Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 68. NONONO!


__ADS_3

Hari ini, adalah hari pulangnya Jordan dari Rumah sakit. Jordan sudah bisa rawat jalan di rumah, karena kondisinya yang berangsur membaik. Ellea dan Gavin pun diminta oleh Merry Alexander untuk datang dan menengoknya.


Walau kondisi mereka sedang tak baik-baik saja, setidaknya didepan orang-orang dan media, Gavin harus tetap terlihat harmonis dengan keluarganya. Ellea pun melakukan hal yang sama. Mereka disorot habis-habisan oleh para wartawan yang meliput.


Termasuk Gilang, Lay, dan juga Vanny. Mereka sama-sama melebarkan senyumannya begitu berjalan keluar dari kawasan Rumah sakit. Kabar kepulangan Jordan Alexander membuat semua orang bersorak sorai, karena pemimpin tertinggi perusahaan tengah kembali.


Hal yang Vanny takutkan terjadi. Ternyata, ia sudah direncanakan untuk satu mobil bersama Gilang dan Lay. Vanny tak bisa menolak, karena sudah ada wartawan yang meliput mereka.


Ada tiga mobil mewah yang berjejer di pintu depan rumah sakit. Mobil pertama dinaiki oleh Merry dan Jordan, dengan supir pribadi mereka. Mobil kedua, dinaiki oleh Gavin, Ellea, dan Daniel. Mobil ketiga, barulah Vanny, gilang dan Lay naik bersama.


Jantung Vanny berdebar ketakutan. Tak bisa ia bayangkan, kenapa Vanny harus satu mobil dengan pria-pria bejad itu. Entah apa yang akan terjadi, karena Vanny sudah bisa menduga, bahwa ini bukan hal baik.


Vanny masuk ke pintu belakang mobil mewah itu. Hatinya tak rela, ia tak sanggup untuk masuk kedalam mobil itu. Namun, Vanny tak bisa berbuat apa-apa. Gilang dan Lay seakan memaksanya untuk masuk kedalam mobil itu.


Perjalanan dari Rumah sakit menuju Rumah pribadi mereka, kira-kira menghabiskan waktu satu jam, ditambah dengan kemacetan yang kerap terjadi. Vanny hanya bisa berdoa, semoga dirinya akan baik-baik saja, dan mereka tak akan macam-macam padanya.


"Nona manis, akhirnya kita pulang juga!" seru Lay yang tengah mengemudi.


Vanny hanya diam. Ia tak menjawab ucapan Lay. Menakutkan, sangat menakutkan. Vanny tak berdaya sama sekali, ia tak berani menatap Gilang ataupun Lay. Vanny hanya menunduk lesu, karena ia takut ..., hal buruk akan menimpanya.


"Kenapa diam saja, Nona manis? Bagus, tetaplah diam dan bungkam seperti ini. Ini tentu saja akan lebih baik, dan membuat hidupmu akan lebih panjang lagi. Bukan begitu, Gilang?" Lay menatap Gilang yang berada di sampingnya.


Gilang mengangguk, "Ya, betul sekali, Nona. Diam dan menurut, lebih baik untuk masa depanmu,"


Lay menatap kaca mobil sebelah kanannya, ia melihat mobil Gavin dan Mobil Ellea berada di belakangnya. Tiba-tiba saja, Lay memelankan mobilnya, agar mobil Gavin menyalip dan melaju lebih dulu. Mobil Gavin membunyikan klaksonnya, pertanda ia akan menyalip dan melaju lebih dulu.

__ADS_1


Lay sengaja melakukan itu, karena ia ingin mobilnya berada di belakang. Ada hal yang akan Lay lakukan. Ia memiliki rencana jahat lagi pada Vanny. Lay akan memberikan kesempatan pada Gilang untuk mencicipi manisnya Vanny.


"Gilang, pindah saja ke belakang. Kau temani Nona manis. Kasihan dia sendirian," ujar Lay memberi kesempatan pada Gilang.


"Ah, tentu saja."


Vanny kaget mendengar Lay berkata seperti itu, "Bajing@n. Dasar brengsek! Mau apa kalian! Dasar gila!"


Gilang pindah ke belakang. Ia duduk di samping tempat Vanny duduk Gilang sudah tahu, apa yang harus ia lakukan. Kini, ia bisa menjamah tubuh seksi Vanny. Lay memelankan mobilnya, agar kegiatan Gilang pada tubuh Vanny tak terganggu.


Gilang mulai mencium leher Vanny, Vanny menggeli@t hebat. Ia kegelian sekaligus tak nyaman dengan apa yang diperbuat Gilang padanya. "Aah, lepas! Pergi, kau brengsek!"


Vanny terus meronta. Meminta tolong pun, tak akan ada yang menolongnya, karena mobil yang melaju tak akan terdengar suara teriakan dari dalam mobil.


"Aargghhh, lepas! Dasar bajingan tak tahu diri!" Vanny menepis, menjauhkan tubuh Gilang agar tak terus-menerus mendekatinya.


Gilang terus mencumbu Vanny, hingga tubuh Vanny bergetar hebat. Tiba-tiba tangannya mulai nakal menyelusup dibalik kaos ketat yang Vanny pakai. Vanny kaget, karena Gilang berani menyentuh bagian sensitifnya.


"Sial! Lepaskan tanganmu dari tubuhku! Kalian benar-benar biadab! Dasar brengsek!" Vanny meronta lagi.


Vanny lemas, tubuhnya lunglai karena ia telah dipermainkan oleh Lay dan Gilang. Gilang dan Lay sengaja, karena mereka memang ingin menakut-nakuti Vanny. Pria mana yang akan tahan jika melihat seperti ini, Bos mereka benar-benar menginginkan hal ini.


Jika diperhatikan, tak mungkin seorang Ayah akan tega membiarkan anaknya tersiksa. Apalagi, mereka membiarkan pria lain menyentuhnya. Jika dia adalah anak orang lain, bisa saja hal seperti itu terjadi. Mungkinkah Vanny adalah anak orang lain?


Tangisnya pecah, karena Lay dan Gilang sengaja memainkan Vanny agar ia ketakutan. Semua guna membungkam mulut gadis ini, walau mereka tak berani melakukan hal yang lebih dari sekadar pemanasan, tapi entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Lebih baik aku mati! Daripada aku terus begini!" pekik Vanny.


"Jangan sayang. Kau hanya harus diam saja. Bukan begitu?" Lay tersenyum manis.


"Aku tak ingin hidup seperti ini. Lihat saja nanti, jika kalian terus melakukan hal ini padaku, aku akan bunuh diri! Aku ingin hidup tenang!" tangis Vanny pecah lagi.


"Jika kau ingin hidupmu tenang, bantulah Papamu untuk mengusir Kakak Iparmu yang brengsek itu! Kau harus bisa membuat mereka pergi. Karena kehadirannya lah, yang membuatmu jadi tersiksa seperti ini!" tegas Gilang memberi pencerahan.


Tak lama, saat Vanny masih menangis tersedu-sedu, ponselnya berdering, Vanny segera beranjak lalu mengambil ponselnya. Tertera nama Kakak Ipar memanggil di layar ponselnya.


Merasa terselamatkan, Vanny segera mengangkat panggilan Ellea padanya. Vanny berharap, Ellea ada didekatnya kali ini, agar ia bisa selamat.


"H-halo, Kak, a-ada apa?" suara Vanny masih lemas.


"Van, mobil kamu masih di daerah mana? Kenapa kami tak melihat mobilmu? Apa kau terjebak macet?" tanya Ellea lewat ponselnya.


"K-kami, k-kami masih di jalan cempaka, Kak. Kalian di mana? K-kami akan segera ke sana," ucap Vanny.


"Kita sudah di jalan dekat rumah! Cepatlah, katakan pada supirmu untuk cepat, karena Kakakmu meminta kau untuk segera sampai!"


"B-baik, Kak."


Ponsel pun ditutup. Rok Vanny menyingkap karena Gilang terus memeganginya. Ia takut, mereka sampai melakukan hal yang lebih gila dari ini. Vanny takut ketahuan, jika dia sebenarnya telah kehilangan mahkotanya oleh sang kekasih ....


Tuhan ... tolong aku. Bantu aku. Aku takut!

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2