
"DIAM.." Bentak Budiman Cahya pada bawahan nya."
"Lihatlah tipuan mu dan ide yang kau berikan pada ku untuk mendapatkan wanita binal. Aku membeli seikat bunga mawar. Tapi itu tidak berhasil sama sekali. Seharusnya aku membeli pil obat perangsang untuk mendapatkan wanita binal itu.." Keluh Budiman Cahya sakit hatinya menerima ucapan dari Alicia.
"Hehehehe.... Yah bener harus nya membeli pil obat itu.." Kata Jahid menjilat ucapan dari majikannya agar tidak membuat nya marah kepanjangan.
"Itu semua karena kau sudah melakukan banyak hal buruk pada Nona Alicia.." Umpat Jahid bawahan nya dalam hati.
"Apa kau sudah mengetahui dimana bajingan itu tinggal..?" Tanya Budiman Cahya.
"Ya.. Rizki Nasir berada di lingkungan selatan kota Guanxi. Apakah Tuan Muda ingin melakukan nya sekarang..?" Kata Jahid bertanya.
"Jangan rencana kita berubah, aku sendiri yang akan melakukan nya, rasa sakit ini akan di bayar mahal oleh Alicia.." Budiman Cahya mengepalkan erat tangannya amarahnya sesaat di tahan.
"Siap Tuan Muda Budiman.. Kalau begitu aku akan mempersiapkan saat ini juga.." Jahid berkata senyuman licik di bibirnya tampak terlihat.
"Ya.. Jangan sampai gagal.." Budiman Cahya pergi dari gedung itu, Jahid pun mengikuti dari belakang.
Waktu pun kini berputar cepat, langit sudah berubah gelap, di kota Guanxi.. Di salah satu Mansion mewah milik Keluarga Besar Ki.. Tepat nya di ruangan keluarga tampak sedang menonton sebuah rekaman dari seorang gadis cantik berusia 19 tahun yang di sambungkan kedalam layar televisi.
Tampak di layar televisi itu, sesuatu yang tadi di lakukan oleh Rizki Nasir, di perlihatkan pada Kakek nya dan Kedua Orang Tua nya oleh gadis teman sekelas Kesya.
"Shintia apa yang ingin kau katakan..?" Tanya lelaki tua yang menjadi kepala keluarga di Keluarga Ki.
"Kakek. Aku ingin mengatakan kalau Kakak ku sudah banyak berubah.." Jawab Shintia seraya jari telunjuk nya menunjuk kearah rekaman itu.
"Yeah....... Sampah yang hanya bisa menghabiskan uang tak mungkin bisa berubah.." Timpal pemuda yang duduk di samping kepala keluarga, memandang rendah apa yang telah di lakukan oleh Rizki Nasir.
__ADS_1
"Katakan padaku. Dari segi mana dia telah berubah Shintia..?" Tanya sang Kepala Keluarga.
"Ehmmmmm.." Aku tak bisa Kek.. Karna baru sekali ini bertemu dengan Kak Rizki.." Lesu Shintia.
"Hahahaha..... Hahahaha.." Aku bertaruh. Dia sudah menjadi kurang ajar.." Tawa merendahkan di berikan oleh Diki anak dari adik Ayah nya Rizki Nasir, membuat Shintia bertekuk wajahnya.
Tidak mendapatkan dukungan dari sang Kakek, Shintia pun tak menyerah begitu saja, untuk meyakinkan bahwa Rizki Nasir sudah berubah dan kembali lagi pada keluarga ini, Shintia pun meminta bantuan dari ibunya.
"Ibu aku merasa memang Kakak ku. Sudah berubah. Percayalah padaku dan biarkan Kak Rizki kembali kerumah ini.." Shintia berusaha meyakinkan Ibu kandung nya.
"Shintia. Untuk kali ini perlu kamu tahu yah dan ingat ingat dalam hati dan pikiran mu. Mau dia berubah atau nggak. Kakek tidak akan pernah menerimanya.." Telak kata dari sang Ibu pada Shintia yang peduli tentang Rizki Nasir kembali pada keluarga Ki.
Jerih payah yang di lakukan tadi siang sampai sore, hingga mendapatkan pengusiran dari Sang Kakak tak membuatnya dendam, justru Shintia berusaha untuk membawa Rizki Nasir masuk lagi dalam anggota Keluarga Besar Ki.
Tapi tidak mudah baginya untuk meyakinkan Sang Kakek dan anggota lainnya, yang ada penolakan yang dia terima akibat ulah Rizki Nasir sebelum belum di cap sebagai lelaki tak berguna. Kini tumpuan harapan pada sang Ayah setelah mendapatkan jawaban dari sang ibu yang tak bisa membantu nya.
"Ayah.."
#############
Malam pun telah berlalu, seiring waktu berputar. Di salah satu apartemen bagian timur kota Guanxi, seorang lelaki berpakaian telanjang terbuka matanya dari tidur panjang malam itu.
Bangun nya tidur karna di sebabkan gedoran pintu apartemen dari luar hingga Ia merasa kesal di buatnya.
"Tok..................!
"Tok..................!
__ADS_1
"Tok..................!
"Siapa itu.?"
Rizki membuka pintu apartemen nya, terlihat panik di buatnya saat pintu di buka berdiri seorang gadis dingin dengan sangat buru buru lalu menutup pintu lagi sekaligus menguncinya.
"Dorr.............." Dorr............." Dorr.............."
Seketika Rizki pun membalikkan badannya lagi sesaat setelah menjauh dari pintu itu, mendengar suara tembakan yang sangat jelas.
Pintu di buka, sosok gadis angkuh dan dingin dengan memegang pistol di tangannya menatap sinis kearah Rizki yang tampak exfresi wajahnya penuh amarah.
"Sialan. Apa pintuku menyinggung mu hah? Kenapa kau menembak ke sana hah..?" Rizki mengacungkan jari nya pada gadis yang berdiri di pintu apartemen.
Tangyi gadis dingin yang mempunyai dekengan keluarga kuat di kota Guanxi berjalan kearah Rizki Nasir.." Aku ingin berbicara dengan mu.." Ucap nya.
"Hehehehe..." Rizki tersenyum licik di bibirnya mengacungkan jari nya pada Tangyi.." Kamu sudah memikirkannya. Kamu mau melepaskan seluruh pakaian mu untuk memohon kepadaku.." Gaya kef smile Rizki tunjukkan pada Tangyi.
Dia bener bener tak main main dengan apa yang di ucapkan oleh Rizki Nasir, perlahan mulai membuka jas nya dan satu persatu kancing bajunya di buka seraya berkata.." Selama kamu menolong kakek ku. Aku akan melakukan keinginan mu.."
Rizki tampak terkejut di buatnya, gadis sombong dan angkuh itu bener melakukan nya, perlahan belahan dadanya sudah terbuka, darah segar keluar dari hidung Rizki Nasir.." SIAL APA KAMU GILA.." Rizki berteriak seraya memalingkan wajahnya, Ia akan merasa malu bila darah yang keluar dari hidung nya itu dilihat oleh Tangyi.
"Aku sudah memberitahu mu tiga syarat kan! Kamu lebih peduli mereka daripada badanmu? Padahal kamu sendiri sudah punya tunangan kan.." Bentak Rizki membelakangi gadis dingin itu karna terlihat malu darah yang keluar dari hidungnya.
Sudah tak peduli bagi Tangyi dengan apa yang di ucapkan oleh Rizki Nasir, justru Ia semakin menjadi berjalan kehadapan Rizki yang membelakangi nya.." Itu masalah mu. Kamu harus berjuang untuk dirimu sendiri. Jika tunangan ku datang dan menanyakan tentang apa yang akan terjadi hari ini.." Seringai licik di bibir Tangyi dengan ancaman menggunakan tunangan nya, agar nyali Rizki Nasir menciut.
"Hahahaha... Ok... Ok.. Ok... Lanjutkan dan semua yang melekat di tubuh mu buka semua nya. Lagian aku belum berjanji padamu tentang tiga syarat itu..." Tawa licik di perlihatkan oleh Rizki Nasir pada Tangyi.
__ADS_1
Siapa suruh dia mengancam ku menggunakan tunangan nya yang mendapatkan juara satu beladiri dalam tim khusus prajurit.." Pikir Rizki.
Bersambung.