Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 58 : Bumerang


__ADS_3

Orang-orang yang sengaja menghina Ardan mulai geram dibuatnya. Mereka tak terima jika disamakan dengan anjing. Beberapa staf yang ikut berkomentar negatif tentang Ardan juga jengkel, tapi mereka malah kena tegur staf lain agar tidak ikut memancing keributan.


Teman-teman Ardan jadi merasa lega ketika ia berani membalas hinaan banyak orang dengan gayanya sendiri walau dianggap tak tahu diri oleh sebagian orang. Nadia tersenyum lebar, Damar tersenyum tipis, bahkan Rafa sampai menyeringai bangga menanggapinya.


“Ah.... Kau kira dengan memperlihatkan kemampuan hebatmu di hadapan banyak orang terus memancing mereka buat ikut mempermalukanku bakal membuatku jadi merasa malu dan terhina, gitu?” remeh Ardan.


Ardan mengetuk-ngetuk samping kepalanya, lalu melanjutkan, “Otak dan perasaanku udah kebal sama kayak beginian. Sebelum kau mempermalukanku di sini pun, aku udah dapat banyak ujaran kebencian. Kebencian, hinaan, cacian udah jadi makananku sehari-hari.”


“Siapa sih yang enggak benci sama orang sok jagoan, narsis, enggak tahu malu, konyol, dan suka SKSD kayak aku? Tapi aku bodo amat. Biarpun gini-gini kelakuanku, masih banyak orang yang suka dan sayang sama aku.”


“Setidaknya, aku tidak berusaha merendahkan orang lain, tidak bertindak gegabah atas dasar kebencian dan ego, serta tidak hampir bikin orang koma. Kecuali pada musuhku, tentunya,” lanjut Ardan santai sambil mengedipkan sebelah mata.


Gigi-gigi Shujin bergemeletuk menahan emosi. Sepertinya, pemuda tengil itu kembali berusaha menyindir Shujin tanpa tahu malu.


“Tapi.... Ck! Apa, yak?” Ardan berlagak seolah-olah tengah berpikir. “Aha! Kukatakan satu hal padamu, juniorku yang terhebat....”


Ardan memberikan seringai lebar, matanya menatap tajam lurus ke arah Shujin yang masih balas menatapnya lewat tatapan mata kelam menahan murka.


“Sebelum kau mempermalukan orang lain, berkacalah lebih dulu. Kau berusaha membuatku terlihat buruk di mata orang lain lewat hasutanmu, sedangkan kau tanpa sadar sudah memperlihatkan keburukanmu sendiri lewat cara penyampaian dan tindakanmu.”


Beberapa pelajar dan staf yang lain pun kembali saling berbisik, membenarkan apa yang dikatakan Ardan.


Menurut mereka, Shujin sudah melanggar aturan dengan menyerang Ardan menggunakan kadar kekuatan melebihi batas hanya untuk sekedar mengikuti tes, hampir membuat Ardan lumpuh, dan kini sudah langsung mendapat panggilan dari Kepala Keamanan Akademi.


Lalu, untuk apalagi Shujin berusaha mempermalukan Ardan, sedangkan ia sudah memperlihatkan keburukannya sendiri?


“Lihat?” Ardan kembali berucap, “Tanpa aku perlu menghasut orang-orang, mereka sudah bisa menilai sendiri siapa yang tidak tahu malu di sini.”


Ardan kembali memberi seringai remeh, bahkan hampir terkekeh geli melihat reaksi Shujin yang tengah berusaha menahan emosi serta malu.


Pemuda bernama Ardanu De’Cornell ini punya lidah yang terlalu licin untuk mengompor-ngompori dan mempermainkan emosi orang lain.


Ardan memang tak begitu pandai menghasut orang ataupun memberi sarkasme, tapi dia cukup ahli membuat orang lain makin kesal padanya.


Kekesalan orang lain terhadap Ardan adalah hiburan baginya. Karena jika mereka kesal, maka akan terlihat sifat asli mereka. Dan itu bisa dijadikan Ardan sebagai bumerang tuk balas mempermalukan siapa saja yang berusaha mempermalukan dirinya.


Ardan memang sinting dan tidak tahu malu, tapi dia tak peduli. Selagi ia tidak bertindak buruk pada orang lain, maka dia tidak perlu terlalu memikirkan penilaian publik yang ingin dirinya berubah sesuai standar mereka.

__ADS_1


Untuk apa mengikuti standar ideal mereka kalau ujung-ujungnya bakal terasa hampa seperti di penjara?


“Udah, udah.”


Kali ini, Rafa kembali menegur dengan gaya yang terlihat lebih santai. Kalau terus-menerus mendengar mereka saling adu bacot begini, takkan selesai pula masalah di sini.


“Kalau kalian saling adu bacot terus, bakal jadi babak kedua pertengkaran kalian ini.” Rafa pun bicara pada para staf, “Bawa saja dia ke Kantor Keamanan, Pak. Si oyen ini nanti bakal nyusul, kok.”


“Lah? Aku juga kena sanksi?” Ardan kaget menyadari dirinya ikut dipanggil ke Kantor Keamanan.


Tak segan Rafa menggeplak kepala Ardan. “Enggak sadar apa kalau kau di sini juga ada salah? Kau meladeni pertarungan tadi sampai hampir membuat keamanan kubah hancur. Paling nanti cuma dimintai keterangan sama dapat sanksi.”


Dengan tak tahu malunya, Ardan menengadahkan satu tangan ke Rafa.


“Apa?” sewot Rafa ketika melihat tangan Ardan itu.


“Kalau aku dimintai denda, aku ngutang ke kau.”


“Dih....” Rafa menatap jijik Ardan. “Kok malah ngutang?”


“Haaah....”


Kedua mata biru Rafa mengarah ke atas disertai muka jengkel. Mentang-mentang bapaknya seorang perwira tinggi yang cukup berpengaruh di kesatuan militer satu planet, malah dikira punya koneksi sama orang dalam di akademi ini.


Maaf saja, Rafa sendiri beberapa kali kena sanksi sama pihak akademi tak peduli bapaknya seorang perwira dengan pangkat tinggi sekalipun.


“Heh.”


Tak peduli apa pun lagi, Shujin pun berbalik, melangkah keluar dari dalam Bilik Arena disusul para staf keamanan yang mengawalnya. Dia juga sempat menepis tangan staf yang sempat hendak menahannya.


“Cih, dasar kounibyou,” sungut Ardan setelah Shujin benar-benar pergi dari sana.


“Gimana, Dan?”


Ardan menoleh ke arah Rafa yang kini melenyapkan scythe-nya dengan cara menenggelamkan senjata itu ke dalam genangan darah di lantai sampai hilang.


“Masih ada waktu sebelum kau pergi ke Kantor Keamanan.” Rafa memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel. “Abis ini mau istirahat dulu atau makan siang bareng kami?”

__ADS_1


Ardan menatap kesal Rafa. Dia masih jengkel atas tindakan Rafa yang sembarangan memasukkan ujung scythe ke dalam mulut hingga hampir mengobrak-abrik kerongkongannya hanya untuk mengeluarkan sisa-sisa racun.


Kalau saja Ardan tidak menguasai Ilmu Kebal, bisa hancur kerongkongan beserta mulut dan kepalanya.


“Dih, pakai ngambek pula.” Rafa kembali menawarkan, “Nadia pasti ngajak Krisan juga buat makan bareng kita. Ikut enggak?”


Ardan kicep, tapi masih tetap berekspresi kesal. Ia melengos, berjalan menjauh tanpa memandang Rafa.


“Eeeng.... Ikutlah,” cicit Ardan samar-samar.


“Apa, Dan?”


“Aku ikut makan bareng kalian, lah!” teriak Ardan jengkel, tapi malu-malu.


Menyadari sifat Ardan yang rada tsundere itu membuat Rafa cekikikan sendiri.


“Tadi ngambek. Pas dikata gebetannya juga ikut, malah mau-mau aja diajak.”


Rafa pun berlari kecil menyusul Ardan menuju sisi tribun tuk menemui Damar, Nadia, dan Krisan yang masih duduk di sana.


“Sebelum ke kafetaria, mandi sama ganti baju dulu ‘lah, Dan. Badanmu bau-bau aroma tawuran. Nanti kami nungguin,” kata Rafa setengah teriak ketika menyusul mereka ke tribun.


....


Setelah pertarungan tadi usai, tanpa Ardan dan teman-temannya sadari, setiap pergerakan yang dilakukan Ardan semenjak pertarungannya melawan Shujin telah direkam oleh kamera ponsel salah seorang staf berseragam hitam. Staf itu tidak sendirian, ia juga ditemani satu staf lainnya.


Si staf sempat mengecek video dan beberapa foto yang mereka tangkap lewat ponsel tersebut, mencoba menganalisa segala macam pergerakan, kekuatan, dan gaya bertarung Ardan.


“Sudah dapat dengan jelas?” tanya rekannya sambil bersedekap, sedikit memajukan kepala ikut melihat rekaman itu.


Staf tadi mengangguk. “Kurasa ini cukup buat diserahkan ke atasan kita.”


Rekannya juga mengangguk.


Sambil celingukan waspada, mereka segera beranjak dari kursi tribun, berjalan keluar dari Bilik Arena tersebut ketika suasana sudah mulai sepi, membiarkan beberapa staf dan robot kebersihan mulai memperbaiki lapangan menggunakan sistem teknologi canggih mereka.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2