Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 65. All this ....


__ADS_3

"Ellea, apa kau tak tahu, aku dan Aaron itu lebih kuat siapa? Aaron memang bisa membantumu, tapi apa dia mempunyai kekuatan untuk melindungi dirimu? Kenapa kau tak jujur padaku? Kenapa kau malah diam dan melakukan semuanya dibelakangku?" Gavin mulai berulah lagi.


Kali ini, Gavin benar-benar geram, ia kesal melihat tingkah Ellea yang menyebalkan. Seorang Aaron yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada dirinya, tak mungkin akan menyembunyikan rahasia apapun darinya.


Aaron telah mengatakan semua pada Gavin, dan Gavin juga tahu, jika Ellea melakukan semua hal yang berbahaya itu. Karena itulah, pada saat bertrmu dengan Dr Will Gavin segera bergegas pulang ke rumahnya, dan pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi.


Padahal, Gavin tahu semua yang terjadi. Dia hanya diam, dan pura-pura tak tahu apa-apa. Ada sebabnya Gavin melakukan hal ini. Hanya ia yang tahu, kenapa dirinya harus diam seakan semua tak terjadi apa-apa. Padahal, Gavin mengantongi semua rahasia, baik milik Ellea, ataupun milik Papanya sendiri.


Ibarat bom waktu yang akan meledak, hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk menghancurkan semuanya. Saat ini, Gavin masih ada dalam batas sabar dan tenang. Ia tak akan berbuat gegabah seperti yang dilakukan oleh Ellea.


Ini bukanlah masalah kecil, karena melibatkan banyak kepala untuk menyelesaikannya. Gavin sudah dapat menduga, jika masalah ini bukan hanya sebatas karena persaingan perusahaan, tapi ada masalah pribadi juga. Gavin harus mengatur strategi, bagaimana ia akan menuntaskan semua yang terjadi.


Tatapan tajam itu masih menyorot mata Ellea. Gavin tak akan tiggal diam, saat Ellea mencoba berusaha menjauhkan semua masalah ini dari Gavin. Padahal, Gavin lah orang yang seharusnya Ellea mintai bantuan, karena Gavin yang mampu menyelesaikan semua ini, bukankah Aaron.


“Kenapa kau melakukan semua ini dibelakangku? Kenapa kau menyembunyikannya dariku? Apa menurutmu aku sangat tak layak untuk membantumu, Ellea? Haruskah kau menyembunyikan semua ini? Apa kau yakin, kau akan berhasil menghancurkan Papaku sendiri dengan kedua tanganmu?”


Suara dengan nada tinggi itu mampu membungkam mulut Ellea. Lidahnya kelu, karena Ellea tak mampu menjawab semua pertanyaan Gavin. Tak Ellea sangka, jika Aaron ternyata pasti melaporkan semuanya pada Gavin. Kali ini, Ellea hanya bisa menunduk terdiam, karena pertanyaan Gavin benar-benar membuatnya kalah dan mati kutu.


“Kumohon jawab, Ellea,” pinta Gavin.


“Tanpa harus kujelaskan, kau pasti sudah tahu jawabannya, kenapa aku tak mau menyelesaikan semua ini bersamamu.” Ucap Ellea memberanikan diri untuk menjawab.


Gavin terdiam. Ia mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, kenapa Ellea tak ingin dirinya tahu tentang masalah ini.


“Jika kau mengira aku pasti memilih Papaku, tentunya kau salah besar Ellea. Aku sudah katakan padamu berulang kali, aku tak akan membela Papaku, aku akan membantumu, hanya saja kumohon kau bersabar, dan menunggu aku bertindak. Aku hanya tak ingin kau gegabah, karena jika kau gegabah, kau yang akan terluka, Ellea. Aku khawatir kau akan ketahuan dan mereka tak segan-segan untuk melakukan sesuatu padamu!” Tegas Gavin mencoba meluluhkan hati Ellea.

__ADS_1


“Kini, bukan itu alasanku! Aku tahu, kau pun sebenarnya sudah mengetahui pekerjaan kotor Papamu itu, kan? Kau sudah tahu, jika selama ini Papamu beranjak sukses dengan cepat, karena perbuatan ilegalnya, ‘kan?” tebak Ellea.


“Lantas?” Gavin masih tak paham arah pembicaraan Ellea akan ke mana.


“Dan kau takut, jika kau juga terbawa-bawa masalah ini. Aku tahu, kau juga takut jabatanmu hilang, kan? Karena itulah, kau memilih untuk diam dan pura-pura tak tahu apa-apa. Aku juga paham, kau adalah anak kesayangan Papamu. Dia melakukan semua ini juga untukmu. Karena itulah, kau pantas bersyukur dan kau pun pasti akan membiarkan ini begitu saja. Aku sudah tahu apa yang ada dalam hatimu, karena itulah, untuk apa aku mengatakannya padamu? Toh, kau tak akan mendukungku. Kau pasti lebih memilih untuk memleba Papa yang telah membuatmu menjadi sukses seperti ini.” Cibir Ellea pada Gavin.


Perasaan Gavin semakin tak tentu arah. IA benar-benar kecewa, karena Ellea begitu rendah memandangnya. Semua ucapan Ellea padanya, merupakah sebuah fitnah yang amat kejam. Gavin tak sangka, Ellea berpikiran terlalu jauh, hingga kata-kata itu menyakiti hatinya. Gavin juga sadar, jika Ellea mengatakan hal itu karena melihat bahwa dirinya adalah anak sulung Jordan.


Sebenarnya, Gavin memaklumi ucapan Ellea, hanya sja di saat-saat yang seperti ini, Gavin harus pintar mengambil kesempatan untuk membuat Ellea semakin merasa bersalah atas tuduhan yang dilayangkan padanya. Tuduhan Ellea memang sangatb tak mendasar. Logikanya sangat dangkal, hingga Gavin tak habis pikir, kepintarannya selama ini hanya berlaku untuk orang lain. Tapi kenapa? Tidak berlaku untuk Gavin.


“Bukankah kau sangat pintar? Kenapa kau bisa berpikir tak logis seperti ini? Tahukah kau, ucapanmu itu sangat menyakiti hatiku. Aku tak seperti itu, tapi kau dengan mudahnya menuduhku dan membuatku terkesab seperti orang jahat. Aku terluka, dengan fitnah itu. Mungkin, jika kau tahu yang sebenarnya, kau akan malu dan meminta maaf padaku. Baiklah, tak ada gunanya berdebat denganmu, Karena kau juga begitu merendahkanku. Ya Tuhan, sakit sekali hatiku, dituduh seoerti itu oleh dia, dia yang merupakan Ibu dari anakku, dan dia ..., istriku. Entah bagaimana aku bisa mengobati sakit hati ini. Baiklah, aku pergi ...” Gavin berdiri dari duduknya, lalu ia pergi meninggalkan Ellea.


“Gavin, G-Gavin! Tunggu aku, tunggu sebentar. Tunggu lah dulu, aku tak bermaksud benar-benar menuduhmu seperti itu. Aku hanya berpikiran, dan bisa iya bisa tidak, bukan?” Ellea meneriaki Gavin, namun Gavin sengaja mengabaikannya.


Sial, pemarah sekali dia. Seperti anak kecil saja. Batin Ellea.


Hotel seberang Rumah sakit ....


Siang ini, Merry Alexander meminta agar Lay membereskan beberapa pakaiannya. Berhubung tiga hari lagi Jordan akan keluar dari Rumah sakit, Merry pun juga harus bersiap, untuk kepulangannya ke Rumah besar.


Lay datang seorang diri ke kamar hotel yang dituju. Tak disangka-sangka, ternyata didalam kamar hotel ada Vanny, yang sedang menonton televisi. Lay tersenyum padanya, dan meminta untuk masuk kedalam kamar hotel, sesuai instruksi yang diperintahkah oleh Merry Alexander.


Vanny mengizinkan Lay untuk masuk, dan Lay segera bergegas untuk mengerjakan pekerjaannya. Melihat Lay yang sedag sibuk membereskan pakaian Ibunya, membuat Vanny berinisiatif untuk pergi keluar dari kamarnya, karena merasa tak nyaman jika berada dalam satu kamar bersama Lay. Namun melihat Vanny yang akan ingin pergi, membuat Lay memberanikan diri untuk menahannya.


“Nona, kau mau ke mana?” tanya Lay yang tengah berdiri didepan lemari.

__ADS_1


“Aku akan menunggu diluar, jika kau sudah selesai, panggil aku lagi. Aku akan ke taman sekitar hotel,” ujar Vanny.


“T-tunggu sebentar, Nona. Kau tak bisa pergi seperti itu. Aku sepertinya membutuhkan bantuanmu. Maukah kau membantuku?” pinta Lay memohon dengan sangat manis.


“Ya, terserah kau saja. Waktumu lima menit. Apa yang ingin aku bantu?”


“Kemarilah, Nona, ini bajunya akan disimpan di koper yang mana?” Lay sengaja memancing Vanny.


“Ah, kau ini. Bisa bekerja atau tidak!” Vanny menggerutu.


Vanny melangkahkan kakinya mendekat kearah lemari. Ia membantu Lay memilih beberapa baju untuk dimasukan pada koper yang berbeda. Kini, Vanny ada di samping Lay. Lay pun berusaha terus mendekatkan dirinya pada Vanny. Ini kesempatan bagi Lay, untuk menyicipi Vanny yang cantik dan menawan. Sesuai perintah Jordan, Lay tentu saja begitu bersemangat mendekati Vanny.


“Awas, minggir! Kau sengaja mendekatkan tubuhmu pada tubuhku, ha? Apa kau ingin dipecat?” ancam Vanny.


“Jika ini adalah bagian dari pekerjaanku, kenapa aku harus takut dipecat, Nona?” Lay menyeringai, ia tak takut sama sekali dengan ancaman Vanny.


Lay semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Vanny. Bahkan, Lay berani memegang tangan mulus Vanny. Vanny refleks menepis tangan Lay yang sudah keterlaluan. Namun Lay semakin bersemangat dan ingin menyentuh Vanny.


“Brengsek! Lepas! Kupastikan sebentar lagi kau akan dipecat oleh Papa!” pekik Vanny.


“Nona, jangan seperti ini. Ini adalah perintah Tuan Jordan sendiri. Tahukah kau? Kami sudah mengetahui, jika kau ternyata tahu, bahwa tragedi sakitnya Tuan Jordan itu adalah kebohongan belaka, kan? Karena itulah, kami akan membungkam mulutmu, dengan senjata kami. Jangan berani menyebarkannya pada siapapun. Jika kau berani menyebarkannya, kau akan rasakan akibatnya. Untuk itulah, saat ini kau harus melayaniku, karena menyentuhmu, adalah bagian dari pekerjaanku!” Lay mendekatkan wajahnya pada Vanny, lalu Lay mencium Vanny secara brutal.


“Mmpphhh, mmmpphhh, l-leppaas ..., aarrghhh,” Vanny kesulitan bernapas, karena Lay terus meraih bibir Vanny yang menawan.


Ya Tuhan, benarkah Papa menyuruh Lay melakukan ini padaku? Batin Vanny sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2