
"Tuan Gavin, saya akan bekerja dengan baik dan teliti. Semoga saya bisa menjadi sekretaris baru yang dapat diandalkan." Alex terus merayu Gavin.
"Tak usah banyak bicara. Kerja saja, aku tak suka orang yang banyak bicara." Gavin tak suka orang yang terus basa-basi.
"Baik, Tuan. Maafkan saya." Alex membungkukkan badannya.
Hari ini, adalah hari pertama bagi Alex bekerja. Ia selalu berada dibelakang Gavin. Apapun yang Gavin lakukan, Alex pasti mengikutinya. Menyebalkan, sangat menyebalkan. Gavin tak suka pada Alex. Pria ini hanya cari muka dan banyak bicara.
Gavin pergi ke perusahaannya. Ia harus mengurus beberapa hal yang penting, termasuk dengan kejadian tempo hari yang menimpa Papanya. Selepas kepergian Gavin, Merry Alexander mengajak Ellea untuk pergi ke Rumah sakit, untuk menengok kondisi Jordan yang tengah membaik.
"Kau harus melihat Papa mertuamu! Jika kau tahu diri dan sadar akan posisimu di rumah ini!" sentak Merry.
"Baik, Mama. Aku akan menjenguknya. Aku akan ikut bersamamu. Aku juga penasaran, bagaimana Papa mertua sekarang? Apakah dia sudah bisa berlari kencang?" tanya Ellea setengah menyindir.
“Apa maksudmu berkata seperti itu, ha? Kau benar-benar keterlaluan, Ellea! Masih saja kau bisa-bisanya menuduh suamiku berbohong!" sentak Merry.
"Slow, Mama. Ada apa denganmu? Aku tak menuduh Papa berbohong. Aku hanya bertanya, apakah dia sudah bisa berlari? Aku berharap Papa akan segera sembuh seperti sedia kala, agar ia tak kesulitan jika berlari. Bukankah Papa mertua senang berlari estafet?" Ellea begitu cerdik menjawab semua ucapan Merry.
Merry kalah telak lagi. Ia tak mampu menandingi ucapan Ellea. Awalnya, Ellea memang berniat menyindir, hanya saja secepat kilat Ellea bisa mematahkan semua itu, dan justru membuat Merry malu, karena terkecoh dengan sindirannya.
"Mama, tak perlu kau anggap dia. Bukankah kau sudah tahu, jika mulut Elle benar-benar berbisa!" bisik Vanny, pada Merry.
__ADS_1
Merry menatap tajam pada Ellea. Ia benci pada wanita yang banyak bicara seperti Ellea. Jika saja Ellea berani melawan Merry, mungkin saat ini juga Merry sudah melaporkannya ke polisi.
Hanya saja, Ellea menahan kekesalannya, karena sepertinya Merry tak terlibat dalam kebusukan Jordan. Merry hanya boneka penurut yang bisa disuruh-suruh. Baik oleh Jordan, maupun asistennya.
Ellea naik mobil yang berbeda dengan Merry. Ellea telah memiliki supir pribadi, yang diutus oleh Gavin untuk menemani ke manapun Ellea akan pergi. Daniel sebenarnya malas, namun apa boleh buat, mereka harus tetap ikut pergi bersama Merry.
Supir pribadi Ellea, selalu mengunci rapat apapun pembicaraan mereka. Seperti saat ini, Ellea dan Daniel tengah membicarakan sesuatu, namun mereka tak canggung, karena supir pribadinya sudah dipastikan tak akan ingkar apalagi membocorkan rahasia mereka.
Gavin memberinya uang yang tak sedikit, agar supir Ellea bisa tutup mulut dan tak pernah ikut campur. Berapapun uang yang diinginkan. Kali ini, Ellea ingin bertanya pada Daniel, perihal Alex si sekretaris yang menyamar.
"Daniel, apa kau yakin sekretaris baru Daddy adalah orang yang menculikmu?" tanya Ellea.
"Mommy ...," Daniel menatap Ellea, mengisyaratkan agar tak mungkin membicarakan hal yang bersifat pribadi saat didalam mobil seperti ini.
Daniel mengerti, ia memahami semuanya. Daniel pun menjawab pertanyaan Ellea tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Ya Mommy, otakku bekerja sangat cepat! Aku bisa tahu, jika dia adalah pria yang menjadi supir, saat aku dibawa menuju rumah Uncle Eric. Aku yang memerhatikan Uncle Alex. Pada saat itu, ia memang memakai topi, jadi aku sedikit kesulitan mencerna, apakah memang dia atau bukan. Tapi kini aku yakin, dia begitu jelas tanpa menggunakan topi. Dialah orangnya Mommy. Jika dia menculikku, bukankah dia jahat? Tapi kenapa, dia malah bekerja untuk Daddy? Aku takut Mommy, aku takut dia jahat lagi." Daniel mulai khawatir.
"Tenang sayang. Dia tak akan bertingkah kali ini. Dia pasti main belakang dan mempunyai cara yang lain untuk mengacaukan semua. Kau tak usah khawatir, Mommy akan mengantisipasi agar hal itu tak terjadi. Tapi, Mommy mohon sekali pada Daniel, kau jangan memperlihatkan pada Alex, bahwa kau mengenalnya. Daniel harus pura-pura tak tahu, jika dia adalah supir yang dulu menculikmu. Jika kau terlihat mencurigakan, dia pasti akan teringat, bahwa kau sebenarnya tahu dan mengingat tragedi penculikan itu." jelas Ellea.
"Ya, Mommy ..., aku mengerti. Aku akan diam, dan pura-pura tak mengenalnya. Aku sudah paham, jika dia sebenarnya mengincar sesuatu. Semoga Daddy segera mengetahuinya, dan memecat si penculik itu." ucap Daniel.
__ADS_1
"Ya, semoga saja.Aku berharap yang terbaik untuk kita semua." ujar lea menenangkan.
Sesampainya di Rumah sakit, Ellea memang benar menjenguk Jordan. Namun, Jordan terlihat lemah dan tak berdaya. Jordan memang pandai berakting dan membuat semua percaya, bahwa ia benar-benar tertembak.
"Papa mertua, aku bawakan buah-buahan segar untuk kau cicipi. Ini murni aku beli dari supermarket dan benar-benar segar." Ellea terlihat ramah.
"Gilang, kau makan salah satu buahnya. Mungkin saja ada racun yang ia taburkan di buah-buahan itu. Kau harus mengeceknya, Gilang!" tegas Merry.
Lagi-Lagi Merry tak percaya dengan kiriman Ellea. Tanpa basa-basi, Daniel mengambil satu buah, dan memakannya dengan lahap. Ia ingin membuktikan pada Nenek dan Kakeknya, bahwa Mommynya tak seburuk yang mereka kira.
"GrandMa, jangan selalu menilai Mommy buruk. Mommy tak pernah berbuat curang seperti itu! Mommy memang kesal pada kalian, tapi Mommy tulus memberi kiriman ini untuk GrandPa. GrandMa terlalu berlebihan, dan menyebalkan! Aku bersumpah, jika GrandMa suatu hari nanti, akan bersujud dan meminta maaf pada Mommy-ku, atas semua yang telah kau perbuat! Kau akan merasakan apa yang Mommy rasakan saat ini." Tegas Daniel membela Ellea.
"Heh, anak kecil! Tutup mulutmu! Kau sudah terlalu lancang bicara! Sampai kapanpun, aku tak akan pernah menganggap kau adalah bagian dari keluarga ini. Kau hanyalah sampah berharga milik Kakakku!" Ujar Vanny tak rela jika Merry dijelek-jelekka.
"Diamlah, Kakak tua! Kau juga banyak bicara. Tunggu saja sampai waktu itu tiba. Kau akan mati kutu, dan tak bisa membalas semua ucapanku!" Daniel mulai berani.
"Siapa kau, ha? Kau disentil saja menangis! Berani-beraninya mengejekku dan membuat kesal!" Vanny tak mau kalah.
"Vanny, Vanny ..., sudah. Kenapa kau malah mengajaknya berdebat? Kau akan kalah bicara jika dengannya. Biarkan saja mereka, apapun yang mereka inginkan, tidak akan bisa melawan ular berbisa seperti mereka!" cegah Merry.
Jordan hanya diam melihat anaknya berdebat dengan Daniel. Dalam hatinya, Jordan terus merutuki Ellea. Jordan terpaksa hanya berdiam diri di ranjangnya.Padahal, hatinya benar-benar muak melihat kedatangan Ellea.
__ADS_1
Rupanya, kau bebas berbicara sekarang! Aku jadi ingat kejadian malam tadi. Sebenarnya, apa yang kau lakukan? Tapi, berkasku tetap aman. Lalu, kemarin itu apa? Kau memasuki ruang rahasiaku? Apa yang kau ambil didalam sana?
*Bersambung*