
Ardan menyipitkan mata ke arah Rafa. Dia baru sadar kalau Rafa sekarang sudah berdiri sendirian di sini. Padahal tadi ia dan Krisan sempat melihat Rafa berdansa bersama Miranda.
“Raf, kok udah sendirian aja? Perasaan tadi kau dansa bareng Senior Miranda, deh.”
Mendengar nama Miranda kembali disinggung, otomatis raut wajah Nadia menampakkan kejengkelan. Entah mengapa, setiap kali mendengar nama Miranda, Nadia pasti langsung bete.
Dengan datarnya Rafa menjawab, “Pas masuk fase musik semi cepat, kami mutusin buat berhenti dansa aja. Pasangan-pasangan lain juga pada nyerah pas masuk fase itu.”
“Yang ngajak Senior Miranda dansa kau, kan?” Ardan bersedekap tangan di dada. “Kok tumben kau ngajak-ngajak cewek berduaan begitu?”
“Cuma iseng. Dari pada bengong sendirian aja macam orang bego.”
Nadia memutar bola matanya. Walau ia sempat khawatir kalau Rafa ada ketertarikan sama wanita yang usianya lebih tua dari si abang, Nadia yakin jika Rafa sama sekali tidak ada rasa sama Miranda. Dari cara menjawabnya saja, Nadia sudah mengerti jika Rafa memang iseng saja mengajak Miranda berdansa bersama.
Padahal, kalau berdiri sendirian pun tak apa. Tapi terserah, lah. Lama-lama Nadia jadi malas mikirin soal Rafa ini.
...~*~*~*~...
Sudah sekitar satu jam lebih lamanya pesta penutupan berlangsung. Beberapa tamu undangan ada yang memilih untuk segera pulang karena ada urusan lain, sedangkan para pelajar akademi tetap harus ada di acara karena setelah pengumuman pemenang lomba, mereka masih harus mengambil sertifikat masing-masing yang akan dibagikan oleh para senior dari Organisasi Teladan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Parta naik panggung untuk mengumumkan siapa pemenang lomba dansa malam ini.
“Oke, semuanya! Maaf telah menunggu lama. Jadi, kami sudah mendapatkan siapa saja pasangan yang menang dalam lomba dansa malam ini. Kita akan mulai mengumumkan juara paling bawah dulu, yaitu juara ke-5.”
Parta memberitahukan siapa saja pasangan yang memenangkan lomba dansa sesuai urutan paling bawah, memanggil mereka bergantian, dan membantu menyerahkan hadiah bersama para petinggi yang menjadi perwakilan akademi.
Sampai pada akhirnya, Parta mulai antusias mengumumkan siapa pemenang juara satunya.
“Oke! Jadi, inilah pasangan pemenang juara satu lomba dansa pada Pesta Penutupan Acara Orientasi malam ini. Pemenangnya adalah....”
Parta sempat melihat daftar pemenang paling atas. Mata kelamnya menyipit heran kala menyadari pasangan siapa yang menang. Dia merasa ada yang aneh dalam penilaian untuk juara satu kali ini, jadi ia putuskan tuk memanggil salah satu panitia.
“Cuy, cuy!” panggilnya pelan sambil menjauhkan mic agar tidak kedengaran para tamu dan pelajar di ballroom.
Salah satu panitia berpakaian rapi menghampiri, “Nape?” tanyanya polos.
Parta memperlihatkan isi tab. “Ini serius, mereka berdua yang menang?”
Panitia itu sempat melihat daftar pemenang, ia pun mengangguk. “Itu dinilai dari hasil voting para pelajar.”
__ADS_1
“Serius? Mereka nge-troll, kali. Masa kayak beginian menang?”
“Tahu. Udah dikonfirmasi sama petinggi juga. Jadi, biarin aja apa yang udah ada aja.”
Parta pun menghela nafas, berusaha memaklumi hasil voting untuk pasangan juara satu. Ia pun kembali mengumumkan.
“Jadi, juara satunya adalah.... Pasangan Ardanu De’Cornell dan Krisan Ambarwati!!!”
Semua langsung bertepuk tangan dengan meriah, bahkan ada yang sampai bersorak, bersiul nyaring sampai batuk-batuk ketika mendengar Ardan dan Krisan menang.
Dua orang aneh yang dipanggil malah celingukan, bingung sekaligus tak menyangka kalau mereka bisa menang. Padahal, sejak awal sampai akhir fase, dansa mereka benar-benar tak karuan.
“Lho? Kok Ardan dan Krisan bisa menang juara satu?” Bahkan Rafa pun dibuat bingung dengan kabar ini.
Damar pun berbisik pada Rafa. “Pemenangnya dinilai berdasarkan voting para pelajar lain. Kurasa karena pengaruh Ardan yang dikenal sebagai Taruna paling gokil di akademi, makanya banyak pelajar ngasih voting troll ke mereka.”
“Terus? Jurinya nilai enggak?”
Damar menggeleng bingung, “Kayaknya enggak pakai juri, deh.”
“Anjirlah. Beruntung banget yak si Ardan ama Krisan. Padahal, dansa mereka paling berantakan lho dari yang lain,” komentar Rafa.
Damar dan Rafa benar-benar tak menyangka kalau dua pasangan aneh itu bisa seberuntung ini.
Ardan yang saat ini bingung disoraki dengan meriah berucap, “Lha? Kok kita menang?”
“Iya. Kok kita menang, ya?” ucap Krisan tak kalah bingung.
Otomatis kepala keduanya malah kena jitak Nadia dari belakang.
“Bukannya seneng, malah bingung sendiri.” Nadia pun mendorong tubuh mereka. “Cepetan sono, naek ke atas panggung! Dah dipanggil noh sampai ileran pembawa acaranya.”
Masih dalam mode kebingungan, Ardan dan Krisan pun melangkah bersama menuju panggung.
Ketika sudah sampai di atas panggung, keduanya langsung mendapatkan seserahan hadiah dari Parta dan perwakilan petinggi akademi. Mereka sempat foto-foto sebentar, sampai pada Parta mulai mewawancarai mereka.
Tiana yang melihat kemenangan mereka dibuat kesal. Dia masih ingat kalau dansa yang Ardan dan Krisan lakukan sangatlah konyol. Kok bisa keduanya menang, juara satu pula?
“Dasar sekumpulan orang-orang idiot,” umpat Tiana geram.
__ADS_1
“Sudahlah.” Xavero berucap santai, “Biarkan saja mereka menikmati kemenangan mereka. Mungkin itu sudah rezeki mereka.”
Iya, tapi tetap saja Tiana tidak suka melihatnya. Apalagi melihat kebersamaan Ardan dengan gadis kampung itu.
....
“Waaah...!” Nadia terkagum-kagum ketika mendapati tangan Ardan dan Krisan penuh dengan berbagai macam hadiah. “Selamat, ya! Enggak nyangka kalau abang dan sahabatku ini bisa menang. Kalian memang pasangan topcer!” Tak lupa ia juga mengacungkan jempol.
Ardan dan Krisan sampat adu lirik sesaat, masih tetap tak percaya sampai sekarang kalau merekalah yang menang.
“Jadi....” Rafa mulai menggoda, “Ajak kita-kita dong buat liburan ke pulau tropis selama libur semester.”
“Ah, iya! Salah satu hadiahnya ‘kan emang paket liburan.” Damar pun bertanya, “Katanya cukup buat satu rombongan. Emang satu rombongan bisa bawa berapa orang?”
“Emm....” Ardan mencoba mengingat, “Sekitar 15 orang, kalau enggak salah.”
“Wah! Banyak juga, yak,” ucap Damar agak tercengang.
“Kita bisa liburan bersama selama libur semester nanti. Pasti mengasikan!” seru Nadia antusias.
“Boleh aku ajak keluargaku?” tanya Krisan polos, wajahnya hampir tenggelam oleh rangkaian bunga dan bingkisan hadiah yang ia bawa.
“Tentu saja boleh. Ini ‘kan hadiahmu juga,” kata Ardan pada Krisan. “Sekalian bisa kenalan sama calon mertua. Aha— Adoh!”
Lagi-lagi kepala Ardan kena jitak Rafa. Lama-lama, kelakuan Ardan yang kegatelan sama Krisan jadi bikin gemas juga. Bakal nambah lagi tugas Rafa jadinya, selain membatasi hubungan Damar dan Nadia agar tidak kebablasan, ia juga jadi musti membatasi Ardan dan Krisan biar sepupunya itu enggak khilaf ngapa-ngapain anak orang.
“Jangan halu dulu, Dan.” Rafa bersedekap tangan di dada, lalu tersenyum usil, “Memang ortu Krisan sudi punya menantu ODGJ macam kau?”
“Ashu kau, Raf!”
“Ahahahaha....”
Dalam kemeriahan Pesta Penutupan Acara Orientasi, mereka tertawa bersama, saling membagi kebahagiaan bersama sebagai sahabat sejati yang sulit tuk terpisahkan.
Malam ini merupakan malam yang sangat beruntung dan menyenangkan bagi mereka. Setelah ini, mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk tahun ajaran baru yang mana kegiatan belajar mereka bakal semakin padat.
Siap-siap saja menghadapi banyak rintangan selama belajar di Akademi Militer Antariksa Milderan ini.
...~*~*~*~...
__ADS_1