Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 54 : Tetap Lanjut?


__ADS_3

“Taruna Shujin Ra’ menyerang Taruna Ardanu De’Cornell menggunakan racun pelumpuh.”


“Itu akan membuat tubuh Ardan lumpuh selama beberapa minggu. Dia sudah kelewatan.”


“Shujin telah melanggar aturan. Kita harus menghentikan pertarungan ini.”


Rafa masih fokus memperhatikan apa yang terjadi di arena, tapi telinganya beberapa kali mendengar kepanikan para staf yang hendak menghentikan tes.


Tes ini memang mengharuskan para Taruna-Taruni junior tuk bertahan dari segala serangan yang diberikan oleh senior pembimbing, bahkan akan menjadi suatu nilai plus jika seorang junior bisa mengalahkan seniornya.


Tapi tidak dengan cara sefatal ini. Yang dilakukan Shujin sama saja dengan membunuh Ardan secara perlahan.


Rafa jadi heran. Sebenarnya, apa motif Shujin sampai sejauh ini menyerang Ardan? Tidak mungkin ‘kan kalau hanya sekedar sakit hati akibat debat argumen yang dimaksud Nadia dan Damar.


Di tengah arena, seketika Ardan membeku, menunduk, tak ada pergerakan sedikit pun dari tubuhnya yang penuh luka berdarah hitam itu. Bahkan ketika puluhan tangan mayat yang mengikat tubuh Ardan menghilang, dia masih mematung di sana.


Shujin menoleh dari jauh sambil memutar-mutar satu belati. Dia menyunggingkan seringai puas ketika sudah berhasil membuat Ardan lumpuh begini. Dia tak peduli jika dirinya mendapat pelanggaran atau semacamnya. Yang penting, dia puas memberi pelajaran yang setimpal pada Ardan.


Inilah akibat yang didapat jika banyak membual seperti Ardan.


“Cobalah untuk berpikir lebih logis sejak awal,” kata Shujin. “Sejak kemarin, kau kebanyakan tingkah. Membuatku muak dan bersungguh-sungguh ingin menghajarmu sampai mampus.”


“Tenang saja. Racun pelumpuh itu hanya bertahan selama beberapa hari, tidak sampai berminggu-minggu. Tapi, harus ditangani cepat jika tidak ingin racun tersebut menjadi penyakit.”


Nadia dibuat geram dengan apa yang telah dilakukan Shujin terhadap sepupunya. Ini sudah sangat berlebihan.


“Apa yang sebenarnya dipikirkan orang biadab itu?!” histeris Nadia. “Dia enggak mikir apa kalau dia udah bikin Bang Ardan lumpuh kayak gitu?! Dia juga bakal kena hukuman dari pihak akademi atas apa yang ia perbuat!”


Krisan tak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya bisa mengelus pundak Nadia, berusaha menenangkan sang sahabat sambil berharap para staf segera mengambil tindakan untuk menghentikan pertarungan dan cepat-cepat mengobati Ardan.


“Bang Ardan harus—.”


Ucapan Nadia terhenti saat melihat Rafa berdiri sambil memberi isyarat pada para staf agar tetap tenang. Mereka tentu heran dengan tindakan Rafa itu.


Bagaimana bisa Rafa meminta mereka untuk tenang sedangkan keadaan arena sudah genting begini?


“Jangan ada yang berani melewati kubah pelindung untuk sekarang,” perintah Rafa dengan tenang.

__ADS_1


“Bang Raf, tapi—.”


Rafa menoleh, sorot matanya secara tak langsung menyuruh Nadia untuk tetap menyaksikan apa yang terjadi di arena selanjutnya.


“Heh, pa’an nih bocah? Masa cuma gara-gara debat kemarin malah langsung bikin aku hampir mati berdiri begini?”


Nadia, Krisan, Damar, dan orang-orang yang menonton arena tersebut tercengang ketika mendengar suara Ardan, termasuk Shujin.


Sambil menoleh dengan gerakan kaku dan kedua mata setengah melotot, Ardan berucap, “Racunmu memang cukup fatal, tapi masih belum cukup tuk benar-benar melumpuhkanku.”


Tiba-tiba, darah hitam yang mengalir dari sela-sela luka di tubuh Ardan menyembur deras seolah-olah mengeluarkan semua racun yang telah menginfeksi tubuhnya.


Setelah semburan darah hitam itu berhenti, perlahan luka-luka sayat tadi menutup dengan sendirinya, beregenerasi.


“Lukanya... beregenerasi...?” ucap Damar agak tercengang.


“Kan tadi sudah kubilang....”


Damar menoleh pada Rafa yang tampak tetap santai saja melihat apa yang terjadi di arena.


“Ilmu ke—.” Damar langsung mengacak rambut hitamnya, baru menyadari sesuatu. “Astaga! Baru ingat aku kalau Ardan belajar Ilmu Kebal, sama sepertimu.”


Rafa sempat terkekeh sejenak, “.... Kita ‘kan punya ekstrakurikuler Ilmu Kebal. Jadi, Ardan fokus meningkatkan pertahanannya lewat teknik itu.”


“Ilmu Kebal memang bukan bagian dari Kekuatan Kebangkitan, semua orang bisa belajar Ilmu Kebal, asalkan berani terima risikonya,” lanjut Rafa. “Latihan fisiknya sangat berat. Selain itu, kami juga bukan cuma berlatih di akademi, tapi juga diajari oleh abahku pula.”


Damar mengangguk memaklumi. Kalau sudah bawa-bawa abahnya Rafa, tentu latihan mereka bakal sangat keras. Tak heran jika hasilnya bakal sekuat ini.


“Ardan sudah mencapai Ilmu Kebal tingkat tinggi. Jadi, berbagai macam jenis racun tidak akan mempan padanya. Cuma, racun-racun Shujin masih perlu ditangani karena memiliki efek berkepanjangan,” kata Rafa lagi.


Selain mereka yang ada di tribun, Shujin pun ikut dibuat tercengang melihat tubuh Ardan berhasil mengeluarkan sendiri racun-racun di tubuh dan beregenerasi.


Sialan, seharusnya Shujin sudah mengira kalau Ardan menguasai Ilmu Kebal.


Kini Ardan bisa berdiri tegap menghadap Shujin, masih di posisi yang jauh. Satu kaki Ardan menghentakkan tombak yang tergeletak di lantai hingga terlontar ke atas, lalu ia tangkap dan diputar-putar sesaat sampai ia panggul di bahu.


“Usaha yang bagus, Junior. Kau berniat melumpuhkanku sampai segitunya, tapi enggak sampai mikir kalau yang kau lakukan termasuk pelanggaran.”

__ADS_1


Ardan memiringkan senyum remeh yang membuat Shujin makin jengkel melihatnya.


“Gini saja, aku enggak masalah kalau kau masih ada gemas-gemasnya pengen ngehajar aku. Walau agak capek juga, tapi aku masih sanggup mengetes kemampuanmu.”


“Jadi....” Ardan menaikkan sebelah alis. “Mau lanjut?”


Rupanya, Ardan masih sempat-sempatnya menantang Shujin untuk tetap melanjutkan pertarungan yang masih ia anggap sebagai ‘tes’ itu.


Gigi-gigi Shujin bergemeletuk hendak emosi, tapi berusaha ia tahan lagi karena ia tahu bahwa Ardan suka memancing emosi musuhnya.


Kalau Ardan ingin tes ini kembali dilanjutkan, Shujin tidak keberatan. Kali ini, Shujin akan semakin berusaha tuk benar-benar melumpuhkan Ardan, tak peduli jika tindakannya akan dianggap pelanggaran.


Melihat Ardan sendiri yang meminta tes tetap lanjut, para staf memutuskan agar tetap mengawasi dan mempertebal kubah pelindung untuk berjaga-jaga.


Rafa sendiri sebenarnya sudah cukup muak dengan pertarungan yang hampir tiada akhir ini, tapi dia memutuskan tuk tetap menonton bersama yang lainnya.


Ya, setidaknya Rafa punya bahan tuk menganalisa berbagai pergerakan dan strategi bertarung mereka. Dan lagi, ia masih penasaran dengan Kekuatan Kebangkitan milik Shujin yang terlihat aneh di mata Rafa.


“Pasak Perak.”


Ardan menciptakan lima batang pasak terbang perak. Namun berbeda dari pasak-pasak besi yang ia ciptakan, pasak perak ini akan bergerak mengikuti pola gerakan tombak. Seperti yang dilakukan Ardan sekarang sebelum menyerang, ketika ia memutar tombaknya, maka kelima pasak perak akan ikut berputar mengikuti gerakan tombak.


“Kali ini, aku yang menyerang duluan.”


Ardan langsung melesat ke arah Shujin. Tetapi, sebelum Ardan benar-benar berhasil mendekatinya, Shujin melancarkan salah satu jurus.


“Tidak secepat itu, Ardan!”


Kedua belati Shujin kembali menguarkan aura kegelapan disertai kilat ungu, ia silangkan di depan hingga lingkaran hologram berwarna ungu muncul di hadapannya.


“Aku memanggil kalian!”


Shujin melemparkan satu belati ke lantai melewati lingkaran hologram, sehingga menciptakan satu lagi lingkaran yang sama berwarna ungu dengan ukuran yang jauh lebih besar di permukaan lantai.


“Pasukan Bayangan!”


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2