
"Kriiiiing''.......................!
"Kriiiiing''........................!
"Kriiiiing''.........................!
Alicia langsung menoleh matanya kearah ponsel yang berdering, Ia tersenyum sumbing melihat apa yang tertera dalam layar ponsel lalu buru buru mengangkat nya."
"Halo Kakak, kau sudah kembali..?" Tanya Alicia dalam panggilan telepon."
"Iya kamu di mana sekarang, bisa ketemu di restoran yang tak jauh dari kantor mu tidak..?" Terdengar suara yang sangat familiar di telinga Alicia.
"Bisa..... Bisa Kak... Alicia saat ini langsung berangkat ya.." Antusias dan tampak bersemangat di hati Alicia sesaat dia bingung dengan apa yang di pikirkan oleh nya tentang tunangan nya itu.
"Baiklah Kakak tunggu ya.." Suara lelaki di sebrang itu lalu mengakhiri panggilan telepon setelah kata IYA dari penerima telepon.
Wanita muda berusia 24 tahun keluar dari ruangan Manager berjalan dengan sangat anggun dan begitu sempurna di pandang mata oleh setiap insan lelaki yang memandang penuh dengan nafsu bi*rahi, namun setiap insan yang ada dalam kantor mereka tempat bekerja tak ada yang berani sama sekali menatap atau pun mengumpat kearah wanita yang mempunyai posisi penting di perusahaan milik lelaki tak berguna itu.
Singkat cerita wanita yang bernama Alicia itu pun sudah sampai di salah satu restoran yang tak jauh dari kantor tempat Ia menjabat sebagai Manager tersebut.
Senyum indah terukir di bibir Alicia, tampak seorang lelaki tinggi berbadan atletis duduk di salah satu meja yang berada di pojok restoran mewah tempat Ia dan lelaki itu janjian.
"Kak Sandi maaf ya aku datang terlambat.." Sapa Alicia setelah sampai di meja yang di tempati lelaki bernama Sandi itu dengan senyuman.
"Gak pa-pa Cia.. Kakak juga baru sampai, ayo duduk.." Pinta Lelaki itu hatinya berbunga-bunga.
"Terima Kasih Kak.." Alicia pun langsung duduk.
__ADS_1
Setelah basa basi sejenak, tentang seputar tanya kabar sehat dan menunggu pesanan dari pelayan restoran itu, lelaki itu langsung mengobrol pada inti tujuan nya kembali ke kota kelahiran nya.
"Aku sudah mendengar tentang mu. Apa kau baik baik saja.." Kata Sandi tatapannya menatap tajam dan hati nya berdebar kencang menatap kecantikan dan keindahan tubuh Alicia.
"Kakak....... Aku......" Kedua mata nya berkaca kaca, Air mata keluar begitu saja, lelaki di hadapannya itu sangat sempurna dan lebih baik dari Rizki Nasir.
"Kau bisa menangis sampai kau puas. Jangan menahan diri lagi.." Kata Sandi memberi perhatian lebih pada Alicia agar tujuan nya bisa di terima oleh wanita berstatus tunangan Rizki Nasir itu.
"Hiks...... Hiks....... Hiks.........!
"O..... Orang yang tidak berguna itu tiba tiba meninggalkan ku... Aku harus mempertahankan perusahaan seorang diri.." Lirih Alicia dengan tangisan yang begitu menyayat hati lelaki di hadapannya.
"Bagaimana mungkin aku baik baik saja...... Hiks hiks hiks..." Tangis nya makin membuncah, Sandi pun langsung mengeluarkan sapu tangan Ia berniat untuk melap air mata Alicia untuk mencari perhatian nya, namun niat nya itu di tolak oleh Alicia dengan halus.
"Terima Kasih Kak.. Aku bisa sendiri kok.." Alicia menepis tangan Sandi, hingga kening nya berkerut.
"Demi kau aku pulang kembali ke negara ini. Bagaimana kalau kau ikut aku. Tidak perlu memperdulikan tunangan mu itu..." Sandi langsung berkata pada inti dan tujuannya menemui Alicia.
"Hiduplah bersama ku dan kita jalani kehidupan yang kita impikan.." Sambung Sandi... Ungkapan dari Sandi membuat Alicia tersentak kaget, bukan pembahasan ini yang di terima oleh Alicia dalam pertemuan yang hampir 3 tahun lamanya tak bertemu.
"Kak Sandi apa maksudmu dengan ucapan barusan. Aku bener bener tak mengerti.." Alicia menatap tajam pada lelaki di hadapannya itu.
"Aku mengetahui sifat tunangan mu itu. Si brengsek itu tidak pantas untuk hidup bersama mu.." Kata Rizki bernada tinggi.
"Ba... Bagaimana kalau kita ganti topik pembicaraan nya Kak..." Alicia memberikan exfresi ketidaksukaan bila menyangkut dan berkata goreng pada Rizki Nasir.
"Tidak bisa, kita harus tetap membicarakan nya! karena pada saat di sekolah dulu, aku belum sempat mengutarakan perasaan ku pada mu.." Gigi atas bergetar menahan amarah yang tertahan di seluruh tubuhnya itu.
__ADS_1
"Kali ini aku tidak akan melepaskan kesempatan ini.. Alicia apa kau mencintai ku..?" Tanya Sandi.
Pertanyaan yang tak masuk akal di berikan oleh Sandi membuat hati dan pikiran Alicia di buat bimbang. Alicia hanya menganggap Sandi sebatas kakak angkat nya tak lebih dari itu, justru hatinya kini terpincut kembali pada lelaki tak berguna itu.
Emang dari awal terjadi nya Alicia hanya bisa pasrah menerima pertunangan itu, dengan dalih mengangkat derajat kehidupan kedua Orang Tua nya, namun seiring berjalannya waktu tabiat dari Rizki Nasir menunjukkan sipat aslinya yang di cap sebagai lelaki mesum atau pun lelaki tak berguna. Tapi itu dulu. Dulu ketika Ia menghilang begitu saja tanpa ada orang lain yang mengetahui nya, namun sekarang dia datang dan membawa rasa tak percaya dengan apa yang telah di lakukan oleh lelaki mesum itu pada nya dan Kedua Orang Tua nya..
"Kakak kumohon kau jangan memojokkan aku seperti ini.." Pinta Alicia.
Sandi emang dasar tidak bisa mengerti akan sipat seorang wanita yang sedang bersedih, bukan nya menggantikan topik apa yang di minta oleh Alicia, dengan penekanan dan sifat egois nya, Ia justru semakin menekan Alicia dengan pertanyaan pertanyaan yang membuat wanita itu semakin tak suka pada lelaki di hadapannya itu.
"Sampai kapan kau akan bertahan meladeni orang yang tidak berguna itu.?" Hidup mu pasti tidak akan bahagia kalau bersama dengan nya.." Geram dan sedikit membentak kata kata nya hingga Alicia pun langsung bangkit hati dan pikiran nya bingung.
"Tidak tahu... Aku tidak tahu lagi. Maaf aku harus pamit pergi.." Alicia langsung buru buru pergi meninggalkan lelaki yang masih duduk di kursi meja restoran mewah tersebut.
Sandi terkejut melihat Alicia sipat nya kini berubah tak seperti waktu masih bersekolah dan sekelas dengan diri nya.. Ia pun membalikkan badannya."
"TUNGGU ALICIA!
"Tunggu aku belum selesai berbicara dengan mu.."
Alicia terus berlari keluar dari restoran mengacuhkan teriakan dari Kak Sandi, dalam pikiran nya hanya satu Ia ingin segera pergi dari restoran itu dan pulang ke rumahnya.
Sedangkan Sandi hanya bisa membatu diam menatap kepergian wanita yang sudah tiga tahun Ia pendam rasa sayang dan cinta nya, kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang Ia dapat ketika bertemu dengan wanita pujaan nya itu.
"Aku tak akan menyerah dan melepaskan mu begitu saja, jangan panggil aku Sandi kalau kau tak bertekuk lutut di hadapan ku.." Sandi berbicara pada diri sendiri dengan amarah tertahan.
Bersambung.
__ADS_1