Aku Bukan Dokter

Aku Bukan Dokter
Kembali nya Rizki ke Ibu kota


__ADS_3

Waktu berutang pada saya. Tentang jarum jam yang lelah berputar. Tentang cerita yang menggantung. Tentang perjalanan yang belum usai. Perpisahan bukan awal tentang kesedihan tetapi perpisahan ku ini dengan gadis kecil, dengan Kakek Tua Kes, awal mengungkap siapa pemilik tubuh ini. Kenapa bisa sampai berada di atas Gunung waktu itu.


Malam telah berlalu, pagi pun tiba, ayam ayam terdengar berkokok saling bersahutan satu sama lain menyambut datang nya sang mentari di pagi desa nelayan.


Tampak di halaman rumah Kakek Tua Kes, seorang pemuda yang di juluki oleh penduduk desa nelayan sebagai Tabib Dewa berdiri dengan gaya kedua tangannya di simpan dalam saku celananya itu, menghadap kearah gadis kecil dan Kakek nya.


"Kakek Tua Kes. Kesya, ingat soal menangkap ikan lobster, usahakan jangan sampai orang lain mengetahui nya. Kalau tidak pasti dapat menimbulkan masalah nantinya.." Pesan Rizki sebelum pergi meninggalkan rumah yang menjadi tempat kehidupan kedua nya itu.


"Yaa, aku mengerti.. Anak Muda Ki, apa kau yakin tidak mau tinggal lebih lama di desa ini, atau beberapa hari lagi..?" Tanya Kakek Tua itu, Ia tak menyangka pemuda yang pertamakali menyelamatkan Cucu nya dari racun ular kobra yang sangat mematikan itu akan pergi, padahal sang Kakek berharap pemuda itu bisa tinggal di desa ini dan berniat untuk di jadikan nya menantunya.


"Hidung belang, apakah kau bener bener akan pergi?" Bukan kah kau bilang tidak akan pergi secepat ini." Kini yang bertanya Kesya, hal serupa pun di rasakan oleh gadis kecil yang awal nya sangat membencinya, berbalik seratus derajat menyukai Rizki, walau pun kata itu tidak terucap oleh gadis berusia 19 tahun tersebut.


"Para pembunuh telah berdatangan, aku tak mau kalian berdua ikut terlibat dalam misteri ini, bagaimana pun aku harus pergi untuk menyelesaikan dan mengungkap semua misteri ini.." Batin Rizki bergejolak.


"Setelah menghilang begitu lama, aku juga harus pergi melihat lihat situasi nya.." Alasan Rizki kepada mereka berdua agar mengerti tentang kepergian nya dari desa kecil dengan seribu kenangan yang telah di lalui di kehidupan kedua nya itu.


"Pergilah. Pergilah! Lebih cepat lebih baik. Huh.." Kesya membalikkan badannya dia tak mau wajah penuh rindu kehilangan Rizki di perlihatkan kepada nya.


"Jangan sedih begitu Kes. Kita masih bisa bertemu lagi kok! Saat ada waktu kosong. Aku pasti akan pergi kemari untuk menemui mu dan Kakek Tua.." Rizki tersenyum penuh arti, ketika gadis kecil itu menoleh dengan wajah yang bersemu merah.


"Sekalian untuk memeriksa luka mu yang ada di bokong yang begitu indah dan cantik.." Kedip satu mata Rizki membuat Kesya semakin memerah wajahnya.


"Tidak perlu mengungkit-ungkit luka yang ada di pantat ku..." Teriak Kesya refleks tangan nya langsung memegang pantat yang terkena gigitan ular kobra waktu itu.

__ADS_1


"Hahahaha.." Selamat Tinggal gadis kecilku.." Rizki langsung berjalan kearah mobil milik reporter Riani.


Satu unit mobil mewah pun melesat pergi meninggalkan desa kecil di pelosok negri itu, membelah jalanan di pagi itu dengan cuaca yang begitu cerah.


Selang beberapa jam kemudian mobil pun telah sampai di pusat kota Guangxi, dimana tempat yang akan di tuju oleh pemuda itu.


"Selanjutnya kau berencana akan pergi kemana? Apa kau berniat akan menemui tunangan mu.?" Tanya Riani dalam langkah kaki menuju sebuah apartemen milik nya.


Setelah tunangan nya menghilang, seorang wanita mempertahankan perusahaan seorang diri, bahkan sampai di jebak oleh orang lain. Aku terlalu banyak berhutang padanya..." Rizki berhenti dari langkah kaki nya, sorot mata nya tajam keatas langit.


"Saat ini yang paling penting, mencari otak dari semua ini.." Kata Rizki menoleh kearah Riani sambil tersenyum manis, lalu mereka berdua pun melanjutkan perjalanan dan tiba di salah satu gedung yang menjulang tinggi keatas.


"Bagaimana tempat ini sangat megah kan.? Setelah kau hilang dan terbangun di desa kecil. Kau tidak terkejut dengan semua pemandangan ini kan.?" Tanya Riani mencoba membangunkan ingatan Rizki yang percaya bahwa pemuda yang kini berdiri di hadapannya itu hilang ingatan.


"Mobil mobil di jalan ini sangat kuno di bandingkan dengan 90 tahun yang akan datang.." Gumam Rizki menoleh kearah mobil mobil yang berlalu lalang.


"Kau sombong sekali! Dasar lihat saja nanti.." Kesal Riani berkata dengan nada tinggi kepada Rizki, yang tampak asal asalan menjawab nya.


Tak lama kemudian mereka pun kini sudah keluar dari lift dan berada di lantai 23 apartemen milik reporter cantik itu. Riani pun langsung membukakan pintu apartemen dan bertanya kepada pemuda tentang rumah yang di tempati nya, apakah dia masih bisa menyombongkan diri sendiri nya.


"Ceklek.."


Pintu terbuka.." Bagaimana ini adalah rumah ku. Tidak tahu bagaimana menurut Tabib Dewa Ki yang memiliki selera tinggi." Kata Riani dengan memperlihatkan semua furnitur di rumah ini adalah benda berkualitas tinggi dan anggapan dirinya pemuda itu akan terkejut setelah melihat semuanya.

__ADS_1


"Yah, tempat ini masih bisa di tinggali.." Kata Rizki acuh dan cuek hingga Riani pun langsung amarah nya meluap luap, namun Ia mencoba untuk bersabar.


"Si brengsek ini, rasanya ingin ku sobek mulut nya! Apa dia tidak bisa berkata sesuatu yang enak di dengar sedikit! Hah.." Kesal Hati Riani.


"Kalau begitu aku memang harus terpaksa tinggal di sini. Tenang saja aku bukan orang yang pemilih kok." Rizki dengan santai nya langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Kau akan tinggal di rumah ku.?" Tanya Riani terkejut!


"Tentu saja, kalau tidak untuk apa mengikuti mu kemari. Aku juga tidak memiliki tempat tinggal.." Lugas Rizki berkata tanpa beban.


"Kau.... Kau ingin tinggal serumah dengan ku.." Kata Riani terbata bata semakin tak mengerti tentang polah tingkah dan pikiran pemuda sombong tersebut.


"Tentu saja jangan khawatir, aku akan menjaga baik baik kesucian ku. Aku tidak akan memberikan kesempatan pada mu untuk melecehkan ku.." Ujar Rizki berterus terang.


"Siapa yang peduli dengan kesucian mu! Aku lebih khawatir dengan keselamatan diriku sendiri.." Kata hati Riani yang tampak terlihat kesal di wajahnya.


"Baiklah karena aku juga bukan orang yang pelit! Kalau kau tinggal di rumah ku, kau pasti akan membayar uang sewa kan..?" Tanya Riani tersenyum jahat.


"Satu bulan 2500000, kau berikan uang jaminan sebesar 5 juta untuk waktu dua bulan. Harga ini tidak boleh di tawar lagi..." Riani membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi.


"Kau....... Meminta uang sewa seharga resep ku! Kau bener bener kejam.." Kata Rizki berkerut keningnya!


"Hehehehe.. Aku belajar dari mu." Riani menoleh kearah Rizki seraya terkekeh sinis.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2