Akademi Militer Metal

Akademi Militer Metal
Chapter 25 : Tipe Cowok


__ADS_3

Di malam yang sama, tepatnya di salah satu unit asrama putri, ada tiga perempuan tengah berkumpul sambil memperhatikan benda-benda bulat di tangan salah satu perempuan.


“Wah...! Jadi, ini benda yang bisa bikin muka jadi lebih halus dan cerah sepertimu?” tanya Nadia tampak berbinar melihat benda-benda bulat yang disebut sebagai bedak dingin itu.


Krisan mengangguk. “Kulit wajahku sangat sensitif, jadi tidak boleh menggunakan apa pun yang memiliki campuran bahan kimia. Aku harus memakai bahan-bahan alami seperti bedak dingin ini.”


Karena penasaran, Sheena yang sedang duduk di tepi ranjang di samping Nadia mengambil sebutir bedak dingin tersebut, lalu semakin ia perhatikan lewat mata birunya.


“Di negaraku, enggak ada benda-benda pengganti krim penghalus dan pencerah seperti ini.” Kemudian ia menoleh ke arah Krisan. “Apa ini bikinanmu sendiri?”


“Kalau yang ini iya. Tapi, ada juga kok yang dijual. Hanya saja, susah tuk mencari bedak dingin berbahan alami murni di kota-kota. Yang ini dibuat dari bahan-bahan alami, resep keluarga kami turun-temurun.”


“Pantas saja pas pertama kali bertemu denganmu, aku lihat wajahmu sangat halus dan cerah tanpa jerawat maupun bekasnya. Rupanya, pakai bedak berbahan alami seperti ini, ya?” puji Nadia.


“Kalau jerawatku cuma numbuh pas masa datang bulan. Lagi pula, pakai bedak dingin itu jauh lebih hemat dari pada memakai krim-krim dengan campuran bahan kimia yang harganya suka mahal kalau mau dapat yang berkualitas.”


“Ada untung juga ya tinggal di kampung. Apa-apa tinggal ambil bahan yang tersedia di alam.”


Nadia mengangguk setuju atas ucapan Sheena.


“Kalian bisa minta kalau mau, aku bawa banyak, kok,” tawar Krisan.


“Sungguh? Nanti aku minta satu, ya. Mau coba dulu.”


“Sama, aku juga.” Kemudian, Nadia mulai mengalihkan topik pembicaraan. “Oh, iya. Selama kita saling mengenalkan diri sejak bertemu tadi pagi, aku jadi penasaran seperti apa tipe cowok idaman kalian.”


“Penting ‘kah tuk membahas hal kayak begitu, Nad?” Sheena tersenyum sambil menaikkan satu kaki di posisi duduknya.


Saat mereka mulai asik mengobrol, Krisan memasukkan beberapa butir bedak dinginnya ke dalam wadah kecil, dan menaruhnya di samping.


“Oh, ayolah.... Aku punya banyak kenalan cowok lho selama ini. Siapa tahu ada yang menarik buat kalian, bisa kujodohkan,” goda Nadia.


“Kalau niatmu mau menjodohkanku dengan abang-abang stresmu itu, maaf saja, aku tak berminat,” ucap Sheena.


“Yaaah.... Padahal, kelihatannya kau cocok dengan salah satunya,” desah Nadia kecewa dibuat-buat.


“Hei, abang-abangmu maupun cowok satu akademi ini bukanlah tipeku, tahu.”


Mendengar ucapan Sheena, sontak membuat Krisan dan Nadia sedikit mengambil jarak darinya. Mereka takut perempuan tomboi berambut biru panjang ini malah punya ketertarikan sesama jenis.


“Ei, kalau cowok-cowok di sini bukan tipeku, bukan berarti aku demen sesama jenis. Aku jelas masih normal. Cuma....” Sheena menggaruk tengkuknya ragu. “Tipe cowokku itu terlalu... rumit.”


“Rumit seperti apa, Kak Sheena?” tanya Nadia kepo.


Sheena berdecak, “Ck, pokoknya rumit, lah.”

__ADS_1


Dari ekspresi wajah Sheena sendiri, sepertinya perempuan itu merasa kurang nyaman membahas tipe pria idaman. Oleh sebab itu, Nadia memutuskan tuk bertanya pada Krisan saja.


“Kalau kau sendiri, Krisan? Tipe cowok idamanmu kayak gimana?”


Krisan tampak berpikir dengan ekspresi wajah polos khasnya. Selama ini, Krisan kurang kepikiran kriteria pria idaman seperti apa yang dia inginkan menjadi pendamping hidup kelak. Cuma ada beberapa kriteria yang membuatnya menyukai pria tersebut.


“Emm....” Krisan mulai memeluk bantal. “Tipe cowokku aneh, lho.”


Nadia begitu antusias ketika menyadari Krisan memiliki kriteria pria idaman.


“Kasih tahu aja ke kami, Krisan. Kami tidak akan membocorkannya kalau kau tidak ingin ada yang tahu selain kami.”


Ketika Krisan menoleh ke Sheena, perempuan itu juga tampak penasaran dengan tipe pria idaman Krisan si gadis yang mereka kenal sebagai sosok pendiam itu.


Pada akhirnya, Krisan menjawab, “Aku.... Sukanya cowok yang agak cerewet.”


“Hah?”


Nadia dan Sheena sama-sama mengerjapkan mata, heran sendiri sama tipe cowok kesukaan Krisan yang satu ini.


Menyadari keheranan keduanya, Krisan buru-buru meralat, “Ma-maksudku, aku suka cowok yang humoris, ramah, dan pandai bicara.”


Krisan menunduk sambil membuat pola di permukaan bantal menggunakan ujung jari telunjuk, membiarkan helaian rambut hitamnya menjuntai menutupi wajah.


“Karena itu juga, aku merasa menginginkan seseorang yang bisa membuatku nyaman dan mampu membawaku keluar dari perasaan sepi di hatiku. Setidaknya, bisa memberi warna dan kesan berarti dalam hidupku. Lagi pula, menurutku, cowok humoris dan suka berceloteh itu lucu serta menggemaskan.”


Nadia jadi tersenyum mendengarnya. Sepertinya, tipe cowok seperti yang dijelaskan Krisan itu merupakan kriteria yang cocok dengan Krisan sendiri. Pasti sangat menggemaskan ketika melihat seseorang yang pendiam memiliki hubungan romantis dengan orang yang humoris dan cerewet.


“Aku yakin, kau pasti akan mendapatkan cowok idamanmu itu,” ucap Nadia pada Krisan.


“Benarkah?”


Krisan sempat mendongak menghadap wajah Nadia, tapi kembali menunduk lesu seakan-akan tidak memiliki semangat hidup.


“Aku enggak yakin.”


“Lho, kok pesimis gini?” Nadia bertanya, “Memangnya kenapa?”


“Cowok humoris dan suka bicara itu pasti sukanya cewek yang mengasikan juga. Dia pasti menganggapku cewek yang sangat membosankan.”


Beginilah sifat Krisan. Terlalu lama menyendiri dan kesulitan berinteraksi dengan banyak orang membuatnya sering minder dengan sesuatu yang belum pasti.


“Belum tentu juga, kan?” Sheena berusaha menghibur. “Kau itu cantik, Krisan. Terlepas dari sifatmu yang banyak diam itu, pasti banyak cowok di luar sana naksir berat sama kau.”


“Iya, Kris. Jangan minder gitu. Kau itu sebenarnya berbakat, lho. Kemarin pas menolongku, cara bertarungmu benar-benar hebat. Kau tentu punya pesonamu sendiri, Kawan,” tambah Nadia pula.

__ADS_1


Seulas senyum setipis kertas tersungging di wajah manis Krisan. Benar apa yang dikatakan Sheena dan Nadia, setiap orang punya kelebihannya sendiri. Buat apa minder?


“Kalau perlu, aku bisa carikan cowok yang sesuai sama kriteriamu itu.”


“Eh! Eh! Jangan, Nad...!”


Buru-buru Krisan melarangnya. Pasalnya, Krisan belum siap tuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Berteman dengan mereka saja dia sedang usaha agar tak terkesan membosankan, masa harus dicarikan pacar pula?


“Ti-tidak perlu,” ucap Krisan canggung. “Saat ini, aku belum siap menjalin hubungan dengan cowok mana pun. Aku hanya ingin fokus ke pendidikan.”


“Oh? Begitu, ya? Tak apa.” Nadia pun tersenyum, mengerti kalau teman barunya ini belum siap pacaran.


“Apa kau pernah pacaran, Kris?” tanya Sheena penasaran sekalian menggoda gadis berambut hitam kelam itu.


Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Krisan menjawab, “Aku belum pernah pacaran sebelumnya.”


“Ah, enggak heran, sih.”


Sheena tidak kaget pas tahu gadis pendiam seperti Krisan belum pernah pacaran seumur hidup. Menurutnya, itu wajar karena dari Krisan-nya sendiri mengakui bahwa ia kesulitan bersosialisasi dengan orang-orang.


“Kalau tipe cowokmu sendiri seperti apa, Nad?” tanya Sheena pada Nadia.


“Eh?” Ekspresi Nadia terlihat agak canggung, tapi dia masih bisa menjawab, “Em.... Itu.... Aku, sih.... Sukanya cowok yang manis dan pengertian. Itu aja.”


“E’hem~. Kayak Damar, gitu...?”


Sontak Nadia membelalak kaget mendengar godaan Sheena. Rupanya, seniornya ini tahu sama Damar juga, padahal mereka beda kelas, beda jurusan pula.


“Lo-lho?! Kok tahu...? Kau kenal Mas Damar?” tanya Nadia sedikit terbata-bata.


“Kenal, kok,” jawab Sheena santai. “Dia sering kali mampir ke kelas kami buat datengin Rafa sama Ardan. Makanya, aku tahu siapa dia. Rafa juga pernah cerita kalau temannya itu naksir berat sama adiknya, begitu pula sebaliknya.”


“Aduh, malu aku....”


Nadia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, menutupi rona merahnya. Dia jadi malu ketahuan naksir sama teman abangnya itu.


“Hubungan kalian ada perkembangannya, enggak?”


“Mana ada!” Nadia pun mulai ngomel, “Bang Rafa itu, lho, suka ‘kali ngalang-ngalangin hubungan kami. Katanya, takut aku kenapa-napa, biar aku bisa fokus juga sama pendidikan.”


“Woalah.... Segitunya juga abang kau itu.” Sheena menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal.


Pada akhirnya, mereka mengakhiri ngobrol malam mereka karena besok harus bangun pagi-pagi sekali tuk kegiatan orientasi pelajar. Walau obrolannya kurang penting, tapi setidaknya bisa membuat mereka jadi semakin akrab sebagai teman satu asrama.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2