tersisa mulai kembali menyerang Ardan seusaha mereka. Dimulai dari satu junior lelaki membekukan sebagian lantai menggunakan kekuatannya, membentuk tembok cekung menuju ke arah Ardan.


“Senjata Kebangkitan : Dual Pedang Es!”


Sang junior menciptakan dua pedang es di kedua tangannya.


Rafa yang mengawasi di tribun depan sempat berkomentar, “Mencoba menciptakan Senjata Kebangkitan, ya?”


“Setiap Kekuatan Kebangkitan memiliki satu senjata, bukan?” tanya Damar.


Rafa mengangguk, “Tentu. Jika seorang Pengguna Kebangkitan tidak memiliki senjata di tangan, maka mereka bisa menciptakan senjata dari kekuatan mereka. Namun, mereka cuma bisa menciptakan satu atau sepasang jenis senjata, tidak bisa lebih. Dan senjata itu adalah senjata utama mereka.”


“Satu orang hanya bisa menciptakan satu jenis Senjata Kebangkitan, dan itu merupakan Senjata Utama.”


“Tepat sekali.”


“Tapi pengecualian bagi kekuatan asli Ardan,” lanjut Rafa dalam hati.


Sebenarnya, Keluarga Novan mengetahui Kekuatan Kebangkitan Ardan yang asli. Mereka sekeluarga tahu bahwa Ardan bukan hanya bisa mengendalikan logam, tetapi juga menciptakan dan mengendalikan berbagai jenis senjata.


Namun, karena amanat dari mendiang Astan yang ingin kekuatan asli putranya disembunyikan, maka Keluarga Novan tentu harus merahasiakannya.


Dalam tes pertarungan ini, setelah berhasil menciptakan Senjata Kebangkitan, sang junior meluncur di jalan yang ia bekukan, meluncur naik ke tembok cekung yang mengarah ke sisi Ardan.


“Aaah.... Elemen es, ya? Mirip kayak punya Regan,” ucap Ardan santai. “Ish, aku jadi kangen sama sahabat albino itu.”


Damar juga sadar kalau junior itu memiliki elemen yang sama dengan milik sahabat mereka, Regan.


“Kalau jenis elemen kekuatan seperti ini biasanya di kategorikan ke mana?” tanya Damar.


Rafa pun menjawab, “Biasanya dikategorikan sesuai kelangkaan elemen atau unsur pada Kekuatan Kebangkitan.”


“Elemen Kekuatan Kebangkitan dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori C yaitu elemen yang paling banyak dimiliki orang lain, besar kemungkinan banyak orang memiliki elemen yang sama. Kategori B, elemen yang mulai langka, tapi tidak sedikit orang memilikinya. Kategori A, elemen yang mulai langka dan hanya beberapa orang memilikinya. Dan Kategori S, elemen yang sangat langka dan hanya sepersekian orang memilikinya di seluruh planet maupun galaksi.”


Rafa menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi bangku, “Kalau yang kita lihat, bocah es itu memiliki Kekuatan Kebangkitan Kategori B, sama halnya dengan Ardan.”


“Punyaku kalau enggak salah masuk Kategori A.” Damar mengingat jenis kekuatannya.


“Meningkatkan kecepatan dan memperlambat, bukan? Turunan dari jenis unsur Kebangkitan Utama, dong.”


Damar menghela nafas, “Iyaaa.... Turunan dari kekuatan meningkatkan kecepatan. Sama seperti elemen es yang berasal dari turunan elemen antara air dan angin yang berada di Kategori C.”


Rafa mengangguk, “Seseorang yang memiliki Kategori S bukan berarti dia hebat, begitu pula sebaliknya. Jika orang tersebut pandai dalam menguasai Kekuatan Kebangkitan-nya sendiri, elemen dari Kategori C pun bisa jadi sangat kuat.” Lalu kembali fokus pada pertarungan.


Ketika mencapai puncak tembok cekung es, junior tersebut langsung melesat ke arah Ardan, memberikan tebasan beku di kaki Ardan, membuat kakinya seketika beku oleh es.


“Hm. Bocah entu lumayan juga.” Ardan memperhatikan kedua kakinya yang terjebak dalam es.


“Selagi kakinya beku, serang dia!”


“Haaaaarrrggghhh!!!”


Beberapa junior mulai menyerang Ardan dari berbagai sisi secara bersamaan.


Rafa berekspresi datar ketika melihat penyerangan secara bersamaan tersebut. “Idiot,” gumamnya.


Para junior menyerang Ardan dari berbagai arah menggunakan Senjata Kebangkitan mereka masing-masing. Walau dalam keadaan kaki beku terjebak oleh es, Ardan masih bisa menghindar dengan menggerak-gerakan bagian atas tubuhnya dan menepis beberapa serangan.


Ketika satu junior hendak memberikan pukulan menggunakan senjata pemukul, Ardan sedikit menggeser bagian depan atas tubuhnya, membuat junior tersebut malah memukul bagian es yang menjebak kaki Ardan hingga hancur.

__ADS_1


“Ap—.”


Belum sempat berucap, Ardan mendengkul junior pemukul itu hingga terjatuh.


“Pasak Terbang.”


Ardan menciptakan beberapa pasak besi seukuran satu meter lebih yang melayang di sekitarnya. Ia kendalikan dengan cara melakukan berbagai gerakan tangan serta kaki.


Tiga junior maju sekaligus, menyerang Ardan menggunakan senjata tajam mereka. Dengan sigap, Ardan tahan serangan mereka menggunakan pasak-pasak terbang, menangkisnya, lalu memukul mereka menggunakan permukaan tumpul pasak sampai menjauh.


Junior es hendak menyerang Ardan lagi menggunakan kedua pedang esnya, tapi Ardan melesatkan beberapa pasak terbang, menancapkan pasak-pasak itu di depan hingga menghalangi junior tersebut tuk mendekat. Dua pasak juga berhasil menghancurkan kedua pedangnya, dan satu pasak menusuk sisi kaos sang junior sampai menancap, menyebabkannya jatuh menempel di lantai.


Dua pasak terbang Ardan tangkap tuk dijadikan senjata, ia menangkis beberapa serangan dari para junior yang mulai kembali menyerangnya dari belakang. Junior-junior itu langsung melompat menyingkir, tapi satu junior perempuan melesat dengan satu martil berukuran besar siap dipukulkan.


“Rasakan ini, Senior!”


Gadis junior itu melancarkan pukulan martil dari udara, dan Ardan menahannya dengan menyilangkan kedua pasak besi di tangan. Karena serangan sang gadis cukup keras, mengakibatkan permukaan lantai yang Ardan pijak rusak menjadi kawah kecil.


“Dahsyat juga ya serangan si cewek.” Damar memperbaiki posisi kacamata sambil menganalisa setiap gerakan.


“Tipikal orang yang bersungguh-sungguh ingin mengalahkan Ardan,” timpal Rafa datar.


Ardan mendorong martil itu, membuat si gadis melesat menjauh dan mendarat dengan baik di lantai lapangan.


“Hantaman Tanah!”


Dalam sekali pukulan martil pada lantai lapangan, mencuatlah sebongkah tanah berukuran sangat besar. Si gadis memukulkan martilnya pada bongkahan tanah itu, melemparkannya ke arah Ardan.


Satu pasak yang Ardan pegang ia terbangkan lagi, membiarkan pasak itu melesat jauh melewati bongkahan tanah sampai mengenai sisi kaos si gadis, membuatnya ikut jatuh menempel di lantai juga.


“Senjata Kebangkitan : Tombak Logam!”


Sedangkan satu pasak lagi Ardan ubah menjadi tombak logam, Senjata Utama Kebangkitan-nya.


Menyadari ada dua junior gagal menyerangnya dari belakang, Ardan pun menoleh dengan satu alis dinaikkan.


“Lah? Gagal nyerang, toh?” Ardan memutar kedua mata peraknya. “Kalau main keroyokan begini, seharusnya mereka sadar sama posisi.”


Semua junior Kelompok 17 sudah kalah telak, tergeletak begitu saja di berbagai sisi lapangan, dan mulai dievakuasi oleh para robot kesehatan. Kini hanya tinggal tiga junior yang masih bertahan agak jauh di hadapan Ardan, yaitu Trio WekaWeka.


“Wah! Kebetulan sekali kalian masih bertahan,” ujar Ardan terdengar dibuat-buat polos.


Ketiganya sama-sama memegang pedang masing-masing, Senjata Kebangkitan mereka, mengambil posisi siap kembali bertarung.


“Ya, walau kami mungkin akan berakhir kalah juga, tapi setidaknya kami bisa bertahan lebih lama dari anak-anak lain,” kata Didi bangga sambil mempererat pegangannya pada gagang pedang.


“Akan kami tunjukan kombo dari Trio WekaWeka!” tegas Dodo pede.


Dan hanya dilanjut dengan anggukan dari Ujang.


Ardan tidak begitu peduli mau serangan seperti apa yang dilancarkan padanya kembali. Malah pemuda dengan ikat kepala ini mengorek telinganya sendiri menggunakan kelingking sambil menunggu kombo serangan yang dimaksud.


Ketiganya pun mulai mengaktifkan Kekuatan Kebangkitan.


“Meningkatkan Pertahanan!” Didi mengaktifkan kekuatan pertahanan, memunculkan cahaya biru menyebar ke sekitar mereka bertiga.


“Meningkatkan Serangan!” Dodo meningkatkan kekuatan serangan mereka, menyebarkan cahaya merah.


“Meningkatkan Kecepatan.” Ujang juga memberikan tambahan kecepatan, menyebarkan cahaya kuning di area mereka bertiga.

__ADS_1


Damar yang melihatnya sempat berkomentar, “Kekuatan Kategori C?”


Melihat Trio WekaWeka hanya meningkatkan kekuatan bertarung mereka menggunakan kekuatan Kategori C tersebut, Ardan tetap berdiri sambil mengetuk-ngetuk ujung tombaknya.


Masih menunggu serangan dari mereka.


“Serang, Trio WekaWeka!”


“Haaaaaaa!!!”


Ardan masih berdiri dengan ekspresi datar. Kalau dilihat lagi, kecepatan gerakan mereka memang meningkat, tapi masih bisa dibaca Ardan.


Karena mereka tidak menguasai teknik bertarung apa pun. Mereka hanya bertarung dengan gerakan ngasal.


“Aish.... Yang benar saja?”


Ardan kembali mengaktifkan satu teknik kekuatannya lagi.


“Balok Besi.”


Ardan menginjak lantai, menciptakan satu balok besi setinggi satu meter lebih di hadapan Dodo. Dodo yang melesat hendak menyerang malah tertahan karena kemunculan balok besi dari bawah depannya berhasil mengenai dagu Dodo.


“Ugh...!”


Tanpa diduga, Ardan sudah mendarat di ujung atas balok besi.


“Kau terlalu gegabah,” komentar Ardan.


Kemudian, Ardan menendang kepala Dodo sampai terpental ke samping.


Dari posisi Dodo terpental, sosok Ujang berlari cepat ke arah Ardan, siap menusuknya dengan pedang.


Sebelum Ujang berhasil mencapai Ardan, sang senior bersalto ke belakang, turun dari atas balok besi, dan menendang balok besi itu hingga melesat cepat menabrak tubuh Ujang.


“Aaakh...!”


Alhasil, Ujang bernasib sama dengan Didi.


“Masih kurang lincah.” Ardan pun bergumam, “Padahal, serangan kayak gitu mudah banget dihindari.”


Sekarang, giliran Didi yang sudah berhasil mencapai posisi Ardan. Dia muncul di depan Ardan, siap mengayunkan pedangnya.


Ardan memulai kombo gerakan cepat. Ia menepis pedang Didi menggunakan tombaknya, membuat pedang tersebut terpental jauh dari tangan Didi dan menancap di lantai lapangan. Dilanjutkan dengan menumbuk satu kaki Didi menggunakan ujung tumpul tombak, menyebabkan kakinya ngilu.


“Eeekh!”


Dan diakhiri memukul bagian atas kepala Didi sampai ia jatuh telungkup di hadapan Ardan.


Setelah dirasa semua junior sudah tak sanggup lagi bertarung, Ardan pun berdiri tegak sambil memutar-mutar tombaknya sesaat.


“Biarpun kalian meningkatkan tiga bagian utama kekuatan bertarung, kalian masih mudah dilumpuhkan tanpa adanya gaya bertarung,” tegas Ardan. “Ayolah.... Semua gerakan kalian mudah dibaca. Dan yang kalian sebut kombo pun sebenarnya bukan kombo.”


Ardan menunduk, menggosok kasar wajahnya, merasa malu sendiri dengan kemampuan para junior yang ia hadapi.


“Kok bisa kalian lolos masuk akademi ini? Enggak lewat jalur orang dalam, kan?” sindir Ardan. “Oke! Karena semua sudah—.”


“Masih belum!”


Ardan mengira tes ini sudah berakhir karena merasa semua junior kelompoknya telah ia lumpuhkan. Tapi, ketika ia menoleh ke belakang, ia sadar masih ada yang belum ikut tes, yaitu Nadia dan Krisan.

__ADS_1


Ardan menaikkan sebelah alis. Licik juga dua gadis ini, menurutnya.


...~*~*~*~...


__ADS_2