Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 75 : Hadiah Lomba


__ADS_3

“Para hadirin dan hadirat. Yang ada di sini maupun yang di akhirat.”


“Kupukul ‘pala kau itu ya, Parta!” teriak salah satu Taruna. “Masa orang-orang yang udah tenang di akhirat kau sapa pula?!”


“Wo, wo...! Santai, Kawan. Santai.”


Parta pun kembali membawakan acara, tapi tetap dengan pembawaannya yang santai.


“Saya Parta Masandia, ketua utama dari Organisasi Teladan Akademi Militer Antariksa Milderan mengucapkan, selamat datang untuk semua yang berhadir di Acara Penutupan Masa Orientasi Pelajar.”


Seisi ballroom langsung bertepuk tangan kala disapa ramah dan penuh semangat oleh sang pemimpin Organisasi Teladan.


Parta sempat memberikan ucapan terima kasih satu-satu pada para petinggi, guru, beberapa anggota utama Organisasi Teladan, sampai perusahaan dan sponsor yang bekerja sama dengan akademi. Hingga akhirnya, ia mulai memasuki bagian utama acara.


“Untuk acara malam ini, kita mengadakan event berhadiah bagi para Taruna-Taruni dari berbagai tingkat maupun jurusan, dari yang senior sampai junior yang baru masuk.”


“Dan salah satu event-nya ialah lomba dansa. Kami akan mempersilakan bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam event ini. Kami akan memainkan alunan musik melow-klasik serta beberapa jenis musik lainnya sesuai fase-fase tertentu dari band terbaik kita, dan kalian diwajibkan untuk berdansa dengan pasangan jika ingin ikut dalam lomba ini.”


“Beberapa kamera maupun robot pengawas akan merekam dansa kalian di beberapa titik. Pasangan mana pun yang terlihat berdansa dengan baik dan unik akan keluar menjadi pemenangnya.”


Parta menyingkir sedikit ke pinggir panggung, memperlihatkan sekumpulan hadiah yang dibawakan oleh wanita-wanita cantik nan elegan. Para pelajar begitu tercengang ketika melihat kumpulan hadiah besar tersebut. Tak disangka jika acara penutupan tahun ini bisa semeriah ini dengan hadiah yang luar biasa banyak.


Parta kembali menjelaskan sambil membaca daftar hadiah di tab yang ia pegang, “Pasangan-pasangan yang menang terpilih menjadi lima juara. Juara 5 mendapatkan 2500 Dt. Juara 4 mendapatkan 5000 Dt dan voucher makan gratis di seluruh kafetaria dan kantin akademi selama 2 minggu.”


“Wiiih...! Makan gratis kita,” ucap salah satu Taruna antusias.


“Bisa-bisa bakal gemuk kita,” timbrung Taruna lainnya.


Parta kembali melanjutkan, “Juara 3 mendapat 7500 Dt dan dua unit mesin cuci. Juara 2 mendapat 10.000 Dt beserta perangkat-perangkat komputer spesifikasi bagus. Dan juara 1 mendapat 15.000 Dt, perangkat-perangkat komputer dengan spesifikasi tingkat Dewa, serta tiket liburan ke pulau tropis untuk satu rombongan selama libur semester!!!”


Semua orang langsung bersorak gembira setelah mendengar kumpulan hadiah menggemparkan yang diumumkan Parta dengan semangat kemerdekaan.


Rafa sendiri sempat melongo sendiri mendengarnya. Oke, tahun ini akademi mereka memang sudah dikenal sangat maju, tapi hadiah-hadiah yang diberikan ini menurutnya terlalu berlebihan untuk sekelas acara penutupan di akademi militer antariksa.


“Serius, sampai liburan ke pulau tropis satu rombongan selama libur semester?” tanya Rafa hampir tidak percaya.


“Mungkin karena akademi kita dapat banyak sponsor, investor, dan kemajuan-kemajuan lainnya yang membuat akademi ini jadi makin besar, membuat para petinggi tak keberatan memberi banyak hadiah untuk lomba seperti ini,” jelas Damar turut senang akan kemajuan akademi mereka.

__ADS_1


Setelah Parta memberi pengumuman pada seluruh tamu dan memberi aba-aba pula pada personil band di bagian panggung, musik melow khas dansa klasik mulai dilantunkan.


Perlahan beberapa pasang orang mulai terjun ke lantai dansa, saling membekap pasangan masing-masing, berdansa pelan sesuai alunan musik melow tersebut.


“Jadi....”


Ardan berjalan menghadap ke Krisan, sedikit membungkuk, dan mengulurkan tangan kanan selayaknya seorang pangeran yang hendak mengajak sang putri berdansa bersama.


“Maukah kamu berdansa denganku, Nona Krisan Ambarwati?” Tak lupa Ardan mengedipkan sebelah mata, bermaksud menggoda gadis polos itu.


Awalnya Krisan mengerjap beberapa kali, bingung dengan gelagat Ardan. Dia mengerti kalau pemuda berambut jingga semi berantakan itu ingin mengajaknya berdansa. Tapi, apakah semua orang kota mengajak pasangannya berdansa dengan cara berlebihan seperti ini?


“Aku tidak bisa dansa lho, Senior,” ungkap Krisan.


“Tidak masalah. Nanti aku ajarin selama di lantai dansa.”


“Pssst....”


Nadia sempat menghampiri Krisan, mulai berbisik di dekat telinga sahabatnya itu.


Krisan balas berbisik, “Enggak apa-apa, kok. Aku cewek kuat.”


“Ya, udah. Jangan tolak. Siapa tahu juara, terus dapat banyak hadiah.”


Nadia mendorong Krisan hingga tubuh gadis itu hampir jatuh menimpa dada bidang Ardan kalau saja Ardan tidak menahannya.


Keduanya sempat adu pandang antara netra perak Ardan dan netra biru kelam Krisan. Sempat Ardan memberi senyum tulus pada Krisan dan hanya dibalas dengan kepala yang dimiringkan seperti anak kecil.


Aduh.... Ardan jadi gemas sendiri. Kenapa Krisan yang berdandan sederhana bisa seimut ini, sih?


Jadi pengen gigit pipi mulusnya.


“Ayo.”


“Eh? Eh?”


Bukannya Ardan yang membawa Krisan dengan langkah wibawa, malah Krisan yang menyeret lengan kekar itu menuju lantai dansa.

__ADS_1


Gadis kampung ini.... Walau polos, tapi suka seenaknya.


Nadia sendiri sempat dibuat tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat interaksi dua orang yang ia kenal akrab itu pergi bersama.


“Mereka lucu, ya? Sama-sama aneh,” ucap Nadia dengan senyum ceria yang susah luntur.


“Iya, ya,” balas Damar disertai senyum juga. “Kadang suka pusing sendiri ngadepin mereka berdua.”


Nadia dan Damar tertawa bersama sesaat. Namun kemudian, keduanya saling tatap-tatapan, membuat hati makin berbunga.


Nadia memberi kode buat mereka ikut pergi ke lantai dansa. Awalnya Damar hendak langsung menerima, tapi sadar kalau masih ada Rafa di dekat mereka.


Sontak Damar menoleh ke Rafa yang tengah berdiri sendiri di samping Damar. Pemuda berambut hitam klimis dengan kacamata itu sempat dibuat gugup setengah mati, takut enggak diizinin buat ngajak Nadia berdansa bersamanya.


Mengetahui kegugupan Damar, Rafa pun berkata, “Dansa aja, sana. Asal jangan lebih dari itu.” Kemudian, ia meminum minumannya.


Baik Damar maupun Nadia sama-sama tersenyum senang. Dua insan dimabuk asmara itu segera pergi menyusul Ardan dan Krisan ke lantai dansa. Selain pedekate, siapa tahu mereka bakal menang lomba juga.


Sekarang, tinggal Rafa sendiri berdiri di tempat yang sama sambil meneguk minumannya hingga tandas. Dia sempat berpikir, Damar dan Nadia sudah lama dekat sejak sebelum masuk akademi, Ardan pun baru saja beruntung nemu gadis yang begitu menarik perhatiannya. Di antara mereka, masa cuma Rafa yang masih sendiri?


Rafa menggelengkan kepala, mengenyahkan pikirannya yang tengah memikirkan nasib jomblo yang sudah ia sandang sejak lahir.


Iya, seumur hidup Rafa tak pernah berpacaran. Selain karena sibuk belajar dan tidak tertarik dengan pacaran yang ia anggap buang-buang waktu saja, Rafa juga terlalu kecanduan baca komik, nonton anime, sampai nontonin V-Idol.


Beruntung Rafa masih memperhatikan penampilan dan tetap aktif bergaul dengan orang banyak, sehingga ia tidak dianggap wibu nolep, ansos, atau semacamnya hanya karena demen 2D.


“Berdiri sendirian kayak gini kelihatan macam orang bego,” gumam Rafa sambil menaruh gelas kosong itu di meja terdekat.


“Rafa.”


Dalam kesendiriannya, kebetulan Rafa dihampiri oleh seorang wanita cantik. Wanita itu tampak memakai gaun panjang dengan belahan rok gaun sampai ke paha dan bagian atasnya menampakkan bagian dada yang cukup menonjol, dia berambut cokelat bergelombang, berkulit putih mulus, dan memiliki postur tubuh tinggi semampai.


Rafa menoleh disertai tatapan datar. Sebenarnya, dia cukup malas berhadapan dengan wanita yang hampir setiap hari ia temui sejak hari pertama Masa Orientasi. Tapi, mau bagaimana lagi? Mungkin ada sesuatu yang penting tuk dibicarakan.


“Senior Miranda?”


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2