
Semenjak masuk dalam tubuh lelaki tak berguna, Rizki Nasir baru pertama kali nya mendapatkan penghinaan pisik dan penghinaan itu tak tanggung tanggung di lakukan oleh seorang gadis yang mempunyai dekengan kuat di belakang nya.
Rizki Nasir sebenarnya bukan tidak berani membalas setiap serangan yang di lancarkan pada tubuh nya oleh gadis itu, namun Ia enggan untuk memukul atau pun menghajar setiap makhluk yang terbuat dari tulang rusuk iga lelaki.
Setelah di paksa dan di ancam menggunakan senjata api, Rizki pun langsung masuk ke dalam mobil dan membawanya ke Mansion mewah yang tadi siang Ia datangi bersama Direktur Zink.
Amarah yang sejak tadi dia tahan akibat ulah gadis itu, Ia lampiaskan langsung dengan membuka pintu kamar ruangan yang di tempati oleh lelaki tua botak yang sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Lelaki kekar berusia 38 tahun yang ada di ruangan sedang duduk di kursi tersentak kaget ketika pintu di buka oleh Rizki seraya menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan angka nominal yang sangat pantastis.
"Maaf tidak ada yang bisa aku lakukan dengan penyakit orang ini.." Rizki menatap lelaki berbadan kekar itu seraya menyerahkan cek yang tadi siang dia berikan melalui anak lelakinya.
"Bung. Bisakah kau katakan padaku kenapa? Bagaimana kau dapatkan memar di wajah mu..?" Tanya lelaki kekar itu penasaran, jelas Ia tadi siang sangat bersemangat dengan apa yang di lakukan nya setelah cek itu di berikan, tapi tiba tiba tengah malam dia datang memberikan cek nya kembali dan wajahnya babak belur.
"Aku tidak mau berurusan dengan keluarga ini. Mata untuk mataku, gigi untuk gigiku perut untuk perutku dan wajah untuk wajahku. Itu cara keluarga mu padaku hah... Jadi aku tak mau menyembuhkan penyakit lelaki tua ini.." Amarah Rizki memuncak apa yang sedang di rasakan dalam tidur nyenyak nya buyar ketika wanita ****** menyeret serta memukuli nya.
Lelaki kekar yang bernama Gultom itu jelas nampak menekan amarahnya, tampak giginya berdetak tentang apa yang di katakan oleh Rizki Nasir, namun Ia masih bisa bersabar dan bertanya kepada Rizki apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa yang telah memukuli mu..?" Tanya Gultom.
"Aku!
Gadis berdarah dingin itu maju dan berdiri di samping Rizki Nasir, menjawab pertanyaan dari lelaki berbadan kekar.
"Tangyi...... Kenapa..?" Tanya Gultom.
"Itu hanya kesalahpahaman.." Jawab Gadis bernama Tangyi itu.
__ADS_1
Rizki yang jelas mendengar jawaban dari gadis yang telah memukuli secara membabi buta, menganggap itu sebuah kesalahpahaman, darahnya seketika mendidih.
"SALAH PAHAM.."
Rizki memperlihatkan bekas pukulan di wajahnya lalu, membuka baju nya dan berkata lagi.
"INI JUGA SALAH PAHAM... "Hahahaha... Lucu..." Rizki berlalu keluar namun terhenti ketika Gultom berkata dengan suara tinggi.
"Bung... Tunggu aku tidak akan mematok harga yang tadi siang kau rawat ayahku. Aku akan memberikan cek dua kali lipat padamu.."
Rizki tersenyum sinis, ia melanjutkan langkah kaki nya.." Maaf cari saja orang yang lebih memenuhi syarat dan tahan akan hinaan yang telah di perbuat oleh gadis itu.." Rizki bener bener sakit hati akan ulah Tangyi, yang mentang mentang orang yang mempunyai dekengan dan jago dalam beladiri bisa menindas kaum lemah seenaknya.
"Tuan Rizki aku mohon tunggu. Aku minta maaf atas apa yang di lakukan oleh putriku. Ok.. Aku mohon Tuan.."
Rizki yang mendengar nada permohonan dari lelaki kekar itu, berhenti langkah kaki nya lalu membalikkan badannya.." Putri mu! Kau harus mengajarkan pendidikan yang baik pada nya.."
Apa yang di ucapkan oleh Rizki Nasir, membuat Gultom mengerti dan di hadapan nya Gultom langsung memberikan apa yang seharusnya di terima oleh Tangyi.
"Plakk..................!
Tamparan keras di berikan oleh Gultom pada anak gadisnya, hingga sang gadis terhuyung huyung ke lantai dan cap lima jari terpampang di kulit Tangyi.
"Tenang saja. Tidak perlu berpura pura di depanku. Aku tidak akan mau berurusan dengan keluarga mu.." Rizki kembali melangkah menuju pintu keluar meninggalkan mereka dengan keadaan dilema.
Malam semakin larut, Rizki kembali ke apartemen nya untuk mengobati luka memar di wajah dan tubuhnya.. Sedangkan dua orang yang berbeda umur dan berjenis kelamin berbeda satu di antaranya lelaki di buat pusing oleh ulah sang anak, harapan yang tadi siang agar sang ayah sembuh sirna karna ulah sang anak.
"Ayah, apa dia bisa menyembuhkan kakekku? Tanya Tangyi dia bener bener tak masuk akal dengan cara ayahnya memohon dan menampar dirinya di hadapan lelaki tak berguna itu.
__ADS_1
"Setidaknya dia lebih baik dari pada kau. Direktur Zink pun sangat memuji dia.." Jawab Sang ayah sambil memijat mijat kening nya.
"Aku sudah periksa dia. Dia anak haram dari Keluarga Ki di kota Guanxi. Seorang playboy, sejak kapan dia mempunyai kemampuan medis.." Terka Tangyi tak percaya sedikit pun terhadap Rizki Nasir.
Sesuatu tidak seperti kelihatannya. Urus urusanmu sendiri. Aku tidak peduli bagaimana kau melakukan nya. Kau harus membuat dia menyembuhkan kakekmu.." Kata Gultom menekan pada anaknya, berani berbuat harus berani bertanggung jawab, apa pun cara nya pikirkan olehmu sendiri.
"Ayah............" Wajah nya tertunduk meresapi apa yang di lakukan oleh nya pada lelaki yang berusaha untuk menyembuhkan Kakek nya. Penyesalan yang kini hinggap dalam hatinya.
Buah kesombongan dan keangkuhan nya, membuat sekeluarga menjadi rugi dan mungkin berakibat patal pada kesembuhan sang Kakek.."
########
Langit sudah berubah yang tadinya gelap kini dah terlihat cerah, matahari pun sudah menyinari belahan bumi di bagian barat Kota Guangxi. Gedung Gedung bertingkat sudah tampak penuh di area parkir dengan berbagai jenis kendaraan bermerek.
Di salah satu perusahaan yang baru satu tahun berdiri dan mulai berkembang pesat di kota Guanxi, tampak di ruangan kantor perusahaan KIALICIA, seorang wanita sedang membereskan beberapa berkas yang di masukkan ke dalam tas.
"Ceklek.........!
Pintu ruangan Manager di buka, seorang wanita datang dengan membawa beberapa dokumen, kening berkerut melihat keseluruh area ruangan yang tampak beberapa tas besar ada di ruangan itu.
"Manager apa yang kau lakukan. Ini semua apa maksudnya..?" Tanya wanita yang baru masuk itu.
"Aku tidak sadar ibu yang menandatangani surat persetujuan perjanjian itu. Aku sudah menyewa rumah aku tidak akan pulang.." Wanita muda yang sudah menjabat sebagai Manager umum itu menerangkan pada sekertaris nya.
"Ngomong Ngomong, Desi, apa kau sudah dengar kabar tentang dia ada dimana.." Sambung Manager bertanya pada sekertaris sambil membereskan barang barang yang akan di bawa di tempat rumah baru nya.
"Tidak..... Dia tidak mempunyai telepon, Tidak mudah menemukan dia.." Jawab sekertaris Desi.
__ADS_1
"Manajer Alicia seperti nya lebih memperhatikan dia, setelah mendengarkan rekaman yang aku berikan.." Ucap hati Desi sang sekretaris.
Bersambung.