Aku Bukan Dokter

Aku Bukan Dokter
SUNGGUH


__ADS_3

"DI MANA DIA.?" Tanya Rizki dengan sorot mata setajam silet.


"Aku tidak akan memberitahu mu, kecuali kau menyetujui syarat ku.." Jawab Tangyi.


"SUNGGUH.." Rizki tersenyum jahat. Lalu Ia mengambil serbuk obat di dalam baju nya.." Aku penasaran jika ada perempuan jala*ng dari Keluarga Tang yang suka menggoda pria.." Kata Rizki.


Lelaki pendendam itu dengan gelar Tabib Dewa, menyobek plastik kecil berisi serbuk racikan, seringai licik di bibirnya menatap kearah Tangyi yang berjongkok di lantai tak bisa bergerak sedikit pun.


"Bagaimana menurutmu wanita jala*ng bermain main dengan ku. Pasti menarik.." Kata lagi Rizki.


"Kau menakuti ku.." Serak suara Tangyi serbuk obat mulai menimbulkan efek yang di luar nalar.


"Tidak bohong. Dia bisa membuat nya jadi nyata.." Teriak Ariani yang sudah membaik memberi tahukan pada gadis yang tadi sempat menendang nya, walau bagaimana pun Ia akan merasa kasihan seandainya pemuda yang menjadi penyewa di apartemen nya sudah menggunakan serbuk obat racikannya itu.


"Aku tak percaya.............." Kata Tangyi namun sesaat kemudian.


"Serrr........................"


Birahinya seketika muncul secara tiba tiba, goa milik nya berdenyut denyut terasa gatal, ada aliran cairan yang keluar dari goa berharga miliknya, keringat bercucuran, rasa ingin di belai oleh lawan jenisnya kini di rasakan oleh Tangyi.


"Kau brengsek! Apa yang telah kau lakukan padaku.." Serak suaranya, satu tangan kanannya memegang goa yang masih terbungkus celana nya, sementara tangan satu lagi menekan erat payudara miliknya yang terus membuncah birahi nya.


Melihat gelagat yang di rasakan oleh Tangyi, Rizki pun langsung menjulurkan lidah nya dan di lihat kan gerakan mesum nya dengan memindahkan lidah dari kiri sampai ke kanan, hingga gadis yang sedang menahan landasan birahi itu berpikir keras, bahwa apa yang di lakukan lelaki di hadapannya itu tak main main.


"Katakan di mana dia sekarang. Jika hal buruk terjadi padanya. Keluarga Tang akan menyesal." Rizki menekan Tangyi dengan sebuah ancaman yang serius.

__ADS_1


"Aku akan mengubah tiga syarat yang sebelumnya menjadi dua. Ingat 10 miliar tidak kurang.." Sambung Rizki Nasir memberikan penawaran.


Tak ada pilihan lagi bagi Tangyi, melawan akan celaka dirinya sendiri dan yang lebih patal lagi, Ia akan kehilangan sosok Sang Kakek.. Menerima tawaran dari Rizki Nasir itu pilihan yang paling tepat untuk saat ini.


"Setuju. Aku telah mengirim orang orangku untuk menyelamatkan Alicia. Mereka tidak akan lolos, kau seharusnya menepati ucapan mu.." Kata Tangyi dengan ucapan yang tertahan karna birahi yang terus memuncak.


"Baik........... Rizki pun langsung mengambil serbuk obat penawar bagi Tangyi dan langsung di kibaskan, ajaib itu yang ada di dalam pikiran Tangyi, detik itu juga tubuh nya kembali normal dan perlahan lahan birahi nya hilang begitu saja.


#######


Sementara di salah satu gudang terbengkalai di pesisir kota Guangxi, tampak pria gemuk duduk dengan hanya memakai celana dal*am saja, sungguh tragis nasibnya selain hanya memakai celana segitiga, pria gemuk itu juga dalam keadaan terikat dan mulut di tutupi lakban hitam.


Di samping kiri kanannya, tampak dua lelaki berbadan tegap dan berotot dengan senjata Laras panjang di tangan masing masing, tak jauh dari mereka bertiga, sosok wanita muda berusia 24 tahun, berkulit putih mata bening bertekuk lutut dengan seluruh tubuhnya gemetaran karna rasa takut yang amat dalam.


Wanita yang sedang ketakutan itu, tak merasa bahwa ada langkah kaki dan sepasang mata memperhatikan, wajah nya tertunduk ke bawah hati dan pikiran nya gamang penuh rasa takut dengan apa yang terjadi saat ini.


Wanita itu perlahan mendongkrak wajahnya, jelas suara itu sangat familiar, air mata nya tak kuat untuk di tahan, lalu Ia pun memeluknya dengan tangisan yang begitu menyayat hati.


"Hiks.... Hiks... Hiks.... Budiman Cahya menangkap ku..... Hiks Hiks..... Aku hampir di perkosa oleh nya.." Tangis nya semakin menjadi dalam pelukan Rizki Nasir.


Setelah satu menit lamanya, tangisan pun reda, Rizki pun langsung melepaskan pelukan hangat dari Alicia.." Tenang lah, jangan cemas. Aku disini bersama mu. Semua nya akan baik baik saja.." Kata Rizki memberi kekuatan pada Alicia untuk tenang.


"Hiks..... Hiks...... Hiks......." Tangis kembali oleh Alicia, seandainya para penolong itu tak datang tepat waktu.


"Hei.... Berhenti menangis. Atau mata cantik mu akan bengkak.." Rizki penuh kasih sayang menyeka kedua air matanya.

__ADS_1


Perlakuan yang di berikan oleh Rizki, mampu membuat hati Alicia luluh dan nyaman bila dekat dengan pemuda yang di cap lelaki tak berguna itu.." Kamu peduli padaku..?" Polos Alicia bertanya pada Rizki Nasir.


Rizki diem tak memberi jawaban atas pertanyaan dari Alicia, hingga rasa kesal bercampur kecewa pun timbul di pikiran Alicia.." Lalu kenapa kamu kesini kalau tak peduli padaku..?" Tanya Alicia.


"Aduh....... Itu rumit untuk di jelaskan. Bisakah kamu menunggu aku di luar? Aku masih punya urusan dengan lelaki gemuk itu.." Rizki mengalihkan topik pembicaraan, urusan masalah hati Ia kesampingkan terlebih dahulu.


"Tidak......... Aku takut.." Lirih Alicia, saat ini dia tidak mau jauh jauh dengan Rizki Nasir, ada perasaan nyaman di hatinya bila bersama dengannya.


"Menurut lah... Ini tidak akan lama.." Kata Rizki.


"Baiklah, tapi janji ya jangan lama.." Teken Alicia, hal itu membuat Rizki mengangguk dan tersenyum manis.


Alicia pun di antar oleh anak buahnya Tangyi untuk menunggunya di bawah, sedangkan Rizki ada rencana lain, untuk memberi perhitungan pada Budiman Cahya yang telah berani mengusik wanita nya.


"Tangyi. Biar aku yang urus dia. Tukar pria iblis itu dengan satu syarat perjanjian kita.." Teriak Rizki seraya menunjuk kearah Budiman Cahya dengan tatapan penuh kebencian.


"Yang lainnya pergilah, cukup dua orang saja yang menjaga nya.." Tangyi tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan dari Rizki.


"Dia orang yang aneh. Dia berhasil menekan kami dengan tiga syarat. Sekarang dia dengan mudahnya meminta dua syarat untuk meluapkan keinginan nya.. Manusia seperti apa dia ini.." Batin hati Tangyi bertanya tanya.


Rizki menatap tajam kearah Budiman Cahya yang masih terikat, perlahan lakban yang menempel di bibir nya di buka oleh Rizki. Bibir nya tersenyum jahat, entah rencana apa yang akan di lakukan terhadap nya.


"Aku ingin melepaskan sebelumnya. Tapi kau berani melakukan hal semacam itu. Kau bermain dengan api.." Rizki memperlihatkan sesuatu yang di ambil dari dalam bajunya.


Jelas bagi Budiman Cahya Ia mengetahui nya, sebuah serbuk obat yang pernah Ia rasakan waktu itu ketika berada di ruangan Manager GRUP Cahya.. Tangyi yang tak jauh dari posisi Rizki Nasir pun, terlihat raut ketakutan dengan serbuk obat yang ada di tangan Rizki Nasir.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2