Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 40 : Krisan Kepo


__ADS_3

Heri melotot kaget menyadarinya, apalagi Pak RT yang sempat dibuat jantungan gara-gara kapak melayang tersebut. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, seberapa seram sebuah kapak nan tajam melesat di depan wajah seseorang. Kalau tidak meleset, nyawa melayang.


“Huh.... Huh.... Huh....”


Pak RT berusaha mengatur nafasnya yang tak karuan sambil menatap horor kapak yang masih menempel di pohon sampingnya. Kemudian, ia alihkan pandangan, melotot murka pada Heri.


“Ma-maaf, Pak,” ucap Heri disertai senyum canggung.


Pak RT cuma geleng-geleng kepala. Ia naikkan sarung kotak-kotaknya sampai sebatas bawah dada, lalu kembali berjalan sambil membawa secangkir kopi di tangan satunya.


Selesai ngopi, rencananya Pak RT akan ke rumah Heri tuk memberi perhitungan. Tindakan tak sengaja tadi sudah hampir bikin orang temu-sapa sama Tuhan. Mana bisa ia lepaskan Heri begitu saja?


Sepeninggalnya Pak RT dari lokasi kebun, Heri menghela nafas lega karena untuk saat ini dia takkan ribut dengan Pak RT. Entah kalau sampai di rumah nanti. Coba bicarakan baik-baik sajalah.


Kemudian, mata biru Heri memperhatikan Krisan yang masih berdiri dengan wajah datarnya yang tetap terlihat imut di mata banyak orang.


Gadis ini sudah bikin orang kena sial, tapi tak tega rasanya Heri menyalahkannya.


Selain karena Krisan adik bungsunya, Krisan juga masih sangat polos dan imut. Keluarga mereka terlalu menjaga Krisan dari bahaya pengaruh luar, sampai-sampai cara menyapa orang dan alamat rumah saja sering lupa.


“Dek Ambar, kenapa nanya kayak begitu?” tanya Heri.


“Penasaran,” jawab Krisan singkat.


Lagi-lagi Heri menghela nafas, “.... Enggak boleh nanya kayak gitu ke orang, apalagi ke lawan jenis. Enggak sopan namanya.”


“Ooo....” Krisan sedikit memiringkan kepala. “Tapi, boleh tahu jawabannya?”


Dari pada adiknya terlalu penasaran, lalu melakukan hal-hal nekat tuk mencari tahu sendiri, sebaiknya Heri jawab saja seadanya.


Walau Krisan ini pendiam dan irit bicara, dia akan melakukan tindakan aneh-aneh demi menuntaskan rasa keponya. Sudah banyak hal gila yang dilakukan Krisan selama di kampung, seperti memanjat pohon kelapa paling tinggi, menyembelih bebek tetangga yang tak sengaja masuk ke area rumahnya, mancing ikan pakai kotoran ayam, sampai menebang pohon mangga orang agar buah-buahnya bisa diserahkan pada bibinya yang lagi ngidam.


Memang segala tindakan yang dilakukan Krisan meresahkan. Tapi karena gadisnya cantik, imut, polos, primadona kampung juga, jadi tak ada yang tega tuk memarahinya.


“Gini, Mbar.” Heri menjawab, “Bentukan dada cowok yang kayak aku ini, itu terbentuk dari otot, hasil latihan keras sehari-hari. Beda halnya kalau sama dada cewek atau dada cowok yang gemuk, itu murni lemak.”


Krisan mengangguk paham. “Apakah dada cowok bisa mengeluarkan asi juga?”


“Iya— Ma-maksudku, tidak!” Heri menggeleng gara-gara sempat latah. “Kami tidak mengeluarkan sesuatu yang putih-putih itu dari dada kami. Kecuali yang di bagian bawah— Eh?!”


Heri langsung menutup mulutnya disertai mata melotot. Siallah dia, keceplosan bicara tak senonoh di hadapan adiknya sendiri.

__ADS_1


Sesaat Krisan diam terpaku, hingga ia mengambil ekspresi berpikir serius, “Hmm....”


Paniklah Heri melihat Krisan berpikir seserius itu. Jangan sampai adiknya jadi kepo yang tidak-tidak.


“Eee.... Anu, Ambar....” Heri menunjuk-nunjuk rantang makanan yang dibawa Krisan. “Itu makanan untukku, kan?”


Pikiran kepo Krisan langsung buyar, teralihkan dengan rantang yang ia bawa. “Oh, iya. Ini ada makanan untukmu, Bang. Masakan dari Bunda.”


Krisan berjalan menghampiri Heri, menyerahkan rantang makanan tersebut padanya.


“Wah.... Pasti enak, nih.” Heri langsung membalikkan tubuh Krisan membelakanginya. “Ya, udah. Mending kau pulang aja dulu. Enggak baik anak perawan kelamaan keluyuran sendiri kayak gini, entar diculik Jin WekWek. Bilang makasih ke Bunda udah bikinin aku makanan, yak. Dah!”


Heri mendorong pelan Krisan agar menjauh darinya. Krisan sempat menoleh bingung ke arah Heri, tapi akhirnya dia memilih tuk pulang seperti yang diharapkan Heri.


Untuk kesekian kalinya, Heri menghela nafas lega. Lututnya lemas setelah melalui hal-hal mengejutkan hari ini, mulai dari Krisan nanya yang enggak-enggak, hampir bunuh Pak RT, sampai keceplosan menyesatkan otak polos Krisan.


Heri menatap rantang makanannya dengan wajah sendu.


“Gini-gini amat punya adek. Untung imut.”


...~*~*~*~...


Sejak kejadian itu, Krisan tidak kepo lagi soal dada pria. Namun, setelah melihat bentuk dada Ardan yang tampak agak lebih besar dan padat ketimbang punya saudaranya, jiwa kepo Krisan kembali bangkit dari kubur. Ya, wajar saja lebih padat. Otot-otot Ardan saja lebih besar dari pada punya abangnya.


Ardan pun menoleh. “Eh? Iya? Ada apa lagi, Dek?”


Krisan menunjuk ke atas, ekspresi wajahnya masih terlihat datar. “Ada roket mau jatuh.”


“Eh, mana?”


“Serius?”


Otomatis Ardan mendongak ke atas, begitu juga Damar yang penasaran dengan roket yang dimaksud.


Selagi pandangan mereka teralih, Krisan langsung meremas hingga mencubit p*ting dada Ardan.


“Akh! Aaah....”


Sontak Ardan terkejut merasakan rasa geli-geli nyeri di dadanya, terutama bagian p*ting. Ketika melihat ke posisi semula, sosok Krisan sudah langsung kabur secepat mungkin meninggalkan mereka.


Damar yang sempat melihat kejadiannya sekilas jadi syok, hampir tak percaya. “Buset! Tuh cewek.... Diam-diam bahaya juga. Main begal dada cowok aja. Nih, gimana, Dan? Kau tak ap— Dan?”

__ADS_1


Damar bahkan lebih syok lagi ketika menyadari keterdiaman Ardan.


Ardan diam terpaku dengan mata perak agak sayu, samar-samar rona merah muncul di wajahnya, dan nafas mulai tak karuan. Bahkan satu tangannya sempat meraba-raba bagian dadanya yang kena remas.


Dalam hati, Ardan girang bukan main ketika sadar si doi menyentuhnya dengan brutal.


“Dan! Sadar! Jijik kutengok kau birahi kayak gini!”


...~*~*~*~...


Krisan terus melangkah memasuki stasiun kereta dekat akademi, menyusul teman-temannya yang sebentar lagi siap tuk berangkat ke Sektor Pelatihan. Selama melangkah, tak henti-hentinya Krisan memperhatikan tangannya sendiri, mengingat-ingat apa yang baru saja ia lakukan tadi.


“Hmm.... Seperti itu ya tekstur dada cowok?” gumam Krisan.


“Kris!”


Krisan menoleh, menemukan sosok Nadia sudah berdiri di salah satu pintu masuk kereta listrik, melambaikan tangan padanya. Ia pun berlari kecil menghampiri Nadia.


“Krisan, kok lama banget, sih? Dari mana saja kau?”


Awalnya, Krisan diam beberapa saat. Namun, entah ada apa gerangan, Krisan yang sering kali bermuka datar dan polos malah tersenyum pada Nadia.


Senyum Krisan kali ini begitu cerah dan manis. Mata birunya sedikit menyipit, memberi sinar kegembiraan tersendiri, serta sedikit kemunculan rona merah yang membuatnya jadi semakin imut.


Spontan kedua mata biru terang Nadia menyipit, tak sanggup menerima betapa cerahnya senyum Krisan. Bahkan para Taruna yang sempat lewat pun jadi terpesona melihat senyum langka gadis bersurai hitam panjang itu.


“Tadi ada urusan bentar, kok.”


Tanpa banyak bicara lagi, Krisan segera masuk ke dalam kereta, membiarkan Nadia yang masih diam dengan mata menyipit gara-gara masih silau dengan senyuman cerah Krisan.


“Krisan enggak lagi gila, kan?” gumam Nadia heran, lalu berjalan masuk ke dalam kereta. “Baru kali ini aku lihat Krisan tersenyum sesenang itu.”


Saat Krisan sudah mendapatkan tempat duduknya pun, ia masih tersenyum cerah disertai kilau-kilau imajiner menemaninya.


Itu disebabkan karena rasa kepo yang selama ini membuat Krisan penasaran sudah sirna. Memang wajar bagi Krisan merasa sesenang itu ketika rasa penasarannya sudah terpenuhi.


Namun, ekspresi senangnya jadi berganti heran ketika memikirkan sesuatu.


Rasa keponya memang sudah terpenuhi.


Tapi, kenapa sekarang malah nagih?

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2