Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 27 : Kelompok 17


__ADS_3

“Wah...! Senangnya! Hari ini adalah hari pertama kita melakukan Kegiatan Orientasi Pelajar.”


Cahaya mentari pagi kini semakin tampak di ufuk timur sana. Para pelajar junior sudah berada di akademi, mulai berjalan mencari-cari kelompok di Kegiatan Orientasi kali ini.


Begitu pula dengan Nadia dan Krisan. Saat ini, mereka tengah berjalan bersama rombongan Taruna-Taruni junior lain melewati lobi menuju lapangan utama akademi.


Di hari pertama Kegiatan Orientasi Pelajar, para pelajar terlihat mengenakan seragam yang berbeda-beda sesuai asal sekolah mereka terakhir. Mereka diminta para staf untuk mengenakan pakaian dari sekolah mereka sebelumnya karena hari ini fokus pada masa pengenalan lingkungan baru dan juga pergaulan sosial.


Dari semua junior yang ada di sini, seragam yang dikenakan Krisan termasuk seragam umum, hanya mengenakan kemeja putih dengan bawahan rok hitam di bawah lutut, standar untuk seragam sekolah negeri. Berbeda dengan Nadia yang tampak mengenakan blazer kotak-kotak tanpa lengan sebagai luaran kemeja serta rok dengan motif yang sama, menandakan bahwa gadis itu lulusan dari sekolah swasta.


“Aku jadi penasaran, kegiatan seperti apa yang akan kita lakukan hari ini,” lanjut Nadia terus berceloteh dengan semangat.


Krisan yang melihat antusiasme Nadia hanya menyunggingkan senyum tipis memaklumi.


Memang sejak dari asrama tadi, Nadia terus saja berceloteh riang soal kegiatan seru seperti apa yang akan mereka lakukan di Kegiatan Orientasi. Itu karena Nadia tahu bahwa ia satu kelompok dengan Krisan, dan juga tahu kalau Ardan serta gebetannya merupakan dua senior yang akan menjadi pembimbing kelompok mereka.


“Senang rasanya setelah tahu kita berada di kelompok yang sama, Kris,” kata Nadia dengan mata biru berbinar. “Senior pembimbing kita juga merupakan sepupuku, dan.... Aish.... Mas Damar juga ada di kelompok kita.” Ia jadi salah tingkah sendiri.


Selama berjalan bersama rombongan lain, keduanya sempat curi dengar obrolan beberapa Taruni di depan mereka.


“Eh, katanya anak baru yang bermasalah kemarin memutuskan tuk mengundurkan diri, lho.”


“Yang katanya sengaja menggunakan Kekuatan Kebangkitan buat merundung murid baru yang lain, kan? Perasaan tuk pelanggaran pertama cuma dikenai denda, bukan dikeluarkan dari akademi.”


“Dia emang sengaja keluar akademi. Enggak sanggup nanggung malu, kali.”


“Enggak mungkin kayak gitu, deh.”


Krisan mengerjapkan mata dengan ekspresi polos ketika menyimak obrolan para Taruni itu. Dia tahu betul siapa yang dimaksud. Hanya saja, ia tak menyangka jika perempuan itu memilih tuk mengundurkan diri dari akademi setelah kejadian kemarin.


“Si Tiana mutusin buat keluar dari akademi, kan?”


Krisan menoleh pada Nadia yang saat ini berjalan beriringan bersamanya dengan kedua tangan bersedekap di dada. Wajahnya terlihat bete ketika membahas perempuan yang ia benci itu.


“Syukur, deh, kalau dia sadar,” ucap Nadia angkuh. “Dia pasti merasa sia-sia ada di sini karena sang pujaan hati takkan pernah membalas cintanya. Emang tipikal perempuan enggak tahu diri Tania itu.”


“Sudahlah, Nad. Semua itu sudah berlalu, kok,” kata Krisan tenang. “Toh dia enggak bakal mengganggumu lagi mulai sekarang.”


Nadia mengangguk mantap. “Yep! Aku jadi makin tenang, deh.”


Sekarang, mereka sudah keluar dari area lobi dan tiba di jalan menuju lapangan. Nadia segera menggandeng erat lengan Krisan, membuat gadis berambut hitam tebal itu sedikit kaget dibuatnya.

__ADS_1


“Ayo, Kris! Kita cari kelompok kita. Kalau enggak salah, kita ada di Kelompok 17, kan?”


Lalu Nadia menggiring Krisan menuju pinggir lapangan sambil mencari wilayah kelompok mereka berada.


Setelah beberapa menit berjalan mencari keberadaan kelompok mereka, akhirnya Nadia dan Krisan menemukan hologram penanda Kelompok 17 di sisi lapangan dekat mereka.


“Woh.... Rupanya di situ, toh.” Nadia makin menarik Krisan menuju kelompok tersebut.


Ketika langkah mereka makin dekat, Nadia menemukan sosok Damar dan Ardan sedang sibuk mengatur barisan Kelompok 17. Senyum semringah terpancar di wajah cantik Nadia. Dia senang bisa bertemu gebetan dan sepupunya di saat kegiatan seperti ini.


“Krisan, Krisan.” Nadia menepuk-nepuk lengan Krisan. “Coba lihat!”


Krisan mengikuti arah tunjuk Nadia, tepatnya ke arah dua pemuda yang terlihat masih asing di mata Krisan.


Krisan tebak, dua pemuda itu pasti pengurus kelompok mereka. Satunya berambut hitam tebal dengan memakai kacamata, tapi postur tubuhnya terlihat ideal. Sedangkan satunya lagi merupakan pemuda berambut jingga dengan memakai ikat kepala, postur tubuhnya pun tampak lebih atletis, dan dia juga terlihat lumayan tegas pada para pelajar lain.


“Nah! Yang rambut jingga dekil itu sepupuku yang kemarin diincar sama cewek kamfret kemarin, namanya Ardan. Sedangkan kawannya yang berkacamata itu.... Aduh, ish....” Nadia jadi salting brutal membahasnya. “Ganteng banget sih dia hari ini...!”


“Gebetanmu?”


“Eh?!”


“Ah! Itu.... Kok bisa—.”


“Dengar dari cerita Kak Sheena kemarin.” Krisan menyunggingkan senyum tipis.


“Duh....”


Nadia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, malu ketahuan teman kalau gebetannya juga ada di sini, sedang ia kagumi pula.


....


“Baris yang benar, ya! Sesuai tinggi badan sama jenis kelamin. Sebelah sini baris cowok, sebelah sana baris cewek! Yang paling tinggi di belakang, begitu pula sebaliknya!” perintah Ardan tegas.


Sekarang, Damar dan Ardan sibuk mengatur barisan kelompok mereka. Pertama-tama, mereka akan melakukan kegiatan baris-berbaris dulu sebelum masuk masa pengenalan anggota kelompok.


“Baris yang bener! Kalau baris-berbaris aja masih kayak balita, kalah kalian sama anak-anak bebek!” Kemudian, Ardan bertanya pada Damar, “Mar, itu jumlahnya udah pas belum?”


Damar mengecek daftar di tabnya. “Udah pas kok jumlahnya. Cuma, tadi ada—.”


“Senior, ada kucing oyen ini!” teriak salah satu junior di barisannya. “Ikut baris juga dia. Diusir, malah pengen nyakar.”

__ADS_1


Benar kata junior lelaki itu, Ardan dan Damar menemukan keberadaan kucing oyen di dekat barisan laki-laki. Saat diusir, malah marah kucing itu.


Sambil cekikikan Damar berkomentar, “.... Mau ikut jadi tentara juga kali dia.”


“Aduh, Nyen...!” Ardan mengacak-acak rambutnya.


Ardan berjalan menghampiri kucing itu, kemudian mengangkatnya, mengabaikan segala macam amukan yang diarahkan kucing greget itu pada Ardan.


“Nyen. Tolong ya, Nyen. Demi citra kaum oyen, nih, ye. Lihat, rambutku juga oyen ini.” Ardan sempat menunjuk rambut oyen-nya. “Situ mending cabut aja dari sini. Ini tempat bukan habitatmu. Kita lagi baris-berbaris, bukan nyari betina. Jadi, sono pergi.”


Ardan langsung melempar kucing oyen gempal itu ke atas, dan terjun ke lokasi di mana kebetulan ada beberapa staf akademi lewat. Alhasil, kucing itu mendarat tepat di kepala salah satu staf dan sempat mencakar kepalanya pula.


“Adoh! Kepalaku dicakar kucing, ‘angke!”


“Kok bisa ada kucing jatuh dari langit?”


“Pak, ‘pala kau kayaknya pitak, deh.”


“Aaaakh!!!”


Melihat staf itu panik gara-gara kepalanya pitak dicakar kucing, buru-buru Ardan balik ke hadapan barisan, tak mau ketahuan kalau kucing itu terjun bebas ke kepala staf gara-gara lemparannya.


“Ei, kalau mereka nanya, bilang aja kucingnya dilempar setan,” kata Ardan pada para juniornya.


Dengan polos setengah lancang salah satu junior berkata, “Lah? Berarti senior dong setannya.”


“Meeeaaawrrrgh!!!”


“Gaaah!”


Spontan junior itu naik ke bopongan temannya gara-gara Ardan meraung macam kucing galak, sebelas-dua belas kayak kucing tadi.


“Memang ada gila-gilanya senior kita itu,” komentarnya heran dengan kelakuan Ardan setelah si senior itu menjauh.


“Mungkin karena dia termasuk bangsa oyen yang dikenal gereget sealam semesta,” sahut temannya yang membopongnya tadi.


Setelah dipastikan seluruh anggota Kelompok 17 lengkap, mereka pun mulai baris-berbaris dengan Ardan yang bertugas memimpin barisan. Berbeda dari sebelumnya, kini Ardan terlihat lebih tegas dan berwibawa saat memimpin baris-berbaris para juniornya.


Ya, kalau sudah seperti ini, sifat Ardan pasti jadi berubah lebih serius.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2