Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 80 : Regan Kembali


__ADS_3

Malam esoknya di unit asrama putra, Ardan dan Rafa sedang asik memainkan game duel kesukaan mereka di ponsel, sedangkan Damar sibuk mengotak-atik data laptopnya.


“Aish! Masa Jengglot-kun kalah lagi, sih...?” desah Ardan jengkel sambil duduk selonjoran di atas ranjang.


Rafa yang baru saja menang duel melawan karakter Ardan memperlihatkan skor kemenangannya pada pemuda berambut jingga itu.


“Sudah kubilang, karakter Jengglot-kun itu ampas. Kayak aku, dong, pakai Jelangkung-sensei. Karakternya OP parah.” Rafa menaik-turunkan alisnya, merasa bangga sendiri.


“Ish, setan ‘lah! Malas bener aku mainin ini game.”


“Orang yang enggak mau ngaku kalah pasti ngomong ‘kek gitu.” Rafa sempat cekikikan sendiri. “Oh, iya. Gimana kalau kita ganti game aja? Kita main game Serberan : Dungeons and Darkness entu.”


“Serberan?” Ardan berusaha mengingat game yang dimaksud. “Bukannya entu game RPG, survival-horror, yak?”


“Iye. Kau mau enggak mainin entu game? Biar satu tim kita,” tanya Rafa pada Ardan.


“Tapi ‘kan, satu tim musti ada tiga anggota.”


Kemudian, Rafa menengok ke arah Damar yang masih sibuk dengan laptop. “Mar, mau ikut mabar enggak bareng kami? Besok kita udah masuk kelas, lho.”


Iya, karena Masa Orientasi sudah berakhir, besoknya mereka akan memasuki tahun ajaran baru yang mana mereka bakal mulai belajar di akademi lagi setelah usai libur semester.


Damar pun menggeleng, tapi tatapannya masih fokus di monitor laptop. “Enggak, lah. Lagi meriksa program materi aku. Takut kalau ada ujian ngerakit mesin dadakan.”


“Ah, iya. Kau ‘kan dari Jurusan Teknik Elektronika Militer,” ucap Ardan berusaha memaklumi.


“Woi!”


Ketiganya langsung terlonjak kaget saat mendengar teriakan dadakan dari seseorang di depan pintu unit mereka.


Ketika terbuka, pintu unit menampakkan sosok pemuda tinggi berpakaian santai dengan rambut perak panjang dibiarkan tergerai sedang menyeret koper memasuki unit.


“Apalah Regan ini...? Datang-datang kayak mau ngajak ribut aja,” omel Ardan sambil mengelus telinganya yang merasa tak nyaman setelah mendengar teriakkan Regan.


“Aku cuma pengen nyapa kalian.” Dengan pedenya, Regan bertanya, “Apa ada yang kangen?”


“Enggak!” ucap Ardan dan Rafa bersamaan. Setelah itu, mereka malah tertawa sambil adu tos tinju, merasa senang ngeledek Regan.


Dengan sewot Regan mencibir, “Gini-gini amat punya temen. Baru balik abis mudik, kagak ada yang nyambut dengan hangat.”


“Kalau mau disambut dengan hangat, biar kusembur muka kau itu pakai air keras,” ledek Rafa sambil menyunggingkan senyum usil.


“Kok air keras pula? Emang psikopat kau, Raf.”


Dan Rafa hanya membalas dengan tawanya, begitu juga Ardan yang ikut-ikutan ketawa melihat respon jengkel Regan.


“Udah balik aja kau, Gan,” ucap Damar mengalihkan pandangan pada Regan. “Oleh-olehnya ada, enggak?”


Makin jengkellah Regan ditanya begitu. “Nih tuyul satu ini juga! Orang udah capek dari perjalanan jauh, malah dimintai oleh-oleh.”

__ADS_1


“Lah, kok sewot?” ucap Damar merasa tak bersalah.


“Salahin noh dua biawak itu!” Regan menunjuk Rafa dan Ardan yang masih saja ketawa di atas ranjang masing-masing. “Udah bikin aku jengkel aja.”


“Ahahaha.... Oke, oke.” Ardan berusaha menyeka air mata tawanya. “Gimana perjalanannya, Gan?”


“Lancar, tapi capek.”


Regan menaruh kopernya di samping ranjang, lalu langsung merebahkan badannya di atas ranjang tersebut.


“Kalian sendiri gimana? Acara Orientasi kemarin asik, enggak?” Regan menopang belakang kepala menggunakan kedua tangan.


“Asik. Tapi tetep biasa, mah. Ada pahit-manisnya,” jawab Ardan seadanya.


“Sebenarnya, aku udah mau balik dari tiga hari kemarin, sekalian mau ikutan asiknya Acara Orientasi Pelajar,” kata Regan, “Tapi, nenekku enggak ngizinin. Katanya, masih kangen sama cucu kesayangan. Terpaksa, deh, baliknya baru sekarang.”


“Aish.... Sayang banget, Gan. Kau ketinggalan banyak yang seru-serunya.” Damar mulai menutup laptop, ingin menghabiskan waktu luang malam ini mengobrol bersama ketiga teman lengkapnya.


“Serius?” Regan pun tampak antusias. “Cerita, dong. Cerita. Gimana serunya kegiatan kemarin?”


Mereka pun mulai menceritakan tentang apa saja yang mereka jalani pada Kegiatan Masa Orientasi pelajar yang dilakukan selama tiga hari ini, mulai dari junior-junior baru sampai acara penutupan kemarin malam.


Mereka tampak tersenyum, tertawa bersama, bahkan sambil melontar ledekan selama mengobrol bersama. Rasanya sangat senang ketika bisa kembali bersama dengan teman-teman lengkap satu unit begini.


Bisa saling berbagi cerita dan tawa kebahagiaan.


....


Pemandangan asrama putra dan juga gedung akademi di seberang sana mulai sepi karena malam sudah semakin larut, pastinya para pelajar sudah mulai beristirahat di unit masing-masing.


Namun, pandangan mata birunya menyipit kala melihat ada seseorang tengah duduk di atas atap salah satu gedung akademi.


“Entu cewek cakep, malem-malem kok duduk sendirian aja di atap kayak kuntilanak?” gumam Regan penasaran.


“Napa, Gan?” tanya Rafa yang masih bersandar di ranjang ketika mendengar gumamam Regan.


“Entu, Raf. Ada cewek malam-malam nongkrong di atap gedung akademi.”


“Serius? Jangan-jangan setan, lagi,” ucap Ardan iseng.


Damar berucap jengkel pada Ardan, “Kau ini, Dan.... Bikin merinding aja.”


Rafa kembali bertanya, “Emang kayak gimana sih ceweknya? Ini udah larut malam, tapi masih ada aja yang keluyuran.”


Regan kembali memandang sosok dari kejauhan itu, mencoba menelisik ciri-ciri fisiknya.


“Pastinya dia cewek, pakai jaket abu-abu, sama rambut item. Kulitnya juga kelihatannya bening. Mukanya polos datar gitu. Ngelamun aja sambil liatin langit kayak liatin malaikat maut.”


“Eh?”

__ADS_1


Ardan terkesiap ketika menyadari ciri-ciri fisik yang diterangkan Regan. Buru-buru ia bangkit dari ranjang, berlari menuju balkon, dan sempat mendorong Regan menjauh, kemudian ikut mencoba melihat jelas siapa sosok di seberang sana.


“Eh, bekantan! Kok malah main dorong-dorong aja...?” sewot Regan sambil mengelus pinggangnya yang kena dorong Ardan. Hampir ia jatuh terjerembap kalau saja keseimbangannya kurang bagus.


Damar yang ikut heran juga bertanya, “Kau kenapa, Dan? Langsung panik aja kau ini.”


“Dek Krisan.” Ardan menunjuk ke seberang. “Entu Dek Krisan, kampret!”


“Dek Krisan siapa?” tanya Regan yang masih belum kenal siapa yang dimaksud.


“Krisan, Gan.” Dengan santainya Rafa menjawab, “Junior akademi kita, gebetan Ardan.”


“Woooh...!” Seketika Regan merasa kagum. “Dari sekian abad bosan liatin kau dideketin cewek, akhirnya kau sendiri yang punya inisiatif buat deketin cewek.”


“Iye, Gan.” Iseng-iseng Rafa berkata usil, “Cuman, cewek yang ini susah mampus dideketin. Enggak peka’an mulu orangnya.”


Damar pun ikutan tertawa ketika mendengar perkataan Rafa tersebut.


“Ish! Apaan kau ini, Raf?” sewot Ardan. “Aku mau samperin dia, gih. Enggak baek cewek sendirian malam-malam begini.”


“Ngapain? Justru kalau ada kau, makin bahaya lagi,” goda Damar.


“Semprul kau, Mar!”


Tak peduli lagi dengan ledekan teman-temannya, dengan kemampuan fisik yang hebat, Ardan melompat dari balkon dan melompat lagi melewati satu bangunan ke bangunan lain tuk mencapai atap bangunan akademi.


“Dih, malah disemprotnya pula aku,” ucap Damar.


Rafa mengibaskan tangannya sambil beranjak dari ranjang. “Biarin ajalah, orang lagi kasmaran. Toh kau pun sering uring-uringan kayak gitu ‘kan kalau ketemu Nadia?”


“Aish, Raf....”


Rafa dan Regan tertawa bersama melihat Damar sewot tapi malu-malu kucing ketika disinggung soal gebetannya itu.


...~*~*~*~...


Di gelapnya malam, dalam kesendirian dan kesepian di atas atap gedung akademi. Krisan duduk dengan memeluk kedua kaki sambil mendongak menatap cerahnya langit berbintang.


Entah mengapa, ketika melihat hamparan bintang-bintang di langit yang tampak bagai serbuk gula di atas roti matang, dia jadi merasa tenang dan teringat akan kampung halaman.


Krisan jadi penasaran, seperti apa kabar Bapak, Bunda, dan Abangnya Henri. Apa mereka baik-baik saja? Di kampung aman?


“Hmm....”


“Dek Krisan!”


Spontan Krisan menoleh, mendapati sosok pemuda yang hanya memakai celana dan kaos singlet hitam tengah melompat dari satu bangunan ke bangunan lain, melesat menghampirinya.


Gadis berambut hitam itu jadi heran. Kok sang senior tiba-tiba menghampirinya di sini?

__ADS_1


“Senior Ardan?”


...~*~*~*~...


__ADS_2