
Selepas kepergian Ellea dan Daniel, Jordan bisa bernapas lega. Ia tak harus pura-pura lagi terbaring lemah di Rumah sakit. Ia pun memerintahkan Gilang dan Lay untuk mengunci kamar Rumah sakit. Ada yang harus Jordan bicarakan pada Gilang dan Kay, perihal kejadian tadi malam.
"Apa kau yakin tak ada satupun berkasku yang hilang? Kau sudah mengeceknya berulang kali, kah?" tanya Jordan.
"Sudah, Tuan. Aku sudah membukanya satu persatu. Semua data Anda aman, tak ada yang sobek ataupun hilang. Aku sangat yakin," jawab Gilang.
"Wait. Kau yakin tak ada yang hilang? Bagaimana jejak kamera cctv pada waktu itu?" tanya Lay.
"CCTV dalam keadaan normal, tak ada siapapun yang masuk ke ruangan rahasia. Kita tak bisa menyalahkan Ellea. Tak ada bukti sama sekali kalau dia masuk ke sana, Tuan." Gilang begitu yakin.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?"
"Aku memasang alat penyadap di kamarnya, yang tersimpan dibalik lampu tidur. Ellea tak keluar dari kamarnya sama sekali, karena ia menderita sakit pada perutnya. Aku jadi heran, apa yang dia lakukan di rumah kemarin malam? Kenapa dia tak ikut menemui Dr Will bersama Tuan Gavin?" Gilang jadi pusing sendiri.
"Pasti ada alasan dibalik itu!" tambah Lay.
Jordan mendelik, "Tentu saja alasannya karena dia sakit perut! Kalian benar-benar membuatku kaget. Padahal, tak ada yang terjadi. Dasar bodoh!" timpal Jordan.
"M-maafkan kami, Tuan. Hanya saja, kami merasa ada yang janggal. Bukankah sangat jelas, jika Nona Ellea begitu penasaran tentang tragedi ini? Harusnya, dia begitu antusias untuk bertemu dengan Dr Will. Bukankah ia ingin mengetahui fakta yang sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia tak pergi bersama Tuan Gavin?" Lay mencoba menerka-nerka.
"Mungkin Nona Ellea sudah percaya, dan tak ingin mencari tahu lagi, Tuan." Gilang menambahkan.
"Kalian cari tahu saja, aku sudah malas memikirkannya. Aku ingin kecoa itu tak menggangguku lagi. Bagaimanapun caranya. Rencanaku berjalan mulus saja, aku sudah sangat bersyukur. Awalnya aku takut, karena ada kendala saat kita membutuhkan pelindung peluru. Akhirnya semua dapat teratasi dengan baik. Kuharap, kalian dapat menutupi rahasia ini, dan jangan sampai membocorkan semuanya." ucap Jordan penuh dengan kehati-hatian.
"Baik, Tuan."
...........
Flashback saat tragedi penembakan di Louvre Gallery ...,
__ADS_1
Saat ini, semua sudah sesuai dengan rencana. Tubuh Jordan Alexander telah dipenuhi oleh pelindung dada, dan beberapa alat yang akan menjamin dirinya tak akan terkena luka tembak sedikitpun.
Lengannya dilengkapi dengan perlindungan maksimal. Setiap peluru yang menyentuh bagian tubuh Jordan, akan hancur secepat kilat tanpa sisa. Jordan hanya harus berpura-pura, jika dirinya benar-benar terkena luka tembak.
Saat peluru mengenai lengan Jordan, ia tak sedikitpun merasa kesakitan. Hanya saja, ia harus berakting sebisa mungkin agar orang lain melihatnya sepertu tengah tertembak sungguhan.
Gilang dan Lay juga menambah beberapa warna merah di tangan Jordan, jika peluru itu mengenai bagian tubuh Jordan, maka tinta akan hancur, seperti darah yang merembes dari balik pakaian yang Jordan kenakan.
Semua berjalan lancar, karena tembakan itu berhasil menggegerkan semua karyawan dan menyebabkan kericuhan. Karena mereka mengantisipasi adanya kecurigaan, mereka segera mengeksekusi Jordan, dan membawanya kedalam mobil.
Beruntung, Gavin tak ada di perusahaan. Jika Gavin mengetahuinya, bisa saja Gavin curiga dan mengusut tuntas semuanya. Padahal, didalam mobil pun Jordan hanya tertawa dan terbahak-bahak. Dirinya tak menyangka, jika aktingnya akan sesukses itu.
Flashback selesai ....
Kejadian itu memang hanya omong kosong belaka. Kejadian yang dibuat seperti adegan action pada film-film luar negeri yang menegangkan. Jika saja ada piagam penghargaan untuk pemeran terbaik, Jordan pasti menjadi juaranya.
Jordan bosan pada makanan Rumah sakit yang tak memiliki rasa apapun. Ia masih belum bisa menikmati makanan yang diinginkannya, karena Merry terlalu banyak bicara melarangnya agar Jordan tak makan sembarangan.
Merry dan Vanny, tak menduga jika sakitnya Jordan hanyalah sebuah sandiwara besar. Mereka begitu percaya pada Jordan, karena Merry tak sedikitpun curiga ada hal yang mencurigakan.
Hingga beberapa saat kemudian, saat Gilang dan Lay tengah berbincang berdua di sebuah lorong Rumah sakit, seseorang tengah menguping mereka dari kejauhan.
"Di mana Nona Ellea? Apa yang dia lakukan? Kita harus melaporkannya pada Tuan besar. Jangan sampai Ellea benar-benar curiga, bahwa Semua ini adalah sandiwara." ucap Gilang.
"Sepertinya dia akan mencari tahu semua ini secara diam-diam. Kita harus awasi dia. Jangan sampai kebohongan kita terbongkar olehnya, dan jika itu terjadi, Ellea pasti dengan mudahnya menghancurkan Tuan dan kebohongannya. Apalagi dengan medis, kita tak bisa main-main. Tuan tak mengerti, jika kebohongan ini akan berdampak besar, jika satu-persatu mengetahui, bahwa kecelakaan luka tembak yang dialaminya adalah suatu kebohongan. Kebohongan ini, benar-benar membuatku takut." tambah Lay.
Tanpa Gilang dan Lay sadari, ternyata Vanny mendengar percakapan yang diucapkan Lay. Vanny sangat kaget, karena ia tahu, bahwa semua tragedi ini adalah suatu kebohongan. Vanny masih gugup dan gemetar, ia antara percaya dan tidak percaya, jika Papanya tega berbuat seperti itu.
Karena takut Gilang dan Lay melihatnya, Vanny pun refleks pergi dan berlari meninggalkan lorong. Sayangnya, jejak Vanny terlihat oleh Lay. Lay sangat shock, karena ia yakin, jika Vanny mendengar ucapan mereka.
__ADS_1
Lay berlari mengejar Vanny, tapi ternyata gadis itu telah pergi dan berlalu entah ke mana. Gilang dan Lay jadi bingung, karena kini Vanny sudah mengetahui kebohongan mereka.
"Bagaimana ini? Nona Vanny sudah mengetahuinya!" Gilang sedikit khawatir.
"Itu urusan kecil. Kita lapor saja pada Tuan besar, dan dia pasti punya solusi atas anaknya." ujar Lay.
"Baik, ayo!"
Gilang dan Lay kembali ke ruangan tempat Jordan dirawat. Gilang menceritakan perihal Vanny yang menguping mereka. Jordan paham, dan ia mulai mengerti apa yang harus ia lakukan agar anaknya bungkam.
"Tutup mulutnya dengan cara kalian!" Tukas Jordan.
"Bagaimana caranya, Tuan?"
"Buat dia takut, dan tak berani bicara. Terserah, lakukan apapun sesuka hati kalian padanya. Asal, jangan sampai dia berani berkata pada istriku, atau Gavin. Lama-lama, aku takut dia sama membangkangnya seperti si hama Ellea itu!" ucap Jordan.
"T-Tuan, termasuk tubuhnya Nona?"
"Ya, kalian takuti saja dia. Asal jangan berlebihan. Kalian hanya boleh menakutinya saja, asal tak sampai merusaknya. Buat dia takut, dan tutup mulut!" Jordan benar-benar sudah gelap mata.
"B-baik, Tuan. Kami mengerti."
Gilang dan Lay serasa mendapat angin segar. Menyentuh tubuh seorang gadis? Dan itu diperbolehkan oleh Papanya sendiri? Ah, tentu saja menyenangkan. Mereka mulai berjalan mencari Vanny, yang sejak mengetahui percakapan mereka, kini entah berada di mana.
"Lay, cepatlah temukan dia. Kita takuti dia, dan bermain-main dengannya." Gilang begitu antusias.
"Tuan benar-benar tahu, bagaimana cara membungkam seseorang, sekalipun itu anaknya sendiri."
*Bersambung*
__ADS_1