
"Semua bersiap, Tuan Jordan Alexander akan segera memasuki kawasan perusahaan. Diharapkan semuanya berada di posisi masing-masing. Lakukan yang terbaik, untuk yang terbaik!" suara di monitor kecil itu memenuhi tiap masing-masing yang memegangnya.
"Diharapkan semua tak berlalu-lalang di lobi utama ataupun sekitar lift. Tuan Jordan Alexander telah tiba di kawasan Louvre gallery,"
Semua mematuhi aturan. Jika ada Jordan Alexander, semua pasti mematuhi dan tunduk kepadanya. Jordan datang dengan beberapa bawahannya. Ia selalu datang bersama dengan orang-orangnya. Ia mulai memasuki kawasan perusahaan, dan semua karyawan, baik security, maupun resepsionis, tunduk dan membungkukkan badan padanya.
Jordan terlihat berdiri di lobi utama. Ia tengah melihat ke semua penjuru, sambil tersenyum pada beberapa karyawan yang ada. Ia melambaikan tangannya, dan bersikap ramah hari ini. Dari kejauhan, Aaron dan beberapa anak buahnya juga menyambut kedatangan Jordan Alexander.
Aaron dan jajarannya membungkukkan badannya, sebagai tanda menghargai kedatangan Jordan Alexander. Beberapa saat kemudian, Jordan Alexander mulai berjalan kedepan. Beberapa saat langkahnya mulai teratur, tiba-tiba ....
“Dorr ... Dorr ...” Terdengar suara tembakan yang mematikan. Tembakan itu nyata mengenai bagian tubuh Jordan Alexander. Jordan terjatuh, ia terkapar karena peluru tembakan mengenai tubuhnya. Sontak saja semua menjerit, beberapa karyawan mulai bersembunyi melindungi diri masing-masing.
Aaron dan beberapa pengawalnya teramat kaget dan tak percaya, mereka segera berlari mengenai Jordan yang tertembak. Aaron heran, mengapa keadaan ini tak bisa ia atasi. Aaron merasa telah mengerjakan tugasnya dengan baik. Ia tak tahu, kenapa ia bisa kecolongan seperti ini.
“Brengsek! Kau melukai Tuan kami!” Kevin marah besar.
“Siapkan ambulans segera. Kita harus segera menyelamatkan Tuan. Kosongkan semua jadwal Dokter pribadi kita!” Perintah Lay.
Beberapa anak Buah Jordan mulai menggotong Jordan yang tertembak. Suasana perusahaa jadi tak kondusif. Aaron telah meminta para petugas keamanan untuk mencari sumber tembakan dan kemungkinan orang-orang yang akan jadi tersangkanya.
Saat Jordan telah dibawa kedalam ambulans, Aaron baru teringat, jika dia meninggalkan Daniel di tempat lukisan. Aaron juga lupa, jika ia tak meminta seseorang untuk menjaga Daniel. Aaron benar-benar kebingungan. Ia tak peduli masalah besar ini menimpa dirinya. Aaron masih tak bisa berpikir jernih tentang semua ini.
Ini betul-betul masalah besar, belum lagi Aaron harus mencari dalang dibalik kasus ini, karena Aaron lah yang bertanggung jawab atas perusahaan jika Gavin tak ada. Tapi, untuk saat ini, ia tak memedulikan apapun, ia lebih memilih untuk menenangkan Daniel. Karena suara tembakan itu, pasti terdengar juga oleh Daniel.
__ADS_1
Aaron berlari menuju ruang melukis. Sesampainya di ruang melukis, Aaron sangat kaget, jantungnya seakan berhenti, karena Daniel tak ada di ruangan itu. Aaron mencoba untuk tetap berpikir positif, ia berharap jika Daniel ada yang menjaganya. Sayangnya, ruang melukis ini adalah ruang melukis pribadi milik Gavin. Tak sembarang orang bisa masuk dan berada di sini.
“Oh Tuhan, aku benar-benar dalam masalah besar. Aku harus mengumumkan pada semua karyawan, mengenai keberadaan Daniel. Semoga saja ada yang menjaga Danie dan melindunginya. Jika tidak, aku menduga bahawa teror ini ada hubungannya dengan Daniel, dan menjadikan Tuan Jordan sebagai korban,” Aaron berucap sendiri.
Suasana perusahaan makin kacau. Ancaman teror telah berakhir, karena diduga sasaran telah kena, yaitu Jordan Alexander. Polisi telah melakukan penyidikan, dan memberi garis kuning, di mana si penembak melakukan tembakannya.
Aaron pun melaporkan Daniel yang hilang, tapi polisi seakan tak mendengar, polisi seakan lebih aware pada kasus penembakan Jordan Alexander. Aaron yakin, ini ada yang tak beres. Ia mencoba untuk menghubungi Gavin, ia benar-benar kecolongan kali ini. Aaron tak menduga, jika teror seperti ini akan terjadi, dan kenapa Daniel juga harus terlibat?
.......
Saat ini, Ellea masih diselimuti amarah yang begitu hebat. Ia akan pergi, ia ingin meninggalkan Gavin, tapi Gavin terus memeluknya dan menahannya. Tiba-tiba saja, saat suasana Ellea sudah tenang dan mencair, ia merasa bahwa ponselnya bergetar, dan ada sebuah panggilan masuk.
Ellea membuka ponsel di tas nya, ia melihat nomor Aaron memenuhi layar ponselnya. Ellea menatap Gavin, untuk apa Aaron menghubunginya? Kenapa tak menghubungi Gavin saja?
“Oh Tuhan, aku melupakan ponselku. Sepertinya tertinggal di mobil. Mungkin saja tak ada jaringan, jadi dia meneleponmu. Aaron sedang bersama Daniel. Sini, biarkan aku yang mengangkatnya.” Pinta Gavin.
Gavin meraih ponsel Ellea, ia mengangkat telepon dari Gavin secepat kilat. Ini benar-benar kecolongan terbesar Aaron selama bekerja dengan Gavin. Biasanya, Aaron selalu mengantisipasi an mengetahui semua kejadian. Namun, kali ini ia tak siap, karena merasa keadaan baik-baik saja.
“Halo, ada apa? Apa Daniel merengek ingin bertemu denganku?” tanya Gavin di ponsel Ellea.
“Bos, maafkan aku. Silakan kau pukul dan bunuh aku sekarang juga. Aku benar-benar tak mengantisipasi hal ini terjadi. Ada insiden teror di perusahaan, dan dia mengincar Papa Anda, dia terkena luka tembak. Dia baru datang ke perusahaan, dan insiden itu terjadi. Dan anakmu ...” berat sekali Aaron mengatakannya.
“Apa? Kenapa? Anakku kenapa?”
__ADS_1
“Daniel menghilang saat aku mengurusi kedatangan Tuan Jordan. Kita harus bergerak cepat, maafkan atas keteledoranku ini, Bos,” Aaron menguatkan dirinya.
“Brengs3k!” Gavin mematikan ponselnya. Ia menatap Ellea tanpa henti.
Kenapa juga Gavin bisa tak menyadari hal ini akan terjadi. Ia masih harus mengumpulkan banyak bukti untuk memperkuat keputusannya. Gavin menatap Ellea, saat ini, ia harus meyakinkan Ellea, mengenai apa yang terjadi. Hidup dengan Gavin, seperti inilah resikonya. Kini, perang baru dimulai, dan Gavin ... ia tak akan berdiam diri mengusut tuntas semua ini.
“Maafkan aku. Aku lalai menjaga semua ini.”
“Apa maksudmu?” Ellea tak mengerti.
“Kancingkan jas itu, dan kita pergi sekarang. Ada yang ingin bermain-main denganku. Ayo, kita harus pergi sekarang!”
“Apa yang kau katakan? Katakan padaku dengan jelas!” Ellea masih tak paham.
“Sudah kubilang, kau jangan gegabah. Ini baru awal, Ellea. Anak kita, diculik! Dan kau tau, sepertinya ini ada hubungannya karena kau mengancam Helda dari Winn Grup.” Ujar Gavin.
“Apa? Kau gila! Tak mungkin! Kenapa kau membiarkan anakku diculik? Sementara kau malah datang ke sini? Kenapa tadi kau tak membawanya ke sini, ha? Dasar brengsek! Aku benar-benar menyesal hidup denganmu!” Air mata Ellea tak tertahankan. Ia menangis, mendengar kabar mengerikan itu.
“Maki aku, apapun itu! Ini memang kesalahanku. Ayo, kita pergi. Aku sudah menghubungi intel, untuk melacak keberadaan Daniel. Dia pasti akan segera ditemukan. Maafkan aku, Ellea. Maafkan aku,” Gavin merasa bersalah pada Ellea.
Ellea hanya menangis. Ia terluka, hatinya hancur-sehancurnya. Gavin tak ingin Ellea larut dalam air mata. Semua ini harus segera diatasi. Gavin tak boleh lengah lagi, ancaman demi ancaman, mulai datang. Kini, konflik hidupnya dimulai, dan ini ... terkait anaknya juga.
Sebenarnya, siapa dalang dibalik semua ini? Jika Papa yang melakukannya, tak mungkin Papa juga ditembak oleh orang yang meneror itu? Lalu, kenapa juga Papa ke perusahaan? Kenapa sasarannya Papa? Kenapa Papa dan Daniel menjadi korban dalam waktu yang bersamaan? Tuhan, berikan jawaban yang jelas untukku, agar aku mudah untuk melakukan tindakan. Ucap Gavin dalam hati, ia terus memeluk Ellea, dan berharap, jika Ellea bisa tenang.
__ADS_1
*Bersambung*