
Keesokan harinya ....
Pagi ini, Aaron mulai membereskan beberapa pakaian dan barang berharganya. Aaron sudah berniat untuk pergi meninggalkan rumah keluarga Alexander. Pemecatan ini, tak membuat Aaron sedih sedikitpun.
Aaron hanya tak kuasa meninggalkan Gavin Alexander, pria yang selama ini Aaron jaga dan lindungi. Sudah banyak kenangan dan kebaikan yang Gavin berikan padanya. Tak semudah itu melepaskan semua yang telah berlalu diantara mereka.
Tapi, Aaron yakin, semua ini belum berakhir. Mereka bisa memecat dirinya, tapi Aaron akan tetap bekerja untuk Gavin dan Ellea dari jarak jauh. Walau Gavin pasti akan terluka karena kepergiannya, namun Aaron akan tetap mengawasi mereka.
Hanya sampai semua terbongkar dan tak tersisa lagi. Memang, membutuhkan waktu yang panjang, tapi Aaron juga yakin, semua akan membaik dan kembali pada tempatnya.
Pagi ini, semua perlengkapannya telah siap. Aaron telah membereskan semua baju kerja dan barang-barangnya. Gavin sudah memeringatkan Aaron, agar Aaron tetap berada di rumah ini, dan jangan pergi. Tapi, Aaron sudah bulat pada keputusannya, jika keluarga Gavin sudah tak menginginkannya.
"Kau gila! Sudah kubilang, jangan pergi dari sini! Aku Bosmu, aku yang berhak atas dirimu! Jika mereka berkata akan memecatmu, jangan dengarkan! Karena hanya aku yang patut kau dengarkan!" Gavin terlihat emosi.
"Tuan, tidak apa. Semua ini sudah kehendak yang di atas. Lagipula, aku ingin pulang ke kampung halamanku. Sudah lama sekali aku tak mengunjungi mereka. Aku berharap, sekretaris penggantiku, bisa lebih baik dan lebih profesional daripada aku, Tuan. Terima kasih, atas semua jasa-jasa dan kebaikanmu. Aku sangat bersyukur, pernah menjadi bagian dari keluargamu, Tuan." ucapan Aaron terdengar begitu berat.
Tiba-tiba, dari tangga, Daniel turun dengan sangat tergesa-gesa. Ia baru mengetahui kabar Aaron, yang ternyata hari ini akan pergi meninggalkan rumah ini. Daniel terlihat menangis, ia seakan kehilangan sosok Uncle yang selama ini selalu menemaninya.
"Uncle! Uncle! What are doing, ha? Kenapa kau membawa semua kopermu? Don't go away, Uncle! Aku tak ingin kau pergi. Aku tak ingin kehilanganmu. So please, stay with me, and here with me! Kau sudah seperti pengganti Daddy, jika Daddy tak ada. Kumohon ..., aku tak ingin jauh darimu. Apa Uncle benci padaku? Apa Uncle marah padaku? Sehingga Uncle berniat pergi meninggalkanku. Aku sangat menyayangimu. Uncle ...," air mata itu tak tertahankan, Daniel benar-benar kehilangan sosok Aaron yang sangat berarti dalam hidupnya.
Aaron refleks memeluk Daniel. Anak kecil itu rupanya sangat mencintai sosok pria yang selalu ia sebut Uncle. Aaron merasa kehilangan, ia juga sebenarnya tak rela, jika harus jauh dari Daniel, karena Aaron sudah menganggap Daniel sebagai keponakannya sendiri.
"Daniel, sayang ..., So sorry, Uncle tak marah, apalagi membencimu. Uncle hanya pergi sebentar. Uncle janji, Uncle tak akan lama. Uncle akan menemuimu lagi suatu hari nanti. Uncle janji, Daniel ..." Aaron mengusap-usap bahu Daniel.
Darah daging Gavin itu benar-benar sedih. Gavin dan Ellea hanya bisa menatap kesedihan itu. Gavin tak bisa melarang Aaron, karena Aaron begitu bersikeras ingin pergi dan menerima semua yang telah terjadi. Ellea mencoba menenangkan Daniel, dengan beralih memeluknya, menggantikan Aaron, yang mungkin beberapa menit lagi akan pergi dan meninggalkan mereka semua.
"Aaron, seharusnya kau pikirkan kembali. Anakku benar-benar mengharapkanmu untuk tetap disisinya. Apakah kau tega meninggalkan anakku, sementara dia sangat berharap dengan keberadaanmu, Aaron?" Gavin mencoba untuk merayu Aaron.
__ADS_1
"Gavin, biarlah. Ini adalah yang terbaik. Aku yakin, di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali dengan Aaron. Daniel sayang ..., kita masih bisa melakukan video call atau menelepon Uncle sesering yang kau inginkan. Jangan bersedih, sayang ..., Mommy yakin, suatu hari nanti, Uncle akan kembali bersama dengan kita." Ellea mencoba untuk menenangkan Daniel.
Daniel tak menjawab apapun. Ia terlalu malas untuk menjawab lagi ucapan kedua orang tuanya. Yang jelas, Aaron akan tetap pergi dan tak akan bisa bersamanya lagi. Sedih, memang iya. Namun, Daniel tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanyalah anak kecil yang hanya bisa merengek saat sesuatu tak sesuai dengan harapannya.
Waktu terus berlalu, hingga perpisahan itu benar terjadi. Gavin merasa hatinya sakit, sangat sakit. Namun, apa boleh buat jika itu adalah keinginan pribadi dari Aaron sendiri. Walau Gavin memaksa, Aaron tak bisa untuk tetap tinggal.
Daniel menangis tanpa henti. Ia terus meraung-raung pada Ellea. Ellea tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hatinya, bukan keinginannya seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Ellea hanya berharap, bahwa Aaron tetap akan bekerja sama dengannya, walau Aaron jauh dan tak berada di rumah besar ini lagi.
Hari ini, Gavin memutuskan untuk tetap berada di rumahnya. Gavin mendengar kabar, bahwa Merry Alexander, akan membawa sekretaris baru untuk Gavin kali ini. Gavin sejujurnya curiga, dan malas sekali mendengar kabar ini.
Berbeda dengan Ellea, yang nampaknya antusias ingin mengetahui siapa sosok sekretaris baru pilihan keluarganya. Ia jelas paham, jika orang yang dipilih oleh Merry, tentu saja pasti orang dalam Jordan Alexander.
Ellea yakin, sangat yakin. Jika diibaratkan, Merry adalah boneka yang bisa disuruh-suruh oleh anak buah Jordan. Keputusannya untuk memecat Aaron, tak lepas dari hasutan dan buaian Gilang ataupun Lay. Merry tak mungkin bisa memutuskan semua itu, jika tak ada dorongan dari orang lain.
Sekretaris baru untuk Gavin pun, pasti tak akan jauh dari orang-orang disekitar Jordan. Ellea berani bertaruh untuk hal ini. Sayangnya, untuk urusan seperti ini, ia tak bisa membahasnya dengan Gavin. Ellea masih tak tahu, hati Gavin sebenarnya untuk siapa.
Gavin pasti berat menuduh keluarganya sendiri. Karena itulah, Ellea lebih berani terbuka pada Aaron, daripada suaminya sendiri. Waktu yang dinanti pun telah tiba. Pintu rumah mewah ini terbuka. Merry datang bersama Vanny, dan satu orang asing yang Ellea tak kenal.
Rasanya, Ellea belum pernah bertemu sekalipun dengan sekretaris baru Gavin ini. Ellea mencoba menyambut mereka, lalu tak lama, Merry mulai mengajak mereka semua untuk duduk di sofa ruangan utama. Merry akan mulai memperkenalkan Sekretaris baru Gavin.
"Gavin, ini adalah sekretaris barumu. Namanya Alex. Dia yang akan menggantikan Aaron. Dia adalah seorang mahasiswa yang baru lulus kuliah. Dia mahasiswa management. Dia bisa mengelola perusahaan dengan baik. Walau dia baru lulus, dia sudah banyak pengalaman. Dia sudah sering KKN di berbagai tempat dan perusahaan. Kau bisa mulai berkenalan dengannya. Ajaklah dia untuk lebih mengenal tentang kau dan perusahaan." ujar Merry bersemangat.
"Seyakin apa Mama bahwa dia begitu berpengalaman? Aku tak hanya butuh pengalaman saja. Aku pun butuh orang yang kompeten dan profesional. Percuma jika hanya pengalaman saja, tapi dia tak profesional. Jangan terlalu banyak basa-basi denganku. Jangan cari muka, dan hanya fokus pada pekerjaan saja!" Tegas Gavin mendelik kearah Alex.
"B-baik, Tuan Gavin. Saya akan mengingat semua ucapan Anda." ucap Alex begitu ramah.
Ada yang aneh pada tatapan Daniel, ketika ia menatap sekretaris baru Daddynya. Daniel seperti teringat, bahwa pria itu pernah satu mobil dengannya. Otak Daniel seperti sedang mencari tahu sesuatu, bahwa Daniel sepertinya mengenal sosok sekretaris Alex.
__ADS_1
"Mommy, wajahnya tak asing!" bisik Daniel pada Ellea.
Deg. Ellea kaget mendengar ucapan Daniel yang berbisik ke telinganya.
"Maksudmu? Kau mengenalnya?" balas Ellea.
"Iya Mommy, tapi sebentar ..., aku masih mengingatnya. Ingatanku sedang bekerja, dalam waktu tiga menit, aku pasti mengenal siapa dia." ucap Daniel.
Ellea mengabaikan ucapan Daniel, karena Alex mulai menyapanya. Alex terkesan ramah dan murah senyum. Ia terus saja tersenyum didepan Ellea dan juga Gavin. Daniel masih fokus menatap Alex si sekretaris. Daniel ingat, dia dia memang pernah bertemu dengan Alex.
"Gavin, kau ajak Alex untuk berkeliling, dan mengetahui ruang kerjamu. Semakin cepat, semakin baik. Pergilah, ajak dia!" Titah Merry.
"Iya, iya." Gavin tak membantah, ia berjalan lebih dulu, kemudian Alex mengikutinya dari belakang.
Merry dan juga Vanny menatap tajam Ellea dan Daniel. Setelah itu, mereka berlalu dan pergi ke kamar masing-masing. Hanya tersisa Ellea dan Daniel, yang masih duduk diam membisu di sofa ruang utama. Daniel sudah mengingat memorinya, secepat kilat Daniel akan memberi tahu apa yang ia tahu pada Ellea.
"Mommy, aku sudah ingat sekarang!" Daniel mengagetkan Ellea.
"Apa sayang? Kau tahu siapa sekretaris baru Daddy? Beritahu Mommy, siapa dia, Nak?" Ellea begitu penasaran.
"Aku ingat betul tatapan tajamnya, Mommy!' seru Daniel.
"Di mana kau melihatnya? Katakan pada Mommy sekarang juga," ucap Ellea.
"Saat dua orang pria membawaku ke tempat Uncle Eric, aku dibawa naik mobil bersama dua orang itu. Nah, supir yang membawa mobil itu, adalah ..., orang yang kini menjadi sekretaris baru Daddy, Mommy!" seru Daniel.
"A-apa? B-benarkah? Niel, ingatanmu sungguh luar biasa." Ellea memuji Daniel.
__ADS_1
Daniel mengangguk mantap.
Dugaanku benar. Ternyata mereka pasti sekongkol dengan semua ini. Lihat saja Jordan, aku baru saja akan melangkah. Batin Ellea.