Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 96. Ellea ....


__ADS_3

Fortis Hospital ....


Kondisi Hendrick Patrice tengah kritis. Dokter segera menanganinya, karena keadaannya semakin memburuk, dan Hendrick sesegera mungkin harus mendapatkan perawatan intensif dari Dokter.


Semua keluarga tengah menunggu Hendrick di luar ruangan. Wina Patrice, sang istri yang selama ini begitu setia pada Hendrick, tengah menangis menanti sebuah keajaiban. Keluarga sudah pasrah, karena melihat Hendrick tengah tak sadarkan diri.


"Ellea, apa kita beritahu Vanny tentang semua ini?" tanya Gavin.


"Tak mungkin. Kau tahu kan kondisi Vanny sekarang bagaimana? Vanny tengah stress berat, Vin. Bukan hal mudah baginya melewati semua ini. Kabar bahwa Ayahmu ditangkap, dan Mamamu kini mengalami penyakit jiwa, hal itu tentu saja membuat adikku sakit hati ... perasaannya kacau, aku tak ingin dia semakin kacau lagi karena berita ini." ujar Ellea mengkhawatirkan kondisi Vanny.


"Tapi, Ell ... bagaimana jika kita terlambat memberitahunya? Aku bukan mendoakan yang jelek untuk Ayahmu, hanya saja ... dengan kondisinya yang seperti ini, kita harus secepatnya memberi tahu Vanny, Ellea. Sebelun terlambat, dan selagi Vanny masih bisa melihat Ayah kandungnya sendiri."


"Tapi itu sangat tak mungkin. Kau harus memikirkan juga kondisi psikis Vanny, Gavin. Tidak semudah itu menerima berita menyakitkan ini. Tak mudah bagi kita menerima semua keadaan pahit yang tak kita inginkan, Gavin. Tak apa, biar nanti saja, saat keadaan telah membaik, dan Vanny pun perlahan-lahan bisa menerimanya. Aku yakin, saat ini dia tengah dalam kondisi yang kacau, Vin." ujar Ellea.


Gavin mengangguk, pertanda ia paham pada maksud Ellea, "Boleh kutanya sesuatu?"


"Yes, of course. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kau bisa mengerti perasaan dan hati orang lain. Keadaan ini memang sangat-sangat menyulitkan. Aku penasaran denganmu, bagaimana kau melewati semua ini? Bukankah semua ini juga sangat menyakitkan bagimu? Bagaimana caranya kau tetap terlihat kuat dan tenang, Ellea?"


Ellea tersenyum, tatapannya tertuju pada Gavin, "Aku berbeda. Aku bukan wanita yang mudah rapuh. Aku adalah pengecualian. Jangan samakan aku dengan wanita lain, aku jelas berbeda. Hatiku kuat, aku percaya, bahwa diriku benar-benar mampu dan sanggup melewati semuanya "


Gavib membalas tatapan Ellea. Ucapan Ellea sangat luar biasa. Karena inilah Gavin mencintainya tanpa syarat. Cinta yang tak pernah terucap diantara keduajya, namun nyatanya, hati Gavin telah berpaut pada Ellea karena sikap Ellea yang sangat dewasa seperti ini.


"Karena itulah, aku mencintaimu, dan berniat mengejarmu sampai ke manapun kau pergi. Tahukah kau kenapa aku bisa terlihat kuat? Aku belajar darimu. Kehadiranmu disisiku, mampu membuatku merasa bahwa hidup ini harus dihadapi, bukan diratapi. Kau yang telah menguatkan aku, Ellea, kau yang telah memberiku semangatbyang kuat. Tanpa kau sadari, kehadiranmu sangat berharga bagiku. Mungkin, suatu saat nanti kau mampu mencintaiku, dan melihat, bahwa aku juga layak untuk kau cintai!" Gavin meyakinkan Ellea.


Ellea mengangkat alisnya, "Jika aku tak akan mencintaimu, apakah kau akan melepasku?"


"Astaga, apa maksudmu?"

__ADS_1


"Ekspresimu begitu kaget luar biasa! Kita bukan anak kecil, bukan juga anak labil yang sedang jatuh cinta. Tak perlu secara gamblang mengatakan bahwa aku mencintaimu, aku menyayangimu. Untuk orang dewasa seperti kita, cinta bisa dilihat bagaimana kita melakukannya. Berada di sisimu sampai saat ini saja, seharusnya kau tahu, bahwa aku mencintaimu! Aku tak mungkin melepaskan diriku dari dirimu! Kita sudah terikat, Gavin! Kita sudah menjadi satu sejak dahulu. Siapa yang mengikat kita? Tentu saja Daniel! Daniel anak kita! Dia yang menjadi penguat hubungan antara kau dan aku. Kau harusnya tahu itu!" Ellea menjelaskan perasaannya panjang lebar pada Gavin.


"Astaga Ellea, hentikan ucapanmu itu! Aku bisa gila jika terus mendengarnya di sini. Terima kasih, karena kau menilaiku dan menganggapku. Aku beruntung, ternyata aku tak sia-sia terus mengejarmu. Kau wanita hebat, yang layak aku cintai!"


"Berterima kasihlah pada Papamu, dia yang menyatukan kita secara tidak langsung." Ellea terkekeh.


"Takdir yang menyatukan kita, Ellea. Kehidupan kita akan segera bahagia. Sebentar lagi, Ell ... tunggu aku menyelesaikan semuanya. Dan aku berjanji, aku akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Hanya saja ...," ucapan Gavin terpotong.


"Apa?"


"Hanya saja ..., aku ingin, kau mengubah sifatmu padaku. Tak bisakah kau bersifat sedikit lembut padaku? Aku memintamu secara baik-baik, Ellea. Apa aku harus bersifat seperti dulu agar kau menuruti perkataanku?"


"Kau tak perlu mengancamku lagi. Aku akan berubah menjadi singa betina yang lugu. Asalkan ..., ada satu syarat yang harus kau penuhi!" pinta Ellea.


"Kau meminta syarat padaku? Apapun akan aku lakukan untukmu! Bagi orang sepertiku, syarat yang kau layangkan pasti mudah kulakukan. Hanya dengan jentikan jari saja, aku pasti bisa mengabulkan keinginanmu," Gavin begitu percaya diri.


"Oh ya? Sayangnya ini bukan hanya menggunakan jentikan jari saja! Kau harus melakukannya dengan semua jari-jarimu." Ellea tersenyum puas.


"Tunggu dulu, aku harus memastikan sesuatu padamu. Kau seorang CEO, bukan? Kau pemilik galeri seni terbesar di negara ini, bukan? Kau kan pemilik Louvre gallery?"


"Yes, alright! Lantas kenapa kau bertanya?"


"Galeri seni yang kau miliki, berisi lukisan-lukisan hebat dan mewah kan?" tanya Ellea lagi.


"Ya, betul. Apa maksud dari pertanyaanmu ini? Syarat apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau ingin memiliki Louvre gallery? Atau kau ingin aku membalik nama perusahaanku menjadi milikmu? Akan aku lakukan Ellea, jika itu yang kau inginkan." Tegas Gavin.


"No, bukan itu yang aku inginkan. Jika kau seorang CEO dari galeri seni, yang menampilkan lukisan mewah dan mahal, tentu saja kau pasti menyukai sebuah mahakarya lukisan tangan kan? Jadi, aku ingin kau melukis! Aku ingin kau melukis, hanya itu saja syarat yang aku inginkan." Ellea mengedipkan matanya.


"A-apa? Melukis? Kenapa melukis saja harus aku yang buat? Kau bisa meminta padaku, pelukis-pelukis terkenal di dunia ini. Kau mau siapa? Aku bisa mendatangkannya secara eksklusif untukmu! Ada Pierce Watt, Alaric braddy, Justin vincentio, Lucas kyle, Martina vernandes, dan masih banyak lagi pelukis terkenal milik galeri seni kita! Kau tinggal pilih saja, aku bisa mengabulkannya untukmu!" ujar Gavin.

__ADS_1


"Aku tak ingin mereka! Aku ingin kau sendiri yang melukis! Karena aku ..., aku ingin kau melukis diriku, Gavin! Aku ingin melihat hasil karya suamiku, mengabadikan diriku yang masih muda ini. Suatu hari nanti, lukisanku akan dikenang oleh anak dan cucuku. Bukankah itu suatu hal yang indah?"


"T-tapi, Ellea, a-aku ...," Gavin putus asa, ada sebuah penyebab ia berhenti melukis dan tak ingin menyentuh kanvas lagi.


Ellea tahu, jika Gavin berhenti melukis. Aaron telah memberitahunya. Penyebab Gavin berhenti melukis karena ia pernah dipermalukan di sebuah acara oleh keluarga Eric Michael. Gavin membenci Eric dan dendam padanya, karena insiden memalukan tersebut.


Karena hal itulah, Gavin yang baru masuk dunia seni merasa marah dan membenci Eric. Padahal, Gavin ditipu dan dipermalukan pada saat itu. Karena tak ads bukti, orang-orang meyakini jika Gavin tak bisa melukis. Karena itu, Gavin trauma, ia tak mau menyentuh lagi lukisan atau pun kanvas.


Gavin hanya akan menjalankan tugasnya sebagai seorang CEO pemilik galeri seni, tak peduli jika ia tak melukis lagi.Yang jelas, Gavin hanya menjalankan perusahaan Papanya saja.


Karena alasan inilah, Ellea ingin kepercayaan Gavin bangkit kembali. Ellea ingin Gavin mampu melukis dan memegang kuas lagi. Ellea sengaja memancing Gavin, agar Gavin mau melukis dirinya. Ini adalah syarat terbaik, agar Gavin percaya diri lagi.


"Aku ingin kau melukis diriku, itulah syarat agar aku bisa menerimamu sebagai suamiku. Dan aku berjanji, aku akan berubah Gavin, aku akan mencintaimu seutuhnya. Kau bisa pegang kata-kataku saat ini." ucap Ellea meyakinkan Gavin.


"Ellea, aku ..." Gavin amat keberatan, ia sungguh tak sanggup memegang kuas dan kanvas lagi.


"Kau ingat scene dalam film titanic? Di mana Jack melukis Rose didalam kapal? Aku sangat menginginkan momen romantis itu, Gavin. Jika kau berniat melukisku, aku juga akan melakukan hal yang sama, yang dilakukan oleh Rose. Yaitu, melepas semua pakaianku, dan membiarkan kau melukisku dengan keadaan aku tak berbusana sedikitpun. Itu adalah fantasiku, tapi itu sangat-sangat romantis, Gavin. Film titanic begitu membekas di hatiku. Aku rela melakukannya, karena kini ..., kau adalah suamiku." Ellea terus merayu Gavin dengan rayuan mautnya agar Gavin mau melukis lagi.


Gavin menelan ludahnya, ia kaget mendengar Ellea mengatakan hal tersebut, "K-kau mau menanggalkan pakaianmu? I-itu berarti?"


"Ya, aku akan menyerahkan diriku, seluruh tubuhku untuk dirimu! Aku akan menjadi istri yang sesungguhnya mulai saat itu. Namun hanya satu, aku ingin kau melukis diriku, dengan hati yang penuh cinta dan kasih sayang."


Gavin terdiam sejenak, ia lantas berpikir, "Demi tubuhmu, aku rela melukis lagi! Aku nantikan hal itu, jika kau menantangku, aku akan lebih membuatmu tercengang. Lihat saja, Ellea! Aku sungguh tak sabar, sungguh Ellea! Kapan kita bisa melakukannya?"


Astaga ... ternyata mudah sekali merayunya agar mau melukis lagi. Ucap Ellea dalam hati, yang seakan termakan oleh ucapannya sendiri.


*Bersambung*


Hai, ini cerita masih ada lanjutannya, sebentar lagi tamatnya. Namun sudah aku klik end, karena aku gak bisa update rutin setiap hari. Aku lagi sibuk nulis di tempat lain, apa kalian mau baca juga? Gratis kok bacanya, sama seperti noveltoon, yang mau kepoin karyaku yang lain, atau sekedar ingin kenal sama aku, bisa hubungi aku via chat, komen aja untuk di follow back ya ...

__ADS_1


makasih yang masih bertahan baca dan antusias dengan novel ini. maaf kalau novel ini jauh dari pembelajarannya, jauh dari kebaikannya. Aku menulis novel hanya untuk hiburan semata saja ya, yang sudah baca karyaku dari awal, pasti pada tahu kok...


__ADS_2