
"Sialan! Ternyata kau yang mengambil cek itu. Aku akan berikan cek itu pada tunangan ku. Cepat serahkan padaku.." Rizki menarik paksa lelaki mata empat itu dan langsung mengangkat melalui kerah bajunya.
Aksi yang di lakukan oleh Rizki Nasir yang ingin menghabisi lelaki mata empat itu, seketika di hentikan oleh Pria botak dengan cara menodongkan pistolnya dari arah belakang kepada kepala Rizki.
"Jangan bergerak! Kalau kau tidak ingin mati, cepat katakan? Kenapa polisi bisa membiarkan mu masuk?" Tanya Pria botak itu.
Rizki menoleh kepalanya kearah pria botak itu dengan senyuman manis yang ia berikan lalu berkata acuh namun sorot matanya tajam.
"SEDERHANA KARENA AKU DAPAT MEMBERESKAN KALIAN!
"Hahahaha! Sobat, sobat kau bener bener suka bercanda.." Tawa pria botak itu terbahak bahak seakan akan perkataan yang di berikan oleh Rizki hanya bualan saja.
Melihat exfresi pemimpin perampok itu tak percaya dengan ucapan Rizki.. Rizki pun langsung meluap kan amarah yang tadi sempat tertahan oleh Pria botak itu kepada mata empat tersebut. Ia langsung menarik paksa kembali kerah baju Dede.
"Brengsek! Lebih baik kau segera menyerahkan cek milikku, kalau tidak.............!
"Kau.... Apa yang akan kau lakukan hah? Bukan aku yang mengambilnya! Walaupun kau membunuhku, aku tidak mengambilnya dan aku pun tidak takut kepada mu.." Jawab mata empat itu kukuh dengan pendirian nya. Hal itu membuat muak Rizki Nasir.
"Bugh! Tendangan pun mendarat kearah perut oleh Rizki Nasir hingga Ia pun merunduk merasakan mual yang amat dalam.
"Cepat katakan dimana cek milikku hah.." Teriak Rizki setelah menendang Dede.
"Aku bener bener tidak mengambil nya...... Ahk.." Erang Dede tetap tidak mengakui perbuatannya.
Ketika Rizki akan mulai menendang lagi dengan lutut kaki nya, tiba tiba dari saku celana Dede keluar kertas kecil kecil hingga Rizki pun menoleh dan tidak jadi untuk menendang lelaki itu.
"Uhk di saku celana mu sungguh tak asing aku melihatnya.." Kata Rizki langsung mengambil paksa apa yang ada di dalam saku celana Dede.
Setelah apa yang ada di dalam saku celana Dede, itu adalah cek milik nya yang telah di robek robek menjadi kecil.. Rizki pun kini amarahnya semakin menjadi dan tak bisa di bendung lagi.
"Kau berani beraninya merobek robek cek milikku."
"Bughh....! Bughh...!
__ADS_1
"Plakk......! Plakk...!
Amarahnya langsung Rizki luapkan dengan memukul secara membabi buta kepada Dede yang dengan sengaja merobek cek milik nya itu.
Sementara para pihak kepolisian yang di antaranya inspektur Budiono dan Opsir Wanita yang melihat melalui ruangan pengawas, melihat apa yang di lakukan Rizki pada Dede.
"Situasi apa ini? Dia malah menghajar sanderanya?" Apa yang harus kita lakukan komandan.?" Tanya Xian yang melihat langsung dari cctv di ruangan pengawas.
"......... Ini.... Kita lihat dulu situasinya.." Jawab Inspektur Budiono terbata bata.
"BRENGSEK! Kau harus mengganti cek milikku! Cek itu bernilai 3 miliar tahu! kenapa kau merobek robek cek milikku hah.." Teriak Rizki langsung menendang dagu pria memakai kacamata itu.
"Bughh....................!
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!
Belum puas dan merasa lega di hati Rizki, walau pun Dede sudah beberapa kali memohon pengampunan dan seluruh mukanya pun sudah lebam, Rizki pun langsung menarik paksa kedua kaki nya, dan menekan Pusaka Warisan leluhur milik Dede dengan satu kaki nya, hingga para perampok dan para sandera pun di buat ngeri melihat nya.
"Bener Ketua dia bener bener gila.." Timpal anak buah perampok tersebut.
"Ku.... Ku.... Ku.... Kumohon jangan tendang aku lagi.... Mu... Mungkin masih bisa tertolong cek ku itu.." Dede bener bener sudah tak kuat lagi dan menahan rasa ngilu di balik celananya itu.
"Hah!
"Bleghh..."
Rizki pun melepaskan kaki nya yang menekan cukup keras pada bagian pusaka warisan leluhur milik Dede dan langsung berkata dengan nada tinggi kepada petugas teler itu.
"Nona Nani. Apakah cek yang berupa seperti ini masih bisa di cairkan."
"Mohon Maaf Tuan. Cek nya sudah rusak dan tak bisa di cairkan.." Terang Nani, membuat Rizki kembali meluapkan amarahnya kepada Dede bahkan kini semakin ganas dari sebelumnya.
"Bugh... Bugh..... Bugh..... Bugh......"
__ADS_1
Injakan keras berkali kali kepada Dede oleh Rizki di arahkan kepada wajah, perut, kaki dan se*langkangan nya hingga Dede pun menjerit menahan kesakitan yang amat dalam, penyesalan yang terlambat mungkin pikirannya saat ini.
"Itu adalah uang yang akan ku gunakan untuk membantu membereskan masalah tunangan ku! Brengsek kau! Aku akan menghabisi mu saat ini juga.." Teriak Rizki menarik kedua kaki nya dan langsung menginjak kembali pusaka milik Dede.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh.." Teriak Dede menggema menahan rasa sakit."
Sedangkan dua polisi yang sedang memantau di ruangan pengawas, salah satu nya geram melihat apa yang di lakukan oleh Rizki terhadap sandera itu.
"Apa kita harus mengutus orang kita untuk masuk kedalam. Pria mesum itu sudah kelewatan! Kalau dia menghajar perampok itu justru bagus! Tapi yang dia siksa adalah seorang sandera.." Geram opsir wanita itu.
"Tunggu sebentar lagi! Walaupun dia melakukan hal seperti itu, para perampok juga membiarkan nya begitu saja."
"Pemuda itu tidak mudah untuk di hadapi, siapa tahu dia memang dapat membereskan para perampok itu.." Terka Inspektur Budiono, jelas Ia belajar dari segi pengalaman nya menjadi seorang polisi.
"Lihat lah Opsir Xian, para perampok itu mulai berbisik bisik, dan mungkin akan segera meninggalkan Bank itu, kita akan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah pemuda itu bener bener akan membiarkan perampok itu pergi dengan membawa sandera atau menghentikan nya.." Kata lagi inspektur Budiono seraya menunjuk kearah komputer pengawas.
**
"Ketua selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Kalau dia terus menyiksa nya, orang itu pasti mati, kita bukan datang kemari untuk membunuh kan. Dan semua orang kita juga sudah bersiap, kita tinggal membawa beberapa sandera saja lalu pergi.." Kata salah satu anak buah perampok itu memberi tahukan kepada Ketua nya.
"Hehehehe.... Ayo lest' go' Kalau begitu kita bawa beberapa sandera nya.." Kata pria botak itu tersenyum jahat kearah wanita yang bertugas sebagai teler di Bank yang kini sedang di rampok.
"Hei. Kau kemari lah..." Tunjuk Pria botak itu."
"A.... Aku." Gemetar seluruh tubuh wanita bernama Nani itu.
"Dorr.................!
"Kalau tidak ingin cepat mati kemari lah. Kalau tidak aku akan menembak mu detik ini juga.." Ancam pria botak itu seraya menodongkan pistol kearah wanita itu.
"Ba.... Baiklah.... " Wanita itu berjalan gemetaran menghampiri pria botak yang menjadi pimpinan perampok itu.
Bersambung.
__ADS_1