Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 55 : Sang Pengendali Darah dan Parasit


__ADS_3

Shujin memanggil belasan pasukan bayangan dari dalam lingkaran hologram di lantai arena. Anggota pasukan itu terdiri dari para monster bersenjata yang tubuhnya terbuat dari kobaran aura bayangan disertai kilat mata berwarna ungu menyala.


Ardan tetap melesat cepat ke depan dengan posisi tombak siap menyerang. Para bayangan pun mulai menyerang Ardan secara bersamaan.


Dengan cepat, Ardan menebas dan menusuk beberapa pasukan sambil tetap fokus mencapai Shujin. Setiap gerakan tombak yang dilakukan Ardan akan diiringi oleh gerakan kelima pasak perak.


Ketika Ardan memutar tombak, pasak-pasaknya juga berputar. Ketika Ardan menusuk, kelima pasak juga memberi tusukan secara berkala pada target, memberi efek kerusakan kritis. Dan ketika Ardan menebas, kelima pasak perak serentak bergerak menebas berkali-kali lipat.


“Wow.... Efek kerusakan dari serangan Ardan jadi makin meningkat,” kagum Damar di tribun saat menonton pertarungan.


Rafa pun berkomentar, “Kekuatan Ardan memang tidak bisa menghilangkan efek negatif, tapi dia punya efek peningkatan sendiri yang akan aktif ketika ia menggunakan jurus-jurus tertentu, salah satunya ialah jurus ini. Dan efek yang dimaksud adalah meningkatkan serangan kritis.”


“Jika saja Ardan benar-benar dalam keadaan sangat prima dan bisa lebih fokus memanfaatkan energi Kebangkitan, efek itu bisa saja dapat menghancurkan pertahanan tank dan pesawat tempur sekali pun,” jelas Rafa. “Selain itu, Ardan juga punya pertahanan cukup tinggi. Walau sudah menguasai Ilmu Kebal pun, dia masih bisa kena efek negatif bersifat menjebak yang sangat kuat, tapi masih bisa bertahan dari yang bersifat racun.”


“Astaga....” Damar jadi tercengang mendengar penjelasan Rafa.


Namun, kalau Damar pikir lagi, masih ada beberapa celah dari Kekuatan Kebangkitan Ardan. Tetapi, bisa ditutupi dengan kekuatannya yang besar dan gaya bertarung Ardan yang bagus.


Ardan terus menyerang pasukan bayangan tanpa henti sampai mereka lenyap menjadi debu yang beterbangan di udara. Ia lesatkan satu pasak perak ke arah Shujin, tapi tak disangka pasak itu berhasil ditepis oleh sebuah pedang besar.


“Terima kasih, Ksatria Bayangan.”


Rupanya, Shujin masih dilindungi oleh satu ksatria berzirah bayangan. Ukurannya lebih dari dua meter dan bersenjatakan pedang besar.


“Woah...! Ada pengawalnya, ternyata.” Ardan pun memberi senyum usil. “Boleh aku lewat, Ksatria Unyu? Aku mau minta tanda tangan majikanmu.”


“Heaaargh!”


Ksatria Bayangan mengejar Ardan dan langsung mengayunkan pedang besarnya ke arah pemuda itu. Ardan menghindari tebasan tersebut dengan melompat ke atas dan mendarat tepat di atas pedang besar sang ksatria. Ia meluncur di permukaan pedang itu menuju kepala Ksatria Bayangan.


“Kutabrak kau karena menghalangiku!!!”


Ardan menusuk kepala Ksatria Bayangan diikuti oleh tusukan kelima pasak peraknya secara bergantian, membuat kepala bayangan tersebut benar-benar hancur seketika.

__ADS_1


Kini tubuh sang ksatria sudah menghilang menjadi abu ketika Ardan mendarat setelah melancarkan tusukan. Belum juga dikasih rehat beberapa detik, Shujin malah melesat menyerang Ardan dari belakang. Tentu Ardan dengan mudah menangkis serangannya.


Mereka kembali bertarung dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya hingga setiap hantaman akan menciptakan percikan disertai kilatan yang lebih besar.


Rafa masih tenang melihat pertarungan sengit itu sampai telinganya menangkap interaksi panik para staf.


“Sepertinya, kubah ini takkan cukup menahan efek dari gerakan dan serangan Kekuatan Kebangkitan mereka.”


“Kalau seperti ini terus, bisa-bisa akan membahayakan orang-orang di tribun, bahkan fasilitas di sini bakalan hancur.”


“Kita harus melaporkan masalah ini pada petinggi. Kalau dibiarkan saja, mereka bisa jadi saling membunuh.”


Rafa menghela nafas setelah mendengarnya. Memang benar, kalau seperti ini bukan cuma mereka yang akan berakhir saling membunuh, fasilitas dan orang-orang di tribun bisa kena apesnya.


“Sepertinya, situasi sudah semakin genting,” gumam Damar saat melihat kepanikan para staf. “Eh, Raf?”


Damar terkejut melihat Rafa sudah berdiri dari tribun depan dan mulai naik ke pagar pembatas tribun. Apa yang sebenarnya dipikirkan pemuda berbadan tinggi itu?


“Menjinakkan dua binatang ngamuk,” ucap Rafa singkat.


Rafa melompat setinggi mungkin dari pagar pembatas tribun, lalu terjun memasuki kubah pelindung menuju lapangan arena. Saat masih terjun di udara, muncul beberapa sirkuit merah di sekitar lehernya sesaat.


“Kekuatan Kebangkitan : Aktif.”


Ketika Rafa menghantam lantai, tubuhnya langsung berubah menjadi genangan darah. Genangan darah itu pun merayap cepat menuju tengah-tengah arena, tepat saat Shujin dan Ardan hendak melancarkan serangan terkuat mereka.


....


Ardan dan Shujin sempat saling menjauh, dan kembali menerjang cepat dengan senjata masing-masing siap menyerang.


“Heeeeaaargh!!!”


“Haaaaarrrgh!!!”

__ADS_1


Namun, mereka terpaksa berhenti mendadak di tengah jalan saat dua sosok makhluk menyerupai lintah raksasa yang terbuat dari gumpalan darah muncul menghadang mereka, satu lintah raksasa menghadang Ardan, sedangkan satunya lagi menghadang Shujin.


Mulut kedua makhluk itu tampak terbuka lebar, memperlihatkan deretan taring-taring lapis khas lintah yang siap menyedot isi tubuh mereka sampai kering. Ditambah lagi, tubuh dua makhluk tersebut beberapa kali meneteskan darah, membuat keduanya terlihat mengerikan dan menjijikkan di saat yang sama.


“Masih mau berantem lagi, huh?”


Perlahan genangan darah muncul di tengah-tengah mereka, melebar, membesar membentuk tubuh seseorang dengan posisi berdiri tegap.


Ketika bentukan darah tersebut sepenuhnya berubah menjadi tubuh manusia, baru mereka sadar siapa sosok yang sudah menghentikan pertarungan keduanya.


Sosok itu adalah Rafa. Dia sengaja masuk ke arena tuk menghentikan pertarungan yang dirasa sudah sangat berlebihan, dia bahkan tak segan menggunakan Kekuatan Kebangkitan tuk menghentikan aksi saling serang mereka.


Shujin sempat dibuat tercengang melihat kemunculan monster aneh itu menghadang dirinya, sedangkan Ardan tampak datar menanggapinya.


Ardan sudah menduga, Rafa pasti akan mencoba menghentikan aksi gila mereka yang hampir saling membunuh. Jika sudah Rafa yang turun tangan, itu berarti para staf hendak mengambil keputusan genting yang akan melibatkan para petinggi akademi. Rafa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Krisan yang melihatnya sempat bergumam di samping Nadia, “Kekuatan Senior Rafa itu....”


“Ya, Kris. Bang Rafa bisa mengendalikan darah dan menciptakan parasit,” jawab Nadia.


Krisan mengangguk mengerti. Kalau dilihat-lihat, kemampuan milik Rafa ini benar-benar menyeramkan. Darah dan parasit, kombinasi kekuatan dari beberapa ketakutan makhluk hidup.


Tepat di tengah-tengah arena, Rafa berdiri dengan gagah. Tanpa berucap, satu tangannya menciptakan sebuah senjata yang terbuat dari darah.


Darah itu perlahan membentuk obyek panjang, melengkung membentuk sabit raksasa berwarna merah yang terbentuk dari gumpalan darah dan daging, lalu muncul satu bola mata monster yang bergerak-gerak ngeri pada permukaan sabit.


Rafa menciptakan Senjata Kebangkitan-nya sendiri berupa sebuah scythe merah.


Rafa memutar-mutar scythe itu hingga menciptakan hembusan angin yang cukup kencang meniup ujung jubah mantelnya, kemudian dipanggul di bahu.


“Kalau kalian mau saling membunuh, lakukan itu di luar wilayah akademi,” ucap Rafa dingin.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2