
Pada malam hari di asrama putra, seperti pagi tadi, Damar lebih memilih bersandar di kasur sambil ngemil dan nonton televisi yang kebetulan tengah menayangkan berita.
“Pemerintah Negara Ranjaya sepakat menentang gerakan tersebut dengan memboikot semua produk hingga tayangan yang mendukung gerakan ini. Sesuai undang-udang yang berlaku. Jika ada masyarakat Ranjaya yang ketahuan memiliki orientasi seksual menyimpang, maka akan dikenai denda dan hukuman. Namun, pelaku masih bisa diberi kesempatan untuk menyembuhkan diri dari penyimpangan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.”
“Heran aku sama orang-orang di sana. Penyakit kok dipelihara?” komentar dingin Damar sambil ngemil.
Saat sedang asik menonton berita, pintu unit asrama terbuka, memperlihatkan sosok Rafa yang baru saja masuk ke dalam unit, duduk di ranjang dengan wajah kusut sambil mengacak-acak rambut pirangnya.
Melihat rekannya jadi tak karuan begitu, Damar pun bertanya, “Kenapa kau? Habis diterjang tsunami fakta?”
Dengan ketus Rafa menjawab, “Bisa dibilang begitu.”
Di saat yang sama, Ardan baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan setengah basah dan hanya mengenakan handuk di pinggang, memperlihatkan bagian otot-otot dengan kulit eksotis yang terbentuk sempurna, apalagi pada bagian perut eightpack-nya itu.
Sebelah alis Ardan naik ketika menemukan sepupunya tampak duduk dengan wajah kusut di tepi ranjang. Ada apa gerangan?
“Raf, kok mukanya kusut gitu kayak rambut nenek-nenek?” tanya Ardan sambil mengeringkan rambut jingganya menggunakan handuk lain.
Rafa pun mengatakan yang sebenarnya, “Aku habis dipanggil sama Kepala Keamanan.”
“Kok bisa? Cari ribut kau?”
“Bukan aku yang cari ribut.” Rafa memijit keningnya. “Tapi adik kita yang kena masalah.”
“Hah? Si Nadia maksudnya?”
Rafa mengangguk mengiyakan.
Ardan dan Damar sempat terkejut mendengarnya. Belum juga masuk Acara Orientasi Akademi, Nadia sudah dapat masalah.
“A—.”
“Terus, si Nadia gimana? Dia ada yang luka? Kena tegur? Kena denda? Atau kenapa-napa?”
Belum juga sempat Ardan bertanya, sudah keduluan sama Damar. Ya, wajar saja karena Nadia merupakan gebetan Damar sejak lama.
Makin betelah Rafa melihat respon panik Damar. “Kau ini. Kalau soal Nadia, langsung gas aja macam knalpot motor. Dia enggak kenapa-napa. Cuma, sebagai anggota keluarga wali yang bersangkutan, aku musti bayar denda atas masalah yang dialami Nadia sebanyak 150 Dt. Itu duit lumayan lho buat jajanin dia seblak sampai lima hari.”
“Emang siapa sih yang berani cari masalah sama Nadia? Dia aja baru masuk tahun ini, kok bisa langsung punya musuh?” Ardan mulai duduk di atas ranjangnya.
“Ini nih bagian yang bikin aku emosi, Dan.” Sambil menahan marah, Rafa menjawab, “Tiana sama gengnya itu lho yang berulah. Aku enggak nyangka mereka bisa masuk akmil begini. Padahal bentukannya sendiri sama sekali tidak mencerminkan sosok yang mampu mengemban kewajiban melindungi masyarakat satu planet.”
__ADS_1
“Heh?”
“Hah?”
Ardan dan Damar tampak kebingungan dengan siapa yang dimaksud Rafa. Kalau Damar wajar bingung, ia tidak tahu Tiana karena ia sendiri kenal dengan Ardan, Rafa, dan Nadia setelah mereka lulus SMP. Namun, Ardan sendiri kebingungan karena dia sama sekali tidak ingat siapa Tiana.
“Tiana?” Ardan bertanya, “Tiana siapa?”
Rafa membelalak tak menyangka jika sepupunya ini lupa sama perempuan yang sudah naksir berat dengannya sejak awal masuk SMP.
Kok bisa Ardan pikun sendiri? Padahal Ardan anaknya ekstrovert, mudah mengingat nama-nama banyak teman. Kenapa perempuan yang sering ngejar-ngejar Ardan ini malah dia lupa?
“Tiana, Dan.... Tatiana Williem, anaknya si model terkenal entu, yang bapaknya juragan IT. Dia naksir berat sama kau sejak SMP. Masa kau lupa?”
Ardan menyipitkan matanya, makin bingung dan susah mengingat siapa Tiana itu.
“Tiana mana? Rasa-rasanya aku enggak pernah kenal sama yang namanya Tiana.” Ardan menggaruk kepalanya. “Kalau DaTiana Moraldo baru aku tahu.”
“Lah? Bukannya DaTiana Moraldo itu pemeran video esek-esek,” tebak Damar.
“Kok tahu, sich? Pernah nonton, yaaa...?”
“Duh....”
Padahal niat awal mau menjebak Ardan, malah dia yang kena jebak. Dia sendiri juga sangat jarang menonton video yang begituan, cuma nonton pas memang benar-benar tidak ada kerjaan. Kalau Ardan jangan ditanya lagi kenapa dia bisa tahu nama pemeran video begituan tersebut.
Beruntung Rafa kelihatannya tidak tertarik membahas hal itu, dia lebih fokus mengingatkan Ardan tentang perempuan yang cari masalah sama Nadia. Kalau sempat peduli, bisa hilang kesempatan Damar buat pedekate dengan Nadia.
“Serius, Dan. Kau tak ingat dengan cewek itu?”
Ardan berusaha mengingat kembali, tapi tetap saja lupa.
“Tiana yang itu....”
Rafa berusaha mengingat kejadian yang paling sulit dilupakan Ardan tentang Tiana semasa sekolah dulu.
“Yang sempat kasih kau kado isi daleman dia.”
“Hah?! Tiana cewek enggak bener entu?!”
“Apa?! Serius?!” Damar ikut-ikutan kaget, tak menyangka kalau Ardan pernah dapat begituan dari perempuan.
__ADS_1
Akhirnya, Ardan ingat juga siapa perempuan yang dimaksud. Dulu saat hari ulang tahun Ardan, dia membawa banyak kado dari teman-temannya di sekolah. Maklum, Ardan termasuk anak populer, tingkah nyentriknya itu paling susah dilupakan teman-temannya.
Saat ia membuka semua kado dari teman-temannya, dibantu oleh Rafa dan Nadia saat itu, Ardan menemukan satu kado dari Tiana yang berisi pakaian dalamnya serta surat yang mengatakan bahwa barang itu bisa dijadikan kenang-kenangan Ardan.
Rafa tentu ngakak mengetahuinya, sedangkan Nadia jijik karena pemberian kado itu terjadi setelah hubungan pertemanan Nadia dan Tiana hancur. Tentu saja Ardan langsung membakar dalaman Tiana dan hampir trauma dibuatnya.
Maaf-maaf saja. Ardan sudah tahu tabiat buruk Tiana, makanya dia sangat tidak suka dengan perempuan itu dan mudah ia lupakan.
“Jadi, dia yang cari gara-gara sama Nadia?” Ardan bersedekap tangan di dada. “Kok bisa dia ada di sini?”
“Makanya, aku pun bingung kenapa manusia hedonis macam Tiana malah masuk akmil.” Rafa melirik Ardan. “Apa dia kemari masih ngincar kau, Dan?”
“Ish! Mana ada?” tampik Ardan tak sudi.
“Dahlah. Kau perjelas saja ke Tiana kalau kau emang enggak suka sama dia. Aku enggak mau ya kalau sampai adikku jadi korban lagi cuma karena obsesi gilanya itu sama kau,” tegas Rafa mulai judes pada Ardan.
Damar pun ikut nimbrung, “Cewek-cewek yang pada naksir sama kau kok bisa pada brutal gitu, Dan? Seingatku juga, si Berry yang satu kelas sama kalian naksir berat sama kau. Pakai pelet apa kau, Ardan?”
“Ish, enggak ada aku pakai pelet-peletan. Pelet itu cuma untuk orang-orang pengecut. Aku ‘mah emang udah ganteng sejak dari zaman masih dalam bentukan sp*rma punya bapakku itu,” kata Ardan dengan pedenya.
Damar langsung masang muka datar, udah mulai kebal dengan kenarsisan Ardan ini.
“Oh, iya.” Rafa ingat sesuatu. “Si Berry dikasih tahu kejelasan juga kalau kau emang enggak punya perasaan sama dia. Kutengok, suka ‘kali dia caper sama kau. Caper kibas-kibasin rambutnya yang pendek itulah, caper nanya-nanya yang enggak penting, sampai rela keluar duit buat traktir kau makan. Hm. Untung aja pas ditraktir makan kagak dikasih macam-macam ke makananmu itu.”
“Rafa ini, suka ‘kali berprasangka buruk,” cibir Damar.
“Bukan berprasangka buruk, Mar.... Tapi waspada. Takutnya malah dikasih obat yang kayak begituan ke makanan Ardan.” Rafa menunjuk ke Ardan sesaat. “Tahu sendiri, lah. Nih anak sekalinya birahi, cuma bisa ditenangin dengan cara dijatuhin dari tebing air terjun.”
“Dih, enggak gitu juga, Raf. Aku ‘mah cukup ditinggal sendiri aja ‘dah langsung jinak frekuensinya,” protes Ardan.
“Apanya yang jinak...?” canda Damar.
“Eeee...”
“Eeee...”
“Eeee...”
“Eaaaak!” ucap keduanya bersamaan.
“E’ek ‘lah kalian berdua.” Rafa ngegas, enggak sanggup menghadapi kelakuan kedua rekannya ini.
__ADS_1
...~*~*~*~...