Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 68 : Persiapan Pasangan


__ADS_3

“Serius, pesta dansa?” tanya Ardan. “Kayak bukan budaya kita aja. Kukira mirip tahun kemarin yang cuma acara potong tumpeng sama orang-orang dinas.”


“Tahun ini, para pengusaha yang terlibat kerja sama dengan akademi juga bakal diundang. Makanya, tema acara penutupannya terkesan lebih meriah lagi,” jelas Rafa. “Apa lagi akademi kita udah dikenal sebagai Akademi Militer Antariksa terbaik di Banua Tenggara. Jadi, acaranya musti lebih bagus lagi, lah.”


“Memang pesta dansa itu seperti apa?”


Mereka semua menatap Krisan yang tampak berekspresi datar ketika bertanya, tapi dalam pikirannya ia bingung dengan apa yang dimaksud pesta dansa.


Di kampung, tidak ada yang namanya pesta dansa. Jadi maklum, Krisan tidak tahu.


Dengan antusias Nadia menjelaskan, “Pesta Dansa itu merupakan acara berkelas di mana banyak orang-orang hebat berkumpul untuk merayakan acara tersebut. Di sana banyak orang dari berbagai kalangan berkumpul dengan memakai macam-macam pakaian berkelas. Acaranya meriah! Ada pertunjukan dansa, berbagai event, dan macam-macam makanan enak tersedia di sana.”


“Makanan....”


Krisan melamun, membayangkan makanan-makanan enak seperti apa yang akan tersedia di sana.


“Intinya, entu pesta cuma berisi orang-orang hedonis yang joget-joget di tengah aula,” sindir Ardan membuat dirinya kena sentil Nadia di punggung tangan.


“Abang ini.... Bukan kayak gitu penjelasannya,” sungut Nadia jengkel pada Ardan.


“Oh? Jadi, acara itu berisi kegiatan berjoget, ya?” tanya Krisan penasaran. “Seperti acara kondangan di kampungku yang para tamunya suka joget-joget pas dengar musik dangdut dari biduan kota?”


“Pffft...!” Kali ini, Rafa cekikikan sendiri mendengar tebakan Krisan yang terdengar sangat polos itu.


Masa pesta dansa disamakan dengan konser dangdut kondangan?


“Aduh, Dek....” Ardan menepuk jidat sendiri sampai mendongak. Niatnya mau menyindir acara tersebut, malah direspon dengan tebakan enggak nyambung.


Kok bisa ia suka sama gadis sepolos ini?


“Bu-bukan kayak gitu juga, Krisan,” ucap Damar canggung. “Pesta dansa itu berbeda dengan dangdut kondangan. Kalau mau tahu lebih jelasnya, cukup hadir saja di acara tersebut malam ini, sekalian nambah wawasan juga.”


“Ng!” Krisan mengangguk mantap.


Benar kata Damar. Mulai sekarang, Krisan harus aktif hadir dalam berbagai acara dan kegiatan di akademi agar dia tidak buta wawasan lagi. Ia tak menyangka jika budaya di kota berbeda jauh dengan yang ada di kampung.


“Kalau yang kudengar dari geng-geng tukang ghibah itu, kita musti punya pasangan ya buat datang ke acara penutupan malam ini?” tanya Nadia memastikan.


“Itu enggak wajib, Dek,” jawab Rafa sambil bersedekap tangan di dada, “Cuman memang ada event kecil-kecilan kayak semacam undian berhadiah atau.... apalah itu yang mewajibkan tamunya berpasangan. Paling disuruh berpasangan pas ikut dansa doang.”


Nadia bertepuk tangan. “Wah...! Jadi pengen ikutan, nih!”

__ADS_1


Tangan gadis pirang itu langsung menyambar tangan Damar, membuat pemuda berkacamata tersebut dibuat kaget sekaligus tegang karena takut diancam Rafa lagi.


“Na-Nad....” Damar benar-benar gugup sambil sesekali menatap Rafa yang mulai memicingkan mata ke arahnya.


Habislah Damar....


“Aku mau berpasangan sama Mas Damar!” ucap Nadia ngotot sambil menggenggam erat tangan Damar.


Rafa makin memicingkan mata birunya, menatap tajam Damar.


Dahi Damar berkeringat dingin, ia juga menelan ludah seusaha mungkin saking takutnya dengan tatapan mengintimidasi Rafa.


Tatapan membunuh itu berlangsung selama beberapa detik sampai akhirnya Rafa mulai terlihat lebih tenang.


“Ya, udah.... Kali ini, kuizinkan kalian berpasangan di acara nanti malam.” Rafa mengibas-ngibaskan tangannya ke arah mereka.


“Yeay! Kita berpasangan, Mas!”


Nadia kegirangan sampai hampir memeluk Damar kalau saja tidak ditahan Rafa.


“Oi! Oi! Enggak boleh peluk-pelukan!” tegas Rafa setengah melotot. “Udah syukur kukasih izin berduaan, malah mau nyosor pula.”


Nadia pun kembali duduk sambil cekikikan sendiri, tapi tangannya menggenggam tangan Damar lagi. Keduanya saling melempar senyum, merasa senang karena akhirnya diizinkan berduaan walau hanya di acara nanti malam.


Ucapan Rafa terhenti saat tangan Ardan mendadak menyambar tangan kecil Krisan, menggenggamnya dengan posesif. Mata perak Ardan sempat melotot ke arah Rafa, menunjukkan kalau Krisan tidak boleh sama siapa pun selain dirinya.


Krisan sendiri hanya mengerjapkan mata beberapa kali, bingung dengan maksud Ardan yang menggenggam tangannya begitu. Mau dilepas, tapi susah karena genggaman tangan besar Ardan begitu erat.


Krisan berpikir, ada apa dengan seniornya? Apa seniornya itu takut nyasar? Takut ada setan? Atau mau ditemani boker?


Disertai desisan, Ardan mempertegas pada Rafa, “Tidak ada yang boleh merebut Dek Krisan dariku...!”


“Apa sih kau ini, Dan?” Rafa langsung menoyor kepala Ardan sampai menjauh darinya. “Siapa juga yang mau ngajak Krisan? Aku sudah nebak kalau Krisan bakal berpasangan sama kau.”


“Hehe....” Ardan malah cekikikan sambil mengelus kepalanya yang kena toyor. “Terus, kau sendiri bakalan ikut nyari pasangan, enggak? Kalau iya, sama siapa? Setahuku, sampai sekarang kau enggak pernah dekat sama cewek mana pun selain yang kau anggap teman-teman itu.”


“Gimana kalau sama Kak Sheena aja?” usul Nadia antusias.


“Bukannya Kak Sheena izin balik rawat adiknya yang lagi sakit?” Krisan mengingatkan.


“Ah, benar juga...,” ucap Nadia kecewa.

__ADS_1


Memang sejak kemarin Sheena izin pulang ketika adiknya dikabarkan dilarikan ke rumah sakit karena sakit berat. Pastinya, dia akan melewatkan acara penutupan malam ini. Padahal, Nadia berharap bisa merayakan pesta lengkap bersama teman-temannya, termasuk Sheena yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri.


“Santai aja, lah. Enggak punya pasangan pun, enggak apa-apa. Kan enggak wajib,” kata Rafa sesantai mungkin.


Ardan memicingkan mata, menatap curiga ke arah Rafa. Entah mengapa dari sekian banyak orang yang ia kenal, cuma Rafa sendiri yang kelihatan sama sekali tidak tertarik dekat dengan cewek. Dia cuma fokus latihan, belajar, latihan, belajar.


Ardan jadi mempertanyakan ketertarikan seksual sepupunya itu....


“Kau....” Ardan makin menatap Rafa curiga. “.... Bukan humu, kan...?”


Rafa balas menatap jengkel Ardan. “Dih! Apaan, Dan? Orang kalau sampai sekarang enggak kepikiran dekat sama lawan jenis, bukan berarti dia tertarik sama sesama jenis. Ish, jijik!”


Rafa jengkel ketika orang-orang kadang mengiranya tertarik sama sesama jenis hanya karena ia tidak pernah dekat dengan cewek mana pun. Padahal, Rafa paling anti sama ketertarikan seksual menyimpang seperti itu. Dia masih sangat tertarik dengan lawan jenis, bahkan berkeinginan punya banyak anak kalau sudah menikah kelak.


Namun, ekspresi Rafa jadi tampak usil ketika kembali bicara, “Tapi, kalau kalian penasaran aku tertarik sama cewek yang begimana, bakal kutunjukin.”


“Serius?!” ucap Ardan heboh.


Nadia, Ardan, dan Damar begitu penasaran dengan cewek macam apa yang berhasil membuat Rafa tertarik padanya. Memang seperti apa tampilan tipe cewek yang Rafa suka? Apakah cantik? Pintar? Atau anggun?


Krisan awalnya hendak kembali memakan nasi goreng, tapi Nadia menariknya lebih dekat agar ikut menyimak tipe cewek yang Rafa suka.


Padahal, Krisan ingin makan siang dengan damai, tapi malah dipaksa ikut terlibat dengan urusan mereka yang ia sendiri susah mengerti.


Rafa mengotak-atik ponselnya kembali. Senyumnya tampak tak luntur ketika melihat apa yang ditunjukkan di layar ponsel pintarnya itu. Ketika sudah menemukan apa yang ia cari, ia langsung menunjukkannya pada mereka berempat.


“Nih, cewek yang aku suka,” tunjuk Rafa disertai senyum kinclong.


“Haaah...?”


Seketika mereka heran, kecuali Krisan yang masih susah konek otaknya, ketika melihat gambar yang ditunjukkan Rafa.


Gambar itu menunjukkan foto seorang gadis imut yang bahkan usianya lebih muda dari mereka, sangat cantik, berkulit putih bersih, rambut pirang panjang nan lurus disertai poni tebal, dan mata biru jernih. Sekilas tidak ada yang salah dengan foto itu.


Dia emang cewek,


Senyumnya manis,


Cantik pula,


Tapi, kok grafis fotonya semi 2D?

__ADS_1


“V-Idol?”


...~*~*~*~...


__ADS_2