AKU MENJADI PUTRI

AKU MENJADI PUTRI
BAB 52


__ADS_3


Verlita melihat pembatas buku yang terbuat dari bunga....


'' Cantik....'' guman Verlita sambil tersenyum


Verlita melipat kembali surat itu dan menyimpannya di laci mejanya.


Satu surat di antara puluhan yang membuat wajahnya merona.


Verlita memilah kembali surat-surat itu...


Lalu dia melihat stempel negara Melvis...


" Hail? dia ngirim sampe dua surat?'' guman Verlita


Verlita membuka isi surat itu satu persatu..


Untuk Verlita De Frainna


Bagaimana keadaan mu?


Oleskan krim ini agar kaki mu membaik...


Hail De Velano


'' oh...ini krim nya .'' kata Verlita membuka krim yang terisi di dalam wadah kecil


Lalu Verlita membuka surat yang kedua...


Untuk Verlita De Frainna


Apa kamu sibuk?


Aku tak mendapat surat dari mu,,,


Apa aku menganggu mu....?


Maafkan aku...


Hail De Velano


'' astaga....apaan sih ni si Hail?? merajuknya kayak anak kecil aja..hehehe'' kata Verlita sambil terkekeh


Verlita berniat untuk membalas surat-surat yang telah di bacanya.


Dia berfikir bisa bermasalah kalau tak membalasnya,,


Dia menulis hingga larut malam dan istirahat.


Saat pagi tiba ia meminta Evan mengirim surat-surat itu.


Lalu seperti biasa Verlita dan Dave pergi ke perusahaan.


Saat datang,samua karyawan menyambut mereka berdua.


Rasa hormat mereka tunjukan untuk Dave dan Verlita.


Dave dan Verlita memasuki ruangan mereka,tapi meja mereka tak ada kertas yang menghinggapi.


Tapi di meja Verlita sudah ada Vas bunga yang berisi bunga lili....


Verlita tersenyum melihat bunga itu..


Elias dan Frans memberikan sambutan hormat atas kedatangan Dave dan Verlita.

__ADS_1


'' Apa semua baik-baik saja?'' tanya Dave


'' Ya pangeran'' jawab Frans


'' Aku ingin melihat laporan perusahaan'' kata Dave


'' Aku mau santai aja ya...'' kata Verlita yang duduk dengan santai di sofa


Semua melihat ke arah nya..


'' Jadi kamu kesini cuma mau melihat kami bekerja?'' tanya Dave


'' Sepertinya tidak ada masalah..dan semua bisa di atasi oleh Elias dan Frans. Kalau ada yang sulit, mereka pasti bilang pada kita..eh bilang nya sama kakak aja deh.'' kata Verlita


'' Hhhhh baiklah,,,kamu disitu saja melihat para pria tampan sedang bekerja'' kata Dave dengan bangganya


'' Hmm.....benar juga.kalian bertiga kalau aku perhatikan emang tampan semua...'' kata Verlita manggut-manggut


Seketika muka Elias memerah mendengar perkataan Verlita.


'' hahahhaha'' Dave dan Frans tertawa bersama setelah melihat wajah Elias merona


Verlita hanya diam karna tak tau situasi sebenarnya..


'' Oke deh,,,aku mau jalan-jalan dulu..Sayang sekali aku tak punya teman wanita yang bisa menemaniku..'' kata Verlita


'' bawa saja Lea...'' kata Dave


'' Enak aja...kalau hari ini dia ku bawa,besok dia yang kasihan karna pasti banyak pembukuan yang dilakukan jadinya..ohya...Pacar mu kerja gak?'' tanya Verlita pada Frans


'' Ah....dia sedang bekerja'' kata Frans sedikit kaget


'' huft.....kakak segeralah Carikan aku kakak ipar,agar aku ada temannya.'' sungut Verlita


'' hhhhh..ya udah aku pergi bareng Evan aja'' kata Verlita yang langsung pergi sambil melambaikan tangannya


Ketiga pria itu hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Verlita yang menurut mereka lucu.


Seperti anak gadis yang sedang ingin bermalas-malasan.


Padahal biasanya Verlita akan lebih memilih berkutik di tumpukan berkas.


Sekarang mereka melihat sisi Verlita yang terlihat normal selayaknya gadis muda.


Padahal sebenarnya Verlita ingin bekerja,tapi setelah dia melihat semua sudah bisa di pegang oleh Frans dan Elias jadi dia ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak dari bekerja.


Terlebih kalau Dave di tinggalkan pun mungkin hanya ada sedikit pekerjaan disana.


Verlita senang melihat perkembangan para karyawannya yang berusaha keras selama ditinggalkan Dave dan Verlita.


~~ Verlita berada di meja resepsionis mencari Evan,karna tadi pagi dia meminta Evan pergi mengirim suratnya.


Dari kejauhan Verlita melihat Evan bersandar di bawah pohon rindang sambil menutup matanya.


Angin meniup rambut Evan hingga membuat pemandangan sexy di wajah Evan.


Lama Verlita melipat tangannya sambil memandang ke arah Evan.


Dia baru menyadari bahwa Evan ternyata laki-laki yang bisa membuat hati terpesona.


Wajah Verlita jadi merona dan terukir senyum di wajahnya.


Lea yang melihat hal itu hanya tersenyum.


Lea berfikir bahwa Verlita menyukai Evan.

__ADS_1


Lea tak berani mengganggu lamunan Verlita,dia membiarkan Verlita yang masih terpaku menatap Evan.


Lea juga tak memungkiri bahwa Evan juga tampan,hanya saja Evan adalah pengawal Verlita.


Kalau menikah dengan Verlita,pasti sulit.


Lea jadi iba dengan pikiran-pikirannya..


Cinta yang belum tentu kebenarannya,tapi Lea sudah terhanyut dengan hal itu.


Setelah puas melihat,Verlita berjalan pelan menuju ke tempat Evan berada.


( andaikan ada handphone,udah ku abadikan wajah ini..) batin Verlita


Evan yang merasa ada yang mendekatinya langsung membuka matanya.


'' Ah...apa aku membangunkan mu?'' tanya Verlita yang berada di samping Evan


'' Tidak putri..Putri mencari saya?'' tanya Evan


''. Ayo kita jalan-jalan...'' ajak Verlita


'' Putri tidak berkerja?'' Tanya Evan


'' Aku mau jalan-jalan saja...hehehe..ayo'' kata Verlita sambil nyengir dan berjalan mendahului Evan.


Pusat perbelanjaan memang tak jauh dari kantor,jadi Verlita berniat untuk berjalan kaki saja.sambil melihat kehidupan rakyatnya.


Evan hanya mengikuti dari belakang sambil mengimbangi langkah Verlita yang lambat.


Tiba-tiba Verlita berhenti...


'' Evan...bejalanlah di samping ku. Aku tak ingin mereka mengira aku putri bangsawan yang keluar dengan pengawal pribadi'' kata Verlita sambil menoleh kebelakang.


Evan hanya mengangguk dan melangkah ke samping Verlita tanpa membantah sedikit pun.


Para rakyat memang tak pernah melihat Putri secara langsung,jadi Verlita juga bisa dengan santai berjalan dengan Evan saja.


Verlita tak ingin membuat para rakyat mengetahui identitasnya.


Walaupun ada beberapa yang sudah tau,,tapi setidaknya itu tak akan terlalu merepotkan untuk sekedar jalan-jalan.


Verlita berjalan di dampingi Evan,,melihat para rakyat yang lalu-lalang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Verlita juga melihat anak-anak kecil yang sedang berlarian.


Ibu-ibu yang berjualan di pinggiran jalan,dan para pejalan kaki yang sedang berbelanja.


Banyak keceriaan di wajah mereka yang membuat Verlita tersenyum.


Evan melihat Verlita yang tersenyum bahagia melihat kegiatan rakyat di sekitar mereka.


( kamu wanita yang baik...) batin Evan


Mereka terus menyusuri tapak jalan itu,lalu Verlita melihat kantor milik Dista.


'' ayo kita ke toko makanan di depan itu'' ajak Verlita sambil menunjuk toko yang berseberangan dengan kantor Dista


Verlita dan Evan berjalan menuju toko itu,karna ini merupakan jam sibuk bekerja jadi banyak meja yang masih kosong.


Verlita melihat meja yang berada di pinggir kaca yang mengarah ke kantor Dista.


Verlita menuju meja tersebut dan meminta Evan juga duduk di sampingnya.


Pelayan datang melayani dan Verlita memesan beberapa makanan manis,tentu saja Evan hanya mengikuti apa yang di lakukan Verlita.

__ADS_1


__ADS_2