
Cuaca siang itu begitu panas, tampak terlihat beberapa orang yang memakai seragam kebanggaan nya basah oleh keringat masing masing, seakan akan matahari berada di atas kepala mereka.
Beberapa orang yang berada di balik mobil kepolisian siap siaga dengan senjata api di arahkan ke pintu keluar Bank yang kini kondisi nya sedang terjadi perampokan.
Satu kepala polisi yang bertugas sebagai pemimpin tersebut berteriak dengan keras di saat dari luar pintu Bank itu keluar salah satu pemuda berusia 25 tahun berjalan dengan kedua tangan nya di atas, memberi kode bahwa dirinya bukan perampok.
"Lihat cepat lihat di sana. Ada seseorang yang keluar.." Teriak salah satu polisi sambil menunjuk kearah pintu keluar Bank tersebut.
Semua polisi yang ada di situ langsung membalikkan badannya, terutama opsir wanita yang sempat berurusan dengan pemuda yang baru keluar dari Bank itu juga bersiaga dengan pistol yang di arahkan kepada Rizki.
"Jangan menembak, aku adalah sandera. Tolong jangan tembak.." Rizki berjalan kearah polisi wanita yang Ia jumpai tadi di kantor Cahya Group.
"Kau lagi! Baru sebentar tadi berurusan dengan mu! Sekarang kau berani merampok Bank? Cepat tangkap dia." Teriak Opsir wanita itu terkejut dengan apa yang dia lihat.
Para bawahan Opsir wanita itu langsung bergerak dan menangkap paksa pemuda yang baru saja keluar dari Bank itu.
"Hei... Hei! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku, kalian salah paham aku adalah sandera, kenapa kalian menangkap ku.?" Teriak Rizki seraya berontak dengan apa yang di lakukan oleh para polisi itu.
"Hehehehe.. Ada seseorang yang tadi pagi masih menjadi seorang warga yang baik. Dan siang ini dia telah menjadi seorang perampok.." Kata Opsir wanita yang bernama Xian itu berjalan dengan senyuman licik di bibirnya.
Jelas tampak raut wajah Rizki penuh dengan rasa marah dan benci terhadap opsir wanita itu." Sial dia bener bener seorang pendendam. Kalau aku bener bener tidak bisa membereskan nya, jangan sebut aku Rizki Nasir.
"Anak muda sudah ku bilang, kalau kau mencari masalah dengan ku, kau akan menanggung akibatnya.." Seringai licik di bibirnya terlihat jelas oleh Rizki.
"Siapa komandan nya. Tolong aku, dia hanya membalaskan dendam pribadi nya. Tidak berdasarkan hukum.." Teriak Rizki.
Tap.... Tap... Tap.... Tap...
Langkah kaki terdengar oleh Rizki dan Opsir wanita tersebut begitu juga dengan para polisi yang sedang memegangi Rizki Nasir.
__ADS_1
"Nama ku Budiono. Aku adalah atasannya.." Perampok berada di dalam kenapa kau bisa keluar begitu saja.?" Tanya seorang perwira polisi yang memperkenalkan dirinya adalah atasan dari opsir wanita itu.
"Karena aku tidak punya uang... Dan juga aku tidak takut pada mereka.." Ucap Rizki acuh dan santai namun jantung nya seketika berdetak kencang.
.............. Tunggu... Sebentar.... Uang!
"Cek sejumlah tiga miliar itu masih tersimpan di atas counter, kenapa aku bisa melupakan nya.." Batin Rizki bergejolak panas dingin apa yang kini di rasakan nya.
"Lepaskan, dan maafkan aku, aku baru saja melupakan hal yang sangat penting, aku akan kembali masuk kedalam dan menjadi sandera lagi.." Rizki berkata seraya menggaruk garuk kepalanya setelah di lepaskan oleh para polisi itu.
"Masuk kedalam menghadapi para perampok itu! Apakah kau sudah gila? Mereka semua bisa membunuh mu.." Opsir wanita itu segera menghentikan langkah kaki Rizki Nasir.
"Cek ku tertinggal di dalam, asal kan kau mengijinkan ku masuk ke dalam. Aku tidak hanya mengambil cek ku, tapi aku juga akan membantumu membereskan para perampok itu.." Rizki langsung memberikan pilihan kepada opsir wanita itu tanpa harus menoleh ke belakang.
"Bagaimana aku bisa mempercayai mu.?" Tanya Xian jelas Ia tak percaya begitu saja kepada lelaki mesum seperti dia.
"Saat ini orang yang menjadi sandera di dalam sangat banyak, kalian juga pasti sulit untuk menanganinya. Kalian tidak punya pilihan lain.." Rizki melangkahkan kakinya agar tangan opsir wanita itu terlepas dari pundaknya itu.
"Kau boleh masuk ke dalam, namun beri tahu aku, seberapa besar keyakinan mu dapat membereskan masalah ini."
"100 % ." Rizki berhenti sejenak menoleh kepada atasan Xian dengan senyuman manis, lalu melangkah pergi masuk kedalam Bank itu.
"Kenapa Pak Budiono membiarkan nya kembali masuk ke dalam? Kalau dia salah satu dari komplotan para perampok itu! Bagaimana..?" Tanya Opsir wanita itu tak habis akal dengan pikiran atasan nya itu.
"Dia bukan perampok.... Soal identitas nya kau lihat sendiri pada data yang tertulis ini..." Budiono menyerahkan beberapa lembar data Rizki Nasir.
"Uhk.... Orang mesum sepertinya punya identitas juga.." Opsir wanita itu menerima beberapa lembar kertas dan langsung melihatnya.. Alangkah terkejutnya dan tampak wajahnya tersirat penuh kebencian serta rasa jijik kepada pemuda yang baru masuk ke dalam Bank tersebut.
"TIDAK TAHU MALU."
__ADS_1
"BAJINGAN."
"HIDUNG BELANG."
"LELAKI C*ABUL."
"LELAKI TAK BERGUNA."
Umpatan dan kata kata cacian yang di berikan oleh Opsir wanita itu setelah apa yang di lihat dalam lembaran demi lembaran kertas tentang identitas pemuda yang tadi pagi berselisih dengan nya dan detik ini dirinya menyombongkan dirinya untuk masuk ke dalam serta membereskan masalah perampok tersebut.
#####
Sementara di dalam Bank, setelah Rizki Nasir masuk kembali dan berjalan dengan santai nya kearah meja counter teler itu, tampak seorang Ketua perampok dan lelaki memakai kacamata itu terkejut melihat Rizki kembali masuk ke dalam Bank.
"UNTUK APA KAU KEMBALI KE DALAM..?" Tanya lelaki botak itu.
"Ketua dia pasti sudah di perintahkan oleh polisi. Ayo kita habisi dia.." Timpal Anak buah perampok itu yang berdiri di samping pria botak tersebut.
"Jangan. Aku adalah kawan kalian, aku kembali hanya untuk mengambil cek ku.." Alasan Rizki kepada para perampok itu .
Rizki pun tersenyum dan melangkah menuju counter teler, namun apa yang di cari tidak ada di atas counter teler itu. "Astaga, cek milikku ada dimana." Teriak Rizki.
"Hei. Sobat apa kau yang mengambil cek milikku..?" Tanya Rizki menoleh kearah Pria botak tatapan nya tajam.
"Kau ini tidak tahu apa pekerjaan ku! Mengambil cek sama sekali tidak berguna untukku.." Jawab Pria botak itu.
"Nona Nani dimana cek milikku.." Rizki berteriak dengan sorot mata yang menyala, membuat wanita yang bekerja sebagai teler itu ketakutan.
"Itu.... Itu..... Dia........" Tunjuk teler wanita itu kepada lelaki yang memakai kacamata yang tak lain Tuan Dede.
__ADS_1
Darah Rizki langsung mendidih, setelah apa yang di cari olehnya di ambil oleh orang yang tadi sempat bersitegang dengan nya
Bersambung.