
"Siapa? Siapa yang menculik anakku, ha?" Ellea kaget bukan main.
Gavin menatap Ellea tanpa berkedip. Mau tak mau, Gavin harus mengatakan yang sesungguhnya. Walau pahit, Gavin harus mengatakannya sekarang juga. Ia benar-benar marah dan sakit hati. Tak menyangka, jika Eric akan licik seperti itu.
"Eric Michael. Menurut informasi, mobil itu berhenti di rumah mewah keluarga Michael, dan Daniel pasti ada di sana sekarang! Entah apa yang si bajingan Eric inginkan. Kenapa dia harus menculik anakku!" Gavin sangat-sangat geram.
"Kenapa Eric? Kau yakin Eric yang melakukannya? Aku ragu, sepertinya tak mungkin Eric menculik Daniel!" ujar Ellea.
"Kau selalu saja membela si brengsek itu. Biar kubuktikan sekarang, semua kemungkinan itu!" Gavin sedikit kesal.
“Aku tahu siapa Eric. Dia tak pernah memaksakan kehendaknya jika dia sudah kalah. Dia tak akan pernah melakukan cara licik untuk menggapai semua keinginannya,” ujar Ellea terkesan membela Eric.
“Kau masih mencintainya? Karena itu kau membelanya?´Gavin jadi emosi.
“Kau gila! Aku tak mungkin seperti itu. Aku bukan wanita murahan yang menginginkan belas kasihan laki-laki. Jika aku msih mencintainya, sejak dulu pertemuanku dengannya, mungkin aku sudah menerimanya dan mengulang cinta lagi dengannya.” Ellea jadi terbawa emosi.
“Tapi, ucapanmu seakan membela dia, dan kau masih peduli padanya. Padahal, jelas-jelas bukti mengatakan bahwa mobil itu membawa Daniel ke rumah Eric. Apa aku salah jika mengira bahwa eric asdalah dalang dari semua ini?” ucap Gavin berapi-api.
“Aku hanya berpikir, jika Eric tak mungkin melakukan hal itu. Jika kenyataannya berbeda dengan yang aku pikirkan, maka aku akan membuat Eric dihukum seberat-beratnya. Aku tak membelanya, aku hanya bisa melihat dari sikapnya sejak dulu! Kau malah mengajakku ribut, bukannya cepat membawaku pergi menemui anakku! Semua ini juga karena kehadiranmu, karena kau datang dan kembali, hidupku rumit. Hidup anakku pun tak aman. Aku memang pantas, untuk membencimu, juga keluargamu!” pekik Ellea yang teramat kesal pada Gavin.
Gavin terdiam. Ia tak membalas ucapan Ellea. Seakan tamparan keras bagi Gavin karena ucapan Ellea barusan. Bagaimana tidak? Ellea brkata, ia pantas membencinya, dan keluarganya. Image Gavin dan keluaraganya telah buruk di mata Ellea. Gavin benar-benar pusing memikirkan semua ini.
Masalah Papanya dengan Ellea baru saja ia ketahui, kini masalah baru telah memenuhi pikirannya. Ada yang bermain-main dengan Daniel, anaknya. Gavin berjanji, tak kan berdiam diri, jika ia tahu yang sebenarnya. Apalagi, Ellea bersikeras seakan membela Eric. Mendengar hal itu, Gavin merasa kesal dan emosi. Tapi, Gavin yakin, Eric tak akan macam-macam pada Daniel.
__ADS_1
Sepertinya, Eric hanya ingin karya istimewa dari tangan Danie, aku yakin itu. Aku yakin, Eric menginginkan anakku. Lihat saja, Eric ... kau bermain-main dengan anakku. Maka, aku pun akan mempermainkanmu, lebih dari apa yangkau lakukan pada anakku. Batin Gavin sambil melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesampainya di kediaman Eric Michael, mobil Gavin dicegat dan tak diperkenankan masuk kedalam rumah besar itu. Gavin mengamuk, karena ia yakin, anaknya ada di dalam rumah itu. Gavin tak bisa bersabar, ia terus mencaci maki security dan beberapa keamanan lainnya.
Gavin pun keluar dari mobilnya. Ia benar-benar tak bisa menahan emosi dan kekesalannya pada penjaga rumah Eric Michael. Sangat menyebalkan, karena mereka sengaja, seakan menahan Gavin untuk tak bisa masuk kedalam rumah besar itu.
"Apa kau tak tahu, siapa aku? Aku lebih berkuasa dari pemilik rumah ini! Kalian tak seharusnya menahanku, karena aku lebih memiliki kekuasaan tinggu di manapun aku berada!" Gavin sudah tak bisa berpikir jernih.
"Maaf Tuan, memang kami akui ... Anda begitu terkenal dan hebat. Siapapun pasti segan pada Anda. Tapi, perlu Anda tahu ... kekuasaan Anda hanya berlaku di tempat lain, tapi tidak di tempat kami. Anda bisa melakukan apapun di manapun Anda berada. Tapi di sini, Anda tak lebih tinggi derajatnya dari atasan kami. Anda hanya tamu, mohon untuk bersikap sopan, selagi menunggu keputusan dari Tuan Eric." tegas kepala security.
"Kau terlalu banyak teori! Anakku ada di dalam, Eric menculik anakku! Aku tak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja! Jangan menghalangiku, atau kau akan lihat, pekerjaanmu akan hilang dalam sekejap jika kau tak menurut padaku!” tegas Gavin terus mencecar pegawai Eric.
Ellea melihat kejadian Gavin yang selalu menggunakan emosi dalam menyelesaikan masalah. Memaluka, batin Ellea. Gavin bisa bisa berkuasa di tempat ia memiliki kuasa, tapi di tempat orang lain, seharusnya Gavin sedikit memiliki rasa hormat dan tahu diri. Ellea pun berinisiatif untuk keluar dari mobil, dan mencoba berinteraksi dengan kepala keamanan di rumah Eric.
“Mereka membangkang, aku tak suka pada orang pembangkang yang banyak mulut seperti mereka!” tegas Gavin berapi-api.
“Apa bedanya kau dengan mereka? Kau pun begitu keras kepala dan banyak bicara! Kau bisa mengatai orang lain, tapi kau tak berkaca pada dirimu sendiri!” sungut Ellea yang kesal pada Gavin.
Kekesalan Ellea tak terbendung lagi. Ellea menyayangkan Gavin yang tak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Ellea tahu, jika Daniel diculik. Namun, mendengar Daniel ada bersama Eric, membuat Ellea sedikit tenang dan merasa, bahwa Daniel baik-baik saja. Gavin terdiam atas ucapan pedas Ellea padanya. Tak Gavin sangka, Ellea bisa seperti itu padanya. Hati Gavin sakit, melihat Ellea yang mulai kasar padanya.
Entah mengapa, Ellea tak bisa menyalahkan Eric sebagai tersangka atas penculikan Daniel. Ellea tahu, siapa Eric. Tak mungkin Eric melakuka hal keji seperti itu. Ellea justru tetap fokus pada pamannya, dan Jordan. Ellea yakin, jika Jordan lah penyebab semua ini. Jika diingat, Jordan dan Donny pamannya, telah mengetahui, bahwa Ellea sengaja masuk kedalam keluarga Alexander.
“Pak, anak saya ada di dalam rumah ini. Saya pribadi, mengenal Eric Michael sejak dulu. Jika kalian mengizinkan, maka tolong katakan Pada Eric, jika saya, Elleana Patrice, tengah menunggunya di gerbang utama. Saya sangat berharap, bisa bertemu dengan Eric. Anak saya, ada di rumah besar ini. Saya mohon, kerja samanya,” Ellea benar-benar ingin menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin.
__ADS_1
Para security saling menatap satu sama lain. Mereka tahu, jika nama Elleana sejak dulu sering diucapkan oleh Eric. Salah satu security menggunakan monitor kecilnya, untuk mengatakan sesuatu pada orang di dalam. Ellea bersyukur, mereka mau juga mendengarkan keluhannya.
“Tunggu sebentar Nona, kami akan menghubungkannya dengan sekretaris Gilang.” Ucap salah satu Security.
Ellea menatap Gavin, seakan mengisyaratkan, jika dengan kepala dingin, semua masalah akan ringan untuk dilalui. Itulah kenapa, Ellea diam-diam untuk mengusut tuntas masalah Jordan dan Donny, karena jika banyak mulut seperti ini, urusannya bisa kacau balau.
Akhirnya, mereka membukakan pintu untuk Ellea dan Gavin. Gavin pun seketika berlari karena saking tak sabarnya ingin melihat Daniel dengan cepat. Ellea sudah memeringatkan Gavin, agar tak mudah tersulut emosi saat bertemu dengan Eric, namun nyatanya, Gavin tak sedikitpun mendengar ucapan Ellea.
Daniel sedang duduk di pinggir kolam renang bersama Eric. Terlihat, bahwa Daniel sedang membuka-buka album foto lama milik Eric. Gavin yang mulai melihat Daniel berada di dekat kolam renang, secepat kilat segera menghambur dan berlari kearah Daniel. Gavi menatap Eric dengan tatapan marah dan benci. Hal tak terduga pun terjadi, Gavin menarik kerah baju Eric, dan menonjok Eric dengan tangan kanannya, hingga Eric tersungkur jatuh di pinggir kolam renang.
“Astaga, GAVIN!” Ellea meneriaki Gavin, karena kaget dengan apa yang Gavin lakukan.
Seketika itu pula, secepat kilat sekretaris Eric menolong Eric, dan dua anak buah lainnya memegang Gavin agar tak lagi melakukan hal diluar batas.
“Dasar brengsek! Kenapa kau menculik anakku, hah! Berani-beraninya kau menyentuh dia, dasar bajingan!” Gavin terus memaki Eric.
Ellea memeluk Daniel, menutup mata dan telinga anaknya, agar tak mendengar dan juga melihat, perlakuan Gavin sebagai seorang Papanya. Jelas, perilaku Gavin adalah perilaku tak terpuji, dan Ellea tak ingin, Daniel mengetahuinya. Walau telinga Daniel tertutup tangan Ellea, tapi ia bisa mendengar, apa yang Gavin ucapkan pada Eric. Daniel pun menatap Gavin.
“Daddy ... Uncle Eric tak jahat, dia tak menculikku. Aku yang datang ke sini menemui Uncle Eric. Juga, Uncle Eric tak akan mungkin menyakiti aku dan Mommy, karena ... Uncle Eric sangat-sangat menyayangi Mommy. Aku bisa tahu, karena beberapa foto yang Uncle perlihatkan padaku. Terlihat sekali, bahwa Uncle, begitu menyayangi Mommy ...” Daniel melihat album foto lama yang tergeletak di meja.
Astaga, apa yang Daniel katakan? Dia membuat suasana semakin keruh saja. Batin Ellea yang kebingungan melihat kondisi ini. Ellea menghembuskan napasnya berkali-kali, masalahnya semakin rumit saja, karena kini ... Eric pasti ikut campur juga.
*Bersambung*
__ADS_1