Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 72 : Pertengkaran


__ADS_3

Wajah Ardan kini menampakkan seringai mencemooh di hadapan Tiana, menunjukkan rasa tidak suka atas tindakan agresif yang Tiana lakukan padanya.


Ardan akui, ia licik membalas ciuman yang sama sekali tidak ia inginkan. Tetapi, hal itu Ardan lakukan agar Tiana merasa melambung tinggi dalam kesenangan, kemudian Ardan hempaskan dalam fakta bahwa ia sama sekali tidak menyukai wanita itu.


Sama sekali tidak.


“Lihatlah. Betapa murahannya kau nekat mencium pria di dalam toilet begini. Apa kau sudah terbiasa melakukan hal seperti ini dengan pria lain?”


Tiana membulatkan mata, mukanya mulai memerah menahan amarah kala dicemooh Ardan. Dia tak menyangka pemuda yang tadi sempat membalas ciumannya malah merendahkannya begini.


Lalu, untuk apa Ardan balas mencium Tiana kalau ujung-ujungnya malah melempar hinaan?


Sontak Tiana mendorong tubuh besar Ardan agar menjauh. Tentu tindakannya membuat Ardan lega karena tidak perlu susah-susah menjauhkan Tiana dari dirinya, wanita itu sudah memutuskan tuk menjauh sendiri.


“Dasar cowok enggak tahu malu!” Tiana menunjuk Ardan. “Terus, kalau kau benci sama aku, kenapa kau harus membalas ciumanku? Dari cara menciummu saja aku sudah tahu kalau kau menikmatinya.”


“Cowok mana yang enggak suka dikasih sosor cewek duluan? Bagai kucing dikasih ikan asin, mana mungkin aku menolak dikasih rezeki? Yaaa.... Walau cuma dari bekas orang lain, sih.” Ardan menyeringai sambil mengelus bibirnya yang memerah bekas lipstik Tiana.


Memang gaya Ardan sekarang akan terlihat sangat seksi bagi banyak perempuan, tapi dengan cara bicaranya yang seperti ini membuat Tiana muak padanya.


“Kau kira aku tidak tahu seperti apa dirimu, Tiana?” Ardan kembali bersuara, “Bertahun-tahun aku kenal kau sejak SMP. Walau kita jarang berinteraksi, tapi aku sudah tahu tabiat burukmu seperti apa di luar sana. Bahkan sejak kau kasih aku dalamanmu sebagai hadiah untukku, kau sudah kucap sebagai cewek enggak bener.”


Beruntung, Ardan mengetahui banyak hal buruk tentang Tiana dari omelan Nadia dan juga ghibahan teman-temannya di berbagai kalangan. Memang tidak salah Ardan membangun dirinya menjadi sosok ekstrovert yang punya banyak koneksi dengan banyak orang. Setidaknya, Ardan tidak akan ketinggalan berbagai macam kabar yang mungkin bakal berpengaruh pada hubungan sosial di lingkungan hidupnya.


Ardan melangkah menuju wastafel terdekat, mulai membersihkan bekas lipstik Tiana yang menempel di bibirnya menggunakan air sambil bercermin.


“Kau sudah suka berhubungan dengan banyak cowok, bahkan sejak baru masuk SMP, sampai sekarang pun kau masih suka main cowok. Kau merasa dirimu paling cantik dari semua cewek yang ada di dunia ini. Egomu bilang, kau perlu menaklukkan lebih banyak cowok. Kalau enggak bisa, bukan Tatiana Williem namanya,” cibir Ardan.


Ardan meraih tisu di sekitar wastafel. “Kemudian, kau kepikiran pengen dekat sama aku atau Rafa karena kami berdua dikenal sebagai cowok populer berprestasi. Karena Rafa itu dingin dan terlalu sulit ditaklukan, kau pun menargetkanku tuk kau jadikan sebagai salah satu dari sekian banyak cowok yang kau koleksi.”


Ardan menyapu kasar bibir basahnya menggunakan tisu, berusaha keras agar bekas lipstik itu hilang tanpa bekas dari sana.


“Kau salah!” bantah Tiana tak terima, “Sejak awal, aku sudah suka sama kau, bahkan mungkin udah sampai cinta.”

__ADS_1


“Jangan anggap ego, obsesi, dan gengsimu sebagai rasa cinta!”


Tiana membeku, segan ketika mendengar bentakan Ardan yang terdengar sungguh-sungguh berasal dari dalam hatinya.


“Oh! Bahkan walau kau benar-benar ada rasa sama aku, aku tetap enggak bisa balas. Karena aku emang enggak ada rasa apa pun sama kau.” Ardan membuang bekas tisu tadi ke tong sampah terdekat.


Tiana menggeleng, tak terima akan penolakan menyakitkan ini. Ardan sudah terlihat cukup brengsek ketika dengan tak tahu malu membalas ciumannya, tetapi malah mengaku bahwa pemuda itu benci padanya.


“Kau brengsek, Ardan! Kau kira cuma aku saja di sini yang suka gonta-ganti pasangan? Kau juga sama enggak tahu malunya kayak aku!”


Ardan pun menoleh disertai seringai remeh, “Setidaknya, aku enggak pernah ngajak mantan-mantan pacarku buat main ke hotel kayak kau.”


Kali ini Ardan berhasil membuat Tiana gemetar ketakutan. Tiana tak menyangka Ardan bakal tahu sampai di titik paling memalukan dari kelakuan buruknya selama berpacaran dengan berbagai macam pria.


Ya, Tiana memang wanita tak tahu malu, dia bahkan lupa dengan pria mana ia kehilangan keperawanannya sejak remaja dulu. Bagi Tiana, hal-hal seperti itu sudah biasa dilakukan di kalangan orang-orang kaya seperti dirinya, ayah dan ibunya pun pernah beberapa kali kepergok melakukan hal-hal hina itu dengan orang lain yang bukan pasangan.


Bagi Tiana, memiliki banyak pasangan berarti mendapat banyak cinta dan perhatian. Selama hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, sehingga ia lampiaskan lewat permainan nafsu dengan pria lain.


Setidaknya, itulah cara Tiana agar merasa diperhatikan walau dengan cara yang hina.


“Kelihatannya aku emang brengsek, tapi aku sama sekali enggak kepikiran buat bertindak lebih dari sekedar peluk, cium, pegangan tangan. Cium pun atas dasar keinginan dari mantan-mantanku sendiri. Memang, mereka pernah ngajak aku melakukan hal yang lebih intim, tapi aku enggak mau. Karena selain ingin menghargai mereka, aku ingin pengalaman pertamaku kulakukan bersama istriku kelak.”


“Cobalah tuk sadar, Tiana. Kau sudah memaksakan orang lain agar ngasih perhatian lebih ke kau. Itu semua karena egomu yang terlalu tinggi hingga menjadi obsesi. Tindakan nekatmu hanya akan merusak mentalmu sendiri!”


Perkataan Ardan terhenti ketika ada pesan masuk lewat ponselnya. Ardan pun merogoh ponsel pintar itu dari dalam saku, lalu membacanya.


[Rafafalakau Kugefrek]


[Kau di mana?]


[Kok main ngilang aja kayak jin lampu?]


Tanpa sadar senyum geli terukir di wajah rupawan Ardan. Rupanya, yang mengirim pesan adalah Rafa. Dia dan Damar pasti sudah selesai berdiskusi dengan anggota organisasi, terus mulai mencari-cari keberadaan Ardan.

__ADS_1


“Kurasa, cukup sampai di sini saja pertemuan kita, Nona Williem.” Ardan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Ini hanya akan menjadi pertemuan terakhir kita. Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku maupun orang-orang terdekatku, apa lagi sampai melukai mereka seperti yang kau lakukan pada Nadia.”


“Dan jika kau butuh jawaban dariku soal perasaanku padamu, jawabannya adalah tidak. Aku-tidak-pernah-ada-rasa-sama-kau! Anggap saja aku brengsek dan munafik karena berani membalas ciumanmu. Semakin kau benci padaku, semakin kau menjauh dari hidupku.”


Ardan mulai melangkah melewati Tiana menuju pintu keluar toilet. Ketika tangannya hendak memegang kenop pintu, Tiana kembali bersuara,


“Bagaimana jika rasa benciku bakal bikin aku ingin menghancurkan hidupmu atau pun orang-orang terdekatmu?”


Tangan Ardan bergetar erat memegang kenop pintu. Sungguh, kalau saja bukan karena ingin menghargai wanita, dia pasti sudah mematahkan leher Tiana.


Ancaman seperti ini yang paling membuat Ardan muak. Sudah banyak orang selain Tiana yang beberapa kali mengancam akan melukai Ardan atau siapa saja yang berhubungan dengannya karena rasa benci mereka.


Jika suatu ketika orang-orang yang membenci Ardan bertindak jauh untuk melukai orang-orang terdekatnya, ia takkan ragu tuk menghabisi mereka.


“Memangnya, kau berani melakukan hal senekat itu?”


Dengan berani Tiana menjawab, “Tentu! Aku berani karena aku punya harta dan kekuasaan. Tidak ada yang tidak bisa kulakukan di dunia ini!”


Tak disangka-sangka Tiana menciptakan pisau berduri yang tercipta dari rajutan batang-batang mawar asal Kekuatan Kebangkitannya. Pisau itu ia arahkan tepat ke lehernya sendiri.


“Bahkan aku berani bunuh diri jika kau menolak perasaanku!”


Demi Tuhan! Ardan geram dengan segala tindakan gila yang Tiana lakukan selama bertemu dengannya. Padahal sudah dikasih tahu kalau Ardan tidak ada perasaan apa pun pada Tiana, bahkan telah mengecamnya, tapi tetap saja wanita itu berusaha memaksakan kehendaknya sendiri.


Memang j*lang tidak tahu diri.


“Mati, mati sajalah kau, Setan!”


Ardan langsung keluar sambil membanting keras pintunya hingga menimbulkan sedikit retakan di tembok.


Peduli setan. Mau Tiana bunuh diri atau melakukan hal gila lainnya, yang penting Ardan bisa menjauh dari wanita mengerikan yang terus memaksakan obsesinya sendiri seperti ini.


Sejujurnya, Ardan sengaja membalas ciuman tadi agar dia dikira brengsek oleh Tiana. Aslinya, dia jijik membalas ciuman dari wanita yang sudah beberapa kali meniduri banyak lelaki. Tapi rupanya, tindakan yang Ardan anggap menjijikkan itu tidak akan bisa merubah pola pikir Tiana yang sekeras baja.

__ADS_1


“Gila...! Dari tadi aku diajak masuk ke toilet cowok?! Emang enggak tahu malu tuh cewek,” gumam Ardan ketika sadar kalau toilet yang mereka masuki merupakan toilet pria.


...~*~*~*~...


__ADS_2