
Kenapa perasaanku jadi hangat seperti ini? Kenapa berada didekapannya membuat aku nyaman? Oh Tuhan, benarkah dia pria yang layak untuk aku cintai? Apa selama ini aku telah salah karena mengabaikan suamiku sendiri demi ego-ku yang tak mendasar ini? Ucap Ellea dalam hati, saat pelukan Gavin masih terasa di tubuhnya.
Gavin masih enggan melepaskan pelukan hangat ini. Rasanya, Gavin seperti melayang di angkasa, karena Ellea begitu lembut dan tak sekasar biasanya. Ellea tengah rapuh, hatinya hancur, beruntungnya Gavin mampu menenangkannya dan membuat Ellea nyaman dalam pelukannya.
Sepertinya, ini pelukan pertama mereka, yang benar-benar didasari oleh rasa nyaman dan hangat. Gavin bersyukur, karena Ellea kini berubah. Ia tak keras kepala seperti biasanya. Bahkan, Ellea akan mencabut laporan tentang Jordan, karena Ellea sadar, semua ini bukan murni karena kesalahan Jordan.
"Kau tak harus melakukannya. Kita cari jalan damai saja. Aku sudah menerima semua ini. Tak apa, Gavin. Aku bersungguh-sungguh akan semua ucapanku."
"Tidak Ellea, aku sudah berjanji padamu, aku akan menyelesaikan semuanya. Bukankah aku menepati janjiku? Bukankah kau dulu tak sabar dan selalu kesal padaku? Aku tak peduli kau marah dan tak percaya padaku. Hanya saja, aku memang selalu memikirkan semuanya dengan sangat matang. Aku harus benar-benar jeli dalam mengusut semuanya. Dan sekarang, semuanya telah terbongkar, aku hanya berharap, kau tak menilai buruk lagi padaku, Karena aku, tak seburuk yang kau pikirkan." ucap Gavin.
"Maaf, aku pernah bertindak ceroboh kala itu. Tahukah kau kenapa aku tak memercayaimu? Karena aku sadar, kau adalah anak Jordan. Dan aku sempat yakin, jika kau pasti lebih membela Papamu. Apalagi, kau terkesan lambat dan tak bertindak. Karena itulah, aku mencoba memercayai Aaron. Eh, tahu-tahu, dia tetap saja sama denganmu!"
"Aku bertindak lambat, karena aku belum yakin sepenuhnya jika Papa melakukan semua itu karena harta. Kau tahu? Papaku tak gila harta. Karena itulah, aku sangat heran, jika alasan Papaku menghancurkan keluargamu karena uang. Itu jelas tak mungkin, aku beruntung bertemu Samuel, karena dia membantuku dalam segala hal. Akhirnya, rahasia besar ini mampu aku pecahkan." ucap Gavin.
Ellea mengangguk, ia mengerti dengan apa yang dikatakan Gavin. Kini, hati Ellea tak sekeras dulu, ia mulai lunak karena Gavin benar-benar membuktikan bahwa ia mampu membongkar semuanya.
"Terima kasih, terima kasih atas semua kerja kerasmu." ucap Ellea.
"Sama-Sama. Aku ingin ucapan terima kasih yang berbeda, Ellea," ujar Gavin.
"Apa itu?"
"Give me a sweet kiss, Ellea ..." Pinta Gavin sembari merayu Ellea.
(Beri aku ciuman manis, Ellea)
Deg. Jantung Ellea berdenyut sangat kencang. Permintaan Gavin kali ini benar-benar membuatnya bingung. Ia canggung sekali jika harus mencium Gavin. Tapi, sampai kapan Ellea akan menolak? Sampai kapan ia akan jual mahal pada suaminya sendiri?
Sebenarnya, bukan soal jual mahal atau apa, tapi karena Ellea benar-benar belum siap. Ia malu pada Gavin. Rasanya sangat geli, jika Ellea harus melakukan hal itu. Karena apa? Karena Ellea selalu terbayang akan masa lalu mereka, masa lalu yang panas dan jika mengingatnya, membuat Ellea bergidik ngeri.
"Kau tak mau?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Ha? A-apa?"
"Jangan pura-pura polos, kau sudah dewasa, Ellea."
Ellea menyunggingkan bibirnya. Gavin mulai menyebalkan jika ia sudah menjurus pada hal-hal seperti itu. Mau tak mau, Ellea harus menuruti keinginan Gavin, agar mulutnya diam dan tak berbicara terus.
Ellea mendekati pipi Gavin, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan. Wajahnya mendekat pada wajah Gavin. Saat mereka saling berhadapan, sebuah ciuman mesra, mendarat di pipi Gavin.
Ellea menciumnya dengan gugup dan jantunf yang berdebar. Pipi Gavin sangat lembut, terasa sekali sentuhan hangat itu menempel di bibir indah Ellea. Gavin tersenyum bahagia. Secepat kilat, ia membalikkan tubuh Ellea, agar berada di hadapannya lagi.
Gavin melakukan ciuman lagi pada Ellea. Gavin melahap bibir manis Ellea dengan sentuhan penuh cinta. Sebuah ciuman kerinduan, akan hasrat yang selama ini tertahan. Ciuman itu terus dimainkannya, karena Gavin sudah seperti singa yang lapar sejak lama.
Ellea pasrah, ia mencoba mengikuti ritme yang Gavin lakukan. Bibir mereka saling bertaut dan berpadu. Walau sebenarnya, Ellea hampir kesulitan menarik napasnya, karena Gavin terus melahap habis bibirnya. Setelah ciuman mesra itu dituntaskan, Gavin melepaskan ciumannya, dan mencium kening Ellea dengan hangat.
"Terima kasih, karena kau tidak menolak. Semoga ini awal dari kebahagiaan kita nanti, Ellea. Kuharap, aku bisa menagih janjiku, sebagai suamimu yang sesungguhnya."
Ellea hanya terdiam, ia tak mampu membalas ucapan Gavin. Mulutnya seakan dikunci oleh Gavin, karena ciuman mesra itu. Malu, benar-benar malu. Ellea merasa bahwa ini adalah aqal daei kisah cinta yang sesungguhnya. Suatu hari nanti, Gavin pasti akan benar-benar menagih janjinya.
Benarkah Gavin adalah pria yang tepat untukku? Batin Ellea.
"Aku harus pergi. Ada hal penting yang harus aku urus. Apa kau bisa segera menemui Vanny? Dia sedang bersama anak kita. Sepertinya, Vanny sudah mulai bisa menerima Daniel, Ellea." ucap Gavin.
"Ya, aku mengerti. Tapi, awalnya aku akan menemui Mamamu dulu, aku harus melihat kondisinya, Gavin."
"Biarkan saja Mama. Si rakus Helda sudah ada di sana dan menemaninya. Kau jangan ke sana, bisa habis kau di maki-maki mereka. Cukup tunggu saja adikku, aku takkan membiarkan orang asing masuk ke ruangan ..., adik kita." jelas Gavin.
Ya, Vanny memang adik Gavin dan juga Ellea. Kehidupan yang sangat rumit, namun inilah adanya. Fakta yang mencengangkan, masalah besar yang memilukan, yang harus mereka lewati, demi sebuah kebahagiaan yang tertunda selama ini.
"Kau mau ke mana?" tanya Ellea.
"Aku akan bertemu Papaku,"
__ADS_1
"T-tapi, untuk apa?" Ellea mulai khawatir.
"Tak akan ada apa-apa. Dia yang memintaku untuk bertemu. Dia bilang, ada hal penting, yang harus aku dengar. Aku pun, membawa hal penting untuk dia dengar." ucap Gavin.
"Aku takut, aku takut terjadi sesuatu padamu," Ellea menunduk lesu.
Gavin mendekat, ia menatap wajah Ellea yang menunduk, Gavin meraih dagu manis Ellea, menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ibu muda ini ternyata mulai mengkhawatirkan Gavin. Mendengar Ellea mengatakan kata 'takut' membuat Gavin malah merasa bahagia.
"Rupanya kau mulai mengkhawatirkanku, Ellea. Apa kau takut, sesuatu terjadi padaku? Ku mulai takut kehilanganku, iya? Tuhan, terima kasih ... aku bersyukur, karena istriku kini mulai memperhatikanku. Ellea, demi kau, aku tak akan pernah tersakiti sedikitpun. Percayalah padaku ..., karena aku, masih ingin menjalani kehidupan yang bahagia ini bersamamu dan juga Daniel." Gavin memegang tangan Ellea dengan hangat.
"Aku percaya padamu." hanya itu yang mampu Ellea katakan.
Diraihnya tangan Ellea, lalu Gavin mencium tangan lembut itu dengan penuh kehangatan. Perbuatan Gavin, bak raja yang mencintai ratunya. Tapi, ada yang kosong di jari Ellea, dan itu ...
"Kenapa tak ada cincin di sini?" Gavin merasa aneh.
"A-aku, aku ..." Ellea gugup, karena ia lupa, akan cincin pernikahannya yang entah ada di mana.
"Kau menjualnya?"
Ellea menggeleng.
"Lalu?"
"A-aku, aku lupa, Gavin ..."
"Setelah semua ini selesai, kita harus membeli cincin lagi! Kau tak bisa seperti ini Ellea, kau harus memakai cincin! Enak saja tak ada cincin yang melingkar di jarimu! Bagaimana jika ada pria nakal yang mengira bahwa dirimu belum menikah! Ini tak bisa dibiarkan."
"Maaf, aku melupakannya. Aku akan mencarinya nanti," jawab Ellea.
"Tak usah dipikirkan, kita beli saja yang baru. Ellea, aku sudah tak ada waktu, aku harus segera bertemu dengan Papa. Jaga dirimu baik-baim ya, jangan lupa makan dan ajak anak kita bermain." pinta Gavin.
__ADS_1
Kenapa aku merasa tak enak karena Gavin akan bertemu dengan Papanya? Apa yang akan Jordan lakukan? Apa Jordan akan menyakiti Gavin? Tuhan, kenapa perasaanku jadi terus mengkhawatirkannya? Apa aku mulai mencintainya?
*Bersambung*