
"Kriiiiing......................!
"Kriiiiing......................!
"Kriiiiing.......................!
"Halo......"
"Baik aku akan segera kesana sekarang juga.." Xian berlari terburu buru menuju sebuah mobil, exfresi nya menandakan ketakutan yang amat dalam.
Setelah sampai di dalam mobil dan hendak menghidupkan mesin mobil nya, tiba tiba pintu mobil pun terbuka dan Rizki Nasir pun langsung masuk.
"Kenapa kau naik ke mobil ku. Cepat turun.." Usir Xian dengan cepat.
"Taksi sangat jarang lewat di sekitar sini. Aku tak mungkin kan harus berjalan kaki pulang ke rumah. Dan kau terlihat panik sekali, apa ada sesuatu yang terjadi.?" Tanya Rizki acuh.
"Uhk..... Baiklah, aku sudah malas berdebat denganmu. Lakukan lah sesuka mu saja.." Xian hanya bisa pasrah lalu menghidupkan mobil nya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Tiga puluh menit berselang, mobil mewah milik opsir wanita itu sudah sampai di penataran rumah sakit rakyat yang begitu mewah dan bertingkah.
Polisi wanita itu langsung membuka pintu mobil nya dan buru buru masuk ke gedung mewah itu, meninggalkan Rizki yang masih duduk di mobilnya itu.
"Dokter Trik................... Bagaimana kondisi ibu saya.." Kata Xian panik dengan nafas yang ngos ngosan.
Dokter muda itu langsung menoleh sesaat seorang perempuan menegurnya dan langsung menjawab pertanyaan dari wanita yang tak lain anak dari pasien nya itu.
"Silahkan tenang dulu! Kondisi ibu mu saat ini tidak terlalu baik."
"Hiks... Hiks... Apa kah aku boleh menemui ibu ku.?" Tanya Xian seraya menangis dan menyeka air matanya.
"Boleh, boleh... Tapi tolong jangan terlalu lama, pasien butuh istirahat.." Jawab Dokter Muda itu.
Rizki datang dengan berjalan seperti gaya yang biasa Ia peragakan, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya, sesampainya di belakang Xian, Ia berkerut keningnya melihat Dokter muda itu.
__ADS_1
"Kenapa sepertinya aku pernah melihat orang ini.." Gumam Rizki dalam hati.
"Astaga... Dunia ini memang sempit sekali! Patrick kita bertemu lagi.." Tunjuk Rizki kepada dokter muda itu.
"Rizki Nasir..." Kaget Patrick sesaat menoleh kearah lelaki yang memanggil namanya dengan perasaan terkejut lalu membalikkan badannya buru buru sambil melangkah.
"Ibu mu di rawat di kamar 303 kau bisa kesana melihat nya sendiri. Aku masih ada urusan yang lain maaf tak bisa menemani mu.." Patrick mencoba menghindari Rizki Nasir.
"Sebaiknya aku lebih baik menghindari. DEWA WABAH ini. Aku tidak mau terlibat dan berurusan dengannya.." Patrick lalu pergi buru buru meninggalkan mereka berdua.
Rizki hanya tersenyum melihat Dokter Muda itu, yang pernah bersitegang dengan dirinya di desa nelayan waktu itu. Sedangkan Xian tampak kebingungan melihat gelagat Dokter itu tak seperti biasa nya begitu, namun Ia enggan bertanya karna melihat kondisi Ibu nya lebih penting dari segala nya itu.
"Ceklek.........."
"Kreatt..........."
Pintu terbuka, Xian lalu buru buru masuk dan menyapa seorang wanita yang sedang duduk berseloroh di atas ranjang pasien.
"Bunda aku datang untuk melihat mu."
Rizki masuk dan berjalan di samping Xian, wanita tua itu menatap penuh kebingungan.
"Putri ku siapa dia.?" Tanya Sang Ibu seraya menunjuk kearah pemuda yang baru masuk itu.
"Halo Bibi. Nama ku Rizki Nasir.." Pemuda itu memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Kau sudah berapa lama mengenal Putri ku. Menurut mu putri ku ini bagaimana..?" Tanya Sang wanita tua dan ingin mendengar tanggapan dari pemuda yang kemungkinan teman dekat anaknya itu.
"Bunda....... Apa an sih, apa yang kau bicarakan.." Protes Xian..
Rizki Nasir pun langsung menarik Xian dalam dekapannya seraya berkata penuh makna, hingga membuat Xian kesal di buatnya.
"Menurut ku dia sangat baik, dia sangat lembut dan juga perhatian. Xian juga selalu berkata kepada saya, kalau aku adalah pria tertampan di dunia ini.."
__ADS_1
"Bagus sekali Putri ku. Anak Muda Ki ini sangat baik sekali. Putri ku kau jangan menyia nyiakan nya." Kata Wanita tua itu kepada anaknya.
"Baiklah Bun......... Aku akan keluar sebentar dan bicara padanya. Aku akan segera kembali......." Xian menarik paksa Rizki untuk mengikuti nya keluar dari ruangan pasien itu.
Sesampainya di luar ruangan kamar pasien dan kemungkinan tak akan terdengar suaranya dari sang Ibu, Xian pun dengan exfresi kesal nya langsung menginterogasi Rizki Nasir dengan apa yang tadi katakan di depan sang Ibu.
"Memang siapa yang kau bilang kamu tampan hah! Pria tertampan di dunia puihhhhhhh..."
"Di sekitar sini banyak taksi yang lewat. Cepat pergi dari sini.." Usir Xian dengan kejam.
"Hehehehe.. Bibi sangat menyukai ku. Dia sangat berharap kalau aku jadi menantu nya. Aku melakukan ini hanya untuk membuatnya senang sedikit. Karena.................."
"KARENA APA HAH.." Xian langsung menyela ucapan dari Rizki Nasir yang belum selesai berbicara.
"Karena penyakitnya itu sangat parah, kemungkinan dia tidak dapat bertahan sampai dua bulan ke depan..'' Terang Rizki memberi tahukan kepada polisi wanita itu yang tampak begitu marah terhadap nya.
"BRENGSEK DIA ITU IBU KU HAH.."
"Apa mulut mu tidak bisa di jaga bajingan.." Bentak Xian bener bener marah saat ini, kedua tangannya mengepal erat seakan akan ingin menghajar pemuda di hadapannya itu.
"Aku hanya mengatakan kebenaran nya, walaupun aku pribadi tidak bisa menyembuhkan nya..... Tapi aku punya cara untuk memperpanjang usianya..." Kata Rizki melangkah pergi dari polisi wanita itu.
Xian bener bener terkejut di buat nya.." Tunggu apa kau serius..?" Teriak polisi wanita itu menahan Rizki Nasir agar jangan pergi.
"Aku pernah membaca di data yang telah di selidiki oleh polisi lain, sewaktu di desa nelayan orang ini pernah di panggil sebagai TABIB DEWA. Dia juga berhasil membereskan wabah yang menyebar di desa itu.." Ucap Hati Xian penuh dengan misteri sosok pemuda yang kini membalikkan badannya dan berdiri lagi di hadapannya.
"Mengingat aku sudah pernah menyentuh bokong mu dan mere*mas rem*as bokong indah mu itu. Aku memastikan kalau kamu percaya dan menyerahkannya pada ku, saya jamin semua nya akan baik baik saja.." Angkuh Rizki Nasir dengan gaya sombong nya Ia peragakan di hadapan Xian polisi wanita itu.
"Apa yang kau inginkan sebagai gantinya..?" Tanya Xian dengan kedua tangan mengepal erat dan menahan amarahnya.
"Sederhana bagi ku. Setelah ini kau harus menari sekali lagi denganku.." Ucap Rizki tersenyum jahat di bibir nya.
"Baiklah aku setuju, ayo kita temui Ibu ku dan kau bisa memeriksa nya.." Ajak Xian, dan di balas cepat oleh Rizki dengan anggukan.
__ADS_1
Bersambung.