
Bayangan hitam disertai aura keunguan tampak melompat tinggi di udara, lalu melesat cepat ke arah Ardan.
“Menyingkir!”
Terpaksa Ardan harus melempar tubuh Nadia dan Krisan menjauh karena ada kemungkinan aura dari bayangan tersebut akan meledak ketika mengenai targetnya.
Ardan kembali menciptakan lima pasak terbang, kemudian ia gunakan pasak-pasak itu tuk menahan serangan bayangan.
Ketika bayangan hitam bertubrukan dengan pasak-pasak terbang Ardan, terciptalah gelombang aura berupa gelombang bayangan hitam disertai aura keunguan. Gelombang bayangan itu begitu dahsyat sampai-sampai membuat kubah pelindung sempat retak.
“Egh...!”
Ardan sendiri langsung dibuat kewalahan hanya karena menahan serangan bayangan ini. Ketika ia melihat lewat sela-sela pasak, Ardan tercengang menyadari siapa yang kini tengah menyerangnya.
Sosok pemuda berambut hitam tengah menyerangnya menggunakan dua buah belati yang dapat menghasilkan aura bayangan kuat. Tidak salah lagi, bocah itu lagi yang cari gara-gara dengan Ardan.
“Heaaargh!”
Sekuat mungkin Ardan mendorong kelima pasak terbangnya agar si pengguna bayangan menjauh dan serangan auranya terhenti.
Tentunya tindakan Ardan itu berhasil. Sang pengguna melompat menjauh dari Ardan, menghentikan serangan aura bayangannya, dan mendarat dengan baik jauh di hadapan Ardan.
Kini tampak jelas sosok yang telah menyerang Ardan tiba-tiba. Pemuda berambut hitam dengan mata kelam itu terlihat berdiri tenang sambil memutar-mutar kedua belati hitam bermotif ungu.
Ardan sempat menatap tajam ke arah sang pemuda, lalu pandangannya teralih pada kelima pasak terbangnya. Ardan baru menyadari kalau ujung pasak-pasak tersebut hancur akibat serangan bayangan tadi.
Tentu Ardan tidak terkejut. Pasalnya, kekuatan bayangan yang dikeluarkan oleh si pemuda sama kuatnya dengan kekuatan yang digunakan Nadia saat membuat hutan buatan.
Bedanya, Ardan merasa kalau pemuda ini bisa menstabilkan energi Kebangkitan yang ia gunakan, tidak seperti Nadia yang mudah boros energi.
Setelah dilempar Ardan tadi, Krisan dan Nadia bangkit, sama-sama tercengang melihat siapa yang telah menyerang Ardan secara tiba-tiba.
“Kris.... Ukh!” Nadia sempat batuk karena kembali merasakan efek samping akibat boros energi saat mengeluarkan lebih banyak Kekuatan Kebangkitan. “Itu cowok yang kemarin menghina kita satu kelompok, bukan?”
Krisan tidak menjawab, dia hanya tetap fokus melihat ke arena. Tidak salah lagi, orang yang telah menyerang Ardan adalah pemuda yang sempat ribut dengan Ardan kemarin.
Walau wajah Krisan masih tampak datar, dalam hatinya ia merasa jengkel dengan kehadiran pemuda itu.
Mengganggu saja.
“Hei, kalian!” Salah satu staf memanggil Krisan dan Nadia. “Kalian cepat ke tribun! Saat ini, arena dalam keadaan bahaya.”
“Baha—.”
Ucapan Nadia terpotong saat ia dan Krisan menyadari adanya beberapa retakan pada kubah transparan yang melindungi tribun penonton dari bahaya efek Kekuatan Kebangkitan.
“Separah ini, kah? Padahal saat aku menggunakan Kebangkitan-ku, enggak sampai berefek separah ini,” komentar Nadia heran.
“Dia bisa menstabilkan energi yang ia gunakan untuk melancarkan kekuatan, sehingga tidak boros,” jelas Krisan memahami situasi, “Keuntungannya, dia dapat memberikan serangan yang lebih fatal.”
“Ap—.”
Nadia menggigit bibir bawah sambil melihat keadaan Ardan yang saat ini mulai kewalahan.
__ADS_1
Tentu saja sepupunya itu kewalahan. Ardan sudah melawan belasan lebih junior di awal pengetesan, melawan ia dan Krisan yang mengeluarkan serangan sekuat tenaga, dan lagi pemuda ini yang tiba-tiba muncul memberi serangan fatal seakan-akan ingin membunuh Ardan.
Nadia berharap, semoga saja Ardan bisa bertahan.
“Ayo, Kris.”
Krisan mengangguk atas ajakan Nadia menuju ke tribun.
Kedua gadis itu mengambil tempat duduk di samping Rafa dan Damar yang saat ini juga tengah fokus melihat ke arah arena.
“Siapa bocah itu? Kelihatannya kayak punya dendam kesumat sama Ardan,” tanya Rafa heran.
“Dia Shujin, Bang. Ukh!” Nadia sempat batuk kembali saat baru duduk di samping Rafa. “Salah satu junior Bang Ardan yang kemarin sempat ribut sama dia.”
“Kau enggak apa-apa, Nad?” tanya Rafa cemas melihat keadaan adiknya yang beberapa kali mengalami batuk. “Mending kau keluar berobat aja.”
Nadia menggeleng, “Aku enggak apa-apa, Bang. Duduk diam di sini juga bakal memulihkan energiku. Aku ingin melihat keadaan Bang Ardan sekarang.”
Rafa pun lanjut bertanya, “Emang mereka ribut soal apa kemarin itu?”
Kini giliran Damar yang menjawab, “.... Shujin protes soal kegiatan perkenalan kemarin. Seharusnya, jangan seneng-seneng ‘lah, harus tegas ‘lah, ini-itu ‘lah. Pokoknya, Shujin ini merasa kalau kegiatan kemarin tuh enggak guna dan malah menjelek-jelekkan para junior lain sama bilang akademi kita ampas.”
“Segitunya? Tuh anak pernah bergaul ama orang kagak, sih? Apa kelamaan bertapa di dalam kamar dia?” sarkas Rafa mulai jengkel. “Baru masuk akademi ‘dah koar-koar, kayak dia yang paling bener aja.”
“Itu dia yang bikin Ardan ribut sama Shujin. Dia juga berani komen kayak begitu ya karena dirinya merasa hebat, mungkin. Buktinya, baru nongol ‘dah kasih serangan sefatal ini ke Ardan yang udah kelihatan capek abis ngetes banyak junior.”
“Kayaknya, Shujin enggak terima atas teguran Bang Ardan kemarin, Mas,” sahut Nadia pada Damar. “Mumpung hari ini tes bertarung, ia balas aja dengan menyerang Bang Ardan sekuat dia di saat Bang Ardan udah mulai kewalahan.”
Rafa kembali fokus ke arena, dia juga sempat melihat beberapa staf kembali memperkuat ketebalan kubah pelindung lewat sistem robot-robot keamanan. Mereka masih membiarkan pengetesan berlangsung walaupun Ardan sudah mulai kelelahan karena Shujin merupakan junior yang belum dites.
Berbeda dengan Nadia yang kelepasan menggunakan Kekuatan Kebangkitan yang besar karena kesal dengan ledekan Ardan, Shujin malah terlihat punya niat terselubung untuk melukai Ardan dengan bersungguh-sungguh.
Di lapangan arena, Shujin tampak berdiri santai dengan kedua belati hitam di tangan. Mata kelamnya menatap remeh Ardan ketika mendapati sang senior mulai bernafas berat, pertanda ia kewalahan menahan serangan dahsyat dari aura bayangannya.
“Kenapa? Kau tidak mungkin kalah dari juniormu sendiri, bukan?” ledek Shujin.
Ardan masih diam tak membalas. Dia berusaha mengatur nafas sambil memejamkan mata, kelima pasak terbangnya yang hancur ia lenyapkan menjadi abu.
Shujin kembali melanjutkan sambil memutar satu belati, “Masih ada satu junior yang harus kau tes. Kalau kau tumbang di tangan juniormu sendiri, itu akan terlihat sangat memalukan.”
“Kau tidak akan mendapat nilai tambahan, dan aku akan berkesempatan mendapat nilai sempurna, bahkan bisa sampai lompat kelas jika beruntung. Benar, kan?”
“Ayolah.... Bukankah prajurit disiplin itu harus kuat, mampu bertahan dari segala serangan, termasuk dari serangan utama yang baru dilancarkan di akhir? Masa sama serangan junior sendiri langsung kalah...?”
“Kalau begitu, percuma kau kemarin sok-sok’an negur terus ceramah ini-itu buat menolak fakta-fakta yang aku kasih tahu soal menjadi calon prajurit yang disiplin dan tegas.”
“Hasil dari pengetesan ini berpengaruh pada debat kita kemarin, Senior.”
Ada penekanan ucapan dari Shujin saat memanggil Ardan dengan sebutan senior, terdengar benar-benar berniat mengejek Ardan.
“Kalau kau kalah dariku, itu karena kau terlalu buang-buang waktu cuma buat bersosialisasi, ngebadut, ngasih tahu ke semua orang betapa konyolnya dirimu.”
“Prajurit musti senang-senang biar kagak suntuk, katanya.” Shujin bersedekap tangan di dada. “Itu prajurit apa badut beneran?”
__ADS_1
Beberapa Taruna-Taruni terdengar bisik-bisik di tribun. Mereka sempat membenarkan apa yang dikatakan Shujin. Di sini, jika ada seorang senior yang tumbang di tangan junior sebelum selesai tes, maka itu akan dianggap memalukan.
Walau hanya tes di masa orientasi, tapi bagi para senior kekalahan mereka sama saja aib bagi mereka.
Walau wajar Ardan kalah karena junior-junior yang ia hadapi cukup kuat sebelumnya, tapi tetap saja akan terlihat memalukan jika ia kalah dari Shujin seorang.
Ardan tidak akan mendapatkan nilai tambahan.
Akan semakin banyak orang yang membenci Ardan, bukan hanya karena sifatnya yang aneh dan menjengkelkan, tapi karena dia dianggap tak becus menyelesaikan pengetesan.
Mereka tak menyangka akan sefatal ini akibatnya jika sampai Ardan gagal bertahan mengetes Shujin seorang.
“Blah, blah, blah.... Banyak bacot seperti sebelumnya.”
Shujin melotot jengkel ketika mendapat respon selancang itu dari Ardan.
Pemuda berambut jingga dengan ikat kepala itu sendiri mendongak, balas menatap lurus ke arah Shujin disertai seringai lebar khas orang sinting.
Ya, terlepas dari seberapa hinanya Ardan di pandangan para pembenci, Ardan tidak akan peduli.
Dia tetap akan menjadi dirinya sendiri walau segala tindakannya terlihat memalukan sekali pun.
Satu tangan Ardan menciptakan Senjata Kebangkitan lagi berupa tombak logam. Namun, tidak seperti sebelumnya, tombak ini dihias oleh motif sirkuit-sirkuit elektrik biru terang dan terdapat bola plasma di tengah-tengah badan mata tombak.
Di tribun, Rafa baru menyadari sesuatu, “Ah, dia baru mengeluarkan Senjata Kebangkitan yang sebenarnya.”
“Apa?!” ucap Nadia dan Damar bersamaan.
Rafa melanjutkan dengan santai, “Tombak yang digunakan Ardan sejak awal itu bukan Senjata Kebangkitan yang asli, cuma tombak logam biasa yang diciptakan dari unsur kekuatannya. Kalau yang ini baru asli.”
“Berarti sejak tadi....” Nadia jadi kehabisan kata-kata ketika menyadarinya.
“Iya.” Rafa mengangguk. “Setegas-tegasnya Ardan, dia takkan mau menghajar para juniornya menggunakan Senjata Kebangkitan. Dia masih peduli pada sesama prajurit. Tapi, kalau sudah begini jadinya, ya berarti... Ardan sudah terlalu muak dengan sikap Shujin.”
Damar, Nadia, dan Krisan jadi cemas akan seperti apa pengetesan ini berlangsung.
Tidak. Mungkin ini sudah tidak bisa disebut sebagai pengetesan lagi kalau Ardan bersungguh-sungguh menggunakan Senjata Kebangkitan yang asli.
Di arena, Ardan memutar-mutar tombaknya hingga cahaya plasma pada tombak tampak bersinar membentuk jalur neon mengikuti setiap gerakan tombak.
“Sebenarnya, mau aku kalah dari junior sendiri, mendapat nilai rendah sampai langganan remedial lagi, bahkan dibenci satu akademi juga aku tak peduli. Karena seperti yang kukatakan kemarin, urat maluku sudah putus.”
Lirikan mata perak Ardan yang setengah melotot tampak memancarkan kilat tajam, pertanda sudah muak dengan sosok yang berdiri dengan sombong di hadapannya ini karena telah berhasil memojokkannya.
“Tapi kayaknya, orang sepertimu memang musti dikasih paham lagi. Sebagian komentarmu ada benarnya, tapi aku tak terima jika kau sampai menghina rekan-rekanmu sendiri bahkan akademi ini.”
“Memang kau siapa sampai berani merendahkan orang lain? Tidak menghargai sesama rekanmu sendiri dan terus mengeluh merupakan tindakan pecundang, sama sekali tidak mencerminkan prajurit disiplin.”
“Kalau gitu, biar aku kasih pelajaran lagi.”
Kemudian, dengan lantang dan penuh ketegasan Ardan pun berucap,
“Maju kau kemari, Bocah!!!”
__ADS_1
...~*~*~*~...