
Damar menoleh patah-patah saat mendengar Rafa memanggilnya. Perasaan Damar jadi tak enak ketika dipanggil Rafa dengan nada mengintimidasi seperti tadi.
Salah Damar sendiri, kegatelan gombalin adik orang di hadapan abangnya sendiri. Gini ‘kan jadinya.
“Coba tebak apa yang ada di sakuku,” pinta Rafa disertai senyuman. Namun, senyuman itu tampak sama sekali tidak bersahabat, karena ada aura membunuh yang kuat di baliknya.
“Emm....”
Damar jadi serba salah di sini. Mau diabaikan, entar jadi masalah. Mau nyahut, tetap jadi masalah.
Gini amat memperjuangkan cinta.
“.... Engg....” Damar menggeleng, “Enggak tahu.”
Rafa merogoh sesuatu dari saku seragam. Bukan benda apa pun yang keluar, melainkan satu kepalan bogem yang sengaja diperlihatkan Rafa ke Damar. Kepalan itu tampak keras, bahkan terlihat jelas urat-uratnya menonjol, membuat Damar meneguk saliva sendiri saking ngerinya dengan kepalan tersebut.
“Gila. Mau dibogem ‘pala kau, Mar,” bisik Ardan malah membuat sahabatnya makin panik. “Aku kagak punya duit buat nyiapin biaya operasi geger otak kau.”
“Kau ini, Dan...,” sungut Damar pelan.
Dahlah. Dalam segala situasi, Ardan memang enggak bisa bikin teman tenang sedikit.
“Oi, oi. Tenanglah....” Pada akhirnya, Ardan mencoba menengahi. “Lagi pada makan gini, malah mau berantem aja.”
“Macem-macem, sih...,” cibir Rafa, kembali lanjut memakan bakso.
“Aelah. Cuma digombalin, doang. Kagak sampai diapa-apain,” ucap Ardan lagi.
Namun, ketika melihat teman-temannya iseng main tebak-tebakan saku, otak random Ardan jadi kepingin ikutan.
“Eh, Dek, Dek Krisan.”
“Hm?” Krisan mengangkat kepala, menatap Ardan. Pipinya tampak gembung karena sedang asik mengunyah nasi goreng, membuatnya jadi terlihat semakin imut.
“Coba deh tebak, apa yang ada di sakuku?” tanya Ardan antusias. Dia mau coba ngasih gombalan, tapi yang lebih epik lagi.
“Lah, ikutan?” kaget Damar.
“Mulai, deh....” Rafa memutar bola mata karena tahu kebodohan macam apa lagi yang akan dilakukan sepupunya.
Dengan pandangan mata bulat nan polos, Krisan terdiam sambil terus mengunyah makanan.
Kunyah,
Kunyah,
Telan.
Lalu, mulai merespon dengan polosnya,
“Maaf menyinggung, tapi kita tidak boleh menebak isi saku seseorang karena itu merupakan bagian dari privasi yang tidak seharusnya diumbar.”
__ADS_1
“Khihihik.” -Damar
“Pff...!” -Rafa
“Kyahahahaha...!” -Nadia
Ketiga temannya ketawa melihat respon Krisan terhadap tebak-tebakan Ardan. Lagi-lagi Krisan susah peka kalau lagi digombalin orang.
Ardan kicep, berbalik sambil menunduk merenungi nasib karena si doi kagak pernah peka kalau dia mau ngegombal.
Kok susah ‘kali pedekate sama cewek polos macam Krisan?
“Sahabat.... Kayaknya aku mau nyusul bapak-emakku, dech. Ada yang mau titip salam?” ucap Ardan disertai nada yang dibuat-buat ceria, padahal lagi nahan kesel sama malu.
“Lah? Jangan gitu juga ‘kali, Dan. Pfft.” Lagi-lagi Damar berusaha berhenti menertawakan Ardan.
Krisan masih menatap Ardan sambil mengerjapkan mata beberapa kali layaknya anak kecil yang tengah kebingungan. Krisan mikir, mungkin Ardan hendak basa-basi seperti apa yang dilakukan Damar ke Nadia, terus mau bikin Krisan girang tak karuan.
Ya.... Krisan baru sadar, hatinya hampir saja ikut kegirangan kalau Ardan lanjutin tebak-tebakannya. Cuma, Krisan bingung mau balas apa karena pada dasarnya menebak isi saku seseorang termasuk melanggar privasi, bukan?
Au, ah. Krisan puyeng.
....
[Berita Terkini!]
“Sekitar pukul 01.34 dini hari, Waktu Ranjaya Tengah, telah terjadi ledakan tak terduga di salah satu bagian fasilitas Markas Komando Sagitarius MPA03-14, Angkatan Militer Orbit. Sejauh ini, penyebabnya masih diselidiki oleh Pihak Keamanan Militer Angkatan Orbit Ribelo. Namun, dugaan sementara ledakan terjadi akibat korsleting pada bagian penting Reaktor Kristal.”
“Hah?”
Mereka berbarengan menoleh ke Rafa setelah tadi sempat menonton tayangan berita yang ditayangkan salah satu monitor televisi di kafetaria tersebut.
Rafa memang sudah mengetahui beberapa fakta tentang ledakan yang terjadi pada salah satu Markas Angkatan Orbit itu ketika bersiap berangkat ke seminar. Dia sudah menduga kalau apa yang diberitakan di publik merupakan hoaks.
Ardan memicingkan mata curiga, “Maksudmu?”
Rafa menghela nafas, merogoh ponsel di saku seragam. “Kejadian aslinya bukan disebabkan oleh kerusakan bagian Reaktor Inti Kristal, tapi karena sabotase.”
“Sa-sabotase?” ucap Damar setengah terkejut.
Rafa mulai mengotak-atik ponsel. “Ya. Aku mendengar kabar dari salah satu kenalan Abah yang bekerja di Markas Sagitarius itu pas lagi siap-siapan mau ke seminar. Penyebab pastinya masih diselidiki, yang jelas bukan karena korsleting, tapi kemungkinan ada yang nge-sabotase Reaktor Inti Kristal.”
“Wah.... Dapat kabar dari orang dalem, nih,” goda Ardan.
Dengan datar Rafa membalas, “Kayak kau kagak punya aja, Dan. Kau ‘kan juga suka ngoleksi orang-orang dalem.”
“Ya daripada cel*na d*lam orang yang kukoleksi.”
Memang benar. Mau Rafa ataupun Ardan sama-sama memiliki banyak kenalan di berbagai instansi dan bidang, mau itu dari pengusaha, pemerintah, sampai militer sekali pun.
Selain karena peran penting dari orang tua mereka, penyebabnya juga karena keduanya sama-sama mampu bersosialisasi dengan banyak orang penting. Sehingga, mereka bisa lebih mudah mendapatkan informasi maupun bantuan dari orang-orang dalam tersebut.
__ADS_1
“Tunggu dulu.” Damar mulai bertanya, “Kalau reaktor markas kena sabotase, berarti markas berhasil disusupi orang lain?”
“Ada kemungkinan disusupi atau orang dalam yang emang sengaja melakukan sabotase atas kerja sama dengan pihak yang bertentangan dengan Militer Ribelo.”
“Astaga.... Sekelas Angkatan Orbit saja berhasil kena sabotase.” Damar masih susah percaya. “Kok bisa tingkat keamanan militer planet kita jadi menurun begini?”
“Ini semua bisa jadi disebabkan karena kebobrokan militer planet kita sendiri.”
Rafa menaruh ponselnya, memperlihatkan beberapa artikel tentang berbagai masalah yang menimpa militer antariksa pada beberapa tahun belakangan ini.
“Militer Antariksa Ribelo udah mengalami kekacauan, terutama di Angkatan Orbit. Para perwiranya terlibat banyak skandal dan masalah politik, sehingga mengakibatkan krisis kepercayaan militer pada masyarakat planet,” jelas Rafa sambil menunjuk artikel-artikel yang dimaksud.
“Krisis kepercayaannya memang belum parah. Tapi jika kebenaran tentang sabotase ini menyebar ke publik, maka masyarakat planet akan semakin muak dengan pihak Militer Antariksa, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya pemberontakan. Makanya, sengaja dibikin hoaks dulu.”
“Situasi seperti inilah yang paling bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk segera mencoba menjatuhkan Pemerintah Ribelo, memicu terjadinya perang, mengingat Persatuan Planet-Planet dalam Serikat Galaksi saja sudah semakin memanas semenjak runtuhnya Rezim Damarno Zia di Planet Zoterna.”
Ardan menopang kepalanya menggunakan satu tangan sambil menatap Rafa dengan kedua mata memicing. “Apa enggak berlebihan menyebut krisis kepercayaan ini bakal menyebabkan perang? Kalau pemberontakan, bisa. Dan argumenmu tadi terdengar menerka-nerka bahwa ‘pihak’ yang memanfaatkan situasi kacau ini kemungkinan besar disebabkan oleh pihak yang terlibat dalam Serikat Galaksi, yang berarti mereka dari bangsa atau planet luar.”
“Aku ngerti maksud Ardan.” Damar nimbrung, “Pihak yang kau maksud, Raf, masih terkesan ambigu. Kau bicara seolah-olah yang memanfaatkan kekacauan krisis kepercayaan ini merupakan pihak-pihak yang berasal dari luar planet. Mungkin saja pihak yang berusaha menjatuhkan pemerintahan planet berasal dari dalam planet itu sendiri.”
“Yang kumaksud bukan cuma pihak-pihak dari luar planet ataupun dalam planet, tapi pihak mana saja,” sanggah Rafa datar. “Hanya saja, aku menduga pihak luar planet yang berperan besar dalam memicu terjadinya kekacauan yang lebih parah di planet kita karena ini ada hubungannya dengan memanasnya hubungan Serikat Galaksi. Tapi, apa yang kuperkirakan ini masih belum tentu benar, oke? Ini baru kejadian sabotase, dan masalah ini juga masih perlu diselidiki.”
“Yang jadi pertanyaan, siapa yang berani melakukan sabotase pada Markas Sagitarius?” tanya Nadia ikut dalam diskusi.
“Penyusup atau penghianat. Itu aja sih dugaan yang ‘dah paling bener,” sindir Rafa sambil bersedekap tangan di dada.
Damar menggelengkan kepala. “Aaakh.... Aku agak kurang percaya kalau ini disebabkan oleh penyusup, mengingat keamanan markas-markas Angkatan Militer Antariksa sendiri terbilang sangatlah tinggi. Aku lebih percaya kalau sabotase itu disebabkan oleh orang dalam.”
“Berarti, yang bakal memicu terjadinya perang dan segala t*tek bengeknya itu berasal dari pihak dalam planet, dong.” Ardan mencoba menduga.
“Jangan naif dulu, Dan.” Rafa kembali berkata, “Tadi malam ‘kan sudah kita bahas kalau perkara keamanan sendiri masih ada kemungkinan bisa dibobol. Anak SMK aja bisa ngebobol keamanan siber tingkat internasional.”
“Jangan bilang kalau yang ngelakuin sabotase ini anak STM,” tebak Ardan asal.
Rafa memalingkan wajah, sedikit bete. “Bah.... Malah ngelawak dia.”
Ardan cuma terkekeh saat direspon bete begitu sama Rafa. Ardan tidak bermaksud bicara konyol, dia hanya tidak ingin pembicaraan mereka jadi terkesan terlalu kaku, apa lagi yang dibahas masalah berat tentang hal yang belum bisa dijangkau oleh Taruna-Taruni muda seperti mereka.
Ardan pun mulai serius bicara, “Masalah sabotase dan yang terjadi di Militer Antariksa sendiri masih dalam tahap penyelidikan dan ditangani oleh orang-orang yang ahli. Kita tidak perlu ikut pusing memikirkan hal-hal yang masih berada di luar kemampuan kita.”
“Hanya saja....” Ardan melanjutkan, “Kita wajib waspada dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi di dalam planet kita. Ke depannya, mungkin akademi-akademi antariksa juga akan dilibatkan dalam situasi darurat jikalau hal yang tidak diinginkan terjadi.”
Mereka mulai dibuat tegang dengan apa yang dikatakan Ardan. Situasi buruk yang berhubungan dengan perang serta kekacauan planet mungkin akan melibatkan Taruna-Taruni Akademi Antariksa. Jadi, mulai sekarang mereka harus lebih waspada dan mempersiapkan diri matang-matang jika diri mereka dibutuhkan.
“O-oke.... Cukup untuk diskusi tegang kita, ya...,” ucap Nadia sedikit canggung. “Mending kita bahas soal Acara Penutupan Masa Orientasi Pelajar yang diadakan malam ini. Katanya, tema tahun ini adalah Pesta Dansa.”
“Hah?!”
Dan ketiga pemuda itu dibuat sangat kaget dengan tema Acara Penutupan Masa Orientasi Pelajar yang akan diadakan malam ini.
Apa enggak salah temanya musti Pesta Dansa?
__ADS_1
...~*~*~*~...