Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 59. Me and You


__ADS_3

Mendengar panggilan darurat Aaron, membuat Ellea semakin panik. Ia memastikan bahwa semua telah rapi kembali, dan jejaknya tak akan tercium sedikitpun. Ellea telah membawa beberapa bukti dan semua hal penting mengenai kejadian yang menimpa perusahaan Papanya.


Ia naik ke atas, dan mencoba meminta bantuan Aaron, untuk menutup kembali jalan masuk kedalam ruang tersembunyi itu. Aaron membantunya sekuat tenaga miliknya. Setelah selesai, mereka menutup pintu gudang dan bergegas kembali ke kamar agar tak ada satupun orang yang curiga.


"Nona, sudahkah kau dapat apa yang kau inginkan?" tanya Aaron.


"Sudah. Aku tak membawa semua data penting Aku hanya memotretnya dan kuharap kau mamou menyalin data ini sama seperti aslinya. Bukankah kau bisa melakukannya?"


"Ya, Nona ..., aku bisa melakukannya. Kau bisa percayakan padaku. Segera kirimkan semuanya, dan nanti aku akan melacak semua dari jauh." ujar Aaron.


"Baik, Aaron. Cepatlah, kau tidur bersama Daniel, seolah kau tengah membaca cerita bersamanya. Aku pun akan kembali tidur, dan benar-benar melupakan apa yang barusan terjadi."


"Baik Nona,"


Tiba-tiba, saat mereka berjalan menuju kamar, sebuah tembakan peluru tajam, terdengar diluar rumah besar ini. Sontak saja Ellea menutup telinganya dan bersembunyi dibelakang Aaron. .


"Astaga! Aaron, apa itu?"


Aaron yang panik mulai melihat keadaan depan rumahnya dengan ponsel canggih miliknya. Ternyata, Gavin sudah datang dan menghadang Gilang beserta anak buahnya. Aaron yakin, Gavin mengetahui semua ini, dan ia mencegah Gilang untuk masuk kedalam rumah ini.


"Aaron, bagaimana ini?"


"Tenang saja, Nona. Lebih baik kita pura-pura tidak tahu. Yang menembak pistol adalan Tuan Gavin. Sepertinya ia tahu, jika ada sesuatu terjadi. Nona kembalilah ke kamar, dan pura-pura tidur. Aku pun akan melakukan hal yang sama, dan tidur bersama Daniel, agar Tuan tak curiga." ucap Aaron.


"Baiklah, terima kasih Aaron, kau telah membantuku!"


"Sama-sama Nona."


Aku juga membantu Tuan Gavin. Aku akan tidur dengan Daniel, dan kemungkinan besar, Tuan pasti akan tidur bersamamu. Nona Ellea, kau harusnya membuka hatimu untuk Tuan Gavin. Dia pria yang baik, dan penyayang. Kau harusnya terbuka, dan jujur tentang semua ini. Agar Tuan Gavin bisa bersikap setegas-tegasnya. Batin Aaron sambil berlari ke kamar Gavin.


.............


"Silakan kalian pergi, dan jangan membuat keributan di rumahku!" Pekik Gavin dengan suara lantangnya.

__ADS_1


"Tuan, aku akan tetap di sini. Hanya mereka yang akan pergi." ujar Manager Gilang.


"Untuk apa kau di sini?" tanya Gavin.


"Aku akan membereskan meja kerja Tuan besar." ujar Manager Gilang.


"Lalu? Itu saja?" selidik Gavin.


"Ya, aku hanya akan membersihkannya, Tuan."


Gavin memerintahkan orang-orang yang dibawa Gilang untuk pergi secepat kilat. Entah apa yang terjadi didalam rumah, hingga Gilang membawa beberapa orang untuk menginterogasinya.


"Kau tak salah berada di sini, Manager Gilang?" selidik Gavin.


"M-maksud Anda, Apa Tuan?" Gilang tak paham.


"Kau tak salah, berada di sini? Sementara Papaku tengah berbaring dam menatap langit-langit rumah sakit. Kenapa kau bukan berada di sana dan menemaninya? Kenapa malah meributkan meja kerja? Bukankah rencana awalmu adalah mengusir Aaron? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" Gavin tersenyum kecut.


"Tidak, Tuan. Saya tak akan lama. Saya hanya harus memastikan agar tempat Tuan besar tetap terlihat rapi. Jika Anda bersikeras soal Aaron, silakan saja. Mungkin nanti Nyonya akan memberi tahu Anda sendiri." jawab Gilang.


"T-tuan, t-tapi ..., Anda tak berhak sama sekali mengatakan hal itu pada saya!" Aaron sangat-sangat keberatan.


"Oh ya? Jika seperti itu, kau juga tak berhak mengelabui Mama agar dia memecat Aaron! Kau dan Lay sialan itu, kan? Yang menjadi dalang agar Aaron dipecat? Jika kalian bisa memecat Aaron, aku juga tentu bisa memecatmu dengan jentikan jariku. Silakan, kau akan bagaimana? Waktumu tinggal sembilan menit, kau pilih dipecat, apa melaksanakan semuanya sesuai dengan perintahku? Jangan kira aku hanya bermain-main. Kau bisa membuktikannya setelah ini." Gavin membuat Manager Gilang benar-benar marah.


Tanpa menjawab, Gilang pun langsung masuk kedalam rumah dan bergegas untuk melihat keadaan gudang tanpa sepengetahuan Gavin. Melihat situasi sudah aman, Gavin pun masuk kedalam rumah, mengikuti Gilang dari belakang.


Rumah besar ini nampak sepi, mungkinkah mereka sudah terlelap? Gavin melihat ke kamarnya, Aaron dan Daniel ternyata sedang terlelap. Gavin menutup lagi pintu kamarnya. Lalu ia beranjak ke kamar Ellea, dan berharap Ellea tak mengunci pintunya.


Diketuknya pintu itu, ternyata pintunya tak terkunci. Gavin oun masuk kedalam, melihat Ellea tengah mengenakan selimutnya. Namun ada yang aneh, ketika sandal Ellea terlihat seperti habis dipakai. Di meja rias pun, ada sebuah senter kecil yang entah digunakan Ellea untuk apa.


Gavin terdiam, ia mencoba untuk melupakan hal tersebut. Biarlah, yang penting Ellea sudah aman, pikirnya. Gavin berjalan perlahan, kemudian ia duduk disamping ranjang Ellea, dan mengusap rambut wanita itu perlahan-lahan. Ellea terlihat tengah terlelap, ia sangat cantik walau dalam keadaan tanpa make up.


Dia berkeringat. Sepertinya, memang ada yang telah dia lakukan, sehingga Gilang membawa orang-orangnya untuk mengecek rumah ini. Ellea, kau gegabah sekali. Jika saja aku terlambat, mungkin mereka berhasil masuk, dan menangkapmu. Kau sedang apa tadi? Apa yang telah kau lakukan? Biarlah, yang penting aku datang tepat waktu. Kau bisa bergegas menyelamatkan dirimu. Apa Aaron juga turut membantumu tadi? Ucap Gavin dalam hati, bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Ellea.

__ADS_1


"Ellea, apa kau sudah makan? Jika belum, aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan makan." tanya Gavin begitu lembut.


Ellea melenguh, ia membuka matanya perlahan, "Aku tak berselera makan, perutku sakit. Aku hanya ingin tidur saja."


"Apa kau ingin aku membawa Dokter ke sini?"


"Tak perlu." Tolak Ellea dengan cepat.


"Apa yang kau inginkan? Katakan padaku, agar keadaanmu cepat membaik, Ellea." ucap Gavin sangat lembut.


"Aku ingin air hangat saja, agar perutku sedikit nyaman," pinta Ellea.


"Baik, akan segera kuminta,"


Gavin mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon kepala pelayan agar membawakan air hangat untuk Ellea. Gavin juga meminta agar pelayan itu membawa beberapa cemilan dan kue untuk dibawa ke kamar Ellea.


Tak lama, apa yang diinginkan Gavin, sudah ada didepan kedua matanya. Ia meminta Ellea untuk bersandar pada Dipan ranjang. Gavin pun membantu Ellea bangun, lalu perlahan ia memberikan air hangat pada Ellea.


"Minumlah, dan jika kau lapar, makan cemilan ini. Apa ada yang ingin kau makan?" tanya Gavin.


Ellea menggeleng, "Tidak. Aku tak lapar."


"Baiklah ..., Ellea, berbicara soal tidur, apakah boleh aku tidur di sini bersamamu? Daniel telah terlelap bersama Aaron. Aku tak tega membangunkannya."


"Apa? T-tidur di sini?" jantung Ellea bergemuruh cepat.


Gavin mengangguk, "Aku tak akan menyentuhmu. Aku hanya akan tidur saja. Aku janji,"


Sebenarnya, menyentuhku pun, sudah halal bagimu. Dulu, bahkan kita melakukannya tanpa sebuah ikatan. Tapi, ada alasan kuat dibalik semua ini. Aku menolak, karena aku masih ragu, pada hubungan ini. Aku takut, semuanya akan berakhir, Gavin. Batin Ellea.


"B-baiklah, kau boleh tidur di sini," ucap Ellea gugup.


"Terima kasih, Ellea."

__ADS_1


Aaron, kutahu kau sengaja melakukan ini, agar aku bisa dekat dengan istriku. Tak apa, jika saat ini masih sulit kuraih hatinya, tapi aku yakin, semua akan mengalir seperti air, dan sebagaimana cinta itu hadir. Aaron, terima kasih atas bantuan malam ini. Semoga malam-malam selanjutnya, istriku akan terbiasa tidur bersamaku. Ucap Gavin memerhatikan Ellea yang tengah makan sebuah pie susu.


...........


__ADS_2