Aku Bukan Dokter

Aku Bukan Dokter
Aku Orang Yang Sederhana


__ADS_3

Dengan wajah yang malas, karna dekengan yang kuat dari Rizki Nasir berdiri nya seorang wanita terpandang di kota Guanxi, Inspektur Budiono pun memerintahkan bawahannya untuk membawa Rizki Nasir ke kantor kepolisian untuk di mintai keterangan dengan apa yang di lakukan nya.


"Kapten Xian borgol dia dan bawa ke kantor.." Budiono memberi perintah pada wanita yang menjadi kapten di pusat kepolisian kota Guanxi.


"Baik Ketua." Xian berjalan kearah Rizki Nasir, borgol sudah siap di tangan nya untuk segera memborgol Rizki Nasir.


"Aku baru saja meminta mu untuk berhenti melakukan yang bisa menjerat mu masuk ke sel tahanan. Tapi kau mengacuhkan ucapan ku. Aku tidak membenci sikapmu. Tapi kau seharusnya berpikir terlebih dahulu ketika akan melakukan sesuatu.." Terang Xian menasehati nya seraya memborgol Rizki Nasir.


"Ya.. Ya... Berhenti menatap dan menasehati ku. Aku akan ikut ke penjara dengan mu.." Rizki pasrah dan bersikap lembut tidak seperti biasanya yang terus menerus menentang setiap berurusan dengan kepolisian.


"Kenapa dia bersikap begitu baik. Ada sesuatu yang salah?" Tanya Xian dalam hati bertanya tanya.


Sang tersangka dalam kasus pemukulan terhadap anak dari pemilik perusahaan Cahya Group itu di bawa oleh Xian menuju mobil polisi, sedangkan Pria gemuk sedang di periksa oleh dokter yang datang secara khusus oleh pemilik perusahaan yang patut di perhitungkan di kota Guanxi.


"Tuan Cahya. Anak mu terluka parah. Hampir mustahil dia bisa sembuh.." Kata dokter memberi keterangan setelah melihat kondisi Budiman Cahya.


"Apa........ Sembuh kan dia atau kau akan mati.." Ancam pria setengah baya segera mencengkram kerah baju dokter itu.


Xian menoleh kearah suara antara Tuan Cahya dan Dokter yang memeriksa Budiman Cahya, Ia bener bener berkerut kening nya dengan apa yang di sampaikan oleh Sang Dokter, sementara Rizki sendiri yang sudah hampir masuk kedalam mobil tersenyum jahat di bibirnya.


Tiba tiba pasien yang tak sadarkan diri, karna banyak nya darah yang keluar dari tubuhnya, mendadak bangkit berjalan bagaikan orang linglung memelas iba pada sang Ayah.


"Tolong ayah. Tolong, aku tidak ingin mati.." Suara yang berasal dari arah meja tempat berbaring Budiman Cahya yang sedang di periksa oleh Dokter, membuat mereka panik bahkan Xian pun langsung meloncat kearah punggung Rizki Nasir saking ketakutan.


Bagaimana bisa seorang pasien yang patah kaki dan terluka sangat parah bisa berjalan. Itu sungguh sangat mustahil ada hal yang tak masuk akal di area itu.

__ADS_1


"Tolong ayah. Aku mohon Ayah, aku tidak mau mati..." Tolong Ayah..." Pria gemuk dengan satu kaki di atas dan seluruh tubuh penuh darah berjalan terpincang-pincang kearah Ayah nya yang di buat panik gemetaran.


"Ahk......... Hantu..." Xian jelas teriak ketakutan dalam gendongan Rizki dengan tangannya menunjuk kearah Pria gemuk yang berjalan mirip pocong.


Budiono, Tangyi dan yang ada di area itu di buat panik oleh apa yang terjadi dengan Budiman Cahya, di luar nalar bagi mereka, berbeda dengan Rizki Nasir, tersenyum licik di bibirnya.


"Ada apa dengan putraku.." Gigi nya bergetar keringat bercucuran menahan gejolak amarah melihat putra satu satu nya sangat menghawatirkan.


"Aku juga tak tahu. Kaki nya patah, kenapa dia bisa berjalan dan tampak tak ada rasa sakit sedikitpun, padahal lukanya cukup serius.." Jawab Sang Dokter melihat dengan jelas.


"Cepat tolong putraku! Tolong putraku.." Panik bercampur sedih melihatnya.


Pemuda yang masih tertahan kedua tangannya dengan borgol tersenyum licik." Aku bisa menolong nya, tapi kudengar Tuan Cahya sangat kaya.."


"Terserah.." Acuh Rizki... Ayo cantik bawa aku ke kantor polisi, biarkan Tuan Cahya meratapi nasib anak nya ha-ha-ha..." Seringai licik di bibirnya.


"Sialan kau... Berapa yang kau minta hah..." Bentak Tuan Cahya.


"Hahahaha... Aku suka.. Aku suka....... 15 miliar tidak bisa di tawar lagi..." Rizki berteriak kencang mata nya menatap tajam kearah Tuan Cahya.


Walaupun marah dengan perlakuan dari Rizki Nasir, tapi tak ada cara lain untuk menuruti nya. Anggukan pun di berikan oleh Tuan Besar Cahya pada Rizki Nasir.


Semua mata di buat terkejut dan mulutnya menganga setelah apa yang di lakukan oleh Rizki Nasir. Budiman Cahya yang sesaat membuat mereka panik akibat berjalan dengan keadaan yang memprihatinkan di seluruh tubuhnya kini mulai berbaring ketempat biasa dan para Dokter pun langsung menanganinya.


Setelah sepakat dua belah pihak, Rizki pun akhirnya di bebaskan dan Tuan Cahya tidak akan menuntut nya di kemudian hari. Kini sang Tabib Dewa itu pun di antar oleh Tangyi kembali ke apartemen nya, untuk memberi perhatian lebih pada Alicia yang tampak trauma atas kejadian yang menimpa dirinya oleh Budiman Cahya.

__ADS_1


Rizki begitu telaten dan perhatian penuh terhadap Alicia yang sedang terbaring, suapan demi suapan di berikan oleh Rizki Nasir kepada Alicia, membuat wanita yang berjulukan mantan tunangan nya itu sangat nyaman berada di samping nya.


"Anak baik minumlah dan kau tidak akan takut lagi. Beristirahat lah dengan baik, semuanya akan baik baik saja.." Kata Rizki seraya mengelus ngelus rambut Alicia.


"Ummmmmmmm.." Gumamnya wajah nya seperti kepiting rebus mendapatkan perhatian dari Rizki Nasir. Hingga mata nya terpejam.


Melihat Alicia sudah tampak tertidur, Rizki pun membalikkan badannya, Tangyi yang sejak tadi berdiri memperlihatkan langsung menegurnya." Dia sepertinya bergantung pada mu.?"


"Iya.." Balas Rizki, tatapannya sulit di artikan mengarah pada Alicia lalu meneruskan lagi perkataan hingga membuat Tangyi berkerut kening nya.


"Terima Kasih..."


"Apakah tidak salah, pria mesum itu, mengucapkan terima kasih, atau kah pendengaran ku bermasalah.." Hati Tangyi bergejolak.


"Aku akan pergi mengunjungi kakek mu. Dia tidak akan mati selama aku masih hidup. Ngomong ngomong harganya masih sama tidak ada tawar menawar.." Kata Rizki lagi mengingatkan.


"Bukan kah kau baru saja menipu Tuan Cahya lebih dari sepuluh miliar.? Tidakkah itu cukup! Jangan berpikir mudah mengambil uang nya. Dia tidak akan melepaskan dirimu.." Kata Tangyi memberi tahukan dan mengingatkan nya.


Senyum licik terukir di bibir Rizki. Tangyi tidak melihatnya karna posisinya di belakang nya ketika Rizki hendak berangkat dari duduknya, sebuah tangan yang begitu lembut menahan nya." Aku juga tidak melepaskan hal itu begitu saja. Aku mengampuni Budiman Cahya bukan untuk memberinya kesempatan lain. Tapi membiarkan dia memilik hidup seperti di neraka.


"Kau melakukan itu bukan demi uang.." Raut muka terkejut tampak di wajah Tangyi atas kata dari Rizki Nasir.


"Aku orang yang sangat sederhana. Saat kesabaran ku sudah habis. Itu tidak bisa di selesaikan dengan uang.." Ucap Rizki.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2