Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 78. Really?


__ADS_3

Merry Alexander berlari sekuat tenaganya menuju ke kamar Vanny. Hatinya tak karuan, ia begitu mencemaskan nasib Vanny, gadis kesayangannya. Merry tak sangka, jika sekretaris kepercayaan keluarganya berani berbuat biadab seperti itu.


Kamar Vanny begitu berantakan, pintu kamarnya hancur dirusak oleh Gavin, didalam juga barang-barang berserakan tak pada tempatnya. Ada darah yang berceceran di lantai, dan juga di ranjang Vannya. Vanny terlihat sedang menangis sembari ditutupi selimut.


Ia dijaga oleh para staf dan pembantu du rumah ini. Gilang dan Lay dibawa ke Rumah sakit untuk segera ditangani. Nereka dibawa bersama polisi, karena saat kejadian berlangsung, Ellea segera memanggil polisi.


Ellea tak peduli, jika polisi itu telah bekerja sama dengan Jordan, yang jelas untuk saat ini, Ellea ingin Gilang dan Lay diamankan. Untuk hal lainnya, akan segera Gavin urus. Merry menangis, ia secepat kilat merangkul Vanny, karena tak tega melihat keadaan anaknya yang tersiksa.


Ellea mencoba berada di belakang Merry, karena Ellea ingin tahu, apa yang akan di lakukan oleh Merry, sebagai Ibu kandung dari Vanny. Merry sangat bodoh, ia tak sedikitpun mengetahui jika hal ini akan menimpa anaknya.


Selama ini, Vanny tak pernah mengeluh atau ada masalah dengan Gilang dan juga Lay. Biasanya, jika terjadi sesuatu apapun, Vanny pasti akan segera lapor pada Merry dan berteriak-teriak. Ini memang aneh, sangat aneh. Ini bukan Vanny yang seperti biasanya. Bukan Vanny yang Merry kenal lagi.


Merry segera memeluk Vanny yang menangis karena ketakutan. Hatinya menjerit, karena Merry merasa tak pantas menjadi seorang Ibu. Ia benar-benar kecolongan. Anehnya, kenapa Vanny tak bercerita padanya perihal perlakuan Gilang dan Lay padanya.


“Sayang, kenapa kamu diam saja jika mereka melakukan hal seperti itu padamu? Kenapa kau tak bercerita pada Mama, Nak? Biasanya kau selalu cerita apapun padaku, kau selalu terbuka pada Mama. Kenapatiba-tiba kau jadi diam seperti ini?” Merry sangat menyesalkan hal ini terjadi.


Vanny belum mau bicara. Ia masih sangat shock mengingat hal yang menimpanya barusan. Vanny menangis dipelukan Merry. Haru, sangat haru. Ellea hanya bisa menatap kedekatan itu dengan pilu. Hal yang ia inginkan juga, berada dalam pelukan sang Ibu, namun tak akan bisa lagi Ellea rasakan, karena Ibunya telah membuangnya.


Tak lama, Gavin pun ikut masuk kedalam kamar Vanny. Gavin meraih tangan Ellea, karena ia merasa, Ellea terlihat sedih menatap kehangatan Vanny dan Merry. Gavin yakin, jika Ella juga menginginkan kehangatan dan kasih sayang orang tuanya.


Pasti sudah lama sekali Ellea tak merasakan kehangatan itu. Hal ini terjadi karena perbuatannya dengan Gavin, yang menyebabkan Ellea diusir dari rumah. Gavin menatap tangan Ellea, merangkul tangannya, seakan mengisyaratkan bahwa Ellea tak perlu takut dan tak perlu bersedih, karena ada Gavin di sisinya.


Aku akan memberikan kebahagiaan itu untukmu, Ellea. Kau pasti sangat merindukan keluargamu, kan? Aku bisa tahu dari sorot wajahmu. Aku berjanji, aku akan mengebalikan keharomonisan keluargamu, Ellea. Tunggu aku menyelesaikan satu persatu masalah kita. Aku berharap, jika kau akan selalu bahagia dalam pelukanku. Aku berjanji penuh atas kebahagiaan hidupmu. Aku yang telah menghancurkan semuanya, aku juga lah yang harus mengembalikan semua pada tempatnya. Aku untukmu, Ellea. Batin Gavin.


“Kenapa kau bersedih?” tanya Gavin.


Ellea kaget, karena Gavin memegang tangannya, “Ti-tidak apa-apa. Aku hanya terharu melihat keharmonisan adik dan Mamamu,”

__ADS_1


“Kau merindukan Ibumu?” tanya Gavin lembut.


Ellea mengangguk.


“Tunggu aku menyelesaikan semuanya, Ellea, aku akan mempertemukan kau dan Ibumu. Doakan aku, semoga aku berhasil menuntaskan semuanya. Semua usaha dan keringatku, hanya kulakukan untukmu, dan untuk Daniel.” Tegas Gavin.


“Terima kasih, atas kebaikan hatimu.” Ellea bingung harus berkata apa.


Gavin mengusap-usap pundak Ellea. Gavin harus bisa meyakinkan Ellea, serumit apapun maalah dalam hidup mereka, jika mereka menyelesaikannya bersama, pasti akhirnya akan sangat indah. Setelah menenangkan Ellea, Gavin kembali pada tujuannya, untuk membawa Vanny ke Rumah sakit.


“Mama, cukup. Aku harus membawa Vanny ke Rumah sakit, untuk memastikan bahw kondisinya baik-baik saja. Aku akan meminta Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan intensif untuk Vanny. Aku juga akan segera menghubungi psikolog untuk melihat trauma yang Vanny alami.” Tegas Gavin.


Ucapan Gavin ada benarnya juga. Tak mungkin jika Merry akan membiarkan Vanny mengalami trauma mendalam tanpa diobati. Merry pun membujuk Vanny, agar mau dibawa oleh Gavin ke Rumah sakit. Vanny menggeleng, ia enggan untuk pergi ke Rumah sakit, namun Merry dan Ellea mencoba meyakinkan Vanny, bahwa semua akan baik-baik saja.


“Mama ikut, Vin,” ucap Merry.


Gavin segera menghampiri Vanny, Gavin memangku Vanny yang masih terbalut selimut. Vanny enggan pergi, namun Gavin terus memaksanya. Gavin memangku Vanny dan pergi meninggalkan Merry sendiri. Sebelum pergi, Gavin menatap Ellea, dan mengatakan sesuatu padanya.


“Ellea, kau ikut denganku. Aku butuh bantuanmu nanti.”


“Baik, aku akan ikut. Aku sudah menitipkan Daniel pada Asisten Ayu.” Ujar Ellea.


“Bagus, ayo, kita segera pergi!”


“Gavin, kau yakin dengan ucapanmu?” Merry antara percaya dan tidak percaya.


“Kau tanyakan saja padanya, atau Mama cari bukti sendiri!”

__ADS_1


Gavin berlalu meninggalkan rasa penasaran dalam diri Merry. Merry terdiam, ia berpikir sangat keras, mungkinkah ucapan Gavin memang benar? Tapi, apakah mungkin Jordan segila itu pada Vanny? Kenapa Jordan harus mengizinkan Lay dan Gilang untuk menjamah Vanny? Pertanyaan itu terus berkemelut dalam kepala Merry.


“Semua ini, hanya dia yang bisa menjawabnya. Saat-Saat genting seperti ini, ke mana dia? Kenapa dia tak menunjukkan batang hidungnya sedikitpun? Sungguh gila! Benar-Benar gila! Apa dia sudah tak punya akal pikiran? Apa dia benar-benar tak peduli? Apa yang dikatakan Gavin tentangnya itu benar?”


Merry kesal, ia memerintahkan para pembantunya untuk segera membersihkan kamar Vanny. Setelah itu, ia bergegas menuju kamarnya dan melihat Jordan. Ingin rasanya Merry memarahi Jordan kali ini, karena Merry terpancing dengan ucapan Gavin. Saat ia melihat ke kamar, benar saja, Jordan malah trngah asyik memainkan ponselnya.


Entah apa yang Jordan lakukan dengan ponselnya, hanya saja Merry geram, Jordan tak berniat bangun sekalipun untuk melihat anaknya yang tengah terluka. Ada yang aneh, karena setahu Dokter, Jordan bisa berjalan, kenapa ia hanya berdiam diri di termpat tidur seakan-akan dirinya tengah lumpuh dan tak berdaya?


“Kenapa kau diam saja di sini? Kenapa kau seakan acuh melihat Vanny terluka seperti itu? Apa benar, kau yang menjai dalang dari semua ini? Aku curiga, melihatmu yang santai dan tak cemas sedikitpun. Apa kau memang ada dibalik semua kegilaan ini, ha?” sentak Merry amat marah.


Jordan menatap Merry tanpa berkedip. Baru kali ini Merry terlihat marah padanya. Biasanya, sesering kali pun Jordan melakukankesalahan, Meryr tak akan banyak bicara. IA hanya selalu menutup mulutnya demi jalan terbaik untuk keharmonisan keluarga mereka. Berbeda dengan kali ini, Merry seakan tak rela, jika Vanny terluka, dan ia juga malah menyalahkan Jordan, yang menyebut bahwa Jordan adalah dalang dibalik kejadian ini.


“Kau menuduhku?” tanya Jordan sambil menyandarkan tubuhnya pada dipan ranjang mewah itu.


“Jika bukan kau, kenapa kau tak khawatir sama sekali pada anak kita? Kenapa juga kau diam saja? Bukankah Gilang dan Lay adalah anak buahmu? Harusnya kau berpikir! Jika kau bukan dalang dari masalah ini, kau harus benar-benar menghukum sekretaris-sekretarismu yang biadab itu!”


Baru kali ini, Merry memberanikan diri menyerang suaminya sendiri. Padahal, sebelumnya Merry tak pernah berbuat seperti itu. Semua ini jelas karena Vannya, Merry tak rela jika Vanny disakiti seperti itu. Vanny adalah anak kesayangannya dan Merry tak mungkin membiarkan Vanny diperlakukan seperti itu.


Beruntungnya ada Gavin, yang siap siaga menangani adiknya dan melakukan pertolongan cepat untuk Vanny. Tapi Jordan? Apa yang dilakukannya? Ia malah santai dan berdiam diri di kamar sambil memainkan ponselnya. Jordan benar-benar gila, Merry sangat marah kali ini.


“Kau tak menyayangi anakmu, ha? Kenapa kau acuh sekali pada Vanny?” Merry berteriak lagi karena tak mendapat jawaban dari Jordan.


Jordan membenarkan posisi duduk menyandarnya, “Apa Vanny memang anakku? Kenapa aku harus mengkhawatirkan anak yang bukan darah dagingku sendiri?”


DEG. Ucapan Jordan benar-benar membuat dunia seakan runtuh. Jantung Merry seketika jadi sesak mendengar Jordan berkata seperti itu. Tak pernah Merry sangka, jika kata-kata yang ia takutkan selama ini, akan keluar juga dari mulut suami sah nya itu.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2