Aku Bukan Dokter

Aku Bukan Dokter
DIA SANGAT KEJAM


__ADS_3

"Tuan Ki. Ini salah paham. Aku akan menebusnya. Tolong ampuni aku, kita kan saling kenal.." Kata Budiman memelas meminta pengampunan dari Rizki Nasir.


Wajah pias, keringat bercucuran, begitu juga dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat, kini yang di rasakan oleh Budiman Cahya. Meminta belas kasihan dari Rizki Nasir yang pernah bermain wanita atau pun minum sama sama, hanya itu yang bisa di lakukan nya, tapi exfresi wajah nya tampak terlihat bahwa Rizki akan mengampuninya.


"Mengampuni mu.." Rizki membalikkan badannya berjalan kearah besi besi yang berceceran di sudut gudang terbengkalai itu.. Bibir nya tersenyum licik sesaat setelah mengambil sebuah besi bengkok berukuran sedang.


Ia kembali kearah Budiman. Berjongkok menatap tajam penuh aura membunuh di tubuhnya.. Budiman Cahya semakin ketakutan apa yang ada di hadapannya.." Tuan Ki tolonglah. Aku berjanji tidak akan melakukan nya lagi, tidak akan pernah.." Budiman sangat dan sangat memohon untuk di lepaskan.


"Lepas ikatan nya.." Suara Rizki Nasir di tunjukkan pada Tangyi untuk melepaskan tali yang mengikat di tangan Budiman Cahya.


Tak banyak bertanya hanya bisa menuruti nya, Tangyi pun menyuruh anak buahnya untuk melepaskan ikatan pria gemuk itu. Budiman Cahya tertawa senang dalam hatinya pikirannya Rizki Nasir melepaskan dan membiarkan dia pergi.


"Apa yang akan dia lakukan.. Apakah permohonan dari lelaki busuk ini di terima oleh Rizki Nasir untuk membebaskan nya.." Kata anak buah Tangyi dalam hati seraya melepaskan ikatan tali nya.


Setelah tali terlepas, Budiman Cahya pun langsung bergegas lari, sejauh mungkin. Itu kesalahan nya dan tak ada niat untuk berterima kasih pada Rizki Nasir.


Seringai licik di bibirnya terpampang jelas, ketika Budiman Cahya berlari melewati Rizki Nasir, tak di lama kan lagi, buruan nya semakin menjauh, Rizki pun membalikkan badannya dengan kemampuan nya itu besi yang ada di tangan nya Ia lempar sangat keras dan langsung mengenai lutut Budiman Cahya hingga terjatuh.


"Ahkkkkkkk.................!


"Bughhhhh..................!


Pria gemuk itu langsung ambruk seraya menjerit histeris kesakitan, besi yang di lemparkan oleh Rizki Nasir mengenai lutut Budiman Cahya dan tampak darah pun mengalir deras.


Kejam. Itu yang di lihat dan ada dalam pikiran Tangyi bersama dengan dua anak buahnya. Rizki melangkah menghampiri Budiman Cahya yang ambruk ke lantai itu dengan menahan rasa sakit.


Besi yang menusuk lutut pria gemuk itu, di cabut kasar oleh Rizki Nasir..."

__ADS_1


"Arhk........................!


"Bajingan kau................." Pekik Budiman Cahya.."


Darah mengucur di lututnya mengalir ke betis kaki nya.. Rizki memandang nya tak ada rasa kasihan sama sekali.


"Bugh........ Bugh...... Bugh...........!


Besi itu Ia arahkan pada kaki pria gemuk itu sebanyak tiga kali.. Jeritan histeris terdengar oleh Tangyi dan kedua anak buahnya.


Belum puas dengan apa yang di lakukan olehnya, kini sasaran Rizki Nasir jelas tersenyum kearah Pusaka Warisan milik Budiman Cahya.


"Jaa.... Jang...... Jangan..... Tolong..... Ampuni aku..." Budiman Cahya berusaha meminta belas kasihan pada Rizki Nasir.


Namun apa yang di dapatkan, muka licik terpampang di wajah orang yang dulu pernah bersama sama bila minum minuman keras dan bermain wanita itu.


"Bugh............ Bugh............. "


Puas dengan Pusaka Warisan milik Budiman Cahya, Rizki pun langsung beralih kearah tangannya dan lagi dan lagi, besi itu Ia pukulkan sangat keras hingga sudah di pastikan Budiman Cahya cacar seumur hidupnya.


Gadis dingin bernama Tangyi dan kedua bawahan nya itu, tak sanggup melihat nya, walaupun mereka berdua berprofesi sebagai tentara, namun tak sekejam dalam segi menyiksa orang.


"Em.......... Dia sungguh psikopat..." Gumam Tangyi keluar dari gudang tempat dimana Budiman Cahya di siksa habis habisan oleh Tabib Dewa.


"Dia mematahkan kaki nya. Organ intimnya dan satu lengan nya. Budiman Cahya lebih memilih mati saja saat dia bangun dari pada hidup dengan keadaan sekarang.." DIA SANGAT KEJAM.."


Gejolak batin nya buyar, ketika satu suara menegurnya dari arah belakang, Tangyi pun membalikkan badannya dan menatap kearah pemuda dengan darah segar menempel di baju dan tangannya.

__ADS_1


"Bantu aku menelepon Ayah nya Budiman Cahya.." Rizki dengan gaya yang sombong dan tak ada rasa takut sedikitpun melangkah kearah Tangyi.


Senyum licik seraya tangan nya di tunjukkan pada dagu nya sendiri. Membuat Tangyi berkerut kening apa yang akan di lakukan oleh nya, dengan menelepon ayah dari pria gemuk itu.


"Aku tahu kau bisa melakukan itu.." Senyum penuh kepalsuan di tunjukkan oleh Rizki pada Tangyi yang mengeluarkan ponselnya.


Panggilan pun terhubung, Tangyi memberikan ponselnya pada Rizki Nasir, satu suara terdengar di sebrang telepon.." Halo. Siapa itu?


"Tuan Cahya. Aku Rizki Nasir, aku baru saja memukuli anak mu. Dua terluka parah, kau lebih baik datang sekarang kesini.." Kata Rizki memberi tahukan pada Ayah nya Budiman Cahya.


"Apa............................" Kau jangan macam macam hah.." Teriak lelaki yang di panggil Cahya di sebrang telepon itu.


"Hahahaha...... Hahahaha..... Sebaiknya kau datang dan lihat sendiri anak mu.." Tawa lepas Rizki Nasir lalu mematikan telepon nya itu.


Puas dengan apa yang di lakukan nya. Dan menyuruh Tangyi untuk menelepon polisi serta memberikan serlock pada ayahnya Budiman Cahya agar datang ke tempat kejadian perkara.


Rizki dengan santai nya seraya kedua tangannya Ia simpan di atas kepala nya, menunggu kedatangan mereka, tak ada rasa cemas dan khawatir apalagi takut hinggap di diri pemuda berjulukan Tabib Dewa itu.


Singkat cerita, polisi dan mobil ambulance pun telah datang, Budiman Cahya di bawa dari gedung terbengkalai itu dengan keaadaan yang sangat memprihatikan dan melihat nya pun merasakan kasihan dan iba, Rizki tenang sampai sang pemilik perusahaan Cahya Group datang.


"PUTRAKU..."


"Putraku. Siapa yang memukul putraku?" Teriak pria setengah baya setelah melihat kondisi putranya yang bergelimang darah di tubuhnya.


Pemuda itu melangkah, menepuk pundak pria setengah baya." Aku. Dia menculik tunangan ku dan membawanya kemari lalu mau memperkosa nya.." Tersenyum kecil di hadapan pemilik perusahaan Cahya Group.


"KAU SEHARUSNYA BERSYUKUR AKU TIDAK MEMBUNUH NYA.." Rizki meneruskan ucapannya seraya tangannya di arahkan pada lehernya memberi kode, membuat murka sang pria setengah baya itu, namun tak mempunyai keberanian untuk menghajar Rizki Nasir karna para polisi dan anak dari keluarga Tang ada di sisinya.

__ADS_1


"Tuan Budiono. Kau bertanggung jawab atas biro layanan perlindungan. Kenapa kau tidak menanganinya. Cepat tangkap dia.." Amarah ayah dari Budiman Cahya memuncak seraya menunjuk nunjuk kearah Rizki Nasir untuk di tangkap.


Bersambung.


__ADS_2