
[Memberi keamanan pada komunikasi menuju Markas Utama]
[Kode Komunikasi : ETNA003-(987AAA3467BZW4)]
[Koordinasi posisi : Pulau Meiran (Kode Lokasi : MI-314), Negara Republik Ranjaya (Banua Tenggara), Planet Ribelo]
[Pengingat!]
[Riwayat komunikasi ini akan otomatis dihapus oleh Sistem Keamanan Komunikasi sesuai standar Keamanan Militer Antariksa Pusat]
[Mengamankan Komunikasi Antar Bintang]
[Memuat....]
Ponsel di tangan Shujin beberapa kali memberi notifikasi keamanan ketika ia berusaha menyambungkan panggilan ke markas pusat yang berada jauh di tata surya lain.
Ia duduk di atas ranjang sendirian dalam remang-remang unit asrama, menggenggam ponsel sambil menatap layarnya dengan datar, menunggu keamanan panggilan diselesaikan oleh Sistem Komunikasi Antar Bintang.
Sambil menunggu, mata kelam Shujin menerawang ke sekitar. Tiga ranjang di unit ini tampak tertata rapi, ditinggalkan oleh para penghuninya.
Di sini, Shujin tidak sendirian. Dia satu unit asrama dengan bawahannya sendiri dari satuan tim yang ia pimpin untuk misi kali ini. Semua itu bisa diatur berkat orang-orang dalam yang berhasil menyusup dan beradaptasi dengan lingkungan Akademi Milderan.
Semua rencana telah dikoordinasikan dengan baik, hanya perlu mengumpulkan lebih banyak informasi dari pihak musuh dan menunggu momen yang tepat, maka mereka akan segera bergerak.
Bergerak memberi kehancuran yang sebenarnya.
[Komunikasi telah terhubung!]
Setelah notifikasi lenyap, kini layar ponsel beralih pada komunikasi panggilan video. Di sana tampak sosok humanoid berjubah gelap tanpa wajah dan hanya memiliki satu mata kanan duduk dengan wibawa di depan kamera komunikasi.
Dengan sopan Shujin pun memberi hormat, “Hormat saya, Kapten Zeon Atsashi, pada Yang Terhormat—.”
“Tak perlu mengucap jabatanku,” potong sosok humanoid itu, “Cukup panggil aku Tuan Ajhu.”
Shujin, atau yang dikenal bernama asli Zeon, hampir lupa kalau atasannya itu selalu ingin dipanggil ‘Tuan’ ketimbang memanggilnya dengan jabatan asli.
“Saya dengar dari bawahan saya, Anda berusaha menghubungi saya sejak tadi. Apa ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?” tanya Shujin sopan.
__ADS_1
Dengan tenang tapi terkesan tegas, Ajhu berkata, “Ya. Sangat disayangkan.... Di hari pertama kau hadir di akademi, kau sudah berbuat masalah. Dan sekarang, aku mendapat kabar kalau kau mendapat hukuman serta sanksi dari pihak keamanan akademi.”
“Sebenarnya, apa yang kau pikirkan, Kapten Zeon Atsashi? Tak takutkah kau jika ada yang mencurigaimu?”
Sudah Shujin duga. Cepat atau lambat, tindakan semena-menanya di akademi pasti akan diketahui Ajhu. Dia tahu karena beberapa bawahan Shujin yang bekerja di bawah perintahnya juga merangkap sebagai pengawas yang mengawasi pergerakan Shujin sebagai pemimpin tim.
Hal seperti itu tentu sempat membuat Shujin risih, tapi dia sudah terbiasa diawasi seperti itu, apalagi jika tujuannya untuk menilai seberapa bagus kinerja Shujin di lapangan.
Dengan begitu, para petinggi militer akan menilainya sebagai perwira yang pantas tuk dibanggakan.
Dengan tenang Shujin menjawab, “Sebelumnya, saya minta maaf atas keteledoran saya. Semua itu terjadi sebagian karena ego saya yang tak terkendali, sedangkan sisanya memang disengaja karena termasuk bagian dari misi.”
“Disengaja?” tanya heran Ajhu sambil menautkan kedua tangan di depan, mengawasi Shujin dengan tatapan tajam lewat iris menyala dari bola mata hitam khas humanoid itu.
Shujin menyunggingkan seringai angkuh, “Anda pasti sudah menerima rekaman tentang keributan yang saya buat di arena pengetesan, bukan?”
Ajhu bergeming, teringat bahwa dia baru saja selesai melihat video pertarungan Shujin melawan salah seorang Taruna, dikirim oleh bawahannya yang juga menyusup ke akademi.
Ajhu terkesan dengan pertarungan hebat itu. Kemampuan Shujin di arena memang tidak diragukan lagi. Walau Shujin sempat beberapa kali gagal melumpuhkan Taruna itu, tapi gaya bertarung Shujin sudah terlihat sangat bagus.
Tak sia-sia ia menjadikan Shujin sebagai salah satu perwira kebanggaan di angkatannya.
Taruna misterius tersebut memiliki bentuk wajah dan warna rambut yang sama dengan Astan ketika masih muda, apalagi dengan cara bicara yang terkesan meledek ke arah musuh, seperti ciri khas Astan setiap kali ia ingin membuat musuh makin kesal padanya.
Girdan sempat berspekulasi, Taruna itu kemungkinan merupakan anak kandung Astan. Tetapi, Ajhu masih belum bisa langsung yakin. Makanya, dia memastikan kembali dengan menghubungi Shujin, sosok yang telah melawan sang Taruna secara langsung.
Ajhu mengangguk, “Ya.... Aku menerimanya. Pertarungan itu sangatlah epik. Tapi, aku lumayan curiga pada pemuda yang kau lawan, Kapten Zeon. Kau tahu siapa dia?”
Ada jeda beberapa saat sebelum Shujin kembali bicara.
“Yang saya tahu, dia merupakan senior saya di Jurusan Ilmu Pertahanan dan Strategi. Nama lengkapnya Ardanu De’Cornell atau yang lebih sering disapa Ardan.”
“Cornell, huh...?”
Ajhu teringat kalau Astan juga memiliki marga ‘Cornell’ di belakang namanya. Astan dan Ardan memiliki kesamaan rupa, serta marga yang sama pula. Seharusnya, poin-poin itu saja sudah cukup meyakinkan bahwa keduanya memiliki hubungan ayah dan anak kandung.
Shujin menaikkan satu alis ketika melihat sang atasan tampak berpikir di seberang sana. “Sudah menyadari kalau Ardan merupakan putra Astan?”
__ADS_1
Ajhu sedikit berjengit ketika kembali menghadap ke kamera komunikasi. Sepertinya, Shujin juga sudah menyadari kecocokan antara keduanya.
“Awalnya, aku kurang yakin karena belum bertanya padamu yang telah menghadapinya secara langsung. Tapi setelah mendengar ucapanmu tadi, aku jadi mulai yakin kalau Ardanu De’Cornell merupakan putra Astan Pradipta Cornell.”
“Terus, apa alasanmu cari masalah dengan putra Astan ini?” tanya Ajhu lagi dengan tenang dan terlihat berwibawa.
Shujin memutar kedua bola mata kelamnya. Sebenarnya, kalau saja bukan karena tugas, ia malas tuk menjelaskan hal ini.
“Kau berani memutar matamu di hadapan atasanmu, Kapten Zeon,” sindir Ajhu masih bernada tenang.
“Maafkan saya, Tuan.” Shujin pun menjelaskan, “Sebenarnya, sejak awal mengetahui Ardan menjabat sebagai senior pembimbing di kelompok saya, saya mulai curiga kalau anak ini ada hubungannya dengan Astan. Jadi, saya coba memancing responnya dengan cara merendahkan orang-orang di sana beserta akademi ini. Dan rupanya, kepribadiannya hampir sama seperti yang kalian gambarkan soal kepribadian Astan sendiri.”
“Saya juga tahu rupa dan kepribadian Astan lewat cerita Anda dan beberapa petinggi militer yang mengenal betul riwayat hidup Astan. Jadi, saya bisa menyimpulkan hubungan Ardan dengan Astan. Selebihnya, saya tidak begitu tahu.”
Shujin sempat menghela nafas berat, “.... Akan tetapi, entah mengapa kepribadian Ardan ini kalau dihadapi secara langsung malah bikin saya kesal. Saya pun cukup kesulitan mengontrol emosi dan ego saya tuk membalas perilaku Ardan yang menurut saya sangat menggelikan.”
“Dia malah mengingatkan saya pada....”
Pikiran Shujin sempat memutar memori masa lalu, tentang makhluk humanoid jantan yang terus memberi senyuman, bersikap ramah pada orang lain, tak ragu menolong siapa pun yang dalam kesulitan, tapi malah berakhir mati oleh pengkhianatan orang lain.
Humanoid itu memiliki kepribadian yang hampir sama dengan Ardan, bedanya Ardan lebih frontal dalam menyampaikan ketidak-sukaannya. Namun keduanya sama.
Sama-sama naif. Sok menghargai orang lain, sok bertindak bagai pahlawan, sok baik, dan sok bijak.
Shujin muak dengan orang-orang seperti mereka. Oleh sebab itu, dia ingin sekali memberi pelajaran pada Ardan hingga hampir lupa dengan misi dan pelanggaran yang akan ia dapatkan di akademi.
“Kau tahu sendiri, Kapten. Seorang prajurit sejati tidak boleh melibatkan ego dan perasaan ketika menjalankan misi.”
“Saya mengerti, dan maafkan saya atas kelancangan saya dalam misi yang baru saya jalankan ini,” mohon sopan Shujin. “Ke depannya, saya berjanji akan lebih berhati-hati dalam bertindak.”
Kini giliran Ajhu yang menghela nafas.
Sebenarnya, ia agak ragu tuk mempercayakan Shujin dalam misi menyusup dan mengawasi keadaan Akademi Mideran karena pribadinya yang sulit beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Namun, karena kemampuan bertarung dan kejeniusannya, Ajhu jadi mempercayakan misi ini pada Shujin, sesuai rekomendasi salah satu perwira.
“Setelah mengetahui kebenaran tentang Ardan ini, apakah Anda punya tujuan baru untuk mengincarnya juga?” tanya Shujin sesopan mungkin.
__ADS_1
...~*~*~*~...