Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 76. Well


__ADS_3

Masih didalam Mobil ....


"Jangan banyak pikiran, Ellea. Kau tak salah, kau tak boleh terbebani oleh apapun. Aku tak ingin, kau memikirkan hal yang tak semestinya kau pikirkan, Ellea."


Ellea mengangguk, "Terima kasih, atas perhatianmu. Ya, aku takkan memikirkan hal itu. Hanya saja, aku masih shock dan tak menduga jika masa lalu orang tua kita begitu rumit. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Ibuku,"


"Kau tenang saja, Ellea. Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku akan mengembalikan semua pada posisi semula. Tak ada sakit hati, tak ada luka, tak ada kekecewaan, dan aku yakin, aku mampu membuat semua masalah ini selesai. Kumohon, berikan kesempatan padaku, untuk menyelesaikan semua ini. Aku akan menuntaskan semuanya, namun aku butuh waktu untuk itu. Kuharap, kau sabar menunggu proses ini. Aku berjanji, akan membuatmu tersenyum bahagia."


Ellea tersenyum membalas ucapan Gavin. Baru kali ini, Ellea bisa menerima ucapan Gavin. Ucapan Gavin kali ini membuat dirinya merasa tenang dan nyaman. Ellea percaya pada Gavin, bahwa pria itu mampu menyelesaikan semuanya.


Dirinya yang gegabah dan tak berpikir panjang, hanya bisa memuji Gavin dari dalam hatinya. Gavin yang terkesan santai selama ini, ternyata tak diam. Dibalik semua itu, Gavin mampu mengungkap fakta mencengangkan ini.


Beberapa saat kemudian, Ellea dan Gavin telah sampai di rumah besar itu. Gavin dengan cekatan memarkirkan mobilnya dan segera bergegas keluar. Ia sudah tak sabar ingin menghajar Gilang dan Lay, karena Gavin sudah mengetahui apa yang mereka lakukan pada adiknya.


Gavin tak menyadari, dibalik pohon ada yang tengah mengintainya dan memerhatikannya. Saat Gavin masuk kedalam rumah, Ellea tak masuk. Ia lebih memilih untuk menghentikan satu masalah kecil dahulu. Ellea melihat Alex yang berada dibalik pohon, seperti akan menghubungi seseorang.


"Berhenti!" Sentak Ellea mengagetkan Alex yang tengah fokus pada ponselnya.


"N-Nona, a-ada apa, Nona?" wajah Alex terlihat pucat.


"Berikan ponselmu padaku!" Ellea memaksa.


"T-tapi, u-untuk apa, N-Nona?" Alex seakan keberatan memberikan ponselnya pada Ellea.


"Give me your phone! NOW!" Ellea berteriak, ia sudah sangat muak dengan semua drama ini.


"B-baik, Nona." Alex mau tak mau memberikan ponselnya.


Ellea merampas ponsel itu dengan cepat. Ia melihat, ternyata beberapa kali Alex menghubungi Gilang dan Lay. Ellea tersenyum kecut, karena ia tahu, Alex memang sekongkol dengan mereka.


"Kau akan mengadukan kedatangan kami pada mereka? Kau masih belum pandai berakting! Wajahmu terlihat sekali, bahwa kau masih pemula." Ellea membawa ponsel Alex, lalu memasukannya kedalam tas kecil miliknya.

__ADS_1


Ellea berpikir, kenapa Alex harus menghubungi Gilang? Apa yang tengah Gilang dan Lay lakukan? Ellea berlari kedalam rumah, terlihat bahwa Gavin sedang mencari Gilang dan Lay ke sana ke mari. Ellea mengikuti Gavin dari belakang, karena terlihat sekali, amarah nyata Gavin sekarang ini.


"Gavin, kau jangan memakai emosi. Tenanglah." sergah Ellea.


"Brengsek itu tak ada! Ke mana mereka? Dasar bajingan tak tahu diri!"


"Apa di kamar Papamu tak ada?" tanya Ellea.


"Tak ada, Mama dan Papaku sedang beristirahat. Entah ke mana perginya dua bajingan itu!" Gavin terus mengepal tangannya berkali-kali.


Ellea melihat sekitar rumah mewah ini. Ia memanggil beberapa pembantu rumah tangga yang terlihat takut karena suara Gavin begitu keras dan menakutkan.


"Kalian tong kemari, jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah ada salah satu dari kalian yang melihat ke mana perginya Gilang dan Lay?" tanya Ellea.


Mereka semua menggeleng, tak ada yang berani menjawab satupun pertanyaan Ellea. Gavin menatap mereka dengan tajam, Gavin harus tegas dan membuat mereka takut.


"Jawab pertanyaanku, atau kalian semua aku pecat!" Gavin tak main-main dengan ucapannya.


"Aku yang menjamin jika kalian akan baik-baik saja. Silakan katakan, apa yang kalian ketahui, agar aku bosa melindungi kalian. Dengan jujur, itu berarti kalian benar-benar tulus bekerja pada keluarga Alexander!" tegas Ellea.


Tiba-tiba, salah seorang dari mereka mengangkat tangannya. Seorang Ibu paruh baya itu maju kedepan, dan menunjuk kamar Vanny yang berada di lantai atas. Sontak saja mereka semua menatap ke lantai atas kamar Vanny.


Gavin menatap Ibu tua itu dengan tajam. Tanpa basa-basi, ia segera pergi ke gudang untuk mengambil beberapa benda tajam dan keras. Ellea menyuruh semua untuk pergi dan berlalu. Ellea tak bisa menahan amarah Gavin, karena kali ini Gavin benar-benar sangat marah dan emosi.


Gavin membawa sebuah besi yang panjang menuju lantai atas kamar Vanny. Ada yang tak beres, yang pastinya dilakukan Gilang dan Lay didalam kamar Vanny. Gavin tak peduli dengan apa yang akan terjadi, ia sudah tak peduli lagi pada mereka yang melihatnya.


Ellea meminta beberapa petugas keamanan untuk ikut dan berada dibelakang Gavin. Gavin membabi buta, ia terus mendobrak pintu kamar Vanny dengan sekuat tenaganya. Besi itu berhasil meneroboh pintu kamar. Tenaga Gavin tak main-main, ia memukul pintu itu sekuat tenaganya, hingga pintu pun terbuka, dan betapa tercengangnya Gavin.


BRAKKKKKK, BRAKKKK, BUGGHHHH, pintu kamar Vanny dihancurkan dengan linggis dan besi yang kuat.


Gavin sudah berada di depan pintu kamar Vanny, dengan ekspresi yang menyeramkan. Kehadiran Gavin yang tiba-tiba, membuat Gilang dan Lay benar-benar ketakutan. Wajah Gavin sangat mengerikan, matanya benar-benar mengisyaratkan bahwa dia benar-benar sangat marah kali ini.

__ADS_1


"BAJINGAN!!!!!"


"BERANI SEKALI KALIAN MELAKUKAN HAL GILA INI PADA ADIKKU. DASAR SETAN BIADAB!"


Gavin masuk kedalam kamar lalu menghantam Lay yang tengah berada di kasur, dan sepertinya akan mencumbu Vanny. Gavin tanpa ragu, menusukkan besi panjang itu pada tubuh Lay dengan sangat kuat. Besi itu mengenai lengan dan bahu Lay, hingga bahunya berdarah dan Lay menjerit kesakitan.


"Aaarrgghhh, ampun, Tuan, ampun." Lay kesakitan, darah mengakir disekujur tubuhnya.


Gilang kelimpungan, ia memang masih mematung di atas ranjang. Ingin rasanya Gilang kabur seketika, namun pintu kamar sudah dikepung. Akhirnya, Gilang memutuskan untuk kabur dari kamar Vannya melalui jendela lantai dua kamar ini.


Namun Gavin tak bodoh. Jika ia sudah marah, ia akan bertindak sedemikian rupa, agar apa yang ia inginkan tercapai. Gavin terpaksa mengeluarkan sesuatu dibalik jas nya. Pistol yang sejak tadi Gavin sembunyikan, akhirnya dia keluarkan. Dan sebelum sampai Gilang berhasil kabur lewat jendela, peluru itu sudah mengenai kakinya.


Gavin menembak Gilang tanpa aba-aba, bahkan tanpa rasa takut sedikitpun.


"DORRRRRRRR!!!!!" peluru itu tepat mengenai kaki Gilang. Gilang pun terjatuh karena menahan sakit ya g teramat menyakitkan. Sebuah peluru tajam mengenai kakinya, ia pun tersungkur lemas, karena kakinya tak bisa menopang tubuhnya.


Gavin keluar dari kamarnya, dan meninggalkan mereka semua. Ellea segera menghampiri Vanny yang menangis ketakutan. Ellea juga memerintahkan agar petugas keamanan segera mengamankan Gilang dan Lay, tak lupa Ellea pun menghubungi polisi guna mengusut tuntas kasus ini.


Gavin pergi seorang diri. Gavin ternyata akan bergegas menuju kamar Jordan Alexander, sang Papa. Lagi-Lagi, jika Gavin sudah mengamuk, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Gavin tanpa basa-basi masuk ke kamar kedua orang tuanya, lalu ia membangunkan paksa sang Papa yang tengah terlelap.


"Papa, bangun kau! BANGUN SEKARANG JUGA!" Gavin sangat emosi, ia menarik lengan sang Papa dengan paksa.


Jordan yang masih pura-pura dalam penyembuhan insiden tertembak itu pun, meringis kesakitan, agar terlihat meyakinkan dihadapan Gavin.


"Gavin, apa yang kau lakukan!" Merry sangat marah, ketika ia terbangun.


"Aww, sakit, Vin, apa yang kau inginkan, Papa masih belum benar-benar sehat," Jordan pura-pura sakit.


"Sudahi drama ini, dan jangan pura-pura sakit lagi. Aku tahu semua rencanamu. Jangan mengira aku bodoh! Aku tahu, tapi aku diam, karena aku masih menghargai kau sebagai orang tuaku. Kali ini kesabaranku telah habis. Papa, kau tak bisa lagi bersembunyi dibalik topeng hebatmu selama ini! Ikut aku, dan kita buktikan semuanya!" Gavin membuat Jordan sangat tercengang.


"Apa maksudmu?" Jordan sangat-sangat tak mengerti dengan apa yang Gavin ucapkan.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2