Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 55. Forgive me


__ADS_3

Pelukan itu benar-benar erat dan hangat. Gavin memang belum bisa melakukan apapun. Tapi, ia tetap berharap, semoga Ellea mampu mengerti kondisinya saat ini. Tak mudah bagi Gavin, untuk bisa menghaapi situasi berat ini.


Satu sisi, ada keluarga yang selama ini menemani dan mendukungnya. Di satu sisi, ada Ellea yang membutuhkan bantuannya. Walau Ellea tak pernah meminta bantuannya, tapi Gavin merasa, bahwa sebenarnya Ellea sangat membutuhkan Gavin, hanya saja ia tak mampu mengatakannya, karena tahu, jika Gavin tak mungkin ada di pihaknya.


Apakah aku harus percaya ucapannya? Apa dia benar-benar akan membantuku? Aku tak yakin, Tuhan ..., aku tahu, jika dia sangat menyayangi Jordan Alexander. Inilah alasanku tak ingin menggunakan hati untuk pernikahan ini. Aku takut, semuanya akan berantakan dan menyebabkan aku ataupun Gavin saling bertengkar hebat. Ucap Ellea dalam hati.


Pelukan hangat itu dilepaskan oleh Gavin secara perlahan-lahan. Seakan Ellea tak rela, jika pelukan itu terlepas begitu saja. Hangat, sangat hangat ... tapi, Ellea tak boleh terlena dengan semuanya. Ia takut, semua ini tak akan lama. Ellea masih meragukan Gavin. Ia masih yakin, bahwa tak mungkin Gavin akan memercayainya seratus persen.


“Kita pulang sekarang, nanti malam aku akan jadwalkan pertemuan kita dengan Dokter Will secara pribadi,” tegas Gavin.


Ellea mengangguk, “Baik, aku takut Daniel terbangun.”


Ellea dan Gavin bergegas menuju parkiran utama RS mewah ini. Satu masalah baru belum terselesaikan. Yaitu perihal pemecatan Aaron. Perihal pemecatan ini, Aaron entah sudah tahu atau belum, karena sejak tadi Aaron tengan menunggu Daniel yang terlelap di mobil.


Sesampainya di depan mobil, ternyata Aaron dan Daniel tengah duduk berdua di depan mobil. Daniel terlihat tengah memakan sebuah burger. Gavin tak menyangka, ternyata Daniel tengah terbangun. Gavin dan Ellea pun bergegas menuju mereka berdua.


Selain menemui Daniel, tujuan Gavin juga untuk mengatakan kabar buruk tentang pemecatan Aaron. Namun, tak mungkin Gavin mengatakannya di sini. Ia harus berbicara empat mata dengan Aaron nanti sesampainya di rumah.


Aaron terlihat tak ada beban. Ia sepertinya belum tahu perihal pemecatan sepihak yang dilakukan oleh sang Ibunda, Merry Alexander. Gavin sudah gatal, ingin segera memberi tahu mengenai hal ini, karena Gavin tak mungkin membiarkan Aaron pergi dari rumah ini, karena Gavin sangat memercayai Aaron. Kinerja Aaron pun sangat terpakai oleh Gavin. Pemecatan itu? Benar-benar menyebalkan.


Menapakkan kakinya di rumah besar ini lagi, membuat Ellea kesal dan marah. Rasanya, jika Ellea mampu, ia ingin menghancurkan seluruh bangunan ini dengan semua isi-isinya. Bangunan mewah yang terdiri dari uang hasil merebut perusahaan milik orang lain.


Sesampainya di rumah Gavin, Daniel dibawa oleh pengasuhnya untuk segera mandi dan makan. Elle pun diminta Gavin untuk beristirahat, karena Gavin akan berbicara empat mata dengan Aaron. Ellea menurut, ia pun berlalu tanpa menjawab ucapan Gavin. Selepas Ellea dan Daniel berlalu, Gavin mengajak Aaron untuk ke halaman belakang rumah mewahnya.


Gavin harus membuat strategi dengan Aaron. Ia tak rela sedikitpun, jika Aaron harus angkat kaki dari rumah ini. Aaron adalah saksi bisu perjuangannya dalam perusahaan. Aaron juga lah yang menjadi motivatornya selama ini. Sebenarnya, Gavin tak yakin, jika Merry memecat Aaron atas inisiatifnya sendiri.

__ADS_1


Selama Gavin menjalankan perusahaan, Merry sang Ibunda tak pernah ikut campur atau sedikitpun turun tangan dalam perusahaan. Anehnya, kenapa saat ini, sebelum papanya sadar, Merry malah mengatakan ingin memecat Aaron? Apa semua ini bukan murni keputusan Merry? Gavin curiga, ada dalang dibalik semua ini, yang menyebabkan Merry meminta memecat Aaon saat ini juga.


Mereka berdua, duduk di sebuah taman halaman belakang rumah Gavin. Gavin berat mengatakannya, namun mau tak mau, Aaron harus mengetahui semua ini. Aaron terlihat sibuk dengan ponselnya. Entah sedang apa dirinya, berkali-kali mengetik sebuah pesan dalam ponselnya.


“Aaron, aku akan berbicara serius padamu,” ucap Gavin.


“Ah, i-ia Bos. Sorry, aku tengah membalas sebuah pesan barusan.” Jawab Aaron terus memasukkan ponsel kedalam saku celananya.


“Tak apa. Kuharap, kau dengar ucapanku saat ini. Begini, Aaron ... kau jangan kecewa mendengar ucapanku saat ini.” Ujar Gavin.


Aaron menatap Gavin, “Apa semua ini perihal pemecatanku, Bos?”


Deg. Gavin tersentak. Ia tak sangka, jika Aaron akan menebak semuanya dan mengetahui perihal pemecatannya. Gavin terpaksa, harus mengatakan semuanya pada Aaron, karena ternyata Aaron sudah mengetahuinya.


“Kau tahu dari mana?” tanya gavin penasaran.


“Aku tak ingin kau pergi. Aku ingin kau selalu bekerja untukku, Aaron! Kenapa kau malah pasrah begini? Aku tak bisa membiarkanmu pergi dari perusahaan,” Gavin seakan tak rela.


“Ini adalah kesalahan terbesarku selama aku bekerja untukmu. Aku sadar, jika semua ini adalah kesalahan paling fatal yang pernah aku lakukan, aku tak bisa membela diriku, karena ini murni keteledoranku, Bos. Maafkan aku, sungguh ... tak apa, jangan berat melepaskanku, karena aku ... sudah berniat untuk angkat kaki dari rumah ini.” Aaron benar-benar pasrah.


Aaron mengangguk, “Iya, Bos. Tak usah hiraukan aku. Aku akan membuka restoran kecil-kecilan untuk menunjang masa depanku,”


“Tidak. Aku tak ingin sekretaris baru. Aku hanya menginginkanmu, Aaron. Kumohon, kita berjuang bersama.”


“Bos, jangan bersikeras. Ini adalah perintah langsung dari Nyonya, kan? Jangan memaksakan kehendak, Bos.”

__ADS_1


“Aaron, kenapa kau seperti itu ...,” Gavin benar-benar tak rela.


Aaron hanya menunduk lesu. Ia awalnya kaget, karena mengetahui dirinya dipecat. Tapi, Aaron tahu bahwa ia dipecat bukan dari Gavin, melainkan ..., dari, Ellea. Saat Ellea sampai di rumah besar itu, Ellea mengirimi Aaron sebuah pesan. Ellea meminta, agar Aaron jangan kaget. Ellea ingin, Aaron tetap ada untuk Gavin, namun dengan cara yang lain.


Beberapa menit yang lalu, saat Aaron menerima pesan Ellea ....


~Aaron, maafkan aku. Kudengar, kau akan dipecat oleh Merry Alexander. Jangan kaget, bersikap lah sewajarnya. Jika kau mau mendengar saranku, kumohon ... ikuti saja alur yang telah Merry buat. Kau lebih baik pergi dari rumah ini, dan jalankan misi bersamaku. Aku ingin, kau melindungi Gavin dari kejauhan. Kurasa, sekretaris baru pilihan keluarganya, bukanlah sekretaris baik-baik sepertimu. Apakah kau mau, melindungi Gavin dari jauh? Kau harus tahu, masalah berat yang ku alami. Gavin sepertinya mulai berada di pihakku. Dan karena ini, aku takut, jika nanti mereka akan menyakiti Gavin, atau melakukan sesuatu padanya. Aaron, aku berharap penuh padamu. Kuharap, kau mau membantuku menuntaskan semua ini. Hanya jawab, Ya, atau Tidak, Aaron. Jika Ya, nanti akan kujelaskan semuanya padamu.~


Begitulah isi pesan Ellea pada Aaron. Dengan sigap dan tanpa pikir panjang, Aaron membalas YA, pada Ellea. Baginya, melindungi Gavin adalah tugas utama dalam pekerjaannya. Walau harus dari jauh, Aaron akan berusaha sebisa mungkin untuk melindungi Gavin, apapun yang terjadi. Karena Aaron pun tahu, keinginan dari keluarga Alexander tak akan pernah terbantahkan.


Tiba-tiba, Ellea mengirim pesan lagi ....


~Menginaplah di sini untuk satu malam terakhirmu, dan ... bantu aku. Bukankah kau sudah bertahun-tahun tinggal di rumah ini? Apa kau tahu, di mana tempat penyimpanan berkas-berkas atau gudang yang sudah tak terpakai? Bantu aku menemukan sesuatu, nanti malam.~


Aaron pun membalas ...,


~Baik, Nona. Aku akan memberitahumu,~


Itulah pesan singkat antara Aaron dan Ellea. Ellea rasa, Gavin akan terancam jika ada di pihaknya. Kali ini, ia harus bergerak cepat, karena selagi Jordan masih di Rumah sakit, dan anak buahnya pun tak ada, Ellea harus bisa menemukan semua bukti-bukti tentang kelicikan dan keserakahan Jordan dahulu kala. Ellea berharap, semoga rencananya lancar, sampai pada waktunya nanti.


Jika bertanya, kenapa tak memberi tahu Gavin dan meminta bantuannya? Singkatnya begini, anak mana yang rela jika orang tuanya diperlakukan seperti ini? Ellea tak ingin meminta bantuan Gavin, kecuali Gavin sendiri yang mencoba mencari bukti dan membantu Ellea. Ellea yakin, Gavin saat ini dalam posisi dilema dan kebingungan.


Ada dua kubu yang sama-sama penting dalam kehidupannya. Tak mudah bagi Gavin untuk melakukan tindakan. Gavin memang akan membantu Ellea, tapi Gavin terlalu lama dan sulit untuk bergerak cepat. Karena itulah, Ellea masih ragu, apa Gavin benar-benar memang berpihak padanya?


Gavin, maafkan aku ... maafkan perlakuanku pada keluargamu. Aku menyesali pertemuan kita, kenapa kau yang harus menjadi anak Jordan Alexander? Kau pria yang baik, dan bertanggung jawab. Kau pria yang layak disayangi dan dicintai. Tapi ..., aku tak sanggup melakukannya, karena sosok penting dalam hidupmu adalah ... musuh terbesarku.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2