
"Apa yang sebenarnya Ellea rahasiakan dariku? Kenapa ia terkesan menekan kedua orang tuaku?"
Dibalik pintu kamar kecil, Gavin diam-diam memerhatikan Ellea yang tengah berbincang dengan kedua orang tuanya. Gavin tak ingin berburuk sangka pada Ellea, ia memang tahu, jika Ellea tak menyukai kedua orang tuanya.
Sorot mata Ellea begitu tajam ketika menatap kedua orang tuanya. Gavin salah menilai Ellea, awalnya ia mengira bahwa Ellea adalah gadis lemah dan pendiam. Tapi beruntungnya, ternyata Ellea tak mampu ditindas, Gavin tak akan terlalu khawatir ketika jauh dari Ellea, karena ia mampu mengatasi dirinya sendiri.
Rencananya, Gavin akan tinggal di rumah besar ini selama tiga hari. Sementara rumah untuk Ellea dan Daniel tengah dibereskan, Gavin berharap kedua orang tuanya bisa menerima Ellea dan Daniel perlahan-lahan.
Malam ini, waktunya untuk makan malam. Ini adalah kali pertama Ellea dan Daniel makan malam bersama dengan keluarga besar Gavin. Termasuk dengan adik Gavin, yaitu Giovanny. Daniel terlihat sangat antusias tinggal di rumah mewah ini. Karena ini memang rumah yang tak pernah ia tinggali sebelumnya.
"Ellea, Daniel ... makanlah dengan nyaman. Kuharap, kalian bisa menerima kehadiran anak dan istriku," ujar Gavin pada keluarganya.
"Ya, apapun yang kau inginkan. Terserah kau saja," Merry malas berbicara panjang lebar.
Vanny melihat Daniel yang makan seperti orang kelaparan. Daniel tak memedulikan orang lain. Terlihat sekali bahwa dia asyik dengan makanan yang ada dihadapannya. Daniel memang anak yang cerdas. Ia pandai memilih makanan yang sehat dan aman dikonsumsi olehnya.
Melihat Daniel yang memilah-milah makanan, membuat Vanny merasa kesal. Baru kali ini, ia melihat orang miskin makan, tapi sudah seperti pemilik rumah. Benar-benar membuat Vanny geram dan kesal.
"Mama, lihatlah anak kecil itu! Kenapa dia makan harus seperti itu. Kenapa harus memilih makanan lalu memisahkannya. Menjijikkan." Vanny bergidik ngeri.
"Ellea, kau ajari anakmu makan dengan baik dan benar. Jangan membuang-buang makanan. Kalian saja belum tentu mamou membeli makanan yang ada di rumah ini!" Merry terlihat kesal.
Gavin masih belum menjawab ucapan adik dan Ibunya. Ia ingin melihat dulu, apa pembelaan yang akan dilakukan oleh Ellea.
"Mama mertua, dan adik ipar ... anakku memang jarang sekali memakan makanan mewah seperti yang ada di rumah ini. Tapi, dia adalah anak yang cerdas dalam memilih makanan. Ia tahu, makanan apa yang baik dikonsumsi untuk tubuhnya. Sekalipun makanan ini mewah dan mahal, tapi makanan ini kurang akan gizi dan kandungannya. Daniel, kau tunjukkan gizi dan kandungan dari makanan yang tengah kau makan ini." Ujar Ellea membuat Merry dan Vanny semakin marah.
"Yes Mommy ... GrandMa, and Aunty, lihatlah Ayam ini ... kulit dan luarannya sangat kaya akan lemak-lemak jahat. Aku tak ingin tubuhku terkontaminasi dengan lemak jahat. Karena itulah, aku hanya memakan bagian dalamnya saja. Daging ayam tanpa lemak, cukup untuk menambah protein hewani untuk tubuhku. Dan juga acar ini, ini terlalu masam. Padahal, kandungan sayuran yang terdapat didalamnya sangat kaya akan Vitamin C. Sayangnya, campuran asam asetat didalam acar ini terlalu banyak. Hingga membuat kandungan sayurannya terkalahkan dengan kemasaman yang dibawa oleh asam asetat ini," Daniel membuat mereka semua tercengang.
__ADS_1
"Kalian ini! Memang selalu saja membuat aku kesal dan emosi. Vanny, biarkan dia makan dengan caranya sendiri. Aku tak peduli dia akan bagaimana. Aku sudah malas berdebat dengan mereka." Merry memalingkan wajahnya saking kesal.
"Mama, Vanny ... kalian tak usah mengajari Daniel. Kalian akan kaget jika tahu Daniel ini sepintar apa. IQ-nya melebihi kau, Vanny. Anakku ini sangat pintar dan genius, kau tak boleh macam-macam dengannya. Cukup lah membuat Daniel kesal pada kalian, karena nantinya, kalian sendiri yang akan termakan dengan ucapan kalian!" Gavin hanya menyunggingkan bibirnya.
Merry hanya bisa mendelik kesal kearah Ellea dan Daniel. Tak pernah Merry sangka, jika Gavin akan membawa dua orang yang benar-benar menyebalkan dan membuat dirinya begitu emosi. Jordan sudah tahu, jika anak Gavin memang pandai. Karena ia sendiri merasakan, bahwa dulu pun, Gavin memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Selepas makan malam, mereka semua kembali ke kamarnya masing-masing. Gavin sengaja, tak menyiapkan kamar untuk Ellea dan Daniel, karena Gavin ingin, Ellea dan Daniel tidur di kamarnya. Ellea kelimpungan, ia tak mungkin tidur di kamar Gavin. Ellea yakin, rumah ini memiliki banyak kamar yang pastinya kosong dan tersedia untuk ia tiduri. Ellea berharap, Gavin tak akan memaksanya untuk tidur bersama.
"Aku ingin tidur di kamar tamu," pinta Ellea.
"Kamar tamu hanya untuk tamu!" balas Gavin.
"Ya, aku termasuk tamu di rumah ini!"
"Kau bukan tamu, kau istriku!" Tegas Gavin.
Tiba-tiba, Daniel berjalan mendekati Ellea dan memegang tangannya,
"Mommy ... aku ingin tidur bersama Daddy. Sepertinya, aku belum pernah tidur bersama Daddy. Izinkan aku tidur bersamanya, Mommy ...so please, ya, ya, ya ..." Daniel merayu Ellea.
"Kau saja tidur dengannya, Mommy akan tidur di ruang tamu!" Ellea malas menanggapi Daniel yang seakan ingin mengakrabkan dirinya dengan Gavin.
Gavin memegang tangan Ellea, "Jangan banyak bicara. Ayo, masuk ke kamarku."
"Aarrgghh, lepas! Kau selalu saja, bisanya hanya memaksa, dan memaksa! Lepaskan, Gavin!" Ellea meronta.
"Diam istriku, kau nakal sekali!" Gavin terus memaksanya, hingga Daniel pun turut menarik tangan Ellea menuju kamar Gavin.
__ADS_1
Ellea kalah, ia pun kini sudah berada di kamar Gavin. Pria pemaksa itu memang tak pernah kalah. Ia pasti selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Daniel pun kini terlihat ingin mendekatkan Ellea dan Gavin. Daniel ingin kedua orang tuanya saling mencintai, dan juga menyayanginya tanpa perasaan canggung satu sama lain.
"Aku akan tidur di sofa!" ujar Ellea.
"No, Mommy ... tidurlah bersamaku, aku ingin tidur bersama Mommy," Daniel merengek.
"Kau ini bagaimana sih, Niel? Tadi kau bilang, ingin tidur bersama Daddy-mu! Sekarang kau bilang, ingin tidur bersama Mommy! Kau selalu saja membuat kesal!" Ellea marah.
"Mommy, Mommy ... aku ingin tidur bersama Daddy dan juga Mommy. Aku ingin tidurku ada dalam pelukan kalian berdua. Salahkah jika aku menginginkan hal itu, Mommy? Apakah aku tak pantas, mendapatkan kasih sayang dari Mommy dan juga Daddy-ku sendiri?" Daniel memelas.
"Niel, kau jangan berlebihan seperti itu, ya!" Ellea terlihat tak suka.
"Elle, biarkan dia tidur bersama kita. Kau jangan keterlaluan seperti itu pada Daniel. Dia tak salah, kenapa kau terus saja menyalahkan dia. Padahal, yang dia inginkan adalah kasih sayang dari kita, sebagai orang tuanya!" Gavin mengingatkan Ellea.
"Ah, terserah, terserahlah!" Ellea malas berdebat.
Akhirnya, mau tak mau, Ellea tidur bersama satu ranjang dengan Gavjn dan Daniel. Daniel berada di tengah, dan Ellea di samping kiri, sementara Gavin, disamping kanan Daniel. Daniel sangat senang, ia bahagia karena sang Mommy mulai mau menerima Daddy-nya perlahan-lahan.
Beberapa menit kemudian, Gavin dan Daniel terlelap bersama. Ellea masih melek seorang diri. Ellea benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Berada satu ranjang dengan Gavin, membuatnya sangat kegerahan. Ellea ingin minum minuman dingin untuk melegakan dahaganya.
Ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya perlahan-lahan. Saat keluar kamar, Ellea melihat ruangan megah di ujung lorong kamar ini. Ellea penasaran, ruang apakah itu. Ia berjalan jinjit, agar tak terdengar suara apapun. Saat di dekat ruangan itu, ternyata Ellea yakin, jika itu adalah ruang kerja Jordan Alexander, mertuanya.
Ellea mendengar Jordan tengah menelepon seseorang dan membahas sesuatu hal yang penting. Tak sengaja, ia pun menguping obrolan penting itu.
"Ambil berkas pentingnya, segera pindahkan data-data pribadinya. Setujui kontrak kerja sama dengan mereka, dan ambil alih satu persatu saham miliknya. Jangan sampai ada data perusahaan yang tak lengkap!" Perintah Jordan lewat ponselnya.
Ellea berpikir keras, Perusahaan mana lagi yang akan ia rebut? Ternyata, Papa Gavin adalah monster berkedok pebisnis! Aku harus menghentikan semua ulahnya. Cukup keluargaku saja yang bodoh dan dirugikan olehnya. Aku benar-benar akan mencari tahu perusahaan mana saja yang telah ia rebut dan akuisisi seenaknya. Batin Ellea sambil merekam sesuatu di ponselnya.
__ADS_1
*Bersambung*