Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 87. Police


__ADS_3

Kehidupan bak roda yang berputar, saat dunia tidak lagi sama, tentu saja ia tidak selalu berpihak pada kita, namun ..., ketika kita ingin berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, di sana lah, kebahagiaan akan datang pada waktunya.


Jika hidup ingin mencapai fase tertinggi, maka semuanya tak akan luput dari rintangan demi rintangan. Masalah akan terus bergulir, namun satu hal, jangan pernah menyurutkan semangat untuk keluar dari masalah, apalagi menghindarinya.


Setiap problematika kehidupan, akan ada masanya untuk surut. Semua, bagaimana cara kita mengelola masalah itu. Masalah itu ibarat kita terdampar di sebuah gurun pasir, dan hal terbaik yang harus kita lakukan adalah keluar dari gurun tersebut. Bagaimana caranya, agar bisa menemukan jalan keluar dengan baik.


Seperti hari ini, pilihan terberat bagi Gavin untuk memutuskan semuanya. Jordan Alexander, seorang pria paruh baya yang begitu meras kepala dan membuat Gavin pusing tujuh keliling. Jordan terluka, namun kebijakan yang ia berikan, tentu saja sangat menyakiti hati Gavin.


Surat gugatan cerai untuk dirinya dan Ellea, telah Gavin sobek tanpa tersisa. Bahkan, ia menginjaknya berkali-kali, karena Gavin sangat muak mendengar permintaan Jordan. Tak akan pernah sedikitpun Gavin akan mendengarkan apa yang Jordan inginkan. Sekalipun, harta dan perusahaan taruhannya.


"Apa kau gila? Aku mengerahkan semua tenagaku, untuk menjadikan Ellea istriku! Tak dapat aku pungkiri, aku sangat mencintainya, walau dia tak mencintaiku! Tapi, apa ini? Kenapa kau begitu mudahnya memintaku agar bercerai dengan Ellea? Kau sudah tahu jawabannya, kenapa kau bersikukuh mengatakan hal ini?" Gavin mulai emosi pada Jordan.


"Aku hanya memberimu kesempatan untuk bahagia. Jika kau bersama dengan wanita yang tepat, maka kau akan bahagia. Dan aku, di penjara pun akan tenang tanpa memikirkan wanita penuh ancaman itu." ujar Jordan.


"Papa, dengarkan aku, kau boleh membenci Hendrick Patrice, tapi kau tak boleh membenci Elleana. Dia tak tahu asal usul keluarganya pada keluarga kita. Dia wanita baik-baik. Dia Ibu yang hebat untuk Daniel. Kau jangan memandang Ellea sebelah mata! Aku takkan sampai hati melepaskannya. Tahukah kau? Jika aku meminta dia untuk pergi, dia pasti akan pergi. Dia tak tertarik pada harta keluarga kita! Dia bukan wanita yang rakus akan kekayaan. Apa yang kau nilai darinya, sehingga kau tega merusak kebahagiaanku? Dia yang terbaik untukku, Pa!" Gavin bersikeras membela Ellea.


Jordan menghela napas. Ia memang mengakui kekalahannya. Dendam yang telah ia tuntaskan, ternyata telah terbongkar. Untuk apalagi Jordan bertahan? Tak ada yang bisa ia harapkan lagi. Apalagi, Gavin ternyata lebih membela wanitanya, daripada dirinya.

__ADS_1


"Aku hanya tak rela, jika keluarga Patrice, memakan harta kekayaanku! Tahukah kau betapa sakitnya aku, Gavin? Tahukah kau, betapa banyak luka yang mereka gores pada hatiku? Sejak dulu aku bersumpah, aku takkan rela, mereka hidup bahagia. Tak bisakah kau mengerti aku? Papa berjanji, akan menyudahi semua drama ini, Gavin! Asalkan kau ikuti satu permintaan terakhirku ini. Sebelum aku benar-benar habis," Jordan terus memohon.


Gavin tetap pada pendiriannya. Kali ini, ia tak akan gegabah lagi. Ia harus yakin, tak boleh goyah sedikitpun. Jika salah langkahnya, maka tak ada jaminan Ellea dan Daniel akan tetap di sampingnya. Sekeras apapun Jordan memaksanya, Gavin tak peduli sama sekali. Karena Gavin yakin, semua ini adalah timbal balim yang sudah semestinya terjadi.


"Papa, apa kau tak sadar? Apa kau tak berkaca pada kehidupan itu? Semua ini seperti simbiosis. Semua ini saling keterikatan. Kau tahu hukum karma, 'kan? Maka inilah maksud hukum alam yang telah Tuhan gariskan untuk keluarga kita, dan keluarga istriku!" tegas Gavin.


"Hukum karma? Hukum alam? Kau bicara terlalu tinggi! Aku tak paham sedikitpun!" jawab Jordan.


"Dengarkan aku, Papa ... Ayah Ellea berselingkuh dengan Mama. Tentu saja itu menoreh luka mendalam untukmu. Apalagi, sampai Vanny hadir ke dunia, dan membohongimu selama ini. Aku bisa merasakan sakit itu. Lalu, kau sengaja dengan akal sehatmu membalas dendam pada mereka. Kau sadar bukan melakukannya? Kau memang dendam, dan ingin menghancurkan keluarga Hendrick Patrice, bukan begitu? Tapi, apa kau sadar, bahwa balas dendam itu ternyata berdampak pada aku juga? Apa kau sadar itu?"


"Perbuatan balas dendam yang kau lakukan, ternyata berdampak padaku juga, 'kan? Kau menyakiti mereka dengan mengakuisisi perusahaan mereka secara ilegal. Dan kau, membuat Ellea pontang-panting bertanggung jawab mengurus keluarganya. Hingga apa yang terjadi? Aku terjebak dengan Ellea. Aku tergoda dengan kecantikan dirinya. Aku menyukai tubuhnya. Hingga terjadilah kejadian gila itu. Dan itu karena siapa? Itu bermula dari siapa? Jelas kau, Papa! Jika saja dendammu tak seperti itu, maka aku pun tak akan terjebak dengan semua ini." Gavin terus menceramahi Jordan.


"Ini karma untukmu! Aku dan Ellea memang sudah ditakdirkan bersatu, walau aku salah jalan saat bertemu dengannya. Semua ini karena perbuatanmu, Papa. Berkaca lah pada dirimu! Aku ikut terseret dalam masalah ini. Aku ikut bertanggung jawab dalam kehidupan Ellea. Ini sudah diatur, Papa. Karena perbuatanmu, aku yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Dan aku bersumpah, aku akan menjaga Ellea, dan juga anakku, seumur hidupku! Tak peduli apa yang akan kau lakukan. Karena aku ..., aku sudah terlanjur mencintai Ellea dan tentu saja Daniel, anakku!" tegas Gavin.


Jordan terdiam. Susah untuk membuat Gavin mengerti. Selalu saja ada perasaan tak rela, jika keluarga Patrice ada dalam kehidupan anaknya. Gavin tak salah, semua ucapannya memang benar. Hanya saja, Jordan terlalu egois, dan memaksakan kehendaknya.


Saat keheningan itu, tiba-tiba ..., pintu apartemen Jordan ada yang mendobrak. Para pengawal yang berada didepan pintu tengah diborgol dan tak bisa melakukan pembelaan apapun. Jordan sangat kaget, karena ia tak tahu, bahwa hal ini akan terjadi.

__ADS_1


Gavin melihat kearah pintu, beberapa intel dan polisi tengah memegang pistol, dan mengepung mereka. Gavin heran, apa yang terjadi? Padahal, seingatnya, Gavin menunda jadwal pemeriksaan yang akan dilakukan Jordan. Perbuatan siapa ini? Ellea kah?


"Ada apa ini?" teriak Jordan.


"Angkat kedua tangan kalian, dan jangan ada yang membantah. Jika ingin selamat, ikuti semua yang telah diperintahkan. Tuan Jordan Alexander, ikut kami ke kantor polisi, Anda ditangkap karena dituduh menjadi dalang kasus penggelapan uang berskala tinggi di beberapa perusahaan ternama. Sudah banyak bukti yang kami kantongi. Kuharap Anda dapat bekerja sama dengan kami, dan ikut kami sekarang juga."


"Bawa dia, dan borgol kedua tangannya!" perintah salah satu dari mereka.


"Siap, laksanakan!"


Jordan diborgol, dan dibawa paksa oleh polisi. Gavin heran, polisi mengatakan kasus penggelapan uang. Siapa yang melaporkan kasus ini? Tak mungkin Ellea. Karena Gavin dan Ellea menahan laporan tentang Jordan untuk saat ini.


Jordan pasrah saat dibawa oleh polisi. Seakan ia bisa mencerna, siapa orang yang melaporkannya. Jordan sudah tahu, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia kira, orang itu tak seperti ini. Nyatanya, musuh dalam selimut itu memang benar-benar nyata adanya.


"Donny, Winn Grup! Beraninya kau menusukku dari belakang." Ucap Jordan dalam hati.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2