Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 90. See, sister


__ADS_3

Mungkin inilah takdir yang harus aku jalani. Tuhan telah menggariskan aku untuk hidup bersamanya. Gavin mungkin bukan pria yang sempurna, tapi dia mampu menjaga dan melindungiku. Jika Tuhan telah menggariskan aku untuk tetap bersamanya, maka aku tak boleh menyia-nyiakan dia.


Jika kalian bertanya, apa aku mencintainya? Jawabannya satu, aku tak punya hati. Hatiku sudah mati, aku tak akan bisa lagi mencintai seseorang. Kenapa? Karena aku telah membuang hatiku, demi semua keluargaku.


Akulah orang yang berniat akan membalas dendam pada orang yang telah menghancurkan keluargaku. Aku menutup pintu hatiku untuk pria, karena hidupku pada saat itu, hanya bertujuan untuk menyelesaikan dendamku.


Aku sengaja meninggalkan kehidupan dan kebahagiaanku. Aku sengaja meninggalkan Eric kekasihku tanpa sebab. Aku tak butuh cinta lagi. Aku hanya butuh uang, uang, uang, untuk membalaskan dendamku.


~Elleana Patrice~


Tapi ternyata, sebuah tragedi terjadi. Ellea gelap mata, dan ia malah terjebak bersama Gavin. Semua itu hancur berantakan, dan keinginannya untuk balas dendam pada orang yang menghancurkan ia urungkan.


Tapi ternyata, inilah awal dari semuanya. Pertemuannya dengan Gavin, seakan membuka jalan bagi Ellea untuk melakukan semuanya. Hal yang tak pernah Ellea sadari, adalah ketika mengetahui bahwa Jordan adalah Ayah dari Gavin.


Mulai saat itu Ellea sadar, bahwa semua terjadi karena takdir Tuhan. Semua berawal saat Ellea mengenal Jordan. Perasaannya pada Gavin, tak ditaruh cinta sedikitpun, karena Ellea lebih memilih untuk balas dendam daripada mencintai Gavin.


Saat ini, hari ini juga, Gavin memutuskan untuk segera menemui keluarga Ellea. Ellea berkata, bahwa ia masih belum siap, namun nyatanya Gavin juga bersikeras, karena ia tak mau menunggu lama untuk menyelesaikan semua masalah ini.


"Ayo kita selesaikan semua ini. Secara pribadi, aku akan meminta maaf pada keluargamu. Dan aku juga akan mengenalkan diriku sebagai suamimu pada mereka. Kau harus siap, Ellea, kau harus yakin dengan semua ini. Pegang tanganku, dan jangan kau lepaskan. Biar Daniel tak usah ikut dahulu, karena aku tak ingin dia ikut disalahkan oleh keluargamu. Jika suatu hari nanti keluargamu bisa bisa menerima kehadiranku dan juga Daniel, maka aku akan membawa Daniel, untuk aku kenalkan pada mereka." ucap Gavin serius.


"Aku takut pada Ibuku. Aku takut mereka akan mencaci maki dirimu." Ellea menunduk lesu.


"Dengarkan aku, Ellea, aku rela dicaci maki oleh keluargamu, aku akan menerimanya. Aku harus bertanggung jawab sebagai laki-laki yang telah menghancurkan masa depanmu. Tapi, kau harus yakin, Ellea ... jika kau hidup bersamaku, maka aku pastikan, masa depanmu akan tetap bahagia. Aku akan memberikan seluruh aset berhargaku untukmu, hingga kau tak usah susah payah mencari uang lagi. Aku hanya berharap, keluargamu mampu menerima semua kebaikanku."


"Tapi uang bukanlah segalanya, Gavin!"


"Tapi, segalanya membutuhkan uang, bukan?" balas Gavin.


"Aku takut , mereka tak mudah dan sangat sulit, Gavin."


"Percaya padaku, everything's will be okay, right?"

__ADS_1


Gavin pun mengemudikan mobilnya menuju rumah Ellea. Sebenarnya, entah mereka masih tinggal di rumah itu ataupun tidak. Rumah kontrakan yang dulunya Ellea tinggali. Ellea hanya berharap, jika mereka masih tinggal di sana dan tak pindah ke manapun.


Satu jam berlalu, akhirnya Gavin tengah sampai di jalan menuju rumah Ellea. Rumah itu terhalang beberapa bangunan tinggi menjulang, sehingga untuk melewatinya, harus berjalan kaki, karena tak ada akses mobil di depan rumah lama Ellea.


Perasaannya semakin tak karuan, jantung Ellea berdesir sangat cepat. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana respon keluarganya, ketika ia datang kembali. Apalagi, kali ini ia datang bersama Gavin. Pria yang dulu menghamilinya, dan membuat Ibunya benar-benar murka.


Rumah kecil itu tetap terlihat usang. Rumah yang sepertinya tak terurus, dan sedikit kumuh. Gavin terlihat tak terbiasa melihat rumah seperti ini. Ia terlihat sedikit tak nyaman.


Pintu itu diketuk, hingga beberapa kali, masih juga tak ada respon. Saat ketukan terakhir, tiba-tiba ada yang membuka pintu, dan betapa kagetnya Ellea, yang membuka pintu adalah adiknya yang terakhir, Elsie, namanya.


Dulu, Elsie masih berusia lima tahun saat Ellea meninggalkan rumah ini. Sekarang, gadis kecil itu telah berusia 11 tahun, dan tentu saja Elsie masih mengingat Ellea sebagai Kakak kandungnya.


"Kakak Elle! Kakak Ell! Benarkah ini kau? Ya Tuhan, terima kasih banyak ... selama ini kau kabulkan doaku dan doa Ayah. Akhirnya Kakak pulang. Akhirnya hati Kakak tergerak juga untuk datang ke rumah ini. Terima kasih Tuhan, Kakak ..., aku sangat merindukanmu, Kakak," Elsie memeluk Ellea dengan erat.


Ellea tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya. Ia membalas pelukan sang adik, dengan penuh haru dan kerinduan yang selama ini telah terpendam.


"Sorry, sorry, maafkan Kakak yang mengabaikan kalian selama ini. Maafkan Kakak, Sie, maafkan Kakak. Aku sangat merindukanku, adikku sayang ... terima kasih, kau masih menyayangiku sampai saat ini," Ellea menangis haru dihadapan Elsie.


AYAH? ...., mendengar nama Ayah membuat Ellea merasa jijik dan sakir hati. Kekecewaannya pada Hendrick sang Ayah, benar-benar nyata.


Ellea dan Gavin masuk. Rumah itu benar-benar sederhana, tak ada apapun didalamnya, selain barang tua yang nampak di sekitar ruangan. Ellea heran, ke mana Ibunya? Kenapa di rumah ini nampak sepi sekali?


Adik Ellea yang pertama bernama Ellie, mungkin sekarang usianya menginjak 18 tahun, karena dulu masih berusia 12 tahun. Ellie pun tak ada di rumah ini. Rumah ini benar-benar kosong dan tak ada penghuni lain.


"Ibu ke mana?" Ellea duduk di sofa tua yang telah reyot.


"Ibu bekerja. Setiap hari ia bekerja di rumah Nyona Helda." jawab Elsie.


"Apa? Helda? Aunty Helda, maksudmu?"


Elsie mengangguk, "Iya, sudah hampir satu tahun Ibu bekerja di sana."

__ADS_1


K**urang ajar. Wanita rakus itu ternyata memperalat Ibuku. Dia pasti sengaja melakukan ini. Batin Ellea.


"Ayah di mana? Kakak ingin bertemu dengannya." Ellea memberanikan diri, menanyakan kabar Ayahnya.


"Ayah di kamar belakang. Kami tak bisa membiarkan Ayah ada di sini, karena penyakitnya itu ..." Elsie sedikit ketakutan.


"Kenapa, sayang? Bukankah dulu dia mengidap penyakit jantung dan paru-paru?"


"Sekarang lebih parah dari dulu. Kakak bisa melihatnya jika Kakak sanggup."


"Memangnya kenapa?"


Ellea berjalan mengikuti Elsie. Dirinya sangat khawatir pada apa yang diucapkan oleh Elsie, adiknya. Seberapa parah penyakit Ayahnya, hingga Elsie harus berkata seperti itu?


Elsie membawa Ellea menuju ruangan terpencil seperti gudang kumuh tak terpakai, ternyata itu adalah kamar Hendrick. Ellea mencoba kuat mengikuti adiknya dari belakang. Gavin juga ikut menemani Ellea, karena ia sendiri begitu tak sabar ingin melihat kondisi yang sebenarnya.


Elsie memberikan Ellea masker yang sangat tebal. Elsie juga memberikannya pada Gavin. Tak lupa, Elsie meminta agar Ellea memakai sarung tangan jika akan bersentuhan dengan Ayahnya.


"Ayah, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap Elsie.


Betapa kagetnya Ellea dan Gavin, melihat kondisi Hendrick yang sangat mengkhawatirkan. Ruangan itu berbau, bau yang sangat menyengat. Tubuh Hendrick pun kering kerontang, hanya tersisa tulang belulang saja.


Shock, benar-benar shock. Baik Ellea maupun Gavin, belum sanggup untuk bertemu dengan Hendrick. Ellea mual, ia ingin muntah ketika pintu kamar itu dibuka. Ellea meminta agar Elsie menutup dahulu pintu kamarnya, sebelum sampai Ellea benar-benar siap untuk melihat keadaannya.


"Sie, aku belum sanggup melihat Ayah. Penyakit apa yang menimpanya? Kenapa seperti itu?" Ellea kaget bukan main.


"Dahulu, gejala paru-paru yang menimpanya, terjadi karena ada virus HIV Aids yang menyerangnya. Paru-paru Ayah infeksi, dan membengkak. Lama-kelamaan, tubuhnya lemas dan sulit digerakkan. Badannya pun turun drastis, hingga tak bisa terkontrol, saat ini ..., seperti itulah keadaannya. Ia mengalami HIV stadium IV, atau stadium akhir. Bau menyengat itu terjadi karena nanah di tubuhnya. Ia mengalami luka infeksi yang sangat berat, sehingga menyebabkan nanah keluar dan menghasilkan bau yang sangat parah. Aku hanya menunggunya. Yang membersihkan Ayah setiap hari adalah Ibu. Kakak, kalau tak sanggup melihat Ayah, tak usah dipaksakan. Ibu juga kalau tak sanggup mengurusnya, suka membiarkan Ayah." jelas Elsie yang sudah mengerti kondisi Ayahnya.


Astaga ... keadaan ini sangat menyedihkan. Ayah, separah itukah penyakitmu? Maafkan aku, aku tak tahu kau menderita seperti ini. Maafkan aku, yang lalai dan tak mengurusmu. Tapi, aku ingat satu hal ..., ini mungkin saja balasan Tuhan atas semua perbuatannya. Apa karma itu langsung dibayar tunai, Ayah? Apa ini adalah jawaban dari rasa sakit yang Papanya Gavin rasakan?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2