
“Oke. Sekarang, adakah yang ingin maju ke depan untuk—.”
Belum sempat Damar selesai bertanya, seorang junior mengangkat satu tangan, menawarkan dirinya tuk maju ke depan.
“Kaukah yang ingin memperkenalkan dirimu? Majulah,” ucap Damar ramah.
Junior yang merupakan seorang laki-laki muda itu mulai melangkah maju ke depan. Selama ia berjalan, beberapa junior sempat saling bisik dan memberikan tatapan kurang menyenangkan.
Nadia heran dan kebingungan ketika merasakan suasana sekitar mulai canggung ketika junior yang dimaksud maju.
“Kenapa suasana jadi tegang begini, ya?”
Setelah berhasil menenangkan dirinya dari serangan sejuta pesona Ardan, Krisan kembali datar dengan tatapan polos khasnya.
“Entah. Mungkin ada hubungannya dengan junior yang maju kali ini,” ucap Krisan datar sambil menyugar helaian rambut hitamnya.
Nadia diam seribu bahasa, mata birunya kembali melihat ke depan. Entah mengapa ia jadi merasa tak nyaman dengan suasana seperti ini. Dia takut akan terjadi hal yang kurang menyenangkan.
Junior itu kini sudah berdiri di depan para junior lain. Ardan yang saat ini memilih tuk duduk di kursi sempat memperhatikan tampilan fisik junior itu.
Si junior merupakan seorang pemuda dengan tubuh sedikit pendek dari Damar, berambut hitam, dan memakai seragam dari sekolah asal negaranya. Tatapan mata kelam itu tampak datar, sedikit tajam seakan-akan kurang tertarik dengan situasi ini.
“Perkenalkan dirimu,” perintah Ardan datar. Entah mengapa, Ardan merasa kurang tertarik tuk bersikap ramah terhadap pemuda dengan aura dingin ini.
Ekspresinya masih tetap datar, jeda sesaat sebelum akhirnya ia memperkenalkan diri dengan nada suara yang tak kalah datar pula.
“Namaku Shujin Ra’, usia 18 tahun. Dan aku berasal dari Negara Republik Han-bashio, dari Banua Timur.”
“Banua Timur, ya...? Pantas saja,” gumam Ardan.
Pasalnya, rata-rata penduduk dari Banua Timur memiliki sifat yang tertutup dan sangat menjaga privasi. Berbeda dengan penduduk dari Banua Tenggara seperti di Negara Ranjaya yang dikenal terbuka dan ramah terhadap siapa pun.
“Kalau di negara-negara Banua Timur, namamu ini berada di belakang margamu, kan? Seharusnya jadi Ra’ Shujin.” Damar sempat membaca data tab. “Namun karena harus mengikuti kebijakan di Akademi Milderan, marga dan namamu jadi harus dibalik.”
“Kalau untuk soal kebijakan nama, itu bukan masalah,” kata Shujin. “Yang jadi masalah di sini adalah perilaku para Taruna-Taruni di akademi ini.”
__ADS_1
Semua junior langsung dibuat tegang dengan pernyataan Shujin, bahkan Damar sempat agak terbelalak kaget mendengarnya. Namun, Ardan masih duduk diam mendengarkan.
Kali ini, perilaku Ardan tidak seperti biasanya. Lebih banyak diam dan memperhatikan.
Shujin menggelengkan kepala, kemudian kembali menatap tajam ke arah mereka semua dengan kilat mata menusuk.
“Aku menyesal masuk akademi militer yang konyol ini.”
Kali ini, semua pelajar di Kelompok 17 berhasil dibuat geram oleh kata-kata Shujin, terutama dari sikapnya yang terlihat dingin dan angkuh seakan-akan dirinya jauh lebih baik dari mereka.
“Dia benar-benar menyebalkan...!”
“Emang sejak awal kayak gitu orangnya.”
“Tadi, kami pengen ajak temenan sama dia, tapi dianya sendiri buang muka dengan angkuhnya sambil pergi tanpa ngomong apa-apa. Emang sombong dari lahir, kurasa.”
Nadia merasa makin canggung saat mendengar para junior saling berbisik marah. Benar yang dikatakan mereka semua, pemuda bernama Shujin itu terlalu dingin, dan itu membuat siapa saja jadi kesal padanya.
“Kris, suasana jadi sedikit ricuh.”
Shujin pun melanjutkan, “Kusebut akademi ini konyol karena para Taruna-Taruni’nya tidak tegas. Bagaimana bisa hari pertama Acara Orientasi hanya diisi dengan candaan basi dan senang-senang? Sangat tidak mencerminkan seorang prajurit!”
“Di hari pertama ini, seharusnya kalian melakukan latihan keras, disiplin! Tidak ada yang namanya bercandaan, ngebadut, dan segala macamnya. Buang-buang waktu! Hal-hal seperti itu malah membuktikan pada seluruh Ribelo kalau Akademi Milderan adalah Akademi Militer Antariksa terampas yang pernah dibangun oleh Pemerintahan Ribelo.”
Tanpa sadar Damar mengeratkan kepalan sebelah tangan. Berperilaku dingin seperti tadi saja sudah membuat jengkel banyak orang, apalagi sampai menghina akademi tercinta mereka.
“Terlalu sering senang-senang hanya akan membuat kalian lupa bahwa kenyataan dunia ini pahit, menyakitkan! Ada banyak orang di luar sana menderita, dan kalian di sini malah bersenang-senang, tertawa di atas penderitaan mereka.”
“Inikah gambaran Prajurit Antariksa yang dikenal mengemban tugas lebih berat dari prajurit jenis lain? Kalian tidak lebih dari sekedar manusia yang suka merengek di bawah ketiak pemerintah.”
“Jika kalian memang prajurit, tentara sejati, maka tunjukan ketegasan kalian! Tunjukan kalau kalian memang merupakan prajurit yang tangguh! Tidak konyol seperti ini.”
Para junior dari Kelompok 17 sudah hendak meneriaki Shujin, tapi niat mereka urung saat melihat Ardan mengangkat satu tangannya, memberi aba-aba agar tetap diam.
Shujin menatap datar ke arah Ardan yang saat ini masih duduk di kursi dan malah menyunggingkan senyum tipis, tetapi tatapan mata peraknya tampak tajam.
__ADS_1
“Sudah pidatonya, Bung? Silakan, bacot lagi ke depan sana. Panggung ini kuserahkan sepenuhnya padamu agar suara hatimu dikeluarkan semua,” satir Ardan. “Jangan ditahan.... Kalau kau tahan, nanti bisa jadi penyakit mental.”
Kepalan tangan Damar jadi melemas melihat Ardan mulai bersuara. Pemuda berkacamata itu mulai tersenyum. Ia percaya, Ardan pasti bisa menghadapi pemuda dingin seperti Shujin.
“Heh.” Shujin mendecih, “.... Beginilah balasan dari seorang pengecut kalau sudah dibanjiri fakta.”
“Aku yang pengecut atau kau yang ngebadut?”
Shujin melotot ke arah Ardan. Pemuda berambut jingga dengan kulit agak tan itu rupanya malah mengolok-oloknya dengan santai.
“Haaaah....”
Ardan beranjak dari kursi, berjalan menghampiri Shujin, berdiri tepat di hadapan pemuda yang sedikit lebih pendek itu sambil bersedekap tangan di dada hingga membuat otot-otot di pergelangan tangannya tampak menonjol.
“Dengar, para junior di sini sudah cukup cerdas untuk membedakan yang mana pernyataan yang benar dan salah. Kau kira dengan menghina Taruna-Taruni di sini dan menjelek-jelekkan akademi kami bakal membuat dirimu terlihat benar? Padahal, kau belum genap 24 jam ada di sini, sudah langsung mencap akademi ini sebagai akademi ampas. Pola pikir yang benar-benar ‘wow!’ bahkan hampir menyamai Tuhan,” sarkas Ardan.
Shujin mulai diam seribu bahasa ketika mendengar sarkasme Ardan. Dia ingin sekali menampik, tapi lidahnya kelu.
Ardan melanjutkan, “Ada beberapa poin yang ingin kupatahkan di sini, entah ini sesuai dengan pola pikir orang lain atau tidak, karena setiap orang punya pemikiran yang bervariasi. Yang pasti, tujuanku di sini adalah ingin sedikit meluruskan otakmu. Itu pun kalau otakmu tidak sekeras baja dan sebeku es, karena kau... dingin.”
“Ini adalah Kegiatan Orientasi Pelajar, tujuannya jelas hanya untuk pengenalan lingkungan akademi sekalian bersosialisasi dengan kawan-kawan baru. Wajarlah jika kami terlihat senang-senang, agar tidak terkesan canggung dan para junior pun merasa nyaman berada di sini. Kalau ingin latihan keras, akan ada masanya ketika tahun ajaran sudah dibuka. Kau bisa latihan dan bertugas sepuasnya, sampai menguras nyawa pun juga hajar!”
“Kau sebut kenyataan dunia ini pahit, itu memang benar! Jelas! Mutlak! Pada nyatanya, memang ada banyak orang menderita di luar sana. Tapi itu di luar dari jangkauan kami. Kita tidak tahu nasib makhluk lain yang berada di luar sana. Kalau pun kami tahu, tentu kami akan dengan senang hati mengulurkan tangan kami tuk menolong mereka. Namun, maaf, kami bukan Tuhan yang bisa tahu dan langsung bergerak meringankan beban orang lain, sedangkan kami pun juga punya beban sendiri.”
“Itu sebabnya kami bersenang-senang. Kami memang prajurit yang dituntut tegas, disiplin, dan mengayomi. Tapi ada masanya kami jenuh, stres dengan segala macam beban yang kami tanggung. Kami butuh hiburan walau hanya sesederhana mengobrol tentang kekonyolan masa kecil kami, duduk mengitari api unggun sambil bernyanyi bersama, bahkan hanya sekedar gotong royong sambil tertawa bersama pun sudah membuat kejenuhan kami sebagai prajurit sirna.”
“Kami ini manusia, makhluk hidup, bukan robot apalagi mesin pembunuh tak berhati nurani. Tugas kami memang membunuh musuh di medan perang, tapi bukan berarti kami harus membuang rasa empati kami dengan menjadi prajurit sok kuat, dingin, dan apalah itu.”
Semua junior Kelompok 17 langsung tertunduk mendengar semua pernyataan Ardan.
Yang dikatakan Ardan benar. Mereka memang prajurit yang dituntut tuk tegas dalam mengemban tugas, tapi mereka masih punya hati dan mental yang tetap harus dijaga agar tidak kehilangan sisi kemanusiaan mereka.
Mereka dididik untuk menjadi prajurit yang dapat melindungi seluruh planet, bukan monster yang suka membantai makhluk lain.
...~*~*~*~...
__ADS_1