
“Teman-teman, terima kasih buat kalian yang udah dukung Nancy-chan di sini. Aku sayang kalian!”
Rafa dengan antusias menunjukkan rekaman konser virtual dari salah satu personil grup V-Idol yang paling ia suka.
V-Idol, atau kepanjangannya dikenal sebagai Virtual Idol, merupakan selebriti internet dengan avatar anime yang sering membuat konten berupa hal-hal entertainment, seperti akting, menyanyi, talk show, bahkan bermain game.
V-Idol sendiri akhir-akhir ini mulai populer di Negara Ranjaya, dan Rafa merupakan salah satu penggemar berat dari V-Idol. Tidak semua V-Idol Rafa suka, tapi karakter bernama Nancy-chan inilah yang sangat menarik perhatian pemuda berbadan tinggi-berotot itu.
“Kalian lihat?! Di konser perdana 3D-nya, Nancy-chan sangat menawan. Dia sangat pandai menari, suaranya bagai nyanyian para malaikat surga, dan modelnya sangat cantik serta imut. Hatiku meleyot dibuat Nancy-chan.... Oh, oh! Dan blablablablabla....”
Rafa terus membicarakan tentang Nancy-chan dengan sangat bersemangat pada Ardan dan yang lain sampai-sampai mereka dibuat bete sama Rafa sendiri.
Ya, mereka bete dan bosan mendengar segala bacotan Rafa setelah menyadari kalau cewek yang Rafa suka merupakan karakter virtual. Tidak sepenuhnya virtual karena di balik avatar V-Idol tentu ada orang sungguhan yang mengisi karakternya, tapi tetap saja yang paling Rafa suka merupakan bentuk model avatarnya.
Sebagai saudara, Ardan dan Nadia tidak menyangka kalau Rafa suka sama hal-hal kayak begini. Apa enggak dikira stres?
“.... Dan, ya! Dia baru debut sebagai V-Idol di usia 14 tahun.”
Spontan Damar yang sedang minum jus jeruk mendadak menyeburkannya ketika sadar kalau V-Idol yang Rafa suka masih bocah.
Memang usia idol termuda sering kali berada di kisaran usia 13-14 tahun, tapi sehatkah seorang cowok segede Rafa demen sama bocah walau hanya karakter virtual?
“Dih! Dah wibu, pedo pulak,” ejek Ardan ngeri.
“Ish, enggak bisa disebut pedo pula. Usiaku sama Nancy-chan cuma beda 5 taon,” elak Rafa.
“Tapi, dia belum legal, Cok...!”
“Enggak apa-apa, kok. Usia cuma angka. Abah sama Emak aja beda 6 taon.” Rafa mulai meminta pembelaan dari Nadia, “Bener enggak, Nad?”
“I-iya bener, sih.” Nadia menggaruk tengkuknya canggung. “Tapi, Abah nikahin Emak pas usia Emak udah legal. Dan Emak itu cewek beneran, bukan karakter virtual.”
Rafa kicep. Ia yang dikenal pensarkas dan suka adu debat baru kali ini kalah debat soal kayak beginian.
“Fuh! Itu usia orangnya yang asli kagak, sih?” tanya Damar sambil mengelap sisa semburan minumannya di bibir.
“Enggak tahu, sih,” jawab Ardan santai. “Setahuku, usia yang ditunjukin para V-Idol merupakan usia dari avatar anime mereka. Kalau usia orang sungguhan yang mengisi karakter mereka bisa aja jauh lebih tua, bahkan ada yang sampai ‘dah nikah dan punya anak.”
Ketika Ardan menyadari jawabannya sendiri, tatapan matanya tampak jahil melirik Rafa.
“Hei, kau suka sama karakter Nancy-chan ini, kan? Kita sendiri enggak tahu karakter Nancy-chan yang asli ini begimane.” Ardan mulai menggoda Rafa, “Gimana kalau misalnya pengisi karakter Nancy-chan merupakan mama-mama muda yang udah punya suami ‘ma anak?” Lalu ia menaik-turunkan alisnya.
Tanpa sadar Rafa meneguk saliva sendiri. Sebenarnya, inilah yang bikin para fans V-Idol suka dilema sendiri. Mereka sadar kalau V-Idol yang mereka suka merupakan avatar anime tak nyata yang diisi oleh orang dengan identitas rahasia. Tapi, ketika mengetahui V-Idol yang mereka suka tidak sesuai ekspetasi seperti yang ditampilkan dari karakter versi avatar anime, hal kayak gitu termasuk yang ditakutkan.
Oke. Rafa masih sadar diri kalau dia tidak boleh halu berlebihan, dan berharap kalau karakter Nancy-chan di dunia nyata sesuai dengan versi avatarnya. Tapi, membayangkan karakter aslinya sesuai deskripsi Ardan entah mengapa malah membuatnya canggung.
Enggak mungkin ‘kan Rafa yang sering kali berpikir logis malah terinfeksi penyakit halu? Dia sudah cukup risih dengan penyakit mental semi psikopat turunan keluarga bapaknya, malah ditambah ngehalu karakter virtual pula.
__ADS_1
Makin lengkaplah gangguan mental yang Rafa derita.
“Yaaa.... Biarin, lah,” bantah Rafa agak canggung karena kurang yakin dengan jawabannya sendiri. “Aku ‘kan cuma demen sama avatarnya aja, bukan orang aslinya. Kalau orang aslinya udah tua bahkan udah berkeluarga, itu urusan dia. Kami sebagai penggemar cukup menikmati dan mendukung konten-konten yang dia buat.”
“Yakin...???” Ardan makin menjadi-jadi. “Kalau suka sama karakter, suara, dan cara menarinya, berarti secara enggak sadar suka sama pribadi aslinya juga, kan???”
Rafa tersenyum, tapi senyumnya tampak sangat tidak ramah. “Dan.... Jangan coba-coba cari perkara deh sama aku. Kau tak ingin aku masukin scythe lagi ke kerongkongan kau, kan...? Kali ini, kupastikan nembus sampai ke usus.”
Sontak Ardan berpaling, mulai segan kala diberi ancaman oleh Rafa. Maaf saja. Kejadian kemarin ketika scythe Rafa masuk ke dalam kerongkongannya saja udah bikin ngeri, apalagi sampai nembus ke usus.
Dan lagi, ancaman Rafa bukan main-main. Kalau dia udah jengkel berlebihan sama seseorang, mau itu orang asing atau yang ia kenal sendiri pasti bakal ia habisi dengan sadis.
Krisan melihat rekaman video Nancy-chan yang sedang bermain game sambil menyapa para penonton di ponsel Rafa yang sempat tergeletak di meja. Mata birunya menyipit bingung, agak aneh karena merasa gerakan model orang ini terlalu asing menurutnya.
“Dia cakep banget, ya. Mungkin efek filter kamera, makanya gerakannya rada-rada mirip kartun begitu.” Krisan bertanya pada Rafa dengan ekspresi polos seperti biasa. “Pacarmu, Senior Rafa?”
“Hah?”
“Eh?”
“Huh?”
Ardan, Nadia, dan Damar terheran-heran dengan tebakan Krisan. Masa Krisan tidak bisa membedakan yang namanya orang beneran sama grafis anime sampai-sampai dikira pacar Rafa?
Sepertinya, Krisan memang perlu dikasih lebih banyak wawasan lagi tentang teknologi dan kehidupan kota biar enggak dikira kudet dan gaptek. Maklum, orang kampung.
Mereka semua, kecuali Krisan, makin dibuat bingung dengan kelakuan Rafa yang tidak seperti biasa. Memang kalau sudah bawa-bawa V-Idol favoritnya, kelakuan Rafa jadi tidak terlihat seperti dirinya yang biasa.
Ardan sempat menyenggol tangan Krisan di atas meja. “Kamu malah bikin dia makin halu lagi, Dek Krisan. Susah lho ngobatin mentalnya.”
“Maksudnya?” tanya Krisan belum konek seperti biasa.
Di saat itu, tiba-tiba ponsel Rafa berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Rafa pun kembali bersikap lebih tenang, meraih ponselnya dari atas meja, lalu membaca nama yang tertera di layar ponsel.
“Siape? Jangan bilang dari Nancy-chan’mu itu,” ledek Ardan iseng. Padahal sudah dikasih ancaman, masih aja nekat menggoda sepupunya itu.
“Ngarepnya sih gitu.”
“Dih....” Ardan enggak nyangka kalau Rafa berharap demikian.
Rafa pun melanjutkan dengan tenang, “Tapi sayangnya, dari Senior Miranda, nih.”
“Senior Miranda?” Nadia tampak menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya saat nama Miranda disinggung. “Buat apa dia nelpon kau, Bang?” Lalu ia sempat meminum teh es demi menenangkan rasa jengkel yang hampir meledak.
“Entah. Mungkin mau ngomongin soal kelompok bimbingan kami.” Rafa mulai beranjak dari bangku. “Aku tinggal bentar, ya.” Kemudian ia menjauh sambil mengangkat panggilan telepon dari sang senior dari Tingkat 3 itu.
Sepeninggalnya Rafa, Ardan mulai mengajak mereka tuk saling mendekat, mau bisik-bisik. Krisan yang hendak kembali menyuap nasi goreng malah ditarik Nadia agar ikut berdiskusi dengan mereka.
__ADS_1
Demi apa pun itu, bisakah Krisan dibiarkan makan dengan damai?
“Si Senior Miranda suka dekat banget sama Rafa,” ucap Ardan serius memulai diskusi perghibahan mereka.
“Mungkin karena mereka satu tim buat ngebimbing para junior,” kata Damar berusaha berpikir positif.
“Sebenarnya, Mar, bukan cuma pas Acara Orientasi ini mereka dekat. Pas kita masih di Tingkat 1, mereka juga udah akrab. Sering kasih perhatian ke Rafa, kayak ngasih makanan, tanya-tanya kabar. Bahkan pas Rafa butuh materi buat belajar, Senior Miranda yang ngasih. Padahal, Rafa bukan orang nolep yang punya teman sejumlah hitungan jari, banyak koneksi dia. Tapi belum apa-apa, Senior Miranda 'dah ngasih bantuan duluan,” julid Ardan panjang lebar, sempat ia meminum es teh dulu karena mulutnya mulai kering kebanyakan ngomong.
“Ish! Males ‘lah kalau musti Senior Miranda yang kelak bakal jadi sama Bang Rafa,” ucap Nadia bete hingga mencebikkan bibir.
“Emang kenapa, Nad?” tanya Damar pada sang gebetan. “Enggak ada salahnya ‘kan kalau dia dekat sama cewek? Kalau dia dekat sama cowok, baru perlu kau permasalahkan.”
“Iya, sih.” Nadia menopang wajahnya di atas meja. “Tapi, sebagai adek yang punya dua abang ganteng, aku ‘tuh ‘dah ngerti gelagat cewek-cewek yang maunya deket sama Bang Ardan atau pun Bang Rafa. Aku enggak nyaman sama mereka, mereka ada maunya....”
“Mungkin itu salah satu sebab kenapa kau terlalu pemilih nyari teman cewek,” tanggap Ardan.
“Itu karena aku berusaha menjauhkan kalian dari cewek-cewek kegatelan semenjak aku putus pertemanan sama Tiana dan teman-temannya. Kalian berdua itu ‘kan cakep, badan bagus, kuat, tajir pelintir.”
“Melintir.” Damar membetulkan.
“I-iya! Itu, Mas.” Nadia melanjutkan, “Makanya, pas pertama dikenalin sama Senior Miranda di alun-alun kota saat kita kebetulan ketemu di acara festival kostum, Bang, aku udah enggak suka sama tuh cewek.”
“Kelihatan banget sok perhatian sama Bang Rafa. Kayak nanya, ‘Kamu dah makan, belom?’, ‘Kamu capek, enggak?’, ‘Cuaca lagi panas, nich. Aku beli’in minum, ya?’, ‘Tugas kemarin bikin pusing, enggak? Nanti materi Tingkat 1 minjem punyaku ajah.’,” kata Nadia sambil menirukan kata-kata Miranda yang ia ingat dengan nada mencibir. “Peduli setan, ketiak jenglot! Bang Rafa dikasih perhatian, sedangkan aku, adeknya, yang udah kena dehidrasi sampai berhalusinasi kagak ditawarin minum. Kelihatan banget capernya! Mana sempat ngelus-ngelus lengan Bang Rafa yang berotot itu pula. Hiiih....” Nadia merinding disko mengingatnya.
Damar sempat cekikikan melihat Nadia ngomel-ngomel gitu. Kalau marah, Nadia jadi kelihatan makin lucu.
“Kira-kira, Nad, Rafa itu ada kemungkinan pedekate enggak sama Senior Miranda?” tanya Ardan mulai usil seperti biasa, suka bikin orang kesel.
Nadia kembali merinding ngeri. “Demi Tuhan, Bang! Ampe aku silahturahmi sama Tuhan di akhirat, aku enggak bakal sudi Bang Rafa jadi sama Senior Miranda.”
“Lah...? Ini ‘kan cuma kemungkinan....” Ardan iseng mengaduk es teh. “Kalau aku, sih, oke-oke aja Rafa mau jadian sama siapa. Lagian juga, yang kelihatan caper cuma Senior Miranda, kan? Rafa malah kelihatan biasa aja kayak dia berinteraksi sama temen-temen ceweknya yang lain, macam Sheena ‘lah, Krisan ‘lah. Enggak baper.”
“Udahlah, Nad. Enggak usah terlalu dipikirin. Soal jodoh Abangmu itu biar Tuhan yang ngatur. Masih untung hubungan kita masih dibiarin walau kadang dia iseng negur-negur kita. Masa kau sampai marah kalau Rafa dekat sama cewek lain?” nasihat Damar tulus.
Kedua bahu Nadia menurun, merasa lesu saat dinasihati begitu. “I-iya, sih. Tapi, sama siapa ajalah. Asal jangan sama Senior Miranda atau cewek-cewek yang suka ganjen sama Bang Rafa. Aku ‘tuh pengen Bang Rafa dekat sama cewek yang emang tulus sama dia, bukan modus, enggak kegatelan, dan masih peduli sama yang lain.”
Damar dan Ardan mengerti. Sebagai adik, tentu Nadia cemas kalau Rafa bakal dekat dengan perempuan yang enggak benar.
Sudah banyak cewek yang berusaha dekat dengan Rafa, dan mereka semua merupakan cewek-cewek gatel yang tertarik pada Rafa hanya karena fisiknya yang menggoda, kejeniusannya, serta kekayaan keluarga mereka.
Dalam sendu, Nadia merasa pundaknya di tepuk halus dari belakang. Rupanya, Krisan yang menepuknya, berusaha menenangkan Nadia dari rasa gundah memikirkan jodoh sang abang.
“Kita doakan yang terbaik aja.”
Nadia pun tersenyum, begitu juga dengan Damar dan Ardan. Kalau Nadia ingin yang terbaik untuk Rafa, tentu dia harus berdoa agar Rafa mendapat seseorang yang benar-benar tulus padanya.
Lagi pula, perjalanan hidup mereka masih panjang. Mereka harus tetap fokus menempuh pendidikan agar cita-cita mereka menjadi prajurit hebat bisa tercapai.
__ADS_1
...~*~*~*~...