
"Kenapa kau agresif sekali saat ini?" tanya Gavin saat mereka sudah berada di kamar.
"Aku hanya ingin kau mengizinkan, agar aku bisa mengikuti acara itu. Lagipula, aku pergi bersama Mamamu, kan? Kumohon, Gavin ..." Ellea memohon, agar Gavin mengizinkannya.
"Justru karena kau pergi dengan Mamaku, aku tak mengizinkannya!" Tegas Gavin.
"Kenapa? Kau tak percaya pada orang tuamu sendiri?"
"Karena aku takut Mama membuatmu berubah!"
"No, Gavin. Aku tak akan mudah terpengaruh. Tenang saja, aku hanya ingin tahu, bagaimana acara mewah orang-orang kaya seperti dirimu!"
Gavin terdiam. Sebenarnya, Gavin senang jika Ellea ingin mengakrabkan diri dengan keluarganya. Namun, Gavin juga tak ingin, jika Ellea harus mengikuti acara tak berbobot seperti itu. Tapi, Gavin tahu, Ellea sulit untuk dikalahkan. Gavin mencoba bernegosiasi dengan Ellea, jika Ellea ingin pergi ke acara tersebut.
"Aku tak mengizinkannya, titik."
"Oh My God, kenapa kau menyebalkan sekali, Gavin! Kumohon, hanya sekali ini saja. Jangan mempersulit hubunganku dengan orang tuamu. Aku begini karena aku ingin dekat dengan Mama mertuaku sendiri." Ellea terus memohon.
"Aku tak peduli. Cari saja cara lain, asalkan tak perlu mengikuti acara tak jelas itu!"
Ellea berpikir, sulit untuk merayu Gavin jika bukan dengan cara pintas. Akhirnya, Ellea benar-benar melakukan cara kedua. Ellea mendekatkan dirinya pada Gavin, Ellea terlihat begitu agresif saat ini. Ia sengaja, agar Gavin sedikt luluh padanya. Elle terus mendekati Gavin, hingga Gavin perlahan mundur dan menyandar ke dinding kamarnya.
“What are you doing, girl? Kau seperti wanita yang kehausan!” Gavin terus menatap wajah Ellea.
“No, Gavin ... please, let me go, please ... sesuai janjiku, izinkan aku menciummu kali ini saja, sebagai bukti bahwa aku benar-benar ingin pergi,” ujar Ellea terus merayu Gavin.
“Hanya mencium saja?”
Ellea mengangguk, lalu ia berbisik ke telinga Gavin, “Ciuman yang panas!”
“Hanya itu saja? Tak bisakah aku meminta lebih?” Gavin menantang.
“Kau gila! Begini saja aku sudah menurunkan harga diri dan gengsiku. Cepatlah, aku tak punya waktu lama, aku harus segera bersiap untuk ikut bersama Mama-mu!”
“Kau sudah tak sabar ingin menciumku?”
“No! Aku sudah tak sabar untuk pergi bersama orang tuamu! Ayolah, Gavin ... izinkan aku pergi, kali ini saja,” Ellea terus merayu Gavin, dan berharap jika Gavin akan luluh.
__ADS_1
“Aku akan megizinkanmu pergi, tapi aku pun ingin bernegosiasi denganmu! Aku ingin meminta lebih, tak hanya sekadar ciuman saja!”
“What? Aku hanya pergi sebentar, tapi kenapa kau harus meminta lebih?”
“Berikan tubuhmu padaku, maka aku akan mengizinkanmu pergi!”
Ellea sudah tak tahan mendengar ucapan Gavin, semakin Gavin bicara, maka akan semakin kacau urusannya. Ellea memutuskan untuk bertindak lebih cepat dan seketika itu pula Ellea melahap bibir Gavin yang sejak tadi terus saja berbicara. Ellea menguatkan dirinya, bahwa ia bisa menggoda Gavin dengan sentuhannya.
Ellea tahu, jika Gavin pasti meminta lebih. Karena itulah, Ellea memutuskan untuk berinisiatif mencium Gavin lebih dulu. Ellea berharap, Gavin tak meminta lebih atas ciuman ini. Ellea mencoba bermain secara agresif, ia terus menciumi Gavin, hingga Gavin bereaksi membalas ciuman itu. Bibir mereka saling berpagut, menikmati hasrat dan knikmatan.
Benar-benar ciuman yang tak diduga akan mengundang hasrat. Gavin memainkan lembut lidahnya di dalam rongga bibir Ellea, hingga Ellea sedikit kesulitan bernapas. Gavin terpancing, karena berani-beraninya Ellea membangunkan ketenangannya. Kini, Gavin mendominasi ciumannya. Ia ternyata lebih ganas dari yang Ellea bayangkan.
Ellea sudah ketakutan, ia takut Gavin benar-benar akan meminta lebih. Melihat Gavin yang menikmati ciuman panas ini, membuat Ellea khawatir jika keinginan Gavin tak bisa ditahan. Beberapa menit berlalu, ciuman panas itu masih terus mereka lakukan. Kini, tangan Gavin mulai gatal untuk menyusuri bagian tubuh Ellea yang lain.
Dengan lembut, Gavin mulai meraba-raba bagian tubuh Ellea, refleks Gavin pun memegang bagian sensitif dari tubuh Ellea. Gavin sejak tadi sudah tertarik melihat gundukan kenyal milik Ellea yang menyembul dibalik pakaian yang ia kenakan. Saat tangannya berhasil mendarat di dada Ellea, secepat kilat Ellea menepis menepis tangan Gavin dan menghentikan ciuman panas itu.
“Cukup! Tanganmu melanggar aturan kita!” Ellea shock, karena dadanya telah berhasil dipegang oleh Gavin.
“Kau yang menggodaku lebih dulu. Kau membuatku gairahku memuncak. Sudah, kita lanjutkan saja, maka aku akan mengizinkanmu pergi. Lagipula, kau adalah istriku. Aku berhak atas tubuhmu. Aku juga tak akan berdosa jika menyentuh dirimu. Alasan apa lagi yang ingin kau katakan padaku?” Gavin mulai memegang bagian dada Ellea lagi.
“Sial, dia benar-benar menyebalkan. Kecewa apa? Apa maksud ucapannya? Dia sudah membangunkan ketenanganku. Lihat saja nanti, jika dia menolak, aku akan memaksanya dan tak akan memberinya ampun!”
Gavin melihat Ellea mengunci pintu kamar mandi. Pupus sudah keinginan Gavin untuk meneruskan semuanya. Gavin pun pergi keluar dari kamarnya, dan dia kembali ke ruang makan. Di ruang makan, terlihat Daniel dan Mery sedang beradu mulut. Merry adalah wanita paruh baya yang keras kepala. Namun, nyatanya Daniel lebih keras kepala dari Merry.
“Harusnya kau juga sadar seperti Ibumu! Dia juga sekarang sudah malu jika membangkang terus padaku! Kenapa kau malah tak takut padaku!” serang Merry.
“Memangnya, apa salahku? Kenapa aku harus takut pada GrandMa?”
“Karena kau bukan siapa-siapa di sini. Harusnya kau tahu, jika aku sama sekali tak menganggapmu sebagai cucuku!” mata Merry melotot tajam.
“Aku juga tak menganggapmu sebagai Nenekku. Aku hanya menghargai Daddy, dengan menyebutmu GrandMa. Padahal, aku ingin sekali menyebutmu Nenek jahat. Tapi, aku tak enak pada Daddy!” balas Daniel simpel.
“Dasar monster kecil kurang ajar! Kau memang sangat menyebalkan!” Geram Merry.
“Sudah, Ma. Tak perlu membuang tenagamu untuk anak kecil ini.” Jordan melerai.
Tiba-tiba, Gavin sudah berada di ruang makan. Gavin mendengar perdebatan antara Daniel dan Merry. Sejatinya, Gavin tak perlu khawatir meninggalkan Daniel sendirian, karena Daniel adalah tipe anak yang pemberani.
__ADS_1
“Mama, kau tak perlu membuat masalah dengan anakku. Jangan berbicara hal-hal yang membuat Daniel marah. Mama harusnya tahu, jika Daniel tak suka disenggol. Harusnya Mama sadar, untuk tak menyenggolnya.”
Merry hanya menatap kesan pada Gavin dan Daniel. Berani-beraninya Gavin membela Daniel dan meyalahkannya.
“Daniel, jangan membuat GrandMa kesal. Oh ya, hari ini, apakah kau ingin ikut Daddy ke perusahaan? Daddy ingin melihat gallery kita, dan merenovasinya.” Ujar Gavin mengalihkan pembicaraannya.
“Woah, ke kantor Daddy? Tentu saja aku ingin. Aku ingin ikut dengan Daddy. Horrai, aku akan jalan-jalan ke kantor Daddy,” seru Daniel antusias.
“Kalau begitu, sekarang kau mandi dulu ya sayang. Kita akan pergi pukul sembilan.” Tambah Gavin.
“Baik, Daddy ... Oh iya, apa Uncle Samuel masih ada di perusahaan Daddy?” tanya Gavin tiba-tiba.
“Samuel? Iya, dia masih bekerja di kantor Daddy. Memangnya, kenapa sayang?”
“Tidak apa-apa, Daddy. Aku hanya merindukannya. Sudah lama sekali aku tak pernah bertemu dengan Uncle Samuel. Aku ingin bertemu dengannya, Daddy. Sepertinya, Mommy pun pasti akan sangat bahagia jika bisa bertemu Uncle Samuel lagi. Mommy juga pasti merindukan Uncle Samuel,” ujar Daniel begitu polosnya.
Entah mengapa, tiba-tiba Gavin merasa dirinya sangat kesal mendengar ucapan polos Daniel. Mungkinkah Gavin cemburu ketika Daniel menyebut nama Samuel? Apakah Ellea benar-benar merindukan Samuel?
“Uncle Samuelmu hari ini sedang cuti. Dia tak ada di kantor!” Tegas Gavin.
“Ah, sayang sekali kalau begitu,” Daniel merasa kecewa.
Gavin membuka ponsel di sakunya. Ia mengetik sesuatu pada Aaron lewat pesan messengernya.
Gavin Alexander :
Aku punya perintah untukmu. Hubungi Samuel Manager development. Katakan padanya, Dia tak perlu bekerja, suruh dia cuti selama seminggu. Tak akan ada pemotongan gaji, hanya cuti saja selama seminggu. Katakan sekarang, dan pastikan dia sudah tak ada di kantor begitu aku sampai nanti.
Aaron Christ :
Baik, Tuan. Perintah akan saya laksanakan sekarang.
Gavin Alexander :
Bagus!
*Bersambung*
__ADS_1