
Pemuda yang berdiri di hadapan ranjang pasien itu tersenyum penuh arti, hati dan pikiran penuh dengan kelicikan yang membuat lawannya itu jatuh dan masuk ke dalam perangkap nya.
"Apa kau serius tak akan memberikan lagi cek itu pada ku.. Aku ingin bertanya, apakah kau pernah mendengar kata. "BACKUP.."
Pria gemuk itu terdiam wajahnya di telusuri oleh cairan keringat yang keluar dari pori pori kulitnya, akibat rasa ketakutan yang amat dalam.
"Saya hanya mengingatkan saja. Kalau video itu tersebar ke media, bisa bisa reputasi Tuan Muda Budiman......." Ucapan Rizki Nasir berhenti sejenak melihat exfresi wajah Pria gemuk itu yang kemungkinan tahu arti dari ucapan yang di berikan oleh dirinya.
"Aku yakin kau tidak mungkin merusak harga diri dan reputasi mu hanya demi mempertahankan uang tiga miliar bukan..?" Telak ucapan ucapan yang di lontarkan oleh Rizki Nasir mampu melemahkan napsu pertahanan Budiman Cahya.
"Kau.............. Aku tidak akan memberikan mu lagi cek itu. sebaiknya kau menyerah saja.." Budiman Cahya kukuh dengan pendirian nya.
Rizki Nasir langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi dari ruangan VIP itu seraya berkata dengan pukulan telak mengarah pada ulu hati Budiman Cahya.
"Baiklah ku harap kau tidak menyesal dengan keputusan yang sudah kau ambil.."
"TUNGGU! TUNGGU!
Budiman Cahya buru buru berkata dengan nada tinggi mencegah pemuda itu untuk berhenti, dan Rizki Nasir pun menoleh dengan senyuman yang ia tahu sudah menemukan jawaban dari sahabatnya itu menghentikan langkah kaki nya.
"Tolong berikan pada ku. BACKUP video itu.." Pasrah Pria gemuk itu.
Rizki pun langsung mengeluarkan sebuah kartu memori yang Ia bawa dari apartemen nya, tak di lama kan lagi langsung keluar dari ruangan VIP tempat Budiman Cahya di rawat.
Sambil berjalan kearah keluar pintu masuk rumah sakit itu, dengan santai Rizki Nasir melewati dua anjing Budiman Cahya yang tadi berdiri tak jauh dari ruangan VIP.
Tampak penuh emosi di perlihatkan oleh Jahid dan Tikno pada Rizki Nasir, namun kedua nya tidak bisa berbuat apa-apa, emosi kedua nya semakin membludak ketika dengan sengaja Rizki Nasir memperlihatkan cek berharga tiga miliar itu di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
"*Budiman Cahya, Budiman Cahya, apakah kau berpikir hanya dengan uang tiga miliar ini, aku akan bisa melupakan soal kau menyuruh orang dan berniat untuk membunuh ku.."
"Saat ini aku tidak membunuh mu hanya karena akan menjadikan mu sebagai mesin ATM ku. Ketika saat aku kekurangan uang aku hanya tinggal mencari mu.." Ucap hati Rizki keluar dari rumah sakit tersebut*.
Setelah kepergian Tabib Dewa panggilan warga penduduk di desa nelayan, Jahid dan Tikno pun langsung masuk kembali keruangan inap Budiman Cahya, mereka berdua ingin mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Rizki Nasir hingga dia dengan mudahnya mendapatkan cek kembali.
"Tuan Muda Budiman.." Ucap Tikno berdiri di samping Jahid.
"Keparat dia menganggap ku seperti apa! Apa dia pikir dia bisa pergi dan datang seenaknya begitu.." Amarah penuh dendam dan rasa kebencian di dalam tubuh Budiman Cahya terlihat oleh dua anak buahnya.
"Bunuh dia, siapa yang bisa membunuh nya..... Aku akan memberikan uang satu miliar.." Geram Budiman Cahya.
Jahid dan Tikno langsung saling bertatap muka dengan senyuman penuh arti, lagi dan lagi majikan akan mengeluarkan perintah nya lagi, hal itu pundi pundi uang pun akan masuk kedalam kantong mereka berdua.
"Jangan khawatir Tuan Muda Budiman Cahya, kami tidak akan mengecewakan mu.." Kata mereka serempak lalu membungkuk hormat sebelum pergi keluar meninggalkan pria gemuk yang sangat bodoh itu.
Barat Kota Guangxi.
Rasa kaget dan tak percaya yang di informasi kan oleh sang anak berusia 24 tahun kepada anaknya, membuat lelaki berusia 40 tahunan itu berpikir keras.
Lelaki yang biasa di panggil dengan sebutan Arki Nasir itu langsung membanting sebuah buku yang sedang Ia baca di ruangan khusus nya.
"Apa kau yakin berita itu sungguhan..?" Tanya lelaki berusia 40 tahunan itu pada pemuda yang baru datang dan memberikan informasi yang di dapatkan oleh anak buahnya.
"Tidak salah lagi si brengsek itu masih hidup. Ayah apakah aku harus mencari seseorang untuk membunuh nya.?" Tanya pemuda itu meminta pendapat.
"Jangan, kali ini kita tidak boleh gegabah, kau bereskan saja masalah mu dulu, lalu bagaimana perkembangan mu dengan Olivia Wilde?" Tanya lelaki itu yang tak lain ayah nya.
__ADS_1
"Olivia sangat berbeda dengan wanita lainnya, dia bener bener mengabaikan ku, bahkan dengan tegas selalu menolak ku. Aku juga adalah seorang pria yang memiliki harga diri.." Keluh pemuda itu memberikan alasan pada Ayah nya.
"Terkadang harga diri seorang pria sangat berharga seperti emas! Tapi terkadang juga bisa menjadi rendah seperti selembar kertas! Kau seharusnya mengerti prinsip itu kan.." Kata Arki Nasir memberikan petuah nya dalam kata kata.
"Kalau begitu bagaimana kalau aku menggunakan cara curang dengan meracuni nya saja dengan obat perangsang dengan begitu aku bisa meniduri nya dan langsung menjadi milikku seutuhnya.." Kata pemuda itu dengan seringai licik di bibirnya.
"Uhk.... Anakku kau terlalu mudah berkata, bila cara mu itu kau pakai, yang ada hanyalah nyawa mu yang akan melayang.." Sang Ayah pergi meninggalkan anaknya untuk berpikir keras dengan apa yang selama ini di kejar nya.
#####
Di Ruangan lain masih di Mansion keluarga Besar Ki. Seorang lelaki paruh baya berusia 58 tahun sedang menulis sebuah kaligrafi sebagai hobi sehari harinya menghabiskan waktu luang.
"Vikri kau tidak boleh membawa putra mu yang tidak berguna itu masuk kediaman Mansion keluarga Ki.." Tegas lelaki paruh baya itu yang tidak bisa di ganggu gugat keputusan nya.
"Kenapa kau tidak setuju aku menjemput nya pulang.?" Dia adalah putraku.." Tegas Pria berdasi yang bernama Vikri itu.
"KARENA.." Pria paruh baya itu menghentikan aktivitas menulis nya lalu menoleh kearah putra pertama nya itu sambil berkata.
"Karena dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Ki.."
"Walaupun dia bukan di lahir kan oleh Widia, tapi dia adalah putra ku satu satunya. Ayah kuharap kau mengijinkan aku, untuk membawanya kembali pulang.." Pinta anak pertama di keluarga besar Ki memohon.
"Membawa nya pulang, membawa pulang anak itu yang hanya tahu cara nya berfoya-foya? Membawa pulang anak yang tidak berguna, keluarga besar kita sudah banyak menanggung malu." Lelaki paruh baya itu memperlihatkan rasa kesal nya pada sang anak yang terus menerus merengek-rengek meminta putra yang bernama Rizki Nasir untuk kembali pada keluarga ini.
"Pergilah kau tidak perlu membicarakan masalah ini. Selama aku masih hidup jangan harap anak tidak berguna itu bisa kembali kemari.." Usir kasar lelaki paruh baya seraya mengibaskan tangannya.
"Ahk......" Keluh Vikri seraya berjalan pergi dari ruangan khusus itu.
__ADS_1
Bersambung.